Keajaiban Doa

Ilustrasi pinterest.com

Keajaiban Doa 

Pukul 02.00 .... 
Malam masih menyisakan gelap. Sunyi, senyap. Hanya suara detak jarum jam mengiringi kegelisahan. Tergolek lemah di sisiku, Rama, si bungsu, napasnya makin memburu. Batuknya terasa berat, sesak, disertai panas yang cukup tinggi, 39?C. Entah mengapa setiap siang tiba gejala itu seakan berkurang. Salahnya aku menganggap itu hal biasa. Namun saat malam tiba, dia kembali merasakan gejala berat tersebut. Bahkan ini hari ke empat. 

Kantuk menyerang. Ingin rasanya segera lelap. Namun, saat hendak memejamkan mata, tiba-tiba Rama terbangun karena batuk. Kupeluk erat tubuh mungil yang tampak lemas tanpa daya itu. Kusuapkan air putih sesendok demi sesendok, berharap batuk dan sesak di dadanya mereda. 

Alhamdulillah, dia kembali lelap dalam pelukku. Namun, kurang dari satu jam, batuk itu terulang lagi dan lagi, hingga menjelang dini hari. Bahkan, hidung dan tenggorokannya seperti ada sesuatu sehingga kesulitan untuk bernapas. Aku pun mulai panik. Apalagi dokter terdekat tidak bisa dihubungi.  

Pukul 06.00 ... 
Bergegas kugendong si bungsu, berjalan kaki menuju bidan terdekat. Sementara si Kakak kutinggalkan di rumah sendirian karena masih lelap. Aku sungguh kecewa, karena bidan tidak memberikan tindakan apa-apa dengan alasan kondisi putraku demam tinggi dan tampak lemas. 

"Ke Puskesmas saja, Bu. Ada dokter spesialis anak di sana," ucap beliau dengan nada cemas. 

"Terima kasih, Bu."

Aku bergegas pulang. Di rumah, Raja, sang kakak ternyata sudah terbangun. Kusiapkan sarapan, lalu menyuapinya dan kembali menggendong si bungsu sambil menggandeng kakaknya, menunggu angkutan umum di depan rumah untuk membawaku ke Puskesmas. Sudah hampir 30 menit, tak satu pun angkutan yang melintas, sementara hati ini terus was-was. Beruntung tetangga yang baik hati, berkenan mengantarku dengan naik sepeda motor. 

Setibanya di Puskesmas, tak seperti yang kubayangkan. Harapan untuk segera mengetahui persis apa yang sedang dialami anakku hingga sulit bernapas, tak mendapat respon. Meskipun aku sudah meminta pada petugas, tetap saja tidak digubris.

"Ambil nomor, ngantri dulu, ya, Bu." 

Petugas tetap menyuruhku mengantri seperti pasien lainnya. Tetap harus sesuai prosedur, katanya. Aku hanya bisa pasrah, bersabar menunggu diantara puluhan pasien. 

Cuaca yang begitu begitu panas membuatku bertambah panik saja. Sambil menatap lekat wajah Rama yang hanya terpejam itu, aku memperhatikan Raja yang berlarian di ruang tunggu. Bocah tiga tahun itu mulai merasakan jenuh. 

"Buk, kapan pulang?" 

"Sabar, ya, Sayang. Biar adik diperiksa dulu sama dokter."

Setelah mengantri hampir 3 jam, ternyata sia-sia. Lagi-lagi dokter tak mampu berbuat apa-apa, selain menyarankan ambil sample darah di laboratorium. Namun, aku benar-benar kecewa untuk ke sekian kalinya. Petugas laboratorium pun tidak berani bertindak karena alasan yang sama. Demam tinggi dan kondisi tubuh Rama lemas bagai tanpa tulang. Sepasang mata mungil itu pun tak terbuka sedikit pun. 

"Ibu secepatnya ke rumah sakit saja, ya? Kayaknya ini gejala paru-paru. Kalo tidak segera ditangani, takutnya dia kehabisan oksigen."  Begitu entengnya dia berbicara. 

Ya Allah! Kehabisan oksigen? Anakku akan mati?

"Mengapa tidak sedari tadi anakku diperiksa, Dok? Mengapa harus tetap mengantri sedangkan keadaannya darurat seperti ini?" tangisku pecah. 

Aku berlari keluar ruang laboratorium dengan perasaan tak menentu. Antara marah, kecewa, dan panik. Tubuhku pun gemetar hebat. Air mata mulai luruh, tak sanggup membayangkan apa pun.

Aku terus berlari sambil mendekap erat tubuh Rama yang tak bergerak. Menggandeng Raja, pergi mencari angkutan umum menuju rumah sakit sambil terus berlinang air mata. Semakin cepat langkah ini, semakin deras bulir bening itu membasahi kerudungku. 

'Ya Allah! Apa dosaku hingga Kau menghukumku? Apa salahku hingga Kau buat anakku kesulitan bernapas ya Allah!'

Terbayang perjalanan menuju rumah sakit bisa mencapai satu jam, sanggupkah malaikat kecilku bertahan?
 
Dalam pelukan, bocah satu tahunan itu masih memejamkan mata, wajah memucat, kepalanya tertunduk pasrah di dadaku. Napas panasnya mengiris perih jantungku. Kepanikan tidak berhenti di situ. Gawai dalam tasku rupanya sudah tidak berpulsa lagi, sehingga sulit untuk menghubungi siapa pun. Sedangkan suami masih berada di Surabaya.

"Buuk ..., jangan nangis to Buk, jangan nangiiis! Kenapa ibuk nangis?" tanya  Raja sambil menggoyang-goyangkan tangan kananku. Rupanya bocah tiga tahun itu pun turut merasakan kepedihan di hatiku.

Aku terus bersabar menunggu angkutan di pinggir jalan. Tak peduli lalu lalang orang yang memperhatikan dengan tatapan nanar. Yang ada hanya berharap keajaiban dalam setiap tetes air mata ini. 

Sesekali masih kurasakan batuk dan napas yang teramat berat, memilukan, menusuk ulu hati. Melemahkan harapan dalam dada. 

'Ya Allaah ..., tunjukkan keajaiban-Mu! Jika Kau ijinkan, biarkan kujaga dia, kubimbing dia hingga dewasa. Berikan kembali nikmat napas itu untuknya dan sembuhkanlah dia.'

Sudah 15 menit, angkutan tak kunjung tiba. Aku hanya bisa berdoa, memohon pada Tuhan, agar mengampuni segala dosaku. Mengembalikan Rama dalam pelukku dalam keadaan sehat. 

Di tengah ketakutan yang tak terkira, dering handphone menyiratkan sebuah harapan baru. Tetangga yang mengantarku tadi menanyakan keadaan anakku. 

Alhamdulillaaah..., tanpa berpikir panjang aku mengiyakan tawarannya mengantarku ke rumah sakit.

Unit Gawat Darurat bertindak cepat, meskipun aku harus sabar menunggu di ruang penuh tabung oksigen yang berada di sisi ruangan. Kudu sabar mengantri kamar hingga pukul sebelas malam. Anakku didiagnosa kena infeksi paru-paru dan hampir saja kehabisan oksigen. Ya Allah! 

Belum selesai di situ, pukul 13.00, Raja merengek, menangis karena lapar. Aku baru sadar jika di tasku hanya ada air putih, kue, dan selembar 50 ribuan. 

"Ya, Allah, hanya pada-Mu aku meminta keajaiban."
Lagi-lagi air mataku mengalir sambil memeluk tubuh Rama. Menatap wajah mungil berhias selang oksigen. 

Nganjuk, 17 Maret 2017