Diganggu Dedemit Kebun

dokpri

Pukul 20.00. Saya mengeluarkan Supri dari rumah kemudian melajukannya menyusuri jalan pegunungan berkelok yang sisi-sisinya adalah persawahan terasering, kebun-kebun, dan jurang-jurang yang curam.

Malam ini rembulan masih perawan. Ia terlihat redup bermalu-malu mengintipku dari balik segumpal awan. Ditambah lagi kabut sangat pekat dan sorot lampu Supri sudah tua. Sinarnya remang tergopoh-gopoh menembus kegelapan.

Saya harus ekstra jeli dalam melajukan Supri untuk menghindari jeglongan yang berserakan sambil menahan dingin yang menampar muka di sepanjang perjalanan.

Pukul 20.30. Saya sampai di pinggir jalan arah kebon milik Bapak.

Syukurlah. Batang-batang pohon sengon hasil panen tadi siang masih menumpuk di sana. Jumlah batang-batang pohon sengon itu sepertinya cukup untuk memenuhi satu bak truk.

Daerah ini sangat sepi dan rawan diincar maling. Jika hasil panen ini tidak dijaga, khawatirnya nanti ada komplotan maling yang menggondol sengon ini tanpa kulanuwun.

Untuk itu sambil menunggu kedatangan truk Juragan yang baru bisa mengangkut besok siang, Bapak meminta saya agar malam ini menjaga tumpukan batang-batang sengon ini dari kejauhan.

Ya.. saya diwanti-wanti Bapak untuk menjaga dari kejauhan. Sebab tujuh tahun lalu pernah ada sekomplot maling sengon lengkap dengan truk pengangkutnya. Maling itu bukannya takut, justru mereka mengeroyok penjaga kebun yang lagi sendirian sampai sekarat babak belur dipukuli.

"Ngawasi ning gubuk bae. Misal nanti ada maling, jangan langsung ditegur. Kamu lari minta bantuan warga dan nelpon Bapak saja. Hati-hati!". Begitu pesan dari bapak.

Ini sebenarnya kali pertama kalinya saya menginap di kebun. Saya sih tidak takut sama maling, yang saya takutkan justru dedemit-dedemit penghuni kebun.

Konon dedemit kebun itu lebih ganas daripada setan-setan rumahan macam pocong, tuyul dan kuntilanak.

Kata temen saya, si David, dedemit kebun biasanya tak cuma mengganggu, mereka juga tak segan untuk mencelakai manusia.

Wujud mereka aneh dan menyeramkan mulai dari macan, ular sanca, dan babi hutan berukuran jumbo. Bahkan kata si David, dia pernah juga dibanting sama dedemit bertubuh gorila berkepala panda.

Kala itu David bercerita kejadian itu dengan meyakinkan, "Sumpah Bro, mbien ning kebon kui aku pernah diseret terus dibanting gorila ndas panda nganthi pingsan!"

Kalau apa yang diceritakan si David itu benar, saya jadi ngeri banget. Tapi karena ini perintah dari Bapak, jadi saya beranikan diri saja bermalam di kebun ini demi menjaga hasil panen sengon yang susah payah 6 tahun kami rawat.

Oiya. Kebun Bapakku tak cuma ditanami sengon. Ada beraneka rupa pohon campur-campur ditanam di kebun satu hektar ini. Ada pohon kelapa, durian, jambu, kopi, mangga, cengkeh, randu, dan beberapa tanaman bumbu dapur.

Semua pohon itu yang menanam almarhum Kakek dulu. Lalu oleh Bapak dicoba juga ditanami pohon sengon di lahan-lahan yang masih kosong 6 tahun lalu.

Pukul 20.40. Setelah beberapa saat memeriksa keadaan batang-batang sengon, berbekal senter kemudian saya menyusuri gelap dan becek menuju ke gubuk yang ada di dalam kebun. Jarak antara gubuk dan pinggir jalan raya kira-kira 50 meteran.

Sampai di gubuk, saya mengumpulkan kayu lalu membuat api. Lumayan untuk menghangatkan tubuh sekaligus menjadi penerang gelap gubuk dan pengusir nyamuk. Tak lupa mataku selalu tengak tengok ke arah pinggir jalan kalau-kalau ada maling datang.

Pukul 21.00. Sejauh ini aman. Tak ada terlihat kendaraan lewat di jalan. Pun tak ada hal-hal aneh menyeramkan. Hanya senyap suara deru aliran sungai di bawah kebun, suara ranting pohon bergesekan, suara jangkrik dan sesekali lolongan anjing liar dari arah bukit sebelah.

Pukul 21.08. Saya mendengarkan radio dari hape nexian yang sedang menyiarkan dalang yang tengah mengisahkan Narayana Begal.

Mungkin efek tadi siang mengangkut batang sengon ke pinggir jalan, Badanku Rasanya lelah sekali. Lelah dan ngantuk, Saya memutuskan untuk merebahkan tubuh di ranjang bambu hingga pasrah tidur begitu saja.

Entah pukul berapa. Seseorang menepuk-nepuk bahuku sampai saya terbangun dari tidur. Ketika saya mulai membuka mata, terlihat seorang Perempuan cantik sedang tersenyum ke arahku. 

Saya tidak mengenal siapa dan untuk apa malam-malam begini perempuan cantik itu ada di gubuk ini. Tapi senyuman manis yang mirip artis Ayu Azhari itu mengalihkan otak saya untuk berpikir hal-hal aneh.

"Mas, Tangi! Ikut aku main ke rumah yuk!" Suara perempuan itu begitu lembut menghipnotis pikiranku.

Tanpa basa-basi saya mengikuti langkahnya menuruni kebun kemudian melewati sungai lalu naik ke bukit sebelah. Beberapa kali langkah perempuan itu berhenti untuk mengambil ranting yang kemudian ia selipkan di gendongan punggungnya.

"Mriki, Saya bantu bawa kayunya, Mbak"
"Mboten usah, Mas."
"Namamu Siapa? Rumahmu kok pelosok banget. Apa masih jauh, Mbak? Kenapa jam segini Mbak baru pulang, ndak takut?"
"Namaku Sri. Sebentar lagi sampai, Mas"

Aneh. Baru lima langkah setelah permpuan itu menjawab, tiba-tiba saya sudah sampai di depan pintu sebuah rumah. Rumah antik jawa pintu dan jendela kayu penuh ukiran dan di depannya ada dua lampu ceplik menyala. 

Saya bingung kenapa dia tinggal di rumah yang letaknya jauh sekali di bukit sebelah, jauh dari pemukiman warga. Tapi karena masih mengantuk otak saya jadi tak sempat untuk menggali fakta-fakta darinya.

"Monggo pinarak, Mas"

Saya masuk ke dalam rumah mengikuti si Perempuan cantik. Si Perempuan cantik memintaku duduk di kursi depan, sementara ia berjalan ke ruang tengah. Terlihat samar-samar dia melepas lalu menaruh gendongan kayu bakarnya di atas sebuah dipan.

Dalam sayup-sayup cahaya ceplik. Duh Gusti, ternyata tak cuma gendongan. Ia juga terlihat seperti melepas kain batik bawahan tubuhnya, lalu perlahan melepas kain kebayanya, lalu menguraikan rambut dan mengibaskannya ke udara.

Wuih.. seandainya lampu ceplik ini sedikit lebih terang pasti saya bisa melihat lebih detil lekuk tubuh perempuan itu.  Sayang, saking remangnya. Saya tak bisa mengukur Seberapa putih mulus badan perempuan cantik. 

Apa yang terlihat oleh saya hanya punggung hitam-hitam berbayang saja. Jadilah saya cuma bisa menebak-nebak seperti apa bentuk tubuh perempuan itu.

Srettt.. Lagi asyik saya menebak-nebak, bayangan Perempuan cantik itu sekejap menghilang dari pandangan.

Saya heran. Kemudian beranjak dari tempat duduk lalu menuju ke ruang tengah mencari keberadaan perempuan cantik itu. "Mbak, dimana kamu?" Tak ada sahutan. Saya makin kebingungan.

Hwahhh!! 

tiba-tiba perempuan itu berteriak mengejutkanku. Wajahnya nongol tepat dua senti didepan wajahku yang sedang melongo.

Mulutnya menganga lebar. Bibir manisnya kini belepotan penuh darah, gigi taring tumbuh menjulang di pojok-pojok bibirnya. Nafas perempuan itu bau seperti bangkai tikus. Biji matanya copot satu, yang satunya melotot tajam ke arahku.

Bajilak! Melihat perempuan yang tadinya cantik berubah menjadi sosok menyeramkan begitu aku langsung lari terbirit-birit keluar dari rumah antik itu. 

Nahas, kakiku menyandung sebuah ranting kayu. Tubuhku ambruk, langsung ditindih tanpa ampun oleh sosok yang ternyata berubah pula tubuhnya menjadi hitam berbulu kasar mirip babi hutan.

Tak berhenti di situ, Ia kemudian mencekik leherku menggoyangkan kepalaku ke kanan kiri sambil terkekeh-kekeh nyaring sekali. 

Emak!! Tulungi Anakmu! Aku mulai kehabisan nafas. Lalu kunang-kunang. Lalu makin gelap. Aku tak sadarkan diri.

Bruakkk!!!

Suara benturan keras dari atap seng gubuk ini menyadarkan saya ternyata kejadian mencekam itu itu cuma mimpi. Saya terbangun dengan keringat bercucuran. Saya melihat jam hape menunjukkan waktu sudah pukul 24.01.

Tak lama setelah bunyi benturan tadi, terdengar Gluduk..gluduk dari atap. Saya pikir ada buah kelapa yang akan jatuh maka saya mengucek kedua mata saya untuk kemudian mengawasi sudut sudut atap menunggu buah kelapa itu jatuh ke tanah.

Tepluk! Kamu tahu yang jatuh apa?

Bukan buah kelapa. Melainkan seonggok kepala jatuh ke tanah lalu menggelinding pelan. Lalu berhenti menghadapku. Matanya merah menyala. Raut wajahnya terlihat murka menatap bengis ke arah saya. 

Gila! Mimpi buruk apa lagi ini! Saya cubit pipi dan kucek mata beberapa kali. Sialnya, kali ini saya sadar sepenuhnya ini nyata, bukan mimpi!

Saking paniknya, tanpa pikir panjang saya timpuk kepala itu dengan kayu bakar. Kemudian bergegas lari menuju pinggir jalan raya, menuju tempat saya parkirkan si Supri.

Baru setengah perjalanan, sesosok hitam berbulu tinggi besar menghalangiku. Kira-kira selebar satu meter dan tinggi hampir mencapai lima meter.

Saya mendongak ke atas, kepala sosok itu berbentuk seperti monyet raksasa. Hidungnya kembang kempis. Dua Matanya melotot keluar. Mulutnya lebar dan giginya jongos dengan taringnya atas bawah sangat panjang.

Kepala itu berlenggok-lenggok dengan posisi tangan bercakar tajam seperti hendak menerkam saya. Air liur busuknya menetes-netes ke muka saya yang sedari tadi tertegun ketakutan.

Hmm... tak.. pletak..taktaktaak... berulangkali sosok itu mengeram dan memainkan gigi-gigi tonggosnya. Saya tak bisa bergerak. Kaki saya lemas dan kepala saya tak bisa lepas untuk selalu mendongak menatap wajah seramnya.

Ketika saya mulai pasrah, sosok itu kemudian mencengkeram lalu meremas-remas tubuhku dengan kedua tangan besarnya. Gelap. 

Saya merasa sesak sekali dan terombang ambing dalam genggaman kedua tangannya. hmmm... ttaak.. pltakk.. hanya suara eraman dan raungan itu yang bisa saya dengar.

Wusss! Tubuh saya dilemparkan jauh oleh sosok itu. Entah berapa meter, yang saya rasakan hanya nyeri, sesak dan gelap.

Gusrakkk!!!

Saya tak peduli lagi Pukul berapa ini. Kumandang Adzan Assholatu Khairu Mina Naum dari kampung di seberang bukit membangunkanku. Matahari mulai terbit di pojok bukit sana.

Saya mendapati tubuhku sedang tersangkut di tengah rumpun bambu yang sangat rapat. Saya tak bisa bergerak, kaki, tangan, dan jidat saya terasa perih sekali. 

"Oh Demit! Salahku apa?!"