Cinta di Balik Topeng

Ilustrasi/cinta/photo:doc.pri


Matahari masih enggan menyapa, Gilang menjejakkan kaki jenjangnya sambil melemaskan otot-otot yang kaku. Perjalanan panjang hampir 12 jam, membuat lelaki bertubuh atletis  itu harus meregangkan seluruh persendiannya.

"Mas Gilang, ya?" Seorang perempuan menepuk pundaknya, sedereran gigi putih nampak dibalik senyumnya.

"Siapa?" Gilang mengerutkan alis, tak merasa mengenali perempuan yang menyapanya. 

"Kenalin, Mas! Nama saya Cinta, saya dimintain tolong jemput Mas Gilang, Tante kuatir kalo Mas Gilang nggak tahu jalan katanya." Perempuan bermata coklat itu menjelaskan sambil meraih koper besar yang di bawa Gilang, berjalan menuju tempat parkir.

"Oh ...." Gilang hanya menjawab pendek. 

"Barangnya cuma ini aja, Mas?" tanya perempuan itu sambil memasukkan bawaan Gilang ke dalam mobil.

"Eh, iya," jawab Gilang salah tingkah, bergegas membantu perempuan mungil yang sedikit kerepotan mengangkat koper besarnya.

"Biar saya saja," ujar Gilang mengambil alih. Cinta tersenyum, berjalan masuk ke dalam mobil. 

Selesai memasukkan bawaannya, laki-laki berhidung bangir itu segera menyusul masuk ke dalam mobil, Cinta sudah siap menjalankan besi beroda empat itu meninggalkan pelataran parkir. Seorang laki-laki berkulit sedikit gelap  berjalan menuju mereka.

"Yok opo kabare, Ker? Tambah sinam ae."

"Oyi, Sam. kabare apik." Cinta menyambut uluran tangan laki-laki yang tertawa renyah. 

"Syukur nek apik, libome anyar, Ker."

"Osi ae, Sam. Guduk libomku, iki libome Tante Dian." Rania kembali tertawa sambil menyerahkan selembar sepuluh ribuan.

"Langsung ngalup, tah?" Laki-laki itu memberi komando agar mobil Cinta mengikuti gerakan tanganya.

"Oyi, Sam.  Dhisik, yo," 

"Yo, wes, engkok sore tak enteni nang halokes." Laki-laki itu melambaikan tangan ketika perlahan Cinta mulai menjalankan mobilnya. 

Gilang memandang perempuan di sebelahnya dengan kening berkerut, selama ini ia sedikit paham bahasa Jawa, tapi kalimat yang diucapkan Cinta pada temannya tadi, aneh menurutnya .... 

"Itu tadi bahasa walikan," ujar Cinta menjelaskan, seakan bisa membaca rasa penasaran laki-laki yang baru datang dari Jakarta ini  

"Ciri khas dari Malang adalah bahasa walikan. Biasanya penduduk asli Malang sehari-hari menggunakan bahasa walikan ini, sebagai bahasa gaul. Gampang, sih, tinggal baca katanya dari kalimat yang terakhir. Contohnya mobil jadi libom,  makan jadi nakam, sehat jadi tahes ... ya, begitulah."

"Lucu juga, ya. Tapi seru juga," Gilang mengulang kata-kata yang bisa dibalik sambil mencoba mengingat. Dalam hati Cinta tertawa, laki-laki ini cukup manis, Tante Dian sudah cerita banyak kalau keponakannya yang baru lulus kuliah itu sedang patah hati. Sengaja diundang untuk berlibur di kota dingin agar bisa melupakan sang mantan. 

"Oya, selain kuliner apalagi yang terkenal dari kota Malang ini?"

"Wah, banyak, Mas. Bangunan-bangunan tua yang masih ada di Malang sangat menggoda untuk didatangi, ada Toko Es Krim Oen, Gereja Kayutangan, Museum Brawijaya.  Di Malang juga banyak candi yang menyimpan sejarah tentang kota Malang. Bahkan saking banyaknya candi di Malang, maka Malang juga disebut dengan kota seribu candi."

Obrolan pun mengalir, Cinta tipe perempuan yang ramah dan supel, menurut Gilang, perempuan dengan penampilan sederhana itu bukan hanya cantik, tapi juga cerdas dan memiliki wawasan yang luas. Tak butuh waktu lama bagi Gilang untuk melupakan sakit hatinya pada Nafisa -- kekasihnya yang pergi dengan laki-laki lain, meski terlalu cepat untuk menyukai Cinta, tapi perempuan bermata bulat itu dalam sekejab telah membuatnya nyaman dan betah ngobrol tentang banyak hal.

Ponsel Gilang berdering, sebuah nama muncul di layar, laki-laki itu tertawa ringan, melirik Cinta.

"Tante," ujarnya sambil menggeser layar ponselnya dan berjalan menjauh agar tidak berisik. Beberapa menit terlibat pembicaraan via telepon, sambil tersenyum-senyum, laki-laki itu kembali menemui Cinta yang sudah menunggunya di mobil.

"Tante cemas, kenapa kita tidak memberi kabar," ujar Gillang setelah berada di dalam mobil.

"Ups ...." Cinta menepuk dahinya, "Sorry aku lupa, hpku low batt."

"Ya udah, kita pulang," ajak Gilang. Mobil mereka segera meluncur membelah keramaian kota Malang.

"Gimana kabar Mama dan Papa?" tanya Tante Dian, Gilang yang baru turun dari mobil langsung memeluk Gilang erat tantenya.

"Alhamdulillah, Mama dan Papa baik, beliau nitip salam buat Tante," jawab Gilang.

"Syukurlah, keponakan tante ini, makin ganteng aja .... Gimana udah punya pacar lagi, belum?" Tante Dian menggoda. Gilang tertawa lebar, celingukan salah tingkah. "Tadi udah makan, kan?"

"Iya, Tante. Tadi sama Cinta diajakin makan rawon Brintik. Enak juga, Tan. Kapan-kapan pengen makan lagi," ujar Gilang.

"Ah, kamu. Pengen makan rawon atau pengen makan sama Cinta," Tante Dian mengerling menggoda, membuat Gilang kembali tersipu.

"Tante bisa aja. Tapi boleh juga sih ... Cinta asik juga orangnya."

"Cieee, awas nanti kamu jatuh cinta, lho." Tante terus menggoda sambil masuk ke dalam, Gilang mengekor ke dalam.

"Cinta itu anak sahabat, tante. Kedua orang tuanya baru saja meninggal karena kecelakaan. Daripada dia tinggal sendiri, tante ajak dia tinggal di sini buat nemeni tante."

"Oh ...." Gilang membulatkan matanya. 

"Cinta mengajar di sebuah SLB, kadang waktu senggangnya dia gunakan untuk menyalurkan hobinya di sanggar tari."

"Wah, kedengarannya menarik juga, di mana dia menari, Tan?" Gilang penasaran, Tante Dian tertawa.

"Kamu tanya aja sendiri, sambil ngobrol-ngobrol." Gilang menggaruk kepala yang tidak gatal, lalu berjalan keluar menuju bangunan kecil di belakang rumah.

Cinta duduk di halaman sambil menimang sebuah topeng, senyumnya mengembang saat melihat Gilang berjalan menuju ke arahnya.

"Kok nggak istirahat, Mas?" sapanya.

"Nggak, lagian juga nggak capek, kok," kilah Gilang. Matanya tertuju pada benda di tangan Cinta. "Kata Tante kamu suka menari, ya?" 

"Yah ... buat mengisi waktu luang, Mas. Saya suka menari sejak kecil, dengan menari saya bisa menyalurkan bakat dan kegemaran saya, lumayan buat penghilang stress juga. Selain itu juga untuk melestarikan budaya."

"Hebat, dong!" puji Gilang, rasa kagum mulai tumbuh, membuatnya ingin mengetahui lebih dekat gadis yang memiliki mata bulat sempurna terbingkai alis tanpa goresan.

"Malang juga terkenal dengan budaya dan keseniannya yang masih ada sampai sekarang seperti Topeng Malangan atau Tari Malangan dan juga Jaran Kepang yang masih lestari sampai saat ini."

"Wah, kedengarannya seru," ujar Gilang. "Aku jadi kepo."

"Kalo Mas Gilang mau, saya nanti sore ada pementasan tari di sekolah sama teman saya -- Tegar -- itu yang tadi kita ketemu di stasiun."
.
"Pacar kamu?" selidik Gilang, entah hatinya berdesir ketika mengucap kata pacar, ada rasa tak rela.

"Tegar itu teman saya dari orok," ujar Cinta sambil ngakak.  

"Di kota Malang ini terdapat seni pemahatan topeng yang asli bercirikan khas Malang. Konon,  beberapa topeng Malang ini merupakan kesenian kuno yang usianya lebih tua daripada keberadaan kota apel ini sendiri.  Topeng ini pun sudah diperkenalkan sejak zaman kerajaan Gajayana kala itu. Pemahat Topeng Malangan sudah turun temurun sampai sekarang, walaupun jumlahnya sudah tidak banyak seperti dulu." Cinta menunjukkan topeng yang sejak tadi ditimangnya pada Gilang.

"Dulu apresiasi pada Topeng Malang diwujudkan dengan bentuk pertunjukan saat ada acara tertentu seperti pernikahan, selamatan dan hiburan pejabat tinggi pada jaman itu. Topeng Malang ini sedikit beda dengan topeng lain yang ada di Indonesia. Corak khas dari pahatan kayu yang lebih kearah realis serta menggambarkan karakter wajah seseorang."

"Topeng ini berwajah cantik, apakah ada karakter wajah yang lain?" Gilang penasaran.

"Ooow, banyak, Mas. Jenis topeng Malang yang dibuat oleh pemahat seperti karakter jahat, baik, lucu,  sedih, kecantikan, ketampanan bahkan sampai karakter yang sifatnya tidak teratur. Sajian ini nantinya dikolaborasikan dengan tatanan rias dan pakaian untuk memainkan sebuah pewayangan atau cerita tertentu yang menggunakan Topeng Malang. Perkembangan saat ini Topeng Malang sudah dapat dinikmati dalam bentuk drama, ada yang menceritakan tentang sosial atau humoran."

"Kayaknya menarik, aku jadi nggak sabar pengen nonton pertunjukannya." 

"Oya, kata Tante, Mas Gilang ini jurnalis juga, ya. Nanti bisa bikin tulisan keren tentang topeng Malang, Mas. Pasti keren dan bisa jadi head line." Cinta menepuk-nepuk seperangkat kostum tari, membersihkan dari debu yang menempel. 

"Lebih asik bikin tulisan tentang penarinya," jawab Gilang menggoda. 

"Bisa aja, Mas Gilang," Cinta tersipu, pipinya memerah menambah cantik wajahnya yang  tanpa riasan.

"Tari Topeng Malangan adalah pertunjukan tari dimana semua pemerannya menggunakan topeng. Kesenian ini merupakan salah satu kesenian tradisional dari Malang. Sekilas tari topeng Malangan ini hampir sama dengan Wayang Orang, tapi  yang membedakan adalah pemerannya menggunakan topeng." 

"Saat ini tari topeng Malangan mulai meredup seiring dengan perkembangan zaman. Kurangnya regenerasi dan kesadaran masyarakat sangat berpengaruh pada eksistensi dari kesenian ini."

"Ya udah, aku siap-siap dulu, Mas." Cinta tertawa lalu beranjak masuk, meninggalkan Gilang yang mulai kewalahan meredakan degub jantungnya.

Malam baru menyapa, lampu-lampu panggung mulai menyala. Suara gending giro -- iringan musik gamelan -- yang dimainkan oleh para pengrawit mulai terdengar memanggil penonton.   

Tak lama salah satu anggota tampil menyampaikan salam pembukaan dan menceritakan sinopsis cerita, lalu berdoa agar pemain dan penonton diberi keselamatan dan pertunjukan lancar, tanpa sesajen seperti yang dulu biasa dilakukan

Suara gamelan kian semarak, kenong, bonang, kendang dan gong saling beradu rancak mengiring kelincahan sosok di balik topeng. Hati Gilang berdesir makin kencang tatkala matanya menangkap sosok dibalik topeng yang dikenalinya. Sosok itu menari dengan lincah, melenggok, meliuk mengikuti rancaknya gamelan, membuat Gilang tak henti mendecak kagum, luka hatinya telah terobati, dan kini hatinya tertawan pada sosok Cinta dibalik topeng.

Malang, 10 Oktober 2020