Wanita Melata di Pukul 5 Pagi

Wanitamelatadipukullimapagi

Menjelang dini hari, Riska selalu merasa ada yang mengamatinya. Tapi karena sibuk dengan pekerjaan, ia tak mencoba mencari tahu. Bekerja di perusahaan empat besar di Indonesia memaksanya untuk bekerja bahkan saat orang-orang beristirahat. Tapi upahnya sepadan untuk mencicil utang orang tuanya dan membayar tagihan sekolah dua adiknya.

 

Bukan keinginannya menjadi generasi sandwich. Tapi, apa pun kondisinya saat ini toh Riska lega. Karena sesudah utang orang tuanya selesai, ia akan menabung. Membayangkan hal itu membuat Riska bekerja tak kenal waktu, persis seperti prinsip perusahaannya sekarang bekerja.

 

Kemudian bunyi derap seperti langkah kaki itu lagi-lagi terdengar. Jika didengarkan dengan seksama, itu bukan suara langkah kaki menapak lantai, tapi suara tangan yang menjejak di ubin. Sayangnya Riska tak menghiraukan hingga adzan berkumandang. Ia akhirnya memilih tidur untuk beristirahat sejenak sebelum pukul sembilan berangkat bekerja.

 

Ibu sudah menasehatinya agar tidak bekerja sampai tak kenal waktu. Jika tidak dipaksa dan dihidangkan makanan depan muka, Riska juga akan lupa makan. Makannya pun tak tenang. Ia makan dan minum sambil sibuk mengolah data di laptopnya. Laptop kesayangannya yang ia beli dari hasil kredit. Bunganya memang lebih besar dari harga laptop jika membeli secara cash. Tapi, Riska tak bisa karena uangnya hampir habis hanya dengan membayar cicilan keperluan rumah sehingga pada akhirnya ia memutuskan untuk membeli secara kredit sesuai kemampuannya. Meski bergaji besar, toh pengeluarannya juga sama besarnya. Beruntung, Riska tak perlu makan indomie tengah bulan atas sikap hematnya.

 

“Riska sudah begadang kok nggak sekalian shalat Subuh dulu sebelum tidur?” tanya Ibunya dari luar kamar.

 

Riska tak menjawab karena dirinya sudah ke alam mimpi. Ibunya hanya menghela napas. Sementara itu, ia, suami, dan anak bontotnya shalat berjamaah di rumah. Selesai shalat, mereka sama-sama berdoa agar Riska mengingat shalat.

 

Keesokan harinya, Riska mengulang aktivitasnya seperti kemarin. Bangun tidur dengan rasa letih tak berkesudahan. Membawa laptop ke kantor karena semua isi pekerjaannya ada di dalam perangkat itu. Kemudian kembali lagi ke rumah nyaris pukul sembilan malam. Kembali lagi ia berhadapan dengan laptop usai mandi malam.

 

“Nak, kamu sibuk bekerja sampai lupa shalat lagi, loh,” tegur Bapaknya kali ini di depan pintu kamar Riska yang tak tertutup.

 

“Pekerjaan Riska sedang banyak, Pak. Apalagi sedikit lagi akhir bulan dan tanggal gajian, semua data karyawan perlu diolah dan diperhatikan kebenaran kehadirannya. Kalau Riska bermalas-malasan justru malah gajiku yang dipotong. Wah, kalau gajiku dipotong, bisa semakin sulit untuk membiayai kebutuhan kita,” keluh Riska.

 

“Bapak dan Ibu minta maaf, kamu jadi bekerja keras begini.”

 

Riska menggelengkan kepala. “Tidak apa-apa, Pak. Aku senang bekerja begini. Kalau pencapaian pekerjaanku baik, aku bisa dipromosikan untuk naik jabatan. Kalau sudah begitu, gaji Riska juga akan naik dan Bapak tidak perlu ojek lagi.”

 

“Riska, itu impian yang indah sekali. Bapak bangga sama kamu. Tapi, Nak, jangan sampai kamu ketinggalan shalat terus menerus seperti ini. Kamu tahu shalat tiang agama, kan?”

 

“Iya, Pak.”

 

“Kalau kamu jarang shalat atau bahkan tak shalat, tiangmu akan roboh. Bayangkan rumah tanpa tiang yang kokoh. Ia pasti akan roboh dan hancur. Setan akan mudah menganggumu juga.”

 

“Bapak sudah sering mengatakannya.”

 

“Dan Riska juga sering mendengarkan sekaligus mengabaikannya.”

 

“Iya. Riska nanti shalat, Pak.”

 

Bapak mengangguk puas. Setelah Bapak pergi dan pintu sedikit terbuka, Riska kembali berfokus ke  pekerjaan di laptopnya. Lalu menjelang pukul lima usai adzan berkumandang pikirannya teringat ucapan Bapak bahwa setan akan mudah menganggunya jika tak shalat. Ia bergidik sendiri membayangkannya. Lalu, suara langkah itu terdengar dan fokus Riska teralihkan.

 

Mata Riska seakan ditarik oleh kekuatan luar biasa besar untuk melihat pintu kamarnya yang tak tertutup. Ada jejak tangan di ubin. Riska terkesiap. Ia menoleh ke sekeliling kamarnya dan melihat seorang perempuan melata. Badannya terbalik seperti kayang, ia berjalan cepat ke arah Riska. Riska nyaris menjerit ketika jarak makhluk itu semakin dekat.

 

“Kamu tidak shalat. Kamu temanku.”

 

Riska tak mengerti.

 

“Kamu tidak shalat. Kamu temanku.”

 

Riska merasakan keringat dingin membanjiri keningnya. Rasa takutnya membuat tenggorokannya kering hingga sulit berteriak. Matanya nyalang mengamati perempuan melata yang berjalan kayang ke arahnya itu melangkah pelan mendekat. Semakin dekat, Riska semakin melihat bahwa rambutnya awut-awutan, mukanya rata.

 

“Kamu tidak shalat. Kamu temanku. Hanya setan yang tak shalat.”

 

Riska menggunakan segenap kekuatan untuk menjerit memanggil Ibu dan Bapaknya. Tak sampai semenit, Ibu dan Bapaknya datang. Waktu kedatangan mereka terasa lama bagi Riska yang ketakutan. Tapi toh Riska langsung berhambur memeluk orang tuanya. Ia menceritakan tentang wanita melata yang datang di pukul lima itu. Riska sering mendengar langkahnya, tapi tak pernah mengabaikan karena sibuk bekerja.

 

Ibu mengelus punggung Riska. “Nak, Ibu dan Bapak sudah bilang, jangan tinggalkan shalat. Setan suka dengan manusia yang malas shalat.”

 

“Ibu … Bapak … maafkan, Riska. Ayo, kita shalat berjamaah.”

 

#CerpenMisteriRamadan