Seekor Burung di Kabel Listrik

Sumber gambar : wallpaperbetter.com

Seekor burung hitam menapakkan kakinya di kabel listrik yang membentang sepanjang area persawahan. Napasnya memburu, terlihat lelah dan kesal. Angin yang menyapa lembut, tak mampu menghadirkan senyum di wajahnya. Kelopak-kelopak merah yang berguguran dari dahan kapuk randu, tampak biasa saja baginya, tak ada keindahan.

Langit memerah menandakan mentari hendak berpamitan. Senja ialah waktu yang sangat disukainya, tetapi tidak pada hari itu. Senja selalu turut bermuram durja di kala ia merasa jengah pada dunia.

Teman-temannya mulai beterbangan ke ujung barat. Namun, ia hanya mematung dengan seribu kepedihan yang berpalung.

“Ayo kita melihat senja.”

Ia mengepakkan sayapnya yang terdapat sedikit warna biru, lalu menggeleng pelan, paruhnya enggan membuka walau sedikit saja. Temannya terheran kemudian memutuskan melanjutkan perjalanan.

Matanya kembali berlinangan luka, yang ia lihat hanya kehampaan. Bosan dengan peliknya aral kehidupan. Mengapa harus ia yang mendapat bagian berseteru dengan ayahnya sendiri? Pukulan-pukulan yang selalu melukai ibunya, hinaan karena upah kerjanya lebih sedikit, jerit tangis adik-adik, amarah sang ayah ketika tidak makan dengan lauk yang enak. Ia penat mendengar semua itu.

Siapa sesungguhnya yang menjadi kepala rumah tangga? Mengapa harus ibunya yang bertanggungjawab penuh?

Anak sulung tak berguna!! Gajimu tidak ada apa-apanya dibanding gajiku!! Kalimat itu selalu bergelantungan dalam dinding ingatannya. Menangis pun hanya membuat letih. Ia ingin sekali berlari jauh ke mana saja, terbang bebas, asalkan semua lukanya enyah tak lagi melekat dalam dada. Tetapi harus ke mana ia melangkah? Bagaimana nanti nasib ibu dan adik-adiknya jika ia memutuskan untuk pergi?

***

Senja tinggal sisa-sisanya saja. Ia belum juga beranjak. Enggan pulang demi mengantisipasi luka baru. Perlahan ia mendongak. Meraba-raba pada lapisan awan yang mulai berubah abu-abu. Tanpa disadarinya, mendung hitam telah menggantung di berbagai sudut, hanya di bagian barat masih agak cerah. Senja mulai lenyap.

Terdengar gemuruh angin mencekam. Capung-capung berlarian cepat di hadapannya. Seolah tak peduli, ia hanya berkedip-kedip karena matanya perih tertimpa debu. Apa angin besar bisa membawaku pergi jauh? Pikirnya. Ia mengangkat satu kakinya agar tak lagi seimbang, tetapi angin besar tak juga menerbangkan tubuhnya.

“Hei!! Ayo pergi dari sini!! Angin besar bisa merenggut nyawamu!!”

Menggeleng kasar. “Tidak! Aku memang menunggu angin besar!!”

“Burung bodoh!!”

Temannya berkali-kali menjegal kakinya, ia malah bergeser ke tempat lain. Belum saatnya mengangkat kaki lagi jika angin besar belum datang, tekadnya.
Angin tampak bergulung-gulung mendekat. Wajahnya berbinar menyambut saat kebebasan itu tiba.

Ketika gulungan angin itu semakin dekat, teriakannya menggema di angkasa.

***

Gerimis hanya turun sesaat setelah para angin menyerbu. Mendung meluruh menyisakan senja yang indah menyambut kedatangan sang malam, tenteram dan damai.

“Kamu lihat langit, tak selamanya cerah, terkadang juga mendung seperti tadi,” ujar temannya.

Ia tidak menyahut. Matanya kembali meraba angkasa. Benarkah pedih akan menemui akhir layaknya mendung hitam yang meluruh?

“Menyangkal hanya membuat kakimu terasa dijegal. Iya kan? Terbukti kakimu harus kujegal dulu baru aduh-aduh mau menyelamatkan diri.”

“Itu karena kamu tidak jadi aku.”

“Jangan merasa paling menderita di dunia. Mau kamu protes sebanyak rintik gerimis pun, ayahmu tetap ayahmu. Hidupmu tetap hidupmu. Tak akan ada orang lain yang mau barteran sama nasibmu. Kamu juga tidak mau kan diberi nasib oleh yang lain? Hidupmu kalau bukan kamu siapa lagi yang akan menjalani?”

Ia termenung lama. Benar juga kata temannya. Tak ada nasib yang bisa ditukar. Pilihan terbaik ialah menjalaninya.

“Biarkan saja ayahmu begitu. Biarkan juga dirimu seperti biasanya. Sejauh ini kamu kuat melaju melawan segala rintangan yang ada. Mengapa di tengah jalan menyerah? Saat ini kamu bukan kamu. Ke mana kamu yang tangguh?”

“Betul katamu. Sejauh ini aku bisa. Mengapa malah menyerah? Payah sekali.”

Ia mulai tertawa renyah, menyadari kebodohannya. Temannya melekatkan peluk kedua sayap padanya, mengalirkan hangat kenyamanan hingga merambat ke dalam jiwa.

Keduanya terbang melintasi cakrawala, pulang menuju sarang. Kelopak-kelopak merah dari dahan kapuk randu masih berguguran. Matanya menangkap keindahan.

Jumat, 26 November 2021