Pamali Sri Pohaci

Ilustrasi Sri Pohaci, sawitplus.com

'Suluhna aya ngaranana Pohaci Runtuyan Jati

seuneuna Pohaci Lenyap Herang

parakona Pohaci Leukeuran Jati

hawuna Pohaci Dungkukan Jati

seengna Pohaci Danu Hawu

aseupanana Pohaci Kukusan Jati

dulangna Pohaci Talaga Jati

turub dulangna Pohaci Pamayung Jati

ari kejona Pohaci Jungjunan Sari'1)

Setelah melafalkan basmalah, suara Mak Haji terdengar lirih menggumamkan tembang Sunda. Sebenarnya lebih seperti sedang merapalkan mantra. Tubuhnya yang terbalut sarung batik berjongkok di depan pawon. Tangannya yang keriput memasukkan beberapa batang dahan kering ke lubang tungku yang apinya mulai menyala, berkeretak pelan.

Mulutnya mengerucut, meniup-niup sebuah bambu kecil yang menyerupai obor dengan ujung menghitam.

"Sini, Mak Haji, biar Siti bantu nyalakan apinya," ujarku menawarkan bantuan.

"Ulah repot-repot, geulis. Calik wae atuh, di teras. Nanti bau sangit," ujarnya diiringi kekeh sambil menunjuk kursi bambu panjang dengan sandaran di kedua ujung yang terletak di teras dengan ukuran nyaris seluas rumah induk. Bahkan, lebih luas dari rumah kontrakanku di Jakarta. Kursi panjang itu terlihat unik, berbeda dengan milik orang Betawi di Jakarta yang hanya memiliki sandaran di satu sisi.

Di sana terdapat dua pasang tempat duduk yang sama, berhadapan, mengapit dua buah meja panjang. Di atas meja itu terletak sebuah ceret aluminium besar, sebuah nampan berisi selusin gelas belimbing, toples besar berisi rengginang dan satu kaleng kerupuk berbentuk kotak besar bertutup bulat, berwarna biru dan salah satu sisinya terlihat transparan. Terlihat dari arah dapur, separuhnya masih terisi dengan kerupuk bulat berwarna putih. Di sebelahnya ada sebuah piring berisi sesisir besar pisang Ambon.

"Sebenarnya Siti ada perlu penting, Mak Haji," kataku sambil berdiri di ambang pintu dapur yang menghadap ke teras, mencoba membuka pembicaraan.

"Sok atuh duduk, sambil nemenin Emak masak nasi," sahutnya sambil berlalu ke arah kursi panjang, di depan piring yang berisi pisang Ambon.

"Begini, Mak. Kenapa Wak Haji Saleh nyuruh Siti nutup warung nasi? Mak Haji kan tahu sendiri. Sejak A' Sobri kena PHK dan kami pulang ke Jonggol, warung itu satu-satunya sumber penghidupan kami."

***

“Siti! Udah berapa kali Uwak bilang, ntong jualan nasi di hari Senin! Pamali! Teu inget emihna si Sobri dulu maot sakit panas karena bandel ngelawan pamali leluhur kita? Apa maneh mau ngikutin nasib emihna si Sobri?”

“Tapi, Wak ....”

“Kalo maneh masih bandel teu ngadenge ka kolot, mending tutup aja warungnya sekalian!” teriak Wak Haji Saleh sambil berkacak pinggak. “Maneh juga, Sobri! Percuma disekolahin tinggi-tinggi kalo hasilnya selalu ngelawan orang tua!” Wak Haji berbalik menunjuk muka pias A' Sobri yang sudah berdiri dari duduknya. Dan secangkir kopi yang tak juga dia minum sedari tadi menjadi saksi kejadian ini. 'Duh, Aa' ... harusnya kamu kan membela istrimu ini, kenapa cuma diam saja'? batinku.

A Sobri mengangkat kepala, menatap uwaknya yang masih berkacak pinggang.

“Enya, Wak. Hampura. Nanti abdi bicarakan jeung Siti. Wak Haji pulang saja. Kami minta waktu beberapa hari untuk mencari jalan keluarnya. Mungkin abdi bisa kembali kerja di Jakarta. Biar Siti dan anak-anak yang tinggal di sini.”

“Ya, sudah! Ingat, Wak Haji nggak mau liat warung ini tetap buka. Kalau masih bandel, biar Wak Haji suruh si Cecep bongkar. Ingat itu!”

“Iya, Wak. Iya. Percaya sama Sobri,” kata suamiku itu sambil mencium tangan keriput kakak pertama almarhum ayahnya itu dengan takzim. Aku hanya tersenyum tipis melepas kepergian laki-laki yang rambutnya sudah seputih kopiahnya itu dengan badan gemetar.

Wak Haji Saleh sebenarnya laki-laki yang baik hati, terbukti dialah yang mengirim A Sobri ke pesantren di Jawa Tengah dan membiayai sampai lulus sarjana, karena sudah menjadi yatim piatu sejak kelas lima sekolah dasar.

Sebagai orang Jawa yang baru kali ini tinggal di tanah Sunda, bisa dikatakan aku mengalami gegar budaya. Apalagi, aku termasuk orang yang kesulitan mempelajari bahasa. Lima tahun menikah dengan orang asli Jonggol, perbendaharaan kata-kataku baru sebatas abdi, hatur nuhun, dan beberapa kata lain. Sungguh memalukan!

***

“Jadi, dulu teh emihna si Sobri punya warung nasi,” kata Mak Haji memulai cerita, membuyarkan lamunanku. “Warungna teh termasuk laris karena masakannya enak, juga murah. Apalagi di sini baru dia yang punya warung nasi. Sagala orang proyek pabrik, perumahan semua langganan. Nah kalo Emak mah buka warung kelontong jualan beas dan macam-macam sembako," ujar Emak sambil terkekeh pelan. Namun, segurat kesedihan terlihat di matanya. Emak berhenti sejenak hanya untuk menghela nafas berat, menengadah dan seberkas sinar matahari tumpah di wajahnya yang penuh kerutan.

"Sejak saat itu teh emihna Sobri sakit-sakitan. Sering panas. Orang-orang tua bilang, itu karena ngalanggar pamali. Ceuk ninina Sobri, udah sejak jaman dahulu kala, kita dilarang jual beas atau nasi di hari Senin. Pamali namanya. Makanya Emak nolak waktu Eneng mau beli beas beberapa hari lalu. Itu ngepasin hari Senin."

Aku terkesiap. "Memangnya ada apa dengan hari Senin, Mak?” tanyaku heran. Pantas saja waktu itu Mak Haji menolak waktu aku membeli beras. Padahal beras di karung sudah habis. Toko lainnya cukup jauh dan tak ada yang bisa diminta tolong menjaga warung nasi. Betapa wajah Mak Haji terlihat sangat aneh dan kebingungan waktu aku bertanya kenapa berasnya tidak dijual. Terpaksa aku menutup warung dan menggendong si kecil ke pasar dengan berjalan kaki karena Aa sedang pergi ke kelurahan dan tak ada tukang ojek.

“Hari Senin teh hari kelahiranna Sri Pohaci atau Dewi Sri, Dewi Padi. Jadi kita teh dilarang jual beas maupun nasi di hari Senin," paparnya.

“Apa ibu mertuaku akhirnya percaya sama pamali itu, Mak Haji?”

“Sayangnya enggak, Neng. Emihnya Sobri keras kepala. Demikian juga suaminya. Emak sih nggak nyalahin. Mereka berdua memang sangat memegang teguh ajaran agama. Katanya musyrik kalau percaya sama pamali-pamali. Itulah yang Emak sesalkan. Ya, memang umur Allah yang tentukan. Tapi setidaknya kalau mau mengalah sedikit, tentu uwakmu nggak akan marah besar sama abahna Sobri karena harus kehilangan adik perempuan kesayangannya yang meninggal setelah terserang demam tinggi. Dia kena tulah karena melanggar pamali. Kasihan si Sobri. Dia masih kecil.”

Mak Haji mengakhiri kata-katanya dengan berat. Dadanya yang tipis bergerak naik turun seperti menahan sesak. Matanya menerawang jauh ke rimbunan dahan pohon rambutan yang umurnya mungkin sudah sama tuanya dengan Mak Haji, adik kedua Wak Haji Saleh. Padahal, menurut cerita A' Sobri, ibunya meninggal karena demam tinggi. Kena tetanus sewaktu tergores pisau berkarat.

“Minum dulu, Mak,” ujarku mengangsurkan segelas teh tawar ke tangannya yang dihiasi tonjolan pembuluh vena, persis seperti pokok beringin tua di kuburan. Tangan tua yang kuat tapi cukup lembut untuk seorang anak yatim piatu. Lengan tua itulah yang selalu mengusap dan mendekap kepala kecil Aa Sobri dan berusaha melindunginya dari dunia yang keras.

“Jadi sebaiknya, abdi sama A' Sobri harus bagaimana, Mak?”

“Nurut aja sama uwakmu, Neng. Tutup saja warung nasinya tiap hari Senin. Bukalah pada hari lain saja, ya. Lebih baik mengalah. Kalau niatmu baik untuk menghormati orang tua yang sudah mengurus suamimu sejak kecil, insyaallah nggak akan melanggar agama. Kan Jungjungan kita Kanjeng Nabi juga pernah bilang kalau kita wajib birulwalidaen, taat sama orang tua.”

“Iya, Mak. Nuhun. Insyaallah nanti saya nutup dulu di hari Senin. Walaupun pasti akan rugi, karena pelanggan paling banyak di hari itu. Allah pasti akan memberikan rejeki di jalan yang lain.”

Aku pun berpamitan dengan perempuan yang sudah dianggap sebagai ibu oleh suamiku. Langkahku tersaruk-saruk menuju rumah warisan orang tua A' Sobri. Kepalaku terasa panas, sibuk berpikir mencari jalan keluar dari masalah yang cukup rumit ini. Belum cukup cobaan karena beberapa bulan lalu suami terkena pengurangan karyawan, datang lagi masalah baru. Dulu aku pikir dengan kembali ke kampung kelahiran bapaknya anak-anak semua masalah akan terselesaikan.

Uang pesangon yang didapatkan kami gunakan untuk membangun warung nasi lesehan di pinggir jalan, dekat sawah warisan. Ke depannya kami berencana membangun semacam wisata kuliner dengan pemandangan sawah, kerbau dan bangau beterbangan. Sungguh sebuah tempat melepasakan penat yang pasti diminati oleh teman-teman kantor Aa dari Jakarta.

Tapi, kalau belum-belum sudah menuai masalah dengan orang terdekat, sungguh membuat pusing kepala. Sedangkan Aa Sobri, hanya bisa tepekur, masih belum bisa menerima kenyataan harus kehilangan pekerjaan. Beruntung, bakat masak ibunya menurun, hingga ia bisa menjadi chef andalan di warung.

***

Sebulan berlalu sejak kami menutup warung di hari Senin. Omzet pun menurun drastis. Banyak pelanggan terutama mandor-mandor proyek perumahan yang membatalkan pesanan dalam jumlah besar. Belum lagi ibu-ibu komplek sebelah yang sudah terlanjur berlangganan katering untuk bekal sekolah anak mereka.

“Bagaimana, A', kalau begini terus kita bisa bangkrut,” aduku pada Aa Sobri yang sedang membantu menutup warung dan membereskan meja kursi.

“Coba kamu cari solusinya, Neng. Kamu kan biasanya pinter dan banyak akal,” ujarnya sambil mengedipkan mata ke arahku. Duh, kalau dia sudah mulai mengeluarkan jurus gombal mukiyonya, itu berarti dia sudah menyerah dan aku yang harus menyelesaikan masalah.

Dua minggu kemudian, di hari Senin, warung nasi ‘Waroeng Buku Salsabila’ kebanjiran pelanggan. Selain wifi gratis, kami mendandani warung nasi bernuansa tradisional Sunda itu dengan rak-rak buku dan sebuah pojok membaca beralas karpet tebal warna hijau. Kebun singkong di samping warung yang dinaungi kerimbunan pohon rambutan kami sulap menjadi taman bermain.

Menu yang disajikan pun tak kalah menarik. Masakan khas Sunda bersanding manis dengan masakan Jawa. Masakan andalan kami adalah nasi timbel, sego megono, gurame dan ayam bakar, tempe kemul, mie ongklok, soto mie Bogor, juga es carica, bajigur dan kopi tubruk.

A' Sobri melakukan promosi besar-besaran melalui akun media sosialnya. Beberapa remaja putus sekolah yang biasanya numpang wifi gratis pun kami latih menjadi pramusaji dan beberapa pekerjaan lain. Mereka terlihat santun dan begitu bersemangat melayani pelanggan.

Di tengah keramaian para pelanggan yang tengah menikmati makan siang, tiba-tiba muncul sosok tinggi besar, beruban, berkopiah putih, dengan sabuk besar berwarna hijau menghiasi pinggangnya yang masih terlihat kekar. Gagang golok berbentuk kepala ular terselip di sana, menelusup ke dalam sarungnya yang berukir indah dan mengilap. Sebuah keindahan yang mematikan.

“Sobri!” teriaknya garang.

“Iya, Wak!” sahut laki-laki berbaju koko dan celana batik berlari kecil dari dapur, diiringi tatapan heran pengunjung warung.

Plakk! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Aa Sobri. Aku terhenyak. Kalkulator di tangan nyaris saja terlonjat jatuh. Aku pun berjalan cepat ke arah mereka berdua.

“Maneh rek ngalawan ka Uwak, hah?! Mau nantang Uwak?! Blegug sia! Masih nggak dengerin juga omongan aing!"

“Engg ... enggak, Wak, hampura Wak...” sahut suamiku tertunduk, sudut matanya melirik tajam ke arahku. “Biar Siti yang jelaskan, Wak.”

Kedua mata Wak Haji yang tajam melotot menusukku. Wajahnya menagih jawaban. Aku hanya bisa menunduk, tak berani memandang wajahnya yang penuh kerutan. Suasana tegang, dan kini kami menjadi pusat perhatian.

“Hampura Wak. Maafkan kami yang lancang. Warung nasi ini memang tetap buka di hari Senin. Tapi kami tidak melanggar pamali, Wak."

“Kenapa bisa begitu?! Sudah jelas, hari Senin itu pamali untuk jual nasi!”

“Kami tidak menjual nasi, Wak. Khusus untuk hari Senin, nasinya kami sedekahkan untuk pelanggan. Mereka hanya membayar lauk dan lainnya. Kami juga ingin bersedekah agar usaha kami jadi berkah, Wak. Semoga Wak Haji mengizinkan.” Aku memberanikan diri menatap wajah Wak Haji.

“Benar begitu, Sobri?" Wak Haji melunak, memandang teduh ke arah suamiku, lalu berpindah ke arah poster besar di dinding yang bertuliskan ‘TIAP HARI SENIN NASI GRATIS’.

Sekarang wajah Wak sobri dipenuhi semburat malu, apalagi ketika melihat semua pelanggan yang memandanginya.

“Betul, Wak. Hampura kami tidak berunding dulu dengan Uwak. Anggap sebagai kejutan.”

“Oh be ...begitu... Kamu memang anak yang sholeh dan berbakti, Sobri. Emih maneh pasti bangga!” kata Wak Haji Saleh menepuk-nepuk pundak keponakan kesayangannya.

“Itu mah gagasannya Siti, Wak.”

“Emang maneh teu salah pilih istri, Sobri.”

Aku pura-pura tak mendengar dan segera berlalu, menyembunyikan pipi tembem yang pasti memerah. Ah, A' memang sering nyebelin. Tapi dia anak, suami dan ayah yang paling baik sedunia.

(Tamat)

Catatan:

(Cerita ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi waktu ditolak saat membeli beras di hari Senin. Setting tempat persis seperti keadaan rata-rata rumah masyarakat Sunda di Jonggol, tahun 2017. Saat cerita ini ditulis, kepercayaan seperti itu masih diyakini oleh sebagian kecil orang-orang tua di sebuah desa di Jonggol Jabar).

1) Sebuah tembang Sunda yang berisi semacam harapan kepada Sri Pohaci (Dewi Sri), yang dipercayai sebagai Dewi Padi dan Kemakmuran. Biasa dibacakan saat menanak nasi, menanam, memanen, menumbuk dan segala hal ikhwal yang berhubungan dengan padi dan turunannya.

Kisah Nyata