Misteri Penghuni SMAN 3 Bandung

Komplek Belitung, Bandung

Gedung SMAN 3 Bandung di Jl Belitung No. 8 Bandung merupakan salah satu bangunan yang terkenal angker. Karena baik hati, SMAN 3 yang menempati East Wing (sayap timur) di sisi Jl. Kalimantan berbagi tempat dengan SMAN 5 yang menempati sisanya di sisi Jl. Bali.  

Bangunan peninggalan Belanda ini sejarahnya dimulai pada tahun 1916, saat pembangunannya diarsiteki oleh C.P. Wolff Schoemaker. Dia juga yang merancang Hotel Preanger dan Villa Isola yang kini menjadi bangunan UPI (Universitas Pendidikan Indonesia, d.h. IKIP Bandung).

SMA Negeri 3 Bandung berdiri pada tahun 1953. Awalnya, ada 3 (tiga) Sekolah Menengah Atas di situ, satunya lagi SMAN 2 yang kemudian pindah ke Jl. Cihampelas pada tahun 1966.

Ada berbagai peristiwa yang dialami oleh siswa dan karyawan di gedung tua tersebut yang bisa membuat bulu kuduk merinding. Berikut di antaranya:

1. Jendela Misterius (berdasarkan cerita Ino, nama samaran)

Menjelang Magrib, saya pulang dari acara di sekolah. Saya ke luar dari pintu gerbang Jl..Kalimantan menuju tempat indekos di Jl. Aceh lewat Jl. Belitung.

Saat melintas di depan sekolah, tiba-tiba seperti ada yang memaksa saya untuk untuk menoleh ke kanan.

Dan dengan mata kepala sendiri, saya melihat jendela-jendela lantai dua yang sama besarnya dengan pintu itu, menutup serentak, berbarengan dari ujung kiri SMAN 5 sampai ujung kanan SMAN 3.

Bayangkan, semua jendela yg jumlahnya banyak itu nutup berbarengan, padahal tidak ada angin maupun hujan!

Tidak mungkin penjaga sekolah yang melakukannya. Mustahil bisa menutup jendela sekaligus.  Tidak mungkin juga murid, karena tidak ada ekskul paduan menutup jendela.

Tanpa pikir panjang, saya langsung ngacir langkah seribu....

Catatan: Kejadian seperti ini, bukan hanya dialami Ino. Ada beberapa siswa lain yang juga mengalami hal yang sama pada waktu yang berlainan. Hendra dan Nani (nama samaran) juga pernah mengalami kejadian di mana jendela yang baru saja ditutup, beberapa saat terbuka kembali meski sudah dislot.

2. Lonceng Misterius (berdasarkan cerita Zein, nama samaran)

Sekitar lewat tengah malam, kami panitia persiapan Science Expo sedang duduk ngobrol di samping ruang guru depan taman kolam. SMAN 3 Bandung memang terkenal jago di bidang sains. Saat pengumuman penerimaan mahasiswa baru ITB, layaknya seperti pindah kelas dari Jl. Belitung ke Jl. Ganesha.

Lagi asyik-asyiknya bercanda tapi serius, serius sambil bercanda, tiba-tiba terdengar lonceng berbunyi tanpa ada sosok yang pemukulnya.

Tanpa aba-aba, kami pun lari terbirit-birit.

Syereeeem akutuuuu!

Catatan: menurut beberapa siswa, suara lonceng tidak harus dari lonceng sekolah yang kasat mata, karena ada beberapa suara lonceng yang tidak jelas asal-muasalnya.

3. Pastur Zonderkop (berdasarkan kisah Resti dan Awan, nama samaran)

Ketika itu kami di sekolah sampai malam, sekitar pukul 20.00, menyiapkan sesuatu. Saya sudah lupa sesuatu itu apa, karena kejadiannya tahun 1970.

Saat itu, seorang pastur bule melintas kporidor menuju aula.  Saya mengira mungkin pastur dari Bala Keselamatan yang mungkin hadir karena permintaan untuk acara siraman rohani siswa-siswa Katholik.

 Sang Pastur terus saja berjalan menembus daun pintu dekat lonceng sekolah. Tanpa perlu dikomandoi lagi, kita-kita langsung kabur….

Catatan: Kisah Hantu Pastur Belanda ini ramai pada dekade 80-an ke belakang. Konon, sebenarnya merupakan penghuni Taman Maluku yang berjarak 500 meter dari SMAN 3 Bandung. Sampai saat ini belum diketahui untuk apa arwahnya beranjangsana ke kampus Belitung,

 3. Nancy (berdasarkan kisah Lilis, Dinar, Aulia. Semuanya nama samaran)

Jl. Kalimantan yang berada di timur Gedung SMAN 3 Bandung selewat senja biasanya sepi. Maklum, bangunan-bangunan yang berada di situ merupakan markas militer. Hanya siswa yang memang indekos di sekitar sekolah yang sudi melintasinya setelah matahari terbenam.

Bukan sekali dua, tampak sosok seorang gadis bule remaja bergaun tidur putih muncul di jendela lantai dua, mondar-mandir menyusuri selasar.

Orang-orang menamakannya Hantu Nancy.

Konon, Nancy adalah noni Belanda yang jatuh cinta pada pemuda pribumi, namun tidak mendapat restu dari orang tua. Karena patah hati, dia gantung diri di toilet SMAN 5. Info ini diperoleh dari orang yang pernah dirasuki arwahnya.   

Seorang guru perempuan (sebut saja Ibu Amy) pernah digoda oleh Hantu Nancy. Ibu Amy sedang salat magrib sendirian, mungkin karena telat dijemput suami.

Rakaat terakhir menoleh ke kanan memberi salam dan kemudian toleh kiri…. Menatap langsung mata melotot sang jurig remaja patah hati yang tertawa cekikikan.

Catatan: Hantu Nancy mulai marak era 90-an sampai sekarang. Yang masih menjadi perdebatan, apakah Nancy merupakan penghuni SMAN 3 atau SMAN 5?

Masih banyak kejadian-kejadian supranatural yang terjadi di gedung yang kini berusia 104 tahun ini.

Seorang siswa (Aulia, bukan nama sebenarnya) pernah tidur tiduran berenam setelah lelah menyiapkan acara sekolah. Tiba-tiba salah seorang tertawa sendiri, terus bangkit dan lari naik ke lantai dua.

Teman-temannya mau mengejar tapi bingung karena tidak tahu, dia naik ke lantai ke SMAN 3 atau SMAN 5? Selain bingung, juga karena merasa takut. Sieun.

Setengah jam kemudian, anak itu turun. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun kembali tidur.

Pagi harinya, setelah bangun, teman-temannya dibuat bengong. Dia bercerita bahwa tadi malam dia dijemput orang tuanya.

Pernah juga kejadian waktu mau memindahkan ‘penunggu gedung’ ke wc belakang yang tidak dipakai, penjaga SMAN 5 kerasukan, meracau dalam bahasa Belanda. Suaranya berganti-ganti dari suara perempuan, suara harimau, sampai suara laki-laki berumur. Baru mau dipindah setelah diberi sebotol wiski. Disaksikan banyak orang, tanpa ada yang menyentuh, wiski sebotol habis tandas.

Cerita Tanti (nama samaran), pernah suatu sore menjelang magrib, dia balik ke kelas di lantai 2 untuk mengambil sesuatu yang ketinggaln. Saat melewati ruang kelas di dekat aula, ekor matanya melihat kelas tersebut penuh dengan murid yang sedang belajar. Karena penasaran dia mundur, dan… ruangan itu kosong melompong, tak ada manusia sama sekali.

Penutup

Dulu, kalau ada acara sampai menginap di sekolah, penjaga yang mengunci pintu-pintu kelas dan gerbang ke gedung lama biasanya sambil melangkah membaca Al-Quran dengan suara keras.

Saat ditanya, “Kunaon, Mang?”

Ieu sok aya suara nu aneh-aneh kalu malam, tapi dengan baca Al-Qur’an, tidak ada yang ganggu lagi….”

***

Siapa selain penulis yang pernah mendatangi ‘Tempat Angker’ yang menjadi legenda kota Bandung ini?

 

(Cerita di atas berdasarkan kisah nyata dari beberapa narasumber)

Sumber ilustrasi