Awan Tebal Pemakan Ribuan Jiwa

Dok.pri by Canva

Aku memandangi punggung istriku yang tengah memanaskan air. Seperti biasa, sebelum aku berangkat kerja. dia akan sigap melayani. Wanita yang sudah dua puluh tahun ini menemani, menghadiahkan dua anak, menghadirkan ketenangan dan kebahagiaan.

"Pah, nanti pulangnya sekalian yah beli beras."

"Iya, Mah. Terus apalagi?" 

Ratmi, istriku berjalan ke arahku sambil menuangkan air panas ke dalam gelas berisi kopi hitam. Lalu menggelengkan kepalanya.

Kopi hitam menjadi pelengkap pagi sebelum berangkat kerja. Sudah menjadi keharusan yang tak bisa ditinggalkan selama ini. Aku jarang minum air putih.

Telapak tangannya mengapit, mencium berkali-kali. Aku merasakan kehangatan cinta dan kasih sayang. Dan, tak lupa menanggalkan bekas kecupan di keningnya.

...

Lembaran dua ribu rupiah sudah kumasukkan ke dalam kantung celana. Dua roda kendaraan bermotor tampak rapi di area parkiran. Jam tiga sore masih saja ramai pengunjung pasar.

Entahlah, apa yang membuat diriku rindu pada sosok istriku. Sekarang ini aku betul-betul ingin cepat kembali. Tetapi, satu jam lagi saja seakan perputaran waktu begitu lambat dari biasanya. Kecemasanku tampak oleh Bambang.

"Pak Joko, kalau mau pulang, pulang saja. Nanti biar tak gantikan saya." Ujarnya.

Bambang seperti tahu, apa yang sedang aku pikirkan? Aku senang mendengarnya. Gegas mengganti pakaian ke dalam kamar mandi Masjid yang berada dekat pasar. Mengingat titipan istri untuk membeli beras. Sebelum sampai di rumah, aku berhenti di Gudang Resmil. 25 kilo beras dalam karung sudah di atas motor.

Tiba-tiba awan mendung, gerimis datang dan aku lupa tak mengenakan jas hujan. Alhasil pakaianku basah kuyup. Tak hanya itu gerimis ini disertai angin yang membuat motorku berjalan limbung.

Jalan ke arah kampung macet total, saat pandanganku ke arah selatan awan sekitar gunung Semeru menebal. Perasaanku tak enak memikirkan keadaan keluarga yang berada di kediaman. Namun, sayangnya aku terjebak macet. 

Banyak warga berlarian menyelamatkan diri, bahkan truk berhenti di tengah jalan. Aku terbatuk-batuk terkena debu. Pyur, lagi-lagi semburan hujan lumpur keluar dari mulut gunung Semeru. Aku menumpahkan kekesalan karena tak bisa berbuat apa-apa.

Sesak, setelah perjalananku akan sampai. Aku menyaksikan rumah kediamanku tak tampak lagi. Termakan panasnya awan hitam, anak dan istriku menjadi korban dari bencana alam.

Pemalang, 6 Desember 2021

#AksaraSulastri