Pada Uap Secangkir Kopi Mocca

Foto: Kopi Mocca (dokpri)

Tonight Is Our last Night 

 

Matanya masih tertegun menatap kepulan uap dari cangkir kopi mocca panas di depanku. Jemari lentiknya pun tak berhenti mengetuk-ngetuk meja. Entah apa yang tengah berisik di hatinya.

“Kenapa diam saja?” tanyaku mengomandonya untuk bersuara.

Bisu. Tetap tak ada bunyi dari bibir ranumnya.

“Mau kopi?” lagi-lagi aku yang buka suara.

Kepalanya menggeleng lemah. Tiba-tiba dari sudut matanya bulir-bulir gerimis jatuh.

“Kok nangis?”  berusaha kuusap linangan air mata di pipinya. Tapi dengan cekatan ia lebih dahulu mengusapnya.

“Aku ingin menjadi kepulan uap kopi mocca-mu, Mas,” akhirnya ia bersuara.

“Kenapa begitu?”

“Setiap kau ingin, ia selalu menemanimu. Berarak pelan mencumbui setiap detil wajahmu. Tanpa ada yang cemburu. Bahkan belum sampai dingin, kau reguk kopi itu pelan. Aku tahu maksudmu. Agar uap itu lebih dekat lagi menguasaimu. Aku ingin seperti uap kopi mocca panasmu, Mas,”  tambahnya.

“Kau tahu, Vin? Bagiku kau lebih dari sekedar uap kopi ini. Wajahmu, tanganmu, bahkan lembut suaramu selalu menghantui malam-malamku. Aku tak pernah ingin kau jauh, Sayang. Aku ingin selalu bersamamu. Mendendangkan lagu-lagu simfoni. Bersamamu itu … sesuatu.”

Matanya berbinar. Perlahan dagunya terangkat. Mata kami saling bertatap.

“Habiskan dulu kopimu. Setelah itu, dengarkan sajak-sajakku,” pintanya.

Aku tersenyum.  Malam semakin mendaki  larut. Segera tereguk tandas kopiku.

“Bacakan sajakmu, Sayang.”

“Eits, sebelum kubaca larik-larik di tanganku, Mas periksa dulu tiket untuk penerbangan besok. Sudah siap belum?”

“Hmmm … “

“Kok hmmm? Buruan! Periksa dulu semuanya. Pakaian sudah siap packing juga? Jangan sampai ada yang tertinggal ya,” kudengar suaranya sedikit memaksa.

“Packing kan sudah tadi sebelum minum kopi,” sanggahku.

“Tiketnya?”

Segera kubuka tas travel kecil berisi surat-surat kelengkapan perjalanan. Kutarik selembar kertas dari dalamnya.

“Nih sudah siap.”

“Ok. Sekarang giliranku membacakan sajak untukmu,” katanya sembari mengulas senyum senang.

Kunikmati sajak-sajak yang sengaja ia buat untukku. Biru. Hatiku larut. Haru.

“Malam telah larut, Sayang. Kamu tidur ya,” pintaku.

“Ini malam terakhir kita, Mas. Aku ingin tetap terjaga. Habiskan semua larik sajak bersamamu,” katanya memaksa.

“Kamu sudah terlihat lelah, Vin. Tidur ya!”

Matanya memerah. Kantuk hebat telah menyerangnya.  

“Mas tidak apa-apa?”

“Tidak apa-apa, Sayang. Mas juga harus istirahat untuk penerbangan besok. “

“Ini malam terakhir kita, Mas.”

“Iya, sayang. Mas tahu. Ini malam terakhir kita,” jawabku haru.

“Aku ingin jadi uap kopi mocca panasmu, Mas.”

“Lebih dari itu, Vin. Kau adalah hidupku. Sekarang baringkan tubuhmu. Agar esok hari badanmu bugar, dan lebih dari sekedar uap kopi mocca panas yang menyerbu mukaku,” rayuku.

“Mas tidak tidur dan akan menjagaku kan?” tanyanya manja.

“Selalu,” jawabku.

Perlahan kulihat kelopak matanya mengatup. Napasnya berangsur terembus teratur. Vina masuk pada alam lelap.  

Selamat tidur Vina sayang. Mimpi indah semoga selalu menemani. Esok hari kita berjumpa lagi Dalam dunia nyata tanpa dinding penghalang berlyar maya. Jangan lupa, siapkan secangkir kopi mocca, Cinta.

Kutuliskan kalimat pesan untuknya sebelum kumatikan laptop penghubung cinta. Jarak yang memisahkan  selama setahun ini, telah merindangkan pohon rindu di tepian sungai hati. Semoga ini benar-benar malam terakhir kami berada saling jauh. Musim dingin  yang menyapa  Sidney, semoga tak menghalangi penerbanganku pulang.

 

*** Selesai***

 

Wied, 021214, alaskembang