Penghuni Rumah yang Lama

Ilustrasi dari gambar google

Semenjak Hanafi, Sang istri telah berpulang tiga tahun lamanya dan meninggalkan dua buah hati, putra dan putri. Kisah misteri penghuni rumah lama ini dimulai.

Kata warga sekitar, dulu Habibi, suami Hanafi terkenal sangat ramah dan selalu terlihat bahagia. Kini sosoknya telah berubah menjadi pemurung, suka menyendiri bahkan tubuhnya menjadi kurus tak terurus.

Saking cintanya kepada Hanafi sampai detik ini ia belum juga menikah lagi.

Bahkan rumah mewah yang dibuat bersama Hanafi dibiarkan kosong. Habibi memilih tinggal bersama orang tuanya di sana.
Karena lama terabaikan, rumahnya terlihat angker. Sangat sepi, serta cat dinding yang berwarna putih memudar kehitaman penuh dengan debu dan bau yang tidak sedap.

"Lebih baik rumah itu dikontrakkan saja, Nak," ujar Bu Sinta.

Bu Sinta, orang tua kandung Habibi juga berstatus Janda beranak tiga. Ketiganya laki-laki dan memiliki rumah sendiri. Anak pertama dan kedua tinggal di Luar Kota. Tersisa Si bungsu, Habibi.

"Belum kepikiran," jawabnya singkat.

"Kalau menurut Ibu jangan terlalu lama mikir, toh uang hasil kontrakan bisa buat anak."

Tok..tok..tok
Seseorang mengetuk pintu, Bu Sinta bangkit dari duduknya berjalan menuju pintu. Lalu, membukanya.

Sepasang suami istri yang tidak diketahui namanya bertamu. Yang mereka cari Habibi. Mereka datang ke sini dengan maksud untuk meghuni rumah Habibi.

"Silahkan, kira-kira kapan mau menempati?" Bu Sinta menyela ketika Habibi bicara.

Dengan membawakan teh manis dan cemilan. Bu Sinta ikut nimbrung. Habibi sulit memprotes. Alhasil semua keputusan ada dipihak Sang Ibu.
**

Tiga tahun berlalu, rumah itu baru direnovasi. Mas Ali yang menjadi tukang memberi masukan.

"Sebelum perbaikan harus diadakan selamatan, karena rumah lama ditinggalkan atap kayu menjadi rapuh perlu diganti semua. Sebagai bentuk keselamatan harus diadakan doa bersama."

Habibi mengundang beberapa tetangga, sebagai perwakilan pembaca doa ditujukan oleh Mbah Kyai Sidik.

Sebenarnya Tradisi Selamatan hanya untuk membuat rumah baru atau dari pihak yang mau menempati. Ini justru kebalik yang menjadi tanggung jawab Si Pemilik Rumah.

Bu Sinta membuat tumpeng untuk makan bersama.

Esoknya, terdengar kabar salah satu tukangnya meninggal di tempat kejadian. Habibi takut jika renovasi rumah dilanjutkan akan memakan korban lain. Sang Ibu tetap kekeh dengan pendirian.

"Pokoknya cari tukang lain, kalau bisa renovasi rumah harus selesai dalam waktu dua minggu," tegas Bu Sinta.

Mas Ali malah disalahkan, karena tidak becus menjadi tukang. Menyalahkan tradisi sekali pun sudah diadakan selamatan masih juga memakan korban.

"Bukan salah Mas Ali, dan tradisi. Namanya sudah takdir mau diapakan, yang tahu cuma Gusti Allah. Kita manusia cuma bisa berdoa dan tawakal," ujar Habibi memberi wejangan.

**
Sudah dua minggu, rumah ini dihuni oleh sepasang suami istri. Setiap malam suka ribut beradu mulut.

Anehnya, yang diributkan cuma masalah sepele. Seperti suaminya suka telat pulang, lupa menutup jendela kamar dan lupa mematikan air.

Ada yang janggal dari tuduhan akhir, jika Si Suami mengaku dirinya tidak pernah lupa menutup jendela serta mematikan keran.

Lambat laun mereka memutuskan pergi dari rumah tersebut sebelum habis masa perjanjian kontrak.

Bu Sinta mencari orang lain yang mau menempati. Tetap saja penghuni kontrakan bertahan hanya dalam waktu satu tiga bulanan.

Habibi berusaha menawarkan rumah kontrakannya kepada rekan kerja. Namun, nihil.

Akhirnya, mereka putus asa terpaksa rumah dibiarkan kosong.

Untuk melepas rindu kepada Hanafi, Habibi tidur semalam di Rumahnya. Ternyata benar kata mereka, tiba-tiba keran air menyala sendiri. Jendela kamar terbuka sendiri saat tengah malam.

Angin menusuk kulitnya membuat bulu kuduknya berdiri. Disisi lain perempuan cantik mirip Hanafi mendatanginya. Dengan suara yang lembut memanggil namanya. Berbisik ditelinga Habibi dan berkata, "aku milikmu malam ini."

Sejak Peristiwa malam itu, Habibi jarang terlihat lagi.

*

Kisah Nyata

*Tradisi Selamatan Rumah Baru di Jawa