Pesugihan Bajang

Sumber: Pinteres-Rawan Kordab

Tak ada yang lebih bahagia jika kalian dapat bersanding dengan ia yang melekat di hati. Yah, aku dapat meluluhkan hatinya dengan tekad mempersuntingnya, mengalahkan tiga pesaingku sekaligus.

"Bang, apa yang membuat yakin bahwa aku bakal menerima lamaranmu?" Pertanyaan yang membuat ponggah di hatiku, dengan mantap aku menjawab.

"Yah, karena adek sayang sama Abang, cinta sama Abang. Iya kan ...." Kusentil ujung hidungnya meyakinkan bahwa dia tak salah memilihku. Meski aku hanya seorang kepala marketing produk makanan.

Kebahagiaanku semakin lengkap ketika Adelina--istriku juga pintar dalam mencari pundi rupiah. Meski ia di rumah tetapi orderan olshop-nya tak pernah sepi pembeli, sampai ia mempekerjakan Lilia tetangga kami untuk dijadikan admin pencatat orderan masuk. Tentu saja dara lulusan SMA tersebut senang bukan kepalang, meski hanya di rumah ia dapat menjalankan pekerjaannya. Kecuali sedang kirim orderan yang dilakukan per dua hari.

Tak ada kesempurnaan yang benar-benar sempurna, sebab sampai detik ini Adelina belum juga menampakkan tanda-tanda kehamilan. Sebagai seorang lelaki terkadang aku terkucil sendiri. Apa gunanya lelaki jika bikin enak saja tetapi susah bikin anak. Bahkan sematan 'letoy' tak jarang kudengar ketika rekan kerjaku bersenda-gurau. Kala candaan mereka menertawakan kekuranganku rasanya ingin kubekap mulutnya dan kusiram dengan air keras. Sembilan tahun bukan waktu yang sebentar untuk menunggu buah cinta kami, namun Tuhan sepertinya sedang menguji kesabaran kami.

***

Sore sepulang kerja, seperti biasa Adelina telah berdandan rapi menyambutku. Pelukan manja dan perhatiannya membuat aku bahagia menjadi suaminya. Setelah ia mengambil tas ransel dan jaket yang kukenakan lantas diletakkan pada meja di ruang tengah. Semenjak kami menikah, aku menempati rumahnya. Jujur ketika aku mempersuntingnya tak ada kesiapan untuk hidup berumah tangga, lagi-lagi Adelina yang membukakan pintu seluas-luasnya untuk tinggal di rumahnya.

"Dek, besuk Abang libur, karena anak kantor gathering tiga hari di pantai. Abang males ikut, mending istirahat di rumah sama kamu." Ada wajah yang tak bersahabat ketika aku berbicara barusan, "Lho ... malah bengong!"

"Emm ... emm, gak papa sih, Bang." Adelina seakan menjawab dengan terpaksa.

"Besuk, Abang antar ke dokter kandungan lagi. Biar diperiksa siklus bulanan kamu, mau kan?" Ia hanya mengangguk seakan ogah-ogahan mengikuti saranku.

"Ya udah ambilin Abang makan, yah." Kami bergegas ke dalam menuju ruang makan yang berdekatan dengan dapur bersih. Rumah Adelina tidak terlalu besar tetspi panjang, sehingga ada dua dapur di sini. Dapur bersih dan dapur kotor. Biasanya ia lebih senang memasak di dapur bersih ketika hari sudah sore maupun malam.

***

Aku terbangun lantas meraba posisi istriku, beberapa kali meraba tetap tak kutemui juga. Sampai aku membuka mata lebar dan memang tak mendapati Adelina di kamar. Kalau pun ia ke kamar mandi pasti aku mendengar gemericik air dari sana, nyatanya tak ada. Perlahan bangkit dan menyusuri ruangan yang gelap. Di ruang tamu, di ruang tengah, di ruang belakang juga tak ada. Aku turun ke lantai bawah yang hanya empat tangga, di sana terletak dapur kotor. Perlahan langkahku mulai mendekat.

"Oek ... oek ... oek ...." Kutajamkan pendengaran, menyusur setiap ruangan tetapi tak kutemui apa-apa. Tengkukku serasa ada yang meniup dengan sengaja hingga bulu kuduk berdiri. Semakin mendekat pada dapur rasa kaki ini semakin berat, tetapi aku harus menemukan Adelina.

Perlahan kutengok dapur tak ada siapa-siapa, perasaanku menuntun untuk terus menyusuri dapur.

Kata hati itu adalah keyakinan, meski tidak sepenuhnya benar ada baiknya mengikuti meski harus tetap waspada. Mantap, kulangkahkan kaki memasuki dapur. Harum sesuatu menyeruak dalam cuping hidung, sedikit kaget dengan pemandangan yang baru saja kulihat. Adelina sedang duduk di bawah dengan posisi berisila. Di hadapannya ada beberapa ubo rampe bermacam-macam. Ada botol kaca dengan isi sesuatu berwarna magenta. Apa itu pikirku sendiri.

Adelina beberapa kali meniup dupa dan menggoyang-goyang botol yang berisi cairan, sesekali tangannya seperti memasukkan sesuatu dalam botol tersebut. Awalnya aku ingin memanggilnya untuk mencari tahu apa maksud ini semua. Namun, kuurungkan niat, mundur beberapa langkah dan bersembunyi di belakang lemari es. Jantungku seakan enggan berkompromi, meski lelaki saat dihadapkan dengan sesuatu yang aneh membuat lonjakan jantung semakin terpacu. Keringat dingin tanpa kompromi menghiasi kening. Rasanya ingin mengumpat keras hingga ketakutan ini berakhir.

Sepertinya Adelina telah selesai karena dupa yang terbakar segera ditiup lantas menyimpan botol berisi cairan beserta ubo rampe di lemari bagian bawah. Lantas ia berbalik dan melangkah hendak keluar dapur. Ia terperangah, kaget hingga tanpa suara berjingkat sedikit.

"Bang Sandy, kok di sini? Abang sudah lama?"

Antara menjawab pertanyaan dengan jujur ataukah justru sengaja diam. Kegalauan dalam pikir berhenti sejenak. Dalam rasa penasaran yang semakin dalam aku mengajak Adelina masuk kembali ke kamar. Menyiapkan kondisi dan memulai bertanya kepadanya.

"Apa maksud semua tadi, Dek?" Perlahan aku mengintrogasinya. Wanita ayu berlesung pipit tersebut seakan ketakutan, ada kecemasan pada tatapannya, "Abang hanya ingin tahu, coba adek jelaskan?" Kuseka lembut kening yang dipenuhi keringat.

"Abang janji gak akan marah?" Dia mulai membuka suara.

"Huum, kenapa harus marah jika adek punya alasan." Aku mencoba menjawab pertanyaannya setenang mungkin, karena ingin kejujuran darinya.

"Sebenarnya yang Abang lihat tadi di dapur itu, aku hanya menjalankan ritual di Jumat malam setiap bulan, Bang."

"Terus?"

"Itu semua sudah adek lakukan sebelum menikah dengan Abang."

"Iya, terus maksudnya apa?" Aku tak sabar ingin mendengar lebih banyak penjelasannya.

"Adek hanya mengikuti perjanjian saja, Bang, tak ada yang dikorbankan maupun disakiti. Juga tak ada yang harus diberi sesuatu untuk ini semua."

"Maksudnya? Coba adek jelaskan lebih ringkas hingga Abang paham."

"Ritual itu adalah ritual pesugihan, Bang."

Degh! Ada nyeri di ulu hati mendengar kejujurannya, pesugihan berarti apa yang kunikmati selama ini hasil ... kutepis pertanyaan yang melintas dalam benak.

"Ritual pesugihan bajang, Bang, fungsinya untuk kelancaran rejekiku selama ini sehingga aku menikmati ini semua." Adelina mencoba bernegosiasi memenangkan pendapatnya.

"Jelaskan untuk apa botol dan berisi apa itu semua, ubo rampe juga apa maksudnya?"

" Botol itu berisi darah segar."

"Apa? Darah! Darah ... apa itu, Dek?"

"Darah bayi yang baru meninggal, Bang."

Gila senekat itu istriku selama ini, hingga nalarnya terabai untuk keinginannya.

"Terus maksudnya apa?"

"Fungsi dari darah tersebut untuk menarik ruh-ruh bayi yang meninggal belum genap delapan bulan, sehingga aku masih tetap bisa menghasilkan. Jika aku abai ini semua akan meredup dan aku bisa jatuh miskin seperti dulu."

Prank!!! Tanganku yang sedari tadi menggenggam remote TV tak terkontrol dan melemparkan pada cermin rias.

"Dek! Inget! Siang malam Abang berdoa, salat untuk kelancaran kita juga untuk mendapat keturunan. Namun, justru istri Abang sendiri yang bersekutu dengan setan!" Wajah kalem istriku mulai mengucurkan cairan bening sembari sesenggukan bersuara. "Sembilan tahun, Dek! Sembilan tahun bukan waktu yang sebentar ketika semua itu harus kamu bayar dengan anak-anakmu yang harus keguguran dan semua sebelum berusia tujuh bulan, ingat hah!" Apa kamu pura-pura tak mengerti. Tega kamu, Dek, tega sekali mengorbankan ...." Ah ... Semakin memuncak saja amarahku. Tanpa berpikir panjang, kukemasi barang seadanya dan keperluan kerja.

"Malam ini juga Abang keluar dari rumah ini, Dek, maaf jika Abang harus menceraikanmu. Abang tak sudi punya istri sekutu setan." Sepertinya aku semakin tak dapat mengontrol diri. Adelina istriku menangis meraung-raung dan membekap erat lengan kiriku. Semakin lama pelukannya semakin erat dan ia mengikuti hingga depan rumah, tetapi aku hanya menepisnya dengan kasar tanpa menghirau keadaannya saat itu.

***

Dua minggu berlalu setelah kuceraikan Adelina, desas-desus bahwa mantan istriku semakin depresi. Entah karena kepergianku atau kah memikirkan kesalahannya. Tiba-tiba smartphone-ku berdering tampak nama 'Lilia' memanggil.

"Iya, Li, ada apa? Jangan pernah bahas wanita itu lagi!" Bahkan aku enggan menyebut namanya.

"Bang ... Bang Sandy bisa ke sini gak! Bang ... Mbak Ina ... Mbak Ina ...," suara Lilia seperti ketakutan.

"Li ... jangan dimatiin ... kenapa dengan, Adelina?"

"Di-dia sudah meninggal, Bang." Tut ... tut ... suara telepone terputus.

Lima belas menit aku telah sampai di rumahnya. Warga telah berkumpul di sana. Ada beberapa polisi yang berusaha menggali informasi. Kerumunan warga kusibak begitu saja, aku harus melihat langsung apa yang terjadi.

Ya Allah seakan melihat karma nyata, Adelina seperti tak kukenali lagi. Di sekujur tubuhnya terdapat luka berceruk-ceruk seperti digigit sesuatu tetapi rata seperti gigitan seseorang, tampak beberapa daging yang melekat hilang. Darah segar merembes di setiap cerukan lukanya. Matanya membelalak hingga terlihat warna putih saja dengan mulut menganga seperti menahan sesuatu yang sakit. Begitu hinakah kematian mantan istriku, hingga tak seorang pun tahu.

Tak ada perjanjian yang murah, pasti ada harga yang harus dibayar. Jika bukan saat ini mungkin nanti ketika ruh terlepas dalam raga.

Oktober 2020