Zeruzeru Nan Malang

zeruzeru

“Karibu, Welcome to Karatu,” demikian resepsionis menyambut saya di sebuah hotel di Karatu, tempat saya dan juga Jumanne, sopir sekaligus pemandu wisata akan menginap. Kami memang harus menginap semalam di Karatu sebelum esok pagi ke Ngorongoro Crater Conservation Park yang merupakan sebuah tempat safari paling terkenal di Tanzania selain Serengeti National Park.

"Makan malam akan disiapkan di restoran pada jam 7.30 nanti,” demikian ujar resepsionis yang mengantar ke kamar yang berbentuk vila mungil. Suasana lodge atau hotel ini sangat sepi dan malam itu kondisinya lumayan gelap karena banyak lampu taman yang dimatikan.

Interior kamar memiliki perabotan yang khas. Ada ranjang besi berkelambu. Mengingatkan saya akan tempat tidur peninggalan kakek . Di dinding ada lukisan dengan gambar sulaman gajah, singa, macan tutul, kuda nil dan kerbau Afrika yang termasuk hewan The Big Five. Wah semoga besok bisa melihat semua hewan ini selama safari, bisik saya dalam hati.

Saya mengambil shuka – sejenis selimut khas suku Masaai - warna merah yang ada di rak dan bersiap mandi. Namun pintu kamar mandi tidak bisa dibuka seakan-akan terkunci dari dalam. Samar-samar terdengar suara air dari dalam kamar mandi. Saya kembali ke dekat tempat tidur, mencari telepon untuk melapor kalau kamar mandi tidak bisa dibuka. Tetapi di kamar ini tidak ada telepon. Saya baru ingat bahwa fasilitas di lodge atau hotel di Karatu tentu tidak sama dengan di hotel berbintang di Dar es Salam atau Arusha.

Penasaran, saya kembali ke kamar mandi dan mencoba membuka pintu. Aneh bin ajaib, kali ini pintu bisa dibuka walau ketika masuk ke kamar mandi, saya merasa ada yang baru saja mandi di sini. Tidak ada siapa-siapa. Bulu roma saya mulai merinding.

Saya mandi, berpakaian dan segera ke restoran untuk makan malam. Perut lumayan keroncongan setelah siang hingga sore bersafari di Lake Manyara. Makan siang tadi hanya lunch box dengan menu khas Afrika. Pisang sebagai pengganti nasi dan berbagai irisan buah serta sayur sebagai salad dan lauk.

“Anda satu-satunya tamu di lodge kami pada malam ini, sekarang sedang low season,” manajer hotel, seorang pria berusia sekitar 35 atau 40 tahun, yang datang khusus menemui saya menjelaskan dengan ramah. Sambil menikmati makan malam berupa nasi putih, kentang, berbagai sayuran dan daging kami berdua mengobrol banyak tentang Tanzania dan Safari. Tentang Arusha, Kilimanjaro dan juga Tanzanite, batu khas yang ada hanya di Tanzania. Makan malam dengan porsi lumayan besar di tengah belantara hutan Afrika Timur terasa sangat nikmat, dan saya sudah melupakan insiden di kamar mandi tadi.

Selesai makan, saya kembali ke kamar. Perasaan tidak enak kembali menghantui. Samar-samar kembali terdengar suara air di kamar mandi. Penasaran saya pergi ke kamar mandi dan membuka pintunya. Tidak ada siapa pun, kecuali lantai kamar mandi yang basah seperti baru ada yang selesai mandi.

Rasa kantuk akibat hari yang cukup melelahkan mengalahkan rasa penasaran dan takut. Tidak lama kemudian, saya terlelap tidur nyenyak senyenyak-nyenyak bayi.

Lewat tengah malam, saya terbangun karena ada yang menarik-narik selimut sambil mengguncang-guncangkan tempat tidur. Pada mulanya saya merasa bermimpi. Dalam keremangan, saya melihat sosok seorang perempuan berkulit putih, namun bentuk tubuhnya lebih mirip orang Afrika. Saya bangun terduduk sambil menggosok-gosok mata. Sosok itu kemudian lenyap menghilang ke arah kamar mandi. Saya menyalakan lampu kamar dan tidak melihat apa-apa.

Saya melirik jam tangan yang ditaruh di meja dekat sofa. Jam baru menunjukkan pukul satu lewat sepuluh menit tengah malam. Lampu kamar dimatikan dan saya mencoba kembali tidur walau rasa takut kembali muncul.

Rasanya belum puas tidur ketika ranjang terasa kembali terguncang dan selimut saya ada yang menarik-narik. Di sudut kamar dekat kamar mandi kembali terlihat sosok perempuan putih itu. Walau dalam remang kegelapan kamar, sekilas saya melihat dia masih berusia muda, mungkin awal dua puluh tahunan.

"Mimi. Mimi,” ujar perempuan putih tadi sambil tangannya menunjuk diri sendiri. Saya baru sadar kemudian bahwa dia berbicara bahasa Swahili dan mimi memang berarti saya. 

“Mimi, Mimi,” ujarnya lagi sambil tangan yang satu menunjuk dirinya dan tangan yang lain memanggil-manggil. Sosok itu berjalan ke arah pintu kamar. Secara tidak sadar, kaki melangkah mengikutinya walau sebenarnya saya sangat takut. Pintu kamar terbuka sendiri dan dia melangkah keluar sambil tangannya memberi isyarat agar saya mengikuti. Tanpa sadar, kaki saya melangkah secara otomatis seakan ada yang mengendalikan.

Sosok perempuan Afrika namun berkulit putih mirip bule atau lebih cocok disebut penderita albino ini kemudian berjalan ke halaman. Di sini banyak pepohonan yang cukup rindang. Dia kemudian berhenti di salah satu pohon dan menunjuk ke bawah pohon sambil terus berkata: “Mimi, Mimi.” Saya berjalan tanpa sadar ke pohon itu, dan tiba-tiba kepala saya terbentur dahan pohon. Saat ini, saya sudah bisa dengan sadar menggerakkan kaki dan tangan, namun perempuan itu sudah menghilang. Rasa takut membuat saya segera kembali ke kamar, menyalakan lampu dan kembali tertidur.

Sekitar jam 7.30 saya sudah berada di restoran untuk makan pagi. Menunya berbagai jenis salad, roti bakar dan juga pisang sebagai makanan pokok. Benar-benar khas Afrika Timur seperti di Kenya dan Rwanda.

“Good Morning Sir,” seorang karyawati hotel menyapa ketika dia melihat saya sudah selesai makan dan menikmati kopi susu. Karena tidak ada tamu lain, dia duduk menemani dan kemudian mengajak ngobrol.

Akhirnya saya bercerita mengenai kejadian tadi malam. Karyawati berusia tiga puluh tahunan ini hanya menyimak dan kemudian menunjukkan foto di gadgetnya. Ada foto seorang gadis Afrika berkulit albino dengan seragam hotel ini. Tanpa ditanya saya langsung mengiyakan bahwa gadis inilah yang saya lihat tadi malam.

Tidak lama kemudian Jumanne datang menjemput dan kami segera melaju menuju Ngorongoro Crater. Hari sudah menjelang senja ketika kami berkendara menuju Arusha.

“Anda telah membantu menemukan karyawati hotel yang hilang,” sambil mengendarai kendaraan safari, Jumanne bercerita bahwa beberapa bulan lalu, Zuwena, seorang karyawati di hotel itu yang kebetulan penderita albino tiba-tiba saja menghilang. Tadi pagi mereka menggali di pohon berdasarkan petunjuk saya dan menemukan mayat gadis itu. Sedihnya banyak anggota tubuh gadis itu yang sudah dimutilasi.

Jummane menambahkan bahwa orang albino disebut dengan istilah Zeru Zeru dan mengalami banyak diskriminasi di Tanzania. Ada semacam kepercayaan bahwa anggota tubuh mereka bisa digunakan sebagai jimat untuk upacara ritual.

14 April 2022

#CeritaMisteriRamadan