Pasar Lelembut di Lereng Sindoro

Ilustrasi koleksi Wonosobo hits

Sudah sejak dini hari gerimis tak juga mau menepi mengiringi para pendaki yang antusias untuk menaklukkan puncak Sindoro. Hujan bukanlah halangan untuk jiwa muda dengan semangat  penuh terus mendaki menaklukkan medan yang semakin lama semakin terjal.

Rombongan mahasiswa dari Universitas Setya Wacana Salatiga yang terdiri dari lima belas orang yang dibantu oleh satu orang pemandu terus bergegas naik menyusuri jalan setapak di jalur pendakian, mereka berharap akan sampai pos satu sebelum tengah hari untuk istirahat sebentar sebelum kembali melanjutkan perjalanan ke puncak Sindoro. 

Para mahasiswa istirahat sejenak menghilangkan sedikit penat setelah empat jam lebih berjalan dan sampai di pos duduk-duduk sembari menikmati makan siang dengan bekal yang mereka bawa sekedar untuk mengisi kembali energi sebelum  melanjutkan pendakian. Setelah mengemasi bekal dan peralatan masing-masing mereka bergegas  melanjutkan perjalanan dengan menerobos gerimis yang semakin deras hanya berbekal wind  breaker atau mantol untuk melawan hawa pegunungan yang kian terasa dingin.

Tibalah mereka di lereng gunung, hujan sudah reda dari setengah jam lalu sebelum rombongan menyeberangi lembah dan tiba di lereng, tanpa disangka cuaca terlihat cerah disekeliling sinar matahari sore menembus semak-semak hingga ke bukit-bukit kecil yang terlihat apik dari atas lereng udara pun sedikit terasa hangat setelah hampir seharian di bawah hujan. Tibalah rombongan di sebuah perkampungan dan melewati pasar yang begitu ramai, tidak menyangka akan menemukan pasar seramai ini di lereng gunung. Ada beberapa anak yang bermaksud untuk membeli sesuatu untuk bekal diperjalanan namun di larang oleh pemandu, dia menyarankan agar rombongan terus bergegas, ia menyarankan jangan ada yang berhenti di tempat itu. Karena hari sudah mulai sore takut nanti kemalaman sampai ke puncak.

Namun ada salah satu mahasiswi yang membeli makanan secara diam-diam dan menyembunyikan ke dalam ranselnya ia bermaksud menjadikannya cemilan saat melewati malam di puncak untuk menunggu mata hari terbit esok hari. 

Sebelum hari gelap rombongan telah sampai di puncak Sindoro, mencari tanah lapang untuk mendirikan tenda tempat istirahat malam ini sembari menunggu mata hari terbit momen yang paling mereka nantikan. Berharap cuaca lebih cerah esok hari. Setelah tenda berdiri dan sebagian berusaha menyalakan api unggun dan sebagian lagi menyiapkan kopi serta makan malam untuk dinikmati bersama sambil mengelilingi api unggun. 

Suara jeritan dari salah satu tenda membuat  semua yang ada di sekeliling api unggun terperanjat, serentak mereka pun mendekat menghampiri ke arah suara untuk memastiksn apa yang telah terjadi. Wajah gadis itu pias sementara tangannya masih memegang tas ransel yang ada di depannya seperti ketakutan. Kepala rombongan dan pemandu memeriksa tas ransel dan segera menjauhkannya dari gadis itu. 

Ternyata seekor ular berada di dalam ransel bertabur bunga tujuh rupa, tidak masuk akal bagaimana ular itu bisa masuk kedalam dan kenapa juga ada bunga di situ. Tidak berpikir jika gadis itu membawanya dari rumah, untuk apa coba kan tidak masuk akal sama sekali. Kalau pun ia sengaja membawa tidak mungkin dia akan sekaget itu dan ketakutan. Ada yang ganjil dengan semua ini namun tidak ada yang berani bertanya mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.

Akhirnya Mas Banu yang memandu pendakian melepas ular itu ke semak yang agak jauh dari lokasi, sementara yang lain masih dibuat bingung dengan kejadian tadi bagaimana ular misterius itu masuk ke dalam ransel padahal menurut Fitri dia tidak merasa membuka resleting tas, semenjak sampai di puncak tadi dan ransel seharian juga ada di punggungnya. Namun dia tidak berani menceritakan bahwa tadi ia sempat membeli sesuatu di pasar yang telah mereka lewati tadi. 

Semalaman rombongan tidak bisa terlelap ada sebagian yang berjaga di depan api unggun siapa tahu ular tadi akan datang lagi namun perjalanan mereka terbayar saat hari beranjak pagi dan mereka disuguhi dengan pemandangan matahari terbit yang begitu mempesona dari puncak Sindoro rasa bangga terselip saat bisa menaklukkan ketinggian puncak Sindoro.

Sinar matahari mencairkan sedikit kebekuan udara puncak setelah puas menikmati lukisan alam yang begitu indah rombongan para mahasiswa itu pun bergegas untuk turun dan melewati jalur yang sama tapi anehnya selama perjalanan turun rombongan tidak lagi melewati kampung dan pasar di lereng gunung hingga sampai di pos satu padahal melalui rute yang sama, hanya bisa bertanya-tanya dalam hati kemana perginya kampung tadi kenapa bisa menghilang.

Setelah sampai pos mereka memutuskan untuk istirahat hari sudah beranjak sore. Saat mereka sedang duduk santai dan meluruskan kaki masing-masing  Mas Banu melempar pertanyaan yang membuat mereka mengerutkan kening,

"Katakan dengan jujur, kemaren siapa yang diam-diam berhenti di pasar dan membeli sesuatu?"

Banyak dari mereka menggelengkan, namun wajah Fitri terlihat pucat dan dengan lirih menjawab pertanyaan Mas Banu.

"Sa ... Saya, Mas. Maaf,"

Suara Fitri terbata.

"Aku tahu, kejadian ini tidak hanya sekali ini. Dulu juga ada rombongan yang tidak mau mendengar saran saya, kejadiannya sama malah ada beberapa anak,"

"Beneran, Mas?"

Terdengar pertanyaan dari beberapa mahasiswa secara bersamaan tanpa dikomando.

"Iya, karena memang itu bukan pasar sembarangan tapi pasar lelembut di lereng Sindoro dan biasanya akan terlihat saat matahari menyinari lereng itu setelah hujan, konon ini sudah terjadi sejak lama. Itu kenapa saya selalu menyuruh rombongan yang saya pandu untuk tidak berhenti di pasar itu,"

Semua rombongan melongo mendengar penjelasan Mas Banu, tidak menyangka bahwa mereka telah melewati pasar lelembut di puncak Sindoro, menyisakan perasaan horor terutama Fitri dengan kejadian barang yang dibelinya berubah menjadi ular dan kembang tujuh rupa.

Tempat angker