Namaku Rita, Bukan Derita

Image by pxleyes.com

 

Namaku Rita. Usiaku tujuh tahun. Aku tinggal bersama Ayah dan Ibu di sebuah rumah sederhana yang terletak di pinggiran kota.

Berbeda dengan Ibu, Ayah sangat bangga dengan namaku. Ia tak bosan memanggilku berulang-ulang jika kebetulan tidak sedang bertugas ke luar kota.

"Rita! Rita!" selalu begitu. Ayah tidak akan berhenti memanggil sebelum melihat kemunculanku.

"Ayah berisik!" aku menghampirinya sembari bersungut-sungut. Kalau sudah begitu Ayah akan merengkuhku. Mengacak-acak rambutku. Lalu tawanya yang renyah berderai memenuhi ruangan.

"Kalian berdua! Bisa tenang tidak?!" Ibu menegur dengan alis mencuat tinggi. Seketika Ayah terdiam.

"Dan kamu, Derita, bukankah ini waktunya belajar?" mata Ibu tajam beralih ke arahku.

Perlahan aku melepaskan diri dari pelukan Ayah. Kutinggalkan ruang tengah menuju kamar.

"Jangan panggil ia dengan nama seperti itu," samar kudengar Ayah menegur Ibu.

"Memang kenapa? Ia lebih pantas menyandang nama itu!" Ibu berseru tak mau kalah.

"Namanya Rita, bukan Derita!" Ayah menegaskan. Lalu keributan berlanjut. Disertai benda-benda tak bersalah jatuh berhamburan.

Di dalam kamar aku duduk merenung. Pertengkaran itu, ah, selalu saja terjadi. Pertengkaran yang terpicu akibat memperdebatkan namaku. 

Kadang aku tak habis pikir, mengapa orang tua suka sekali bersitegang?

Konsentrasi belajarku seketika pecah. Tugas pekerjaan rumah dari Bu Guru cantik kubiarkan tergeletak tak tersentuh.

Bu guru cantik?

Duh, tiba-tiba saja aku teringat padanya.

***
Esoknya aku datang ke sekolah pagi-pagi sekali. Aku berharap bisa segera bertemu dengan Bu guru cantik itu.

Aku melonjak gembira begitu melihat sosoknya berjalan memasuki koridor sekolah.

"Rita? Rajin sekali," Bu guru menghampiriku. Senyumnya yang ramah menyapaku.

Aku menatapnya berlama-lama.

"Ada apa Rita?" ia menyentuh kepalaku. Belaiannya yang lembut serasa menyejukkan hati.

Ah, andai saja Ibuku seperti dia....

Bu guru cantik itu membimbingku ke sebuah bangku di pojok koridor. Kami duduk berdampingan.

"Rita ingin mengatakan sesuatu?" ia bertanya lirih. Dielusnya kembali rambutku yang tergerai.

 "Namaku Rita, bukan Derita," tanpa sadar aku membisikkan kata-kata itu. Bu guru cantik itu mengernyitkan alis.

"Memang ada yang memanggilmu dengan nama seperti itu?"

Aku mengangguk.

"Siapa?"

"Ibuku."

***

Siang itu kembali Ibu berteriak-teriak lantang memanggilku dari ruang tengah.

"Derita!"

Tetap saja Ibu memanggil dengan nama itu. Nama yang sangat tidak aku sukai.

"Ibu, namaku Rita, bukan Derita," aku memberanikan diri menatap Ibu. Berharap Ibu mengubah kebiasaannya memanggilku dengan nama yang terdengar aneh itu.

"Kau tahu, aku benci nama itu. Rita--Rita! Itu nama perempuan hina yang pernah dipiara Ayahmu!"

Aku tertegun. Tidak mengerti apa yang barusan dikatakan Ibu.

"Baiklah, anak manis, akan aku jelaskan kepadamu," Ibu menarik kasar lenganku. "Rita Anggraeni adalah nama perempuan sialan yang telah melahirkanmu."

"Rita Anggraeni?" mataku membelalak lebar. Aku sepertinya pernah mendengar nama itu.

"Ya, dia perempuan sialan yang telah merebut hati suamiku!" Ibu tiba-tiba berubah kalap. Tangannya berkali mencengkeram pundakku hingga aku meringis kesakitan

"Kau paham sekarang?" kali ini Ibu menjambak rambutku. Dengan perasaan takut dan ngeri aku menggeleng.

"Dengar! Aku ini bukan Ibumu!" Ibu menjerit histeris. Suaranya terdengar melengking ke seantero rumah. Aku semakin meringkuk ketakutan ketika tiba-tiba Ibu meraih tubuhku. Dan sekuat tenaga menghempaskanku ke atas sofa.

"Rita! Rita!" 

Lamat-lamat kudengar suara Ayah.

"Kau dengar itu? Ia tidak akan pernah berhenti memanggilmu. Memanggil-manggil nama kenangannya," suara Ibu merendah. Tapi jari jemarinya tak henti memelintir lenganku. Membuatku hampir menangis.

"Rita!" suara Ayah terdengar lagi. Ingin sekali aku menyahut panggilan Ayah. Tapi Ibu telah membekap mulutku.

"Rita!" akhirnya Ayah menemukanku. Ia merebut tubuhku dari cengkeraman Ibu dan merengkuhku ke dalam pelukannya.

Aku menggigil gemetar. Ayah mengelus rambutku, berusaha menenangkanku.

Sementara dari balik punggung Ayah aku menatap sosok itu. Sosok yang selama ini kupanggil dengan sebutan Ibu. 

Sosok itu kini diam. Tak bergerak di atas lantai.

"Apakah ia telah mati?" aku berbisik di telinga Ayah. Perlahan Ayah mengendurkan pelukannya. Pandangannya ikut tergiring ke arah Ibu.

"Siapa yang melakukannya?" Ayah bertanya dengan suara tersendat. Ada lelehan darah mengalir dari tubuh Ibu, menimbulkan bau anyir.

Aku tidak menyahut. Aku hanya menunjukkan sesuatu ke tangan ayah.

"Siapa yang memberimu belati ini, Rita?" Ayah terjengah.

"Guru cantik itu Ayah. Bu Rita Anggraeni."


***

Lilik Fatimah Azzahra