Bersamamu Selamanya

Sumber gambar, Pinterest

Beberapa buku terlepas dari tanganku dan berserakan di lantai. Bel tanda masuk kelas membuatku gugup hingga tak sengaja menabrak Andre-ketua OSIS yang terkenal paling tampan di sekolah.

"Maaf," ucapku pelan. 

Andre tersenyum lalu membantu mengumpulkan buku-buku yang jatuh dan menyerahkannya padaku. 

"Lain kali hati-hati ya!" 

Pemuda dengan lesung pipi itu kemudian berlalu meninggalkanku yang masih terpesona dengan senyumannya. Namun aku segera bergegas masuk kelas karena tak ingin didahului guru Biologi yang mengisi kelas pertama pagi ini. 

*****

Sejak kejadian tabrakan tak sengaja itu, aku jadi sering bertemu Andre. Terkadang dia tiba-tiba muncul saat aku membaca buku di perpustakaan. Atau secara bersamaan kami sedang membeli makanan ringan di kantin, dan dia mentraktirku. 

Hatiku jadi seperti dipenuhi bunga yang bermekaran. Aku sering tersenyum sendiri jika mengingat wajah Andre yang rupawan. Bahkan aku sering mematut diri di depan cermin, lalu bicara dalam hati, 'pantaskah aku mencintai dia.' Aku tak secantik Iren si ketua pemandu sorak di sekolah, yang sering digosipkan teman-teman bahwa gadis itu berpacaran dengan Andre. 

Sikap Andre yang begitu baik membuatku bimbang. Apakah itu hanya murni sebuah kebaikan atau karena dia mempunyai perasaan lebih padaku. Aku benar-benar penasaran tapi tak punya keberanian untuk bertanya langsung padanya.

*****
Siang itu masih jam istirahat. Aku kembali ke kelas setelah mengembalikan buku ke perpustakaan. Beberapa teman terlihat bergerombol di sudut ruang kelas. Aku pun menghampiri mereka karena penasaran dengan apa yang dilakukan. 

Dinda dan Hani sedang duduk berhadapan sambil memegang sebuah pena yang digerakkan di atas kertas. Kertas bertuliskan huruf alfabet, angka nol sampai sembilan, lalu kata ya dan tidak. 

"Mereka sedang bermain apa?" bisikku pada Siska. 

"Mereka sedang bermain Ouija, karena tak ada papan Ouija jadi mereka membuat sendiri dari kertas," jawab Siska. 

"Ouija? Bukankah permainan itu mirip jailangkung yang memanggil roh?" tanyaku lagi.

Siska hanya mengangguk kemudian meletakkan jari manisnya di depan bibir untuk memberi isyarat agar aku diam. Aku pun menurut dan ikut memperhatikan permainan mereka. 

"Apakah Daniel menyukaiku?" 

Dinda bertanya dengan tangan yang berputar-putar memegang pena. Kemudian pena tersebut berkali-kali bergerak melingkar pada tulisan ya. Gadis itu pun berjingkrak kegirangan disertai tawa teman-teman yang mendukungnya. 

"Nah sekarang kau boleh pulang, kau mau pulang kan?" tanya Dinda. 

Lagi-lagi pena itu berputar pada tulisan kata ya. Lalu Dinda seperti merapal sebuah matra sembari memejamkan mata. Beberapa saat kemudian pena itu berhenti dan permainan berakhir. 

Aku jadi ingin melakukan seperti apa yang dimainkan Dinda. Walaupun tadi sempat berpikir bahwa yang dilakukannya sangat konyol. Tapi aku sangat penasaran dengan perasaan Andre. Siapa tahu permainan papan bertuliskan huruf-huruf itu bisa membantuku. 

Akhirnya aku memberanikan diri bertanya pada Dinda tentang permainan memanggil roh tersebut. Gadis berwajah tirus itu pun memberitahu mantra apa yang harus dibaca untuk memulai dan mengakhiri permainan. 

"Mengapa kau tidak bermain bersama kami saja? Hati-hati jika melakukannya sendirian, Kania!" pesan Dinda. 

Aku hanya tersenyum sekilas. Lalu pergi ke bangkuku yang terletak di bagian depan, agak jauh dari tempat Dinda. Temanku itu terlihat geleng-geleng kepala. 

Tak mungkin aku melakukan permainan Ouija bersama teman-teman. Bagaimana jika mereka tahu tentang perasaanku pada Andre. Bisa-bisa mereka akan menertawakan aku. Lebih baik aku bermain sendiri. Aku bertekad akan melakukannya nanti malam di rumah. Lagipula aku bukan seorang penakut. 

*****

Malam telah larut. Papa, mama, dan kakak laki-lakiku sepertinya sudah terlelap. Aku mulai menulis huruf alfabet, angka nol sampai sembilan, begitu juga kata ya dan tidak pada selembar kertas. Pena sudah ada dalam genggaman. Mantra memanggil roh mulai terucap di bibir. 

Aku merasa pena dalam genggaman mulai bergerak sendiri dengan perlahan. Aku hampir tak percaya mantra itu benar-benar berhasil. 

Pena bergerak melingkari huruf demi huruf saat aku bertanya siapa nama roh yang berhasil kupanggil. G-I-L-A-N-G, rupanya roh itu seorang pemuda. Dia meninggal saat berusia delapan belas pada tahun 1985 karena sakit. 

"Apakah Andre temanku di sekolah menyukaiku?" 

Aku bertanya dengan suara pelan setelah puas berbasa-basi dengan roh itu. Pena mulai bergerak, dan jawabannya sangat membuatku kecewa. Tentu saja Andre takkan menyukaiku. Seharusnya aku sadar diri, bagaimana mungkin gadis cupu seperti ini bisa menarik perhatian ketua OSIS yang sering dikelilingi gadis-gadis cantik. 

"Lalu apakah ada yang menyukaiku?" tanyaku iseng. 

A-D-A, jawaban itu tentu membuatku penasaran. 

"Benarkah, siapa itu?" tanyaku lagi. 

A-K-U. Aku menelan ludah dan mulai takut. Hawa dingin seolah tiba-tiba menyergap tubuh. Tanganku sedikit gemetaran. Aku mencoba menyuruh roh itu untuk kembali, tapi dia tak mau. Aku merapal mantra seperti yang diajarkan Dinda, namun tak berhasil. 

"Aku mohon pergilah!" pintaku.

Pena terus berputar pada kata tidak. Dan memutari huruf lain hingga membentuk kalimat, aku mau bersamamu selamanya. Aku mulai menangis ketakutan. Keringat dingin membanjiri dahi. Aku memikirkan cara untuk mengembalikan roh itu, namun sama sekali tak ada ide. Bibirku yang merapal mantra berulang kali pun tetap tak membuat roh Gilang pergi. Tanganku juga tak bisa terlepas dari pena yang tergenggam.

Akhirnya aku berteriak sekencang-kencangnya. Papa dan mama tergopoh-gopoh menghampiriku yang sudah histeris seperti orang gila. 

Sejak hari itu aku tak bisa lagi hidup normal. Roh Gilang setiap saat muncul di sekitarku. 

"Aku ingin bersamamu selamanya," ucapnya. 

Tamat

Surabaya, 01 November 2021