Anakku Jadi Tumbal Pesugihan Adik

Ilustrasi/Ist

Namaku Ratih, aku ibu rumah tangga yang tinggal di bilangan Sumedang, Jawa Barat. Aku janda yang harus menghidupi anak-anakku sendiri. Usiaku kini sudah menginjak 43 tahun. Aku sudah hidup tanpa suami sejak aku memilki anak ke tiga. Suami tercintaku meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. Persis ketika anak ke tigaku lahir. Ia terburu-buru pulang dari tempat kerjanya untuk menyaksikan aku melahirkan di rumah persalinan. Tapi Tuhan berkehendak lain. Suamiku yang mengendarai sepeda motor ditabrak sebuah mobil hingga tewas.

Saat itu anak terbesarku perempuan baru kelas 6 SD, yang kedua kelas 2 dan si bayi yang baru lahir itu. Tentu saja aku sangat terpukul menghadapi kenyataan suami tercinta, ayah dari anak-anakku dan tulang punggung keluargaku harus pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Aku baru tahu suamiku meninggal 2 hari setelah aku melahirkan. Tapi aku maklumi mengapa tak ada yang memberi kabar kematian suamiku. Saat itu seluruh keluarga melarang seorang pun memberitahuku karena akan berpengaruh pada proses persalinanku.

Sejak itu, aku harus menghidupi 3 orang anak tanpa suami. Tentu saja bukan hal mudah bagi janda sepertiku yang tak memiliki keahlian. Aku harus banting tulang melakukan pekerjaan apapun untuk menghidupi ke tiga orang buah hatiku. Aku memang terbiasa hidup mandiri, aku tak suka meminta bantuan pada siapapun. Apalagi pada saudara, karena aku tahu itu akan menjadi pembicaraan tidak enak. Dan tentu saja aku yang kemudian akan menjadi korban dari pembicaraan itu.

Sejak suamiku meninggal, aku mulai berjualan apapun di depan rumahku. Aku menjual manakan ringan, kopi, teh manis dan gorengan. Aku juga menjual nasi uduk setiap pagi sampai menjelang siang. Kadang aku juga jadi pembantu membersihkan rumah orang lain atau mencuci pakaian di rumah orang. Semua aku lakukan demi menghidupi 3 orang anakku. Aku tak ingin mereka kelaparan atau tak bisa bersekolah karena aku tak punya uang. Maka aku lakukan apapun untuk bisa menyambung hidup.

Tapi nyatanya hidup ini memang berat, aku sudah melakukan apapun untuk bisa mencapai tarap hidup yang lebih baik. Rasanya aku sudah memeras keringat dan memutar otak untuk mencapai kehidupan yang lebih layak, namun kami tetap saja kekurangan. Aku sudah berusaha membuka warung kecil-kecilan di depan rumah, tapi hasilnya juga tidak bisa mencukupi semua kebutuhan keluarga. Selalu ada yang kurang, dan ketika aku kekurangan itu dengan terpaksa aku pinjam uang sana sini.

Beruntung suamiku masih meninggalkan warisan sebuah rumah yang tidak terlalu bagus. Tapi aku bersyukur karena rumah yang kami tempat ini rumah layak dan bukan rumah milik orang lain. Aku dan anak-anakku tak harus mengontrak rumah. Aku hanya perlu mencari nafkah untuk makan dan kebututuhan sehari-hari. Terutama kebutuhan sekolah dan biaya hidup anak terbesarku. Tapi sekali lagi, aku selalu menghadapi kekurangan biaya setiap bulan. Terutama untuk biaya sekolah anak-anakku.

Sampai suatu ketika, adik suamiku, atau mantan adik iparku menawarkan jasa baiknya padaku. Sejujurnya aku tidak pernah berharap kebaikan dari orang lain, meski itu adalah mantan adik iparku sendiri. Aku tidak ingin menjadi omongan jelek pihak keluarga almarhum suamiku. Karena sejak kami menikah, keluarga sumaiku memang kurang cocok denganku. Mereka terlalu menganggap remeh keluargaku yang miskin. Mereka tidak bisa menerimaku sepenuhnya sebagai menantu.

Ketika sumaiku masih hidup pun, keluarga suamiku jarang sekali berkomunikasi dengan kami. Suamiku sendiri, seperti tak perduli dengan perlakuan saudara-saudaranya. Ia tak menghiraukan perlakuan keluarganya yang kurang baik terhadap dirku dan anak-anaku. Ibu mertuaku adalah yang paling tidak menyukaiku. Ia kerap menjelek-jelekan aku dengan sebutan mantu yang gak becus, mantu pembawa sial. Aku dan suamiku memang hidup dengan ekonomi yang pas-pasan. Jauh berbeda dengan adik-adik suamiku yang kaya raya semua. Itulah sebabnya keluarga suamiku terkesan selalu mencemooh kami.

Tapi hari itu, tiba-tiba saja adik almarhum suamiku datang ke rumah kami dan menanyakan kabar aku dan anak-anakku. Sudah lebih 2 tahun aku tak ada komonuikasi dengannya. Bahkan neneknya, atau orang tua suamiku, juga tidak pernah mempertanyakan keadaan cucu-cucunya. Apakah cucu-cucunya itu hidup dalam keadaan baik, sehat atau bagaimana. Tak pernah sedikit pun mantan ibu mertuaku itu tersentuh hatinya untuk melihat keadaan kami. Aku pun tak ingin mengemis pada mereka untuk meminta apapun.

Perlu pembaca ketahui, adik iparku dan keluarga besar almarhum suamiku tinggal di bilangan Purwarkarta, Jawa Barat. Aku tak ingin menyebut namanya karena aku takut ada pembaca yang mengetahui keberadaan keluarga almarhum sumaiku itu. Mungkin dampaknya tidak akan baik buatku dan anak-anakku. Sebab cerita ini menyangkut aib keluarga suamiku. Aku juga sebenarnya tidak ingin menceritakan hal ini pada penulis Misteri. Tapi hatiku terus berontak untuk menceritakan hal ini sebagai cermin bagi pembaca yang lain.

Sebut saja nama adik iparku itu Junaidi. Ia datang dengan menawarkan jasa baiknya untuk mengurus anak-anakku. Junaidi mengaku ingin mengurus salah satu dari tiga anakku sebagai pengganti kakaknya almarhum. Menurutnya, niat baiknya itu juga sudah ia ceritakan pada ibunya dan keluarga besarnya yang lain. Masih menurut Junaidi, semua keluarga besarnya setuju untuk mengambil salah satu anak dari almarhum suamiku. Junaidi akan memperlakukannya seperti anaknya sendiri.

“Kak Ratih, jangan khawatir. Saya akan mengurus dan memperlakukan anak mbak seperti anak saya sendiri. Saya juga punya hutang budi pada abang saya almarhum. Jadi saya ingin membalas budi baiknya melalui anaknya,” jelas adik iparku itu saat ia datang.

Ia tidak datang sendiri. Junaidi datang bersama istrinya, sopir dan seorang pembantunya laki-laki. Tapi kala itu, saya tidak melihat pembantunya itu seperti seorang pembantu. Lebih mirip seorang aneh yang kelakuannya tidak bisa dimengerti. Saya sulit menjelaskan perlakuan orang itu. Karena orang itu lebih banyak diam di mobil bersama sopirnya. Junaidi juga kerap melarang orang itu keluar dari mobil. Rumahku memang di pinggir jalan, jadi ketika Junaidi melarang orang itu keluar dari mobil, suara dan tindakannya terdengar.

Kala itu, aku juga disambungkan dengan telepon genggam mantan mertuaku. Di ujung telepon sana, ia berbicara sedikit lebih ramah dari sebelumnya. Dia menanyakan keadaanku, anak-anak atau cucu-cucunya dan semua hal yang sebelumnya tidak pernah ia tanyakan. Ada rasa tak percaya dalam hatiku, mengapa ibu mertuaku tiba-tiba saja bisa peduli pada keadaan kami. Tapi aku menepis kecurigaan itu, aku berpikir positif mungkin sekarang keluarga suamiku sudah mulai iba melihat keadaanku dan anak-anakku yang carut marut.

Singkatnya, aku ikhlaskan anak pertamaku, Neli, ikut bersama Junaidi ke Purwakarta. Mantan adik iparku itu berjanji akan memperlakukan anakku dengan baik seperti anaknya sendiri. Tentu saja sebelumnya aku sudah melakukan proses perpindahan sekolah yang memakan waktu lebih dari 1 bulan. Selama proses itu Junaidi sering bolak-balik ke rumahku dengan membawa oleh-oleh buat aku dan anakku. Tentu saja aku dan anak-anakku senang sekali. Junaidi juga selalu memberi uang manakala ia pamit pulang.

Seminggu dua minggu, aku merasa kehilangan Neli, anak pertamaku. Tapi aku kuatkan hatiku, aku yakinkan ini demi kebaikan anakku itu. Aku belum tentu bisa menyelesaikan sekolahnya jika ia tetap tinggal bersamaku. Padahal aku masih harus membiaya dua anakku yang lain. Aku memang pesimis menghadapi kenyataan ini. Maka ada sedikit lega ketika keluarga suamiku mau berbaik hati. Tapi juga ada rasa khawatir karena aku terpaksa jauh dari anakku.

Sebulan dua bulan kemudian, aku masih merasa kehilangan. Tapi sedikit bisa aku obati karena aku masih mendengar kabar baik dari Neli melalui telepon genggam. Neli sering memberi kabar melalui sms atau telpon. Ia mengaku disekolehkan dengan baik, setiap hari diperlakukan seperti anak oleh Junaidi. Tentu saja aku juga berpikir begitu, tak mungkin Neli diperlakukan seperti pembantu. Karena Junaidi memiliki cukup pembantu untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya.

Waktu terus berlalu, tak terasa sudah hampir setahun Neli tinggal di rumah pamannya Junaidi. Tak ada masalah apapun atau sesuatu yang harus aku risaukan. Neli juga sudah naik kelas 2 SMP, ia sudah cukup mengerti dan tahu apa yang harus ia lakukan. Aku tak perlu mengkhawatirkannya lagi. Aku sudah melihat dengan baik, bahkan Neli setiap bulan diijinkan untuk pulang ke rumahku dengan diantar oleh sopir Junaidi.

Tapi menginjak tahun kedua, aku seperti kehilangan kontak dengan Neli. Awalnya aku tidak merasa curiga apapun karena sebelumnya Neli masih memberi kabar baik. Ia sekolah setiap hari dan tidak pernah mengeluh apa pun padaku. Tapi sudah lebih sebulan Neli tidak memberi kabar dari telepon selularnya. Beberapa kali aku hubungi juga tidak aktif. Aku tidak berpikir harus menghubungi Junaidi karena mungkin ada sesuatu dengan handphone Neli. Aku tak ingin mengganggu kesibukan mantan adik iparku itu. Aku juga tidak ingin menyinggung perasaannya. Bagaimana jika handphone Neli memang rusak. Maka terkesan aku memintanya untuk dibelikan yang baru atau apalah.

Tapi dua bulan kemudian, aku mendapat kabar buruk dari Junaidi. Dari ujung handphonenya Junaidi mengabarkan kalau Neli sakit panas sudah lebih dari 3 minggu. Panasnya itu turun naik dan kadang hilang normal. Tapi Neli kerap mengigau dan mengatakan hal yang aneh-aneh.

“Kak Ratih, ini Neli sakit. Kayanya panas. Saya sudah membawanya ke dokter tapi tidak sembuh juga. Neli mengeluh minta pulang. Jadi besok pagi Neli akan diantar ke Subang oleh Sopir. Saya tidak bisa ikut karena sibuk,” begitu kabar yang aku dengar dari Junaidi.

Aku benar-benar tak sabar menunggu hari esok. Aku ingin melihat keadaan Neli yang sebenarnya. Sakit apakah anakku itu. Apakah parah atau sekedar sakit biasa saja. Tapi sepanjang hari hingga malam menjelang, hatiku berdebar keras. Ada rasa yang tak biasanya di dalam hatiku. Aku merasa khawatir yang berlebihan atas kesehatan Neli. Aku seperti mendapat firasat buruk atas diri anakku itu.

Sekiar jam 9 pagi, Neli datang diantar seorang sopir dan seorang pembantu Junaidi. Aku yang menjemputnya ke mobil langsung menangis melihat keadaan anakku kala itu. Aku tak kuasa menahan sedih melihat keadaan Neli yang kurus dengan muka yang pucat pasi. Bibirnya pecah dan matanya merah. Tak ada kata-kata apapun yang keluar dari mulut Neli kecuali isak tangisnya. Aku pun hanya bisa memeluk sambil memapahnya ke dalam rumah.

Aku baringkan anakku itu di atas tempat tidur yang dulu ia gunakan. Tak berselang lama, beberapa orang tetangga mulai berdatangan menjenguk. Semua tetanggaku yang menengok ikut sedih melihat keadaan Neli, beberapa diantara mereka ada yang ikut meneteskan air mata. Aku mendampinginya di samping tempat tidur sambil terus mengusak kepalanya. Tak henti-hentinya aku bertanya apa yang dirasakan anakku. Namun Neli hanya mengeluh sakit kepala, perut dan sekujur badannya terasa panas.

“Badan Neli panas Mah, kepala pusing dan perut sakit seperti ada yang bergerak di dalam perut Neli,” begitu keluh anakku sambil meringgis menahan sakit.

Jika saja penyakit itu bisa dipindahkan ke tubuhku, ingin rasanya aku yang menggantikan sakit anakku. Aku begitu sayang pada anak-anakku, begitu juga pada Neli. Rasa cinta, kasih dan sayangku pada anak-anakku tak akan tergantikan oleh apapun. Bahkan jika pun aku harus mati menggantikan anakku, aku akan melakukannya.

Satu persatu para tetangga yang menjenguk anakku mulai pulang. Tinggal aku, dua orang anakku, sopir dan pembantu Junaedi yang ikut mengantar anakku. Tiba-tiba pembantu yang ikut mengantar anakku itu bicara.

“The, nanti jangan kaget kalau menjelang malam Neli suka merintih sakit, kemudian minta tolong dan mengigau seperti orang ketakutan. Itu sudah berlangsung sejak ia sakit. Saya orang yang merawat Neli selama ia sakit di rumah juragan Edi. Saya juga yang mengurus menemani Neli tidur kalau malam hari,” bisik pembantu Junaedi di telingaku.

Aku melihat ada rasa iba dari wajah wanita saat menceritakan kondisi Neli.  Kutebak usianya beberapa tahun saja lebih tua dari aku. Aku juga melihat keikhlasan, rasa kasihan dan perasaan keibuan yang tulus dari wanita itu. Tapi aku juga melihat kekhawatiran dari dalam tatapan matanya.

“Maksud tetah, gimana?” Aku bertanya karena memang tidak mengerti.

Lalu orang itu menjelaskan, beberapa kali menjelang magrib Neli berteriak-teriak kesakitan dan memegang perutnya. Katanya perutnya itu sakit melilit seperti ada yang menarik-narik ususnya. Di dalam perutnya Neli juga merasa seperti ada sesuatu yang bergerak ke kiri dan ke kanana. Kadang Neli juga merasakan seperti ada benda keras yang bergerak ke ulu hatinya hingga membuat ia sesak napas dan mual.

Tak ada yang bisa dilakukan wanita paruh baya itu kecuali memijat-mijat tangan Neli, kaki atau mengusap kepala Neli. Ia tak bisa melakukan apapun karena ia bukan dokter, bukan bidan atau perawat yang bisa menangani pasien. Yang bisa dilakukan wanita itu hanya berdoa membacakan aya-ayat suci Al Quran ke telinga Neli. Tapi itu sangat manjur dirasakan, karena jika Neli mendengar ayat-ayat Allah, maka ia akan berhenti berteriak kesakitan kemudian tertidur.

“Kalau Neli berteriak kesakitan itu, bacakan saja ayat-ayat Allah, biasanya dia akan berhenti berteriak kesakitan dan kemudian tertidur. Tapi saya juga tidak yakin apakah dia tidur atau pingsan. Saya tidak paham,” jelas wanita paruh baya itu lagi.

Seperti pada senja itu, Neli berteriak kesakitan dan mengagetkan seiisi rumah. Wantia paruh baya itu diperintah ibu Edi untuk mengurus  Neli, karena memang hanya wanita paruh baya itulah yang menjaga Neli. Yang lain tak ada yang mau atau tak ada yang berani melakukannya. Orang lain di rumah itu hanya bisa merasa iba melihat keadaan Neli tanpa bisa berbuat apa-apa.

Neli tiba-tiba berteriak kesakitan, suaranya nyaring terdengar hingga ke halaman depan rumah juragan Edi. Wanita paruh baya pembantu juragan Edi berlari ke belakang menghampiri Neli yang berguling-guling di tempat tidurnya menahan sakit. Kali ini ada yang berbeda dari sebelumnya, mata Neli tidak layu karena kesakitan. Badan Neli juga sepertinya tegang, kaku dan tangannya menggaruk-garuk kasur hingga beberapa benang jahit dari kasur itu putus.

Mata Neli melotot dengan bola mata yang merah menyala. Wanita paruh baya itu melihat Neli menjadi seperti orang yang mengerikan. Neli terus berteriak-teriak minta tolong sambil begulingan. Sesekali ia menjerit, mengeluh menahan sakit di perut, kepala dan sekujur tubuhnya.

“Saya  cuma bisa melihat dan berdoa membacakan ayat-ayat Allah. Tapi beberapa menit kemudian mulutnya muntah mengeluarkan darah segar. Kemudian dari kemaluannya juga keluar darah segar, darah berwarna kehitaman dan darah yang kental seperti agar-agar. Setelah Neli muntah dan mengeluarkan darah itu barulah ia berhenti berteriak menahan sakit

“Saya benar-benar tidak tega melihatnya Teh. Mudah-mudahan kalo di sini dia bisa sembuh,” tutur wanita paruh baya itu padaku.

Menjelang sore, sopir dan wanita paruh baya itu pamit pulang. Juragan Edi memang meminta mereka pulang menjelang sore. Entahlah tak ada mantan adik iparku itu mamang kehidupannya aneh sejak dulu. Itulah sebabnya almarhum suamiku tidak ingin terlalu akrab dengan adiknya sendiri. Almarhum suamiku juga seperti sengaja melarang dan menjauhkan kami dari keluarganya sendiri. Aku tidak pernah diberi penjelasan lebih detil mengapa itu ia lakukan. Tapi jelas aku merasa suamiku memang menjaga jarak kami dengan keluarganya.

Lepas magrib, aku dikejutkan oleh teriakan Neli dari kamarnya. Kala itu aku baru saja selesai melaksanakan shalat Magrib di kamarku. Aku baru saja membacakan separuh ayat kursi manakala aku mendengar Neli menjerit mengaduh kesakitan. Teriakan minta tolongnya pun terdengar jelas ditelingaku meski serak dan parau. Suara Neli terdengar berbeda kala ia meneriakan rasa sakit dan minta tolongnya itu.

Aku ibu kandungnya yang mengurusnya hingga usia 13 tahun tentu saja kenal betul dengan suara Neli. Tapi aku mendengar suara yang keluar dari mulut Neli itu seperti bukan suara Neli. Tak hanya aku beberapa orang tetangga yang bergegas datang sesaat setelah mendengar teriakan Neli juga mengatakan hal yang sama. Suara Neli seperti suara orang dewasa, tapi kadang terdengar seperti suara nenek-nenek.

“Kok suara Neli aneh ya, seperti bukan suaranya,” kalimat itu diucapkan oleh banyak orang yang mendengar teriakan Neli dan permintaan tolongnya ketika ia meregang kesakitan. Bahkan anakku, adik-adiknya Neli juga mengatakan hal yang sama.

Memang seperti yang diceritakan wanita paruh baya pembantu juragan Edi itu, sesaat setelah Neli berteriak kesakitan, ia muntah darah. Baju, celana dan ranjang tempat Neli tidur penuh dengan darah segar dan darah yang mengental kehitaman. Tak ada yang bisa aku lakukan, kecuali berdoa. Beberapa tetangga yang melihat kejadian itu tak tahan, lalu keluar dari kamar sambil istighfar. Aku tahu bagaimana iba yang mereka perlihatakan pada Neli dan aku. Aku tahu mereka kasihan padaku dan Neli, tapi mereka juta tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan.

Malam pertama sekembalinya dari rumah Juragan Edi, aku benar-benar melihat Neli tersiksa karena sakitnya. Sepanjang malam ia hanya meregang kesakitan sambil sesekali meminta tolong. Hanya kata mamah dan bapa saja yang bisa keluar dari mulutnya. Berkali-kali aku bertanya padanya, tapi Neli tak sanggup menjawabnya. Matanya melotot ke atas langit-langit kamarnya, hanya sesekali saja berkedip.

Esok harinya, aku membawa Neli ke dokter. Seperti biasa dokter memeriksa dan memberi obat pada Neli. Tapi dokter itu malah menyarankanku untuk membawa pulang Neli. Katanya ia tak bisa menangani Neli. Dokter itu malah memberiku rujukan untuk membawa Neli ke rumah sakit yang lebih besar. Atau jika aku tidak mau lebih baik dibawa pulang saja dan dirawat di rumah.

Malam kedua di rumahku, Neli kembali memperlihatkan hal yang sama seperti malam sebelumnya. Aku ingat betul kala itu selepas Isya. Neli mengerang kesakitan sambil memegang perutnya. Aku bertanya sambil membisikan kata-kata di telinganya.

“Apa yang kamu rasakan anakku.? Ceritakan pada mamah Neli, agar mamah tahu apa yang harus mama lakukan,” tanyaku di telinganya.

Kalau sudah begitu, tentu saja aku tak tahan menahan sedih, kasihan dan hanya air mata yang mengalir dari sudut mataku. Adik-adiknya Neli pun demikian. Malam itu kami berkumpul di kamar Neli sambil membantunya sedapat mungkin. Aku hanya bisa berdoa sambil memegang tangan Neli, mengusap kepala dan wajahnya. Hatiku semakin ketir manakala adik-adik Neli juga menangis. Terisak di pinggir tempat tidur kakanya.

Yah malam itu kami sekeluarga hanya bisa menangis melihat keadaan Neli yang semakin parah. Hatiku serasa teriris, luluh lantah seluruh kekuatan batinku melihat tiga anakku dalam kondisi  yang tidak menyenangkan. Neli anak tertuaku sakit parah dan tidak bisa lagi bicara walau sekedar mengatakan apa yang ia rasakan. Dua anakku yang lain juga terguncang batinnya melihat kakaknya kesakitan. Mereka terduduk di pinggir ranjang, terisak menanahan tangis dan sedih. Jelas, air mata dua anakku itu mengalir dari sudut matanya masing-masing.

Yah, malam itu hanya kami, hanya kami saja di rumah dengan segudang kesedihan dan tangis sepanjang malam. Aku duduk dan terbaring di sisi ranjang menemani Neli sambil terus mengusak kepala, wajah dan tangannya. Di bawah ranjang aku lihat dua anakku yang lain tertidur memeluk bantal. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya pada kami. Aku tak bisa lagi berpikir apa yang harus aku lakukan. Aku pasrahkan segalanya pada kehendak Tuhan.

Ya Allah, mengapa kami diberi cobaan seberat ini. Dalam kondisi kami separah ini pun tak ada orang yang menemani kami. Tak ada orang lain yang bisa aku jadikan pelindung untukku dan anak-anakku. Mengapa Kau ambil nyawa suamiku lebih dulu. Mengapa tak Kau beri kesempatan suamiku untuk membelaku, menjadi tameng bagi prahara yang menimpa kami. Mengapa tak Kau beri kesempatan suamiku untuk merasakan kesedihan seperti yang kami rasakan.

Pembaca yang budiman, hanya 7 hari saja Neli berada di rumah. Pada malam ke delapan, ia menghembuskan nafas terakhirnya. Sepanjang 7 hari itu, tentu saja aku sudah melakukan berbagai cara sebisa yang aku lakukan. Para tetangga dan sesepuh kampung juga berdatangan menengok Neli, memang seperti itulah trasidi di kampungku. Dari para tetangga dan sesepuh serta ustad di kampungku, mereka sepertinya memberi sinyal tidak baik atas diri Neli.

Sebagian di antara mereka ada yang mengatakan Neli bukan sakit biasa. Anakku itu telah ditumbalkan untuk kekayaan seseorang. Sebab menurut penerawangan seorang pintar di kampungku, darah yang keluar dari kemaluan Neli itu sesungguhnya adalah anak makhluk halus yang dikandung Neli. Nyawa Neli ditukar oleh nyawa makhluk halus. Imbalannya adalah sejumlah harta yang melimpah untuk seseorang.

Tapi aku tidak ingin berburuk sangka. Aku sudah pasrahkan segalanya pada kehendak Allah. Tidak ada gunanya juga aku mengetahui atau menelisik lebih jauh. Aku tidak ingin menjadi fitnah atau masalah yang kemudian memanjang karena hal ini. Namun hati kecilku tetap saja menyesalinya. Sebagai manusia yang penuh dengan kelemahan, tentu saja aku menyesali dan rasa sakit ini tidak mungkin hilang dengan mudah.

Aku menceritakan hal ini hanya untuk mengeluarkan unek-unek di hatiku saja. Aku tidak ingin menuduh atau menghakimi siapapun. Aku juga tidak berharap hal ini terjadi pada keluargaku yang lain. Aku berharap ceritaku ini bisa menjadi bahan pertimbangan para pembaca yang lain agar terhindar dari kekuatan gaib dan iblis yang merasuki tubuh manusia.

Seperti dikisahkan NN di Sumedang kepada Tim Risalah Misteri