Melawan Tiga Dukun Santet

Ilustrasi (dok.jatimtimes.com)

Belasan tahun yang lalu, saya terpaksa melawan tiga Dukun Santet sekaligus. Hal ini saya lakukan untuk melindungi keluarga dari kejahatan melalui kekuatan ghaib.  Saat itu kekuatan yang diberikan Allah SWT digunakan untuk membasmi angkara murka.

Peristiwa itu terjadi setelah setahun bapak meninggal dunia. Salah seorang kakak ipar, Narto (nama disamarkan) menyewa dukun santet agar tidak ada yang bisa menghalangi dia. Saya melawan, karena tidak ingin keluarga terganggu.

Awal ceritanya, sejak bapak.meninggal ipar saya ini mulai nyeleneh. Memang dia bukan orang yang taat menjalankan ibadah. Ia berasal dari keluarga "abangan" yang dikenal lebih pada ajaran kepercayaan.

Mas Narto mungkin hanya takut pada bapak, sehingga dia sholat kalau di rumah. Tetapi semenjak bapak mangkat, ia jarang sholat. Bahkan dia sering keluyuran bersama teman-temannya sampai larut malam.

Pada suatu hari di bulan Ramadhan, kakak saya menemukan celana dalam wanita di kantong celana panjang suaminya. Ia terkejut dan shock, merasa bahwa itu bukan miliknya. Seketika kecurigaan dia bangkit, menduga bahwa suaminya selingkuh.

Mas Narto dicecar pertanyaan oleh kakak. Tetapi dia berkelit bahwa celana itu titipan temannya. Sungguh tidak masuk akal, mana ada seorang lelaki mengantongi celana dalam titipan? 

Buntut dari kecurigaan itu, kakak perempuan saya itu meminta kakak laki-laki untuk membuntuti suaminya. Mereka berdua mengikuti kepergian Mas Narto dengan berboncengan sepeda motor. Hingga pada akhirnya mereka menemukan Mas Narto di rumah seorang janda pada waktu sahur, sekitar pukul tiga dini hari.

Betapa remuk redam hati kakak saya. Dia menangis dan histeris ketika pulang ke rumah. Ibu tentu saja menjadi murka dan memberi ultimatum agar kakak minta cerai.

Dalam sidang keluarga, ipar saya tetap tidak mau mengaku. Dia mengatakan hanya mampir setelah menyelesaikan laporan kerja. Secara logika,  patutkah seorang laki-laki berada di rumah janda pada dini hari di malam Ramadhan?

Keluarga tetap pada keputusan agar kakak bercerai. Ibu sangat marah dengan menantunya. Maka pengajuan cerai dibuat dan dilayangkan ke pengadilan agama.

Ipar saya tidak pulang-pulang. Di saat lebaran malah tidak mau meminta maaf atas kesalahannya. Hari ketiga lebaran, tetiba kakak menangis-nangis minta kembali kepada suaminya.

Semula tangisannya dianggap biasa, ternyata kemudian berubah histeris berteriak-teriak memanggil nama suaminya. Ketika dinasehati ia justru mengamuk.

Melihat kondisi yang tidak beres itu, saya sadar bahwa kakak dipengaruhi sesuatu. Saya bersuci, sholat hajat, membacakan doa khusus melalui media segelas air putih yang kemudian diminumkan pada kakak. Akhirnya kakak normal kembali.

Kami sekeluarga sadar bahwa mas Narto telah menyewa dukun santet. Dan rupanya ia tidak menyerah dengan kegagalan pertama. Saya mendapat petunjuk bahwa ia akan menyerang lagi. Kali ini ia menyewa tiga dukun sekaligus dari Sukabumi.

Saya tidak tahu pasti kekuatan mereka. Karena itu saya memanggil sepupu dari Cirebon yang juga mempunyai ilmu. Maka kami bersiap menghadapi serangan berikutnya. Kami berbagi tugas, saya melindungi rumah dan isinya, sedangkan dia melawan ketiga dukun tersebut.

Malam harinya, saya tidak dapat tidur. Firasat saya mengatakan, serangan mereka akan dilancarkan. Pukul sebelas malam, saya bersuci, sholat hajat meminta perlindungan kepada Allah SWT. Saya membaca Asmaul Husna 5000 kali sambil mengerahkan kekuatan memayungi rumah.

Tepat pukul dua belas malam, rumah seperti dihujani ribuan batu, terutama di atas kamar saya. Memang saya dianggap penghalang utama. Mas Narto mengetahui kelebihan saya dan posisi saya sebagai pelindung keluarga setelah bapak meninggal.

Bunyi pletak pletok suara batu yang menghujani kamar dan mental kembali. Saya mengerahkan segenap kekuatan dan berkonsentrasi dengan zikir. Alhamdulillah jam dua dini hari serangan mereda dan kemudian terdiam.

Setelah Subuh saya dan sepupu membicarakan perlawanan semalam. Sepupu saya berhasil mengembalikan serangan kepada ketiga dukun tersebut. Mereka lalu menyerah dan meminta maaf.

Sayangnya kakak ipar tidak bertobat dengan kegagalan tersebut. Meski ketiga dukun dari Sukabumi tidak mau lagi dibayar, Mas Narto berusaha mencari dukun lain.

Kakak saya pulang ke rumahnya. Tadinya kami pikir akan baik-baik saja. Tetiba, anaknya (keponakan saya) datang dan mengadukan bahwa bapak pulang. Kakak saya kembali bermesraan dengan suaminya.

Saya lantas paham bahwa Mas Narto masih berusaha menguasai istrinya. Karena itu saya meminta keponakan untuk mencari sesuatu atau benda yang sering dibawa bapaknya. Ia menemukan sebuah 'isim' yang lalu diberikan pada saya.

Saya membakar 'isi' dari isim tersebut dengan ayat Kursi sebanyak 33 kali. Dan memusnahkan kekuatannya.  Mas Narto tampaknya kebingungan mencari jimat dari dukun yang dibayar seharga satu juta itu.

Kemudian saya ke rumah kakak secara diam-diam, saat dia tidak berada di rumah. Saya memeriksa seluruh penjuru rumah dan menemukan sebatang paku emas tertancap di pojok pintu masuk. Oh, rupanya benda ini media pengasihan yang digunakan agar kakak takluk kepada suaminya.

Paku itu saya kantongi dan dibawa pulang ke rumah. Malam harinya, saya kembali membakar dan memusnahkan kekuatan yang ada di media paku tersebut.

Kakak sudah normal. Surat pengajuan cerai berjalan. Pengadilan agama mulai dilaksanakan dengan prosedur yang berlaku. Setelah bergulat di pengadilan berbulan-bulan, akhirnya mereka bercerai.