Sisi Lain Dunia

Dok.ils

Pesta, musik, makanan enak, dan minuman sudah siap di meja perjamuan. Hanya menunggu sang empunya hanjat memberi beberapa kata sambutan, sebagai pembuka acara di malam penuh bintang tanpa bulan. Benar saja, musik di sudut ruangan dihentikan. Bimantara maju ke arah pengeras suara, yang standing di depan seperangkat audio yang sudah tersedia.

"Selamat malam para hadirin dan undangan sekalian, terima kasih atas kehadiran anda semua. Ini adalah tahun ke 7 kita berkumpul khusus kelompok 'TREASURE BUTCHER'. Selain menambah keakraban sesama anggota, acara ini juga diadakan untuk memilih ketua baru setiap 3 tahun sekali. Mengingat masa jabatan saya sudah berakhir, jadi bersiap-siaplah memberikan suara kalian untuk empat nominator yang telah disepakati bersama. Yaitu: pertama Saudara Indira Wibisana, perwakilan dari sektor barat, kedua Saudara Raka Putung, perwakilan sektor utara. Ketiga adalah Saudara Bram  Adipura dari sektor timur, yang terakhir dan satu-satunya, untuk pertama kali ada seorang wanita menjadi nominator, yaitu Saudari Byanka Ulfa dari sektor selatan."

"Sebentar, Ketua Bimantara! Sejauh ini tidak ada wanita yang memimpin, karena anggota kita masih banyak nominator laki-laki yang lebih layak. Apa tidak sebaiknya diganti saja, saya menganggap seorang wanita tidak sanggup menjalani aktivitas keras di lapangan?" tanya seseorang laki-laki berambut gondrong, tubuh tinggi kekar, memakai celana jins dan jaket kulit hitam. 

Dia adalah Baron Kasmo, yang juga merupakan anggota sektor selatan. Laki-laki berotot laksana binaraga itu merasa lebih pantas jadi nominator, ketimbang Byanka yang bertubuh mungil cenderung kurus. 

'Tark tark tark tark!' 

Suara langkah mengetuk-ngetuk lantai marmer, sepasang high heels stiletto hitam berjalan ke arah Baron. Sosok bergaun beludru senada warna sepatu, menjuntai panjang dengan bagian dada terbuka. Sementara belahan gaun di kanan, memperlihat tungkainya yang indah hingga ke atas paha. Dari jarak masih beberapa meter, si wanita berhenti. Bibir berlipstik merah bata itu tersenyum, sejurus kemudian benda kecil melesat dengan kecepatan kilat dari dalam mulutnya ke leher Baron. Laki-laki gagah tersebut bahkan tidak sempat menjerit, tubuh kekarnya roboh ke lantai dengan wajah membiru.

"Ada yang masih ragu?" tanya si wanita dengan pandangan menyapu ke sekeliling ruangan. 

Hening! Tidak ada suara bantahan. 

'Trik!' 

Si wanita menjentikan jari, beberapa orang dari sektor selatan maju dan segera menggotong tubuh Baron pergi. Dia yang tak lain adalah Byanka Ulfa, memang terkenal sadis dan tidak berkompromi dengan hal apa pun. Siapa saja yang meremehkan dirinya, akan dihabisi saat itu juga. Padahal Baron adalah kakak kandungnya sendiri, sebagian yang hadir bergidik melihat aksi Byanka barusan. Setelah itu, Bimantara kembali melanjutkan pidatonya. 

"Baiklah, saya kira tidak perlu berlama-lama lagi. Sudah waktunya memilih, apa kalian sudah siap untuk ...?"

Belum selesai ucapan Bimantara, Byanka memotong ucapan dengan penuh percaya diri.

"Tidak perlu vote, cukup bertarung saja saat ini! Siapa yang masih berdiri dan bernapas di akhir acara, dialah ketua yang sesungguhnya!" tantang Byanka.

Wanita bergaun beludru hitam berdiri di tengah-tengah ruangan dengan kaki sedikit terbuka, dia sudah siap menerima tantangan dari lawan. Indira dan Bram saling berpandangan sambil menggidikkan bahu dan mencibir, sementara Raka Putung tampak santai mereguk anggur merah di slokinya, lalu mengeluarkan kata sindiran.

"Jika berniat menjajal kemampuan, saya rasa bukan di sini tempatnya!" ujar Raka sinis.

Byanka tidak senang, dengan sedikit mendengus dia coba melakukan hal yang sama terhadap Baron kepada Raka. Akan tetapi laki-laki bersetelan jas biru dongker itu sudah siap. Benda kecil berbentuk jarum beracun yang meluncur dari celah bibir sensual wanita itu, kali ini tidak tepat sasaran. Seharusnya mengenai batang leher Raka, namun laki-laki berwajah tampan, berambut klimis dan berkumis tipis itu dengan mudah melumpuhkan senjata rahasia Byanka. 

'Trink!'

Hanya satu gerakkan kecil, senjata mematikan Byanka ditadah Raka dalam sloki di tangan kanannya. Anggur berwarna merah yang masih setengah berubah menjadi hitam pekat, artinya racun yang digunakan wanita sadis itu sangat berbahaya. Karena gagal menyerang lawan, Byanka naik pitam. Dia hendak bertindak lagi, namun niatnya urung saat melihat sesosok wanita lain hadir di sana.

"Sudah cukup, sungguh memalukan!" hardik wanita yang baru datang itu ke arah Byanka.

"Kak Silfana? Tapi ...!" 

"By!" bentaknya seketika. 

Byanka terdiam. Meski masih kesal, dia tidak berani membantah. Bagaiamanpun juga, wanita di hadapannya memiliki kamampuan jauh lebih tinggi. Byanka juga tak ingin mati konyol di depan anggota lain, yang mungkin juga berambisi seperti dirinya.

"Kalau kalian mau melanjutkan pemilihan ketua baru, silahkan! Jalankan sesuai ketentuan yang selama ini berlaku, tidak perlu pamer atau unjuk kebolehan seperti tadi!" suara Silfana menggema.

Semua yang hadir sangat mengenal watak wanita yang satu ini. Meski dianggap layak, Silfana tidak punya niat menjadi orang nomor satu di klan mereka. Wanita anggun yang memiliki dua mata bersinar 'bak bintang kejora itu, lebih suka menjadi eksekutor di lapangan. Jika yang lain sudah tidak sanggup melaksakan tugas, dia baru turun tangan. Klan 'TREASURE BUTCHER' adalah organisasi pembunuh bayaran. Mereka selalu dibutuhkan oleh pebisnis legal maupun ilegal skala Nasional dan Internasional, bahkan di kalangan pejabat, klan ini sangat terkenal. Orang-orang pilihan dengan mental yang sudah tidak diragukan, bekerja dengan rapi dan juga bersih. Tak pernah meninggalkan jejak sekecil apa pun di lapangan, disengani dan memuaskan.

Setelah ucapan Silfana, acara pun dilanjutkan kembali. Votting dilakukan, hasil akhir menunjuk Raka Putung yang terpilih dengan suara terbanyak. Dari 47 suara, dia memperolehan sebesar 29 suara. Raka layak, bukan hanya handal. Laki-laki bersetelan jas biru dongker itu sangat berkompeten. Selain memiliki ilmu tarung yang tinggi, dia juga berotak cerdik, bijaksana serta penyabar.  

Apalagi Raka adalah sosok yang direkomendasi oleh Silfana untuk diajukan sebagai nominator. Wanita berparas ayu yang juga sekaligus pendiri klan itu, diam-diam menyelidiki cara kerja setiap anggotanya. Dia juga yang merekrut satu per satu, orang-orang pilihan baik dari kalangan preman, penjahat kelas kakap, bandit-bandit, maupun dari petugas internal kepolisian atau tentara yang mempunyai catatan hitam dalam kesatuan. Orang-orang bermasalah yang dididik menjadi sosok tangguh, untuk melakukan pekerjaan tidak biasa.

Pemilihan usai, tetapi masih ada yang tidak puas. Meski Raka sudah dinobatkan menjadi ketua, tetap saja  Byanka tak terima. Wanita bertubuh mungil itupun berulah, dengan gelap mata dia menyerang Raka. Laki-laki itu tidak tinggal diam, diladeni jurus demi jurus serangan Byanka. Tempat pesta kini menjelma arena duel, dua sosok terlibat perkelahian sengit. Senjata beracun milik Byanka betebaran kemana-mana, tubuh mungilnya melenting kesana kemari demi ingin mengalahkan lawan. Sementata Raka hanya bermodalkan dasi yang dikena, menahan serangan dan sesekali membalikan jarum-jarum milik Byanka. 

'Wuuddd ... Wuuddd ... Wussshhh!' 

Suara perkelahian keduanya saat menangkis atau membalas serangan lawan. Sebenarnya Silfana bisa saja melerai, akan tetapi dia membiarkan pertarungan berlanjut. Sekaligus ingin tahu, sampai di mana kemampuan kedua petarung berakhir. Ruangan yang awalnya indah, kini porak-poranda. Sementara yang lain juga menyaksikan tontonan dari jarak aman, tiba-tiba!

'Duuaaarrrr!'

Sebuah ledakan mengagetkan semua orang. Entah dari mana asalnya, seperti ada yang melempar granat di tengah pertarungan. Tubuh Byanka dan Raka terlempar dengan luka bakar cukup parah, bahkan wanita bertubuh mungil itu tidak bergerak setelah tergeletak tak jauh dari tempat Silfana berdiri. Dia tewas! Sementara Raka masih hidup, laki-laki itu mencoba berdiri dengan sekuat tenaga. Silfana melentingkan tubuh, mencoba menghampiri tubuh Raka dan ingin menyelamatkannya. 

'Duuaarrrr!' 

Satu ledakan lagi, kali ini Raka ambruk dengan tubuh hancur berkeping-keping. Silfana cepat menghindar, hampir saja dia jadi korban. Wanita itu geram dan mencari-cari siapa pelaku serangan yang berkesan curang dan mematikan, mata tajamnya menyisir setiap sudut ruangan yang dipenuhi asap tebal. 

"Baron?" desisnya tak percaya. 

Silfana terkejut melihat sosok yang menyeringai dengan mata merah menyala. Ya, itu Baron saudara laki-laki Byanka yang tadi dihabisi dengan jarum beracun. Tetapi bagaimana bisa dia hidup kembali? Sementara korban-korban berjatuhan, karena tidak sempat menyelamatkan diri. Baron bukan menyerang dengan granat atau senjata api, tetapi dia bagaikan iblis yang menyemburkan bola-bola api dari mulutnya. 

Silfana harus melakukan sesuatu sebelum mati konyol. Dia bergegas ke suatu tempat untuk mengambil senjatanya, karena lawan yang sekarang dihadapi adalah manusia berhati setan. Silfana menuju ke kamar pribadinya dan segera membuka sebuah kotak yang berisi sepasang trisula. Senjata milik Silfana bukan senjata sembarangan, trisula itu merupakan milik Nyi Rantam Sari atau yang dikenal sebagai Dewi Anjar. Di ujung pangkal senjata itu terdapat mustika putih, yang mampu memancarkan sinar kebiruan untuk melumpuhkan lawan. 

Benar saja, tatkala Silfana meraih sepasang trisula miliknya, Baron telah sampai dan melancarkan serangan bertubi-tubi ke arah wanita itu. Pertarungan sengit terjadi, dua kekuatan besar beradu. Silfana dengan senjata sakti yang merupakan hadiah dari tirakatnya, sementara Baron memiliki ilmu hitam yang dia peroleh melalui perjanjian dengan setan. Dibanding Byanka, sifat Baron lebih kejam. Dia bahkan sudah membunuh 3 saudara kandungnya, demi dijadikan tumbal. 

Kini yang diincar Baron adalah Silfana, karena tinggal wanita itulah satu-satunya tumbal berharga yang akan dia persembahkan demi mendapatkan ilmu yang lebih mumpuni. Ambis Baron adalah ingin menguasai dunia. Sementara dia tidak menyadari bahwa adik perempuan yang dia hadapi, memiliki titisan darah penguasa pantai utara. 

Tidak terlalu lama untuk menghadapi Baron, sebab Silfana memiliki kekuatan kebaikan untuk melumpuhkan kejahatan. Baron tewas dengan seluruh tubuh hangus terbakar, tatkala sinar kebiruan dari trisula Silfana menghantam laki-laki penganut setan. Kini yang tersisa hanya bangkai-bangkai manusia, serta gedung mewah yang selama ini menjadi markas klan 'TREASURE BUTCHER'. Entah apa yang akan dilakukan Silfana selanjutnya, namun saat ini jiwanya cukup terpukul. Bukan karena usaha yang dia jalani kini musna menjadi debu, tetapi korban dari semua ini adalah saudara-saudarinya sendiri. Wanita bermata jeli itu redup dalam kesedihan, dia melangkah gontai meninggalkan puing-puing gedung. Untuk sejenak, dia ingin merenung tentang semua yang telah terjadi.

Selesai

ZQS
Spantak Land, 09 Oktober 2020.