Serakah Membawa Petaka

Dok.ils

Pada zaman dahulu, ada seorang pangeran muda yang bijaksana. Ia adalah putra Raja Pesisi Barat Borne, bernama Pangeran Palo.

Di usianya yang masih belia, Pangeran Palo memiliki kecerdasan luar biasa. Bukan hanya itu, setiap masalah yang menimpa rakyatnya, mampu diselesaikan dengan baik dan memuaskan semua pihak. Seluruh rakyat mencintai pangeran, apalagi raja. Baginda sangat bangga mempunyai anak seperti Pangern Palo.

Suatu hari, datanglah dua pemuda ke istana. Mereka mencari keadilan kepada raja dan pangeran. Kedua pemuda itu, memperebutkan sebidang tanah yang masing-masing merasa berhak memilikinya.

"Tuanku baginda raja yang hamba muliakan, tolonglah kami," ucap pemuda pertama.

"Iya, Tuanku! Tolonglah hamba," sambung pemuda ke dua.

"Ada apa gerangan yang terjadi, coba kalian ceritakan!" perintah raja.

Kedua pemuda pun bercerita serempak, raja dan seluruh penghuni istana kebingungan. Karena mereka tidak memahami penjelasan keduanya.

"Tunggu sebentar, Paman berdua!" pinta Pangeran Palo, "bicaralah perlahan, coba paman yang pertama menjelaskan terlebih dahulu."

Lalu pemuda pertama berbicara. "Yang mulia Raja dan Pangeran, hamba adalah anak seorang petani. Ayahanda hamba baru saja wafat, beliau mewariskan sebidang tanah kepada hamba. Namun entah bagaimana, pemuda di samping hamba ini menyatakan bahwa tanah itu adalah miliknya."

"Apa benar begitu?" tanya Pangeran Palo, "coba paman kedua jelaskan!" 

"Begini, Pangeran! Tanah itu milik ayah hamba, beliau juga sudah wafat dan mewariskannya pada hamba. Tetapi ia  menginginkan tanah itu sebagai tanah miliknya." ujar pemuda ke dua, sambil menunjuk pemuda pertama.

Raja dan seluruh penghuni istana bingung mendengar penjelasan kedua pemuda tersebut. 

"Apa paman berdua bersaudara?" tanya Pangeran Palo kembali.

"Tidak!" jawab keduanya kompak.

"Siapa nama ayahanda paman?" kembali Pangeran Palo bertanya kepada pemuda pertama.

"Nama ayahanda hamba Fatah Getih, Tuanku!"

"Dan, siapa nama ayahanda paman?" tanya Pangeran Palo kepada pemuda ke dua.

"Fatah Getih, Tuanku!"

"Aneh! Kalian memiliki nama ayah yang sama, tetapi kalian tidak bersaudara. Bagaimana bisa terjadi?" kata raja keheranan.

Ruang istana riuh rendah, mendengar keterangan kedua pemuda tersebut. 

"Siapa nama Paman berdua?"

"Lintang Getih!" jawab dua-duanya juga serempak.

Raja benar-benar bingung, termasuk seluruh penghuni istana, namun tidak dengan Pangeran Palo. Anak Raja Pesisir Barat Borne itu nampak berpikir dengan tenang. Tak lama kemudian ia berkata.

"Begini saja, bagaimana kalau sebidang tanah peninggalan ayahanda paman berdua, dijual kepadaku? Lalu hasilnya paman berdua bagi rata!"

Pemuda pertama nampak sedih. Ia tidak rela, sebab ialah pemilik sah tanah itu. Pemuda pertama ingat wasiat ayahandanya, agar tanah tersebut tidak boleh dijual apa pun yang terjadi. Karena makam ayahnya terletak di tanah warisan tersebut.

Sementara pemuda ke dua merasa senang dan bahagia, membayangkan sebentar lagi akan mendapat banyak uang dari penjualan tanah. Ia adalah pemuda licik dan serakah, ingin menguasai tanah yang bukan miliknya.

"Bagaimana, Paman?" tanya Pangeran Palo kembali.

"Hamba setuju, Tuanku." jawab pemuda ke dua dengan lantang.

"Tidak, Tuanku! Hamba tidak setuju." Pemuda pertama keberatan. 

"Mengapa, Paman? Bukankah paman akan mendapat bagian yang sama dengan paman yang satunya?" tanya Pangeran Palo.

"Benar, Tuanku! Tetapi hamba tidak rela menjual tanah warisan peninggalan ayahanda hamba. Semasa hidupnya dulu, ayah hamba pernah berpesan agar tidak menjual tanah tersebut, apa pun yang terjadi. Hamba tidak berani melanggar amanah ayahanda hamba," jelas pemuda pertama dengan wajah murung. 

Air mata pemuda pertama menetes, tampak sedih dan tidak berdaya. Sementara pemuda ke dua malah sebaliknya, ia jurtu senang membayangkan uang hasil penjualan tanah, yang sebentar lagi akan ia dapatkan. 

Maka yakinlah Pangeran Palo, bahwa pemuda ke dua adalah seorang penipu. Pangeran Palo percaya pemuda pertama orang yang jujur.

"Baiklah, sekarang tanah itu akan diberikan kepada paman yang ini," ucap Pangeran Palo lantang, sambil menunjuk kepada pemuda pertama.

Pemuda ke dua heran dan bertanya, "Bagaimana dengan hamba, Tuanku?"

Paman tidak mendapatkan apa-apa, justru paman akan dihukum karena ingin memiliki hak yang bukan kepunyaan paman.

"Tapi ... tapi ...!" kata pemuda ke dua gagap.

"Iya, paman adalah seorang penipu. Jika tanah itu warisan ayahanda paman, tidak mungkin paman rela menjualnya. Sebab warisan adalah amanah orang tua yang harus dipatuhi. Pengawal, tangkap dan hukum paman itu!" perintah Pangeran Palo marah, menunjuk pemuda ke dua.

"Ampun! Ampun, Tuanku! Hamba mohon maafkanlah hamba," rengek pemuda tersebut merasa takut dan bersalah.

Ia malu karena ketahuan serakah, ingin memiliki hak yang bukan miliknya. 

"Hukum ia sepuluh kali pukulan dengan cemeti dan masukan ke dalam tahanan!" perintah raja.

Pengawal pun melaksanakan perintah raja, menyeret pemuda ke dua untuk dihukum. 

Sementara pemuda pertama mengucap syukur, kini ia bisa mempertahankan warisan ayahnya.

"Terima kasih, Tuanku yang bijaksana. Kini hamba mohon diri, karena hamba harus merawat makam ayahanda."

"Baiklah, Paman! Sebagai hadiah, akan kudiberikan dua puluh lima keping emas.   Karena paman anak yang berbakti kepada orang tua, serta amanah."

Maka pulanglah pemuda pertama dengan suka cita. Raja dan seluruh penghuni istana merasa lega dan bahagia. Sekali lagi Pangeran Palo mampu membanggkan raja. Seluruh rakyatnya senang memiliki pangeran yang arif dan bijaksana. 

ZQS