Setan Behel

Illustration by Canva

Suara adzan magrib telah berkumandang merdu saling bersahut-sahutan di mushola dan masjid terdekat kampung Jatiwaringin. Namun, Karto masih saja sibuk membereskan dagangannya yang laku keras hari ini. Senyumnya mengembang, membayangkan tas kecilnya yang penuh berisi uang. Laba hari ini sangat lumayan. Terbayang di benaknya, bisa mencicil hutang dan makan enak malam ini.

Sudah tiga tahun ini Karto menjadi penjual pakaian keliling. Dengan motor bututnya ia mengais rezeki ke pelosok-pelosok desa yang biasanya pedagang lain jarang menjamahnya. Itulah kenapa warga Jatiwaringin begitu sangat antusias menyambutnya. Terutama ibu-ibu yang gemar dalam urusan pakaian. Apalagi Karto juga mengkreditkan dagangannya sampai beberapa kali cicilan. Selain bisa dikredit, ibu-ibu itu juga tak perlu jauh-jauh pergi ke kota untuk sekedar membeli pakaian santai. Selain hemat tenaga juga hemat uang transportasi, tentunya.

"Wah dagangannya laris ya, Mas Karto?" ucap ibu muda rada-rada centil.

"Alhamdulillah, Bu. Rejeki anak istri saya di rumah, he-he," jawab Karto sambil tersenyum ramah. Memamerkan deretan giginya yang jauh dari kata menawan.

"Sudah magrib lho, Mas Karto. Rumah sampeyan kan jauh to dari sini? Pasti kemalaman sampai rumah," ibu berkerudung hijau tosca ikut nimbrung." 

"Iya lho, Mas. Nanti bisa-bisa di jalan dihadang sama hantunya Juminten. Hiii ...." sambar ibu-ibu berdaster lebar sambil meringis.

Karto bingung yang tengah dimaksudkan dengan ibu-ibu itu. Sambil membereskan dagangannya yang hampir selesai, Karto iseng-iseng bertanya.

"Juminten siapa to, Bu?" 

"Lho, Mas Karto belum dengar, ya? Kalau sudah sepekan, kampung Jatiwaringin ini lagi heboh oleh hantunya Juminten yang gentayangan," timpal ibu-ibu berkerudung hijau tosca tadi.

"Iya lho, Mas. Juminten yang matinya karena kecelakaan, waktu di kuburkan, lupa behel giginya nggak dicopot. Makanya, dia gentayangan minta dicopot behelnya itu, Mas ... hiii ... pokoknya serem ...." 

"Ah, itu kan cuman tayahul, Bu. Sudah ya ibu-ibu, saya mau salat magrib dulu terus langsung pulang. Takut kemalaman sampai rumah. Kasihan anak istri saya sudah nunggu di rumah," jawab Karto sambil melambaikan tangannya pada ibu-ibu disitu.

"Hati-hati, Mas di jalan. Kalau ketemu Juminten salam, ya, ha-ha-ha," goda Ibu itu lagi. Dan yang lain ikut tertawa, sedangkan Karto hanya tersenyum kecut saja.

"Hari gini kok masih percaya sama tahayul macam begitu. Ah, dasar ibu-ibu memang kerjaanya ngrumpi, kaya nggak ada kerjaan lain saja ...." Karto menggerendeng sendiri. 

***

Usai salat magrib di mushola terdekat, Karto bergegas untuk segera pulang, takut kemalaman. Karena tidak biasanya Karto sampai pulang semalam ini. Biasanya, menjelang magrib pun Karto sudah sampai di rumahnya.

Baru saja Karto hendak menyalakan motor bututnya, tiba-tiba halilintar pecah di langit. Angin bertiup kencang membawa air hujan yang sedang tak diinginkan Karto. Hujan turun begitu derasnya. 

"Ah, sialan! Malah hujan lagi!" Karto mengumpat.

Sayang sungguh sayang, hujan yang diharapkan segera reda nyatanya malah berlangsung cukup lama. Selepas isya hujan baru mulai terlihat mereda. Namun, masih menyisakan rintik-rintik gerimis. Mau tidak mau, Karto nekat saja, biasanya hujan gerimis begini berlangsung lama, bisa sampai pagi malah.

Akhirnya Karto nekat saja menerobos gerimis. Barang dagangannya untung sisa sedikit saja, itu bisa diamankan dengan dibungkus plastik. Rasa jengkelnya sama hujan yang membuatnya pulang lebih telat sedikit terhibur kala ia merogoh tas kecil berisi uang hasil penjualannya hari ini. Cukup membuat Karto sampai bersiul-siul kecil. 

Jalan yang dilalui Karto cukup sulit, selain karena desa Jati waringin adalah desa pelosok, juga karena derasnya guyuran air hujan, membuat jalan itu sedikit becek dan licin, Karto harus hati-hati.

Gerimis masih saja turun rintik-rintik. Angin berhembus membelai apa saja yang dilaluinya. Suasana cukup sepi dan mencekam, ditambah jalan yang dilaluinya penuh dengan pohon-pohon besar, yang jika terhembus angin akan bergoyang-goyang macam setan saja. Belum lama Karto menikmati suasana mencekam itu mendadak motor butut keluaran tahun tujuh puluhan itu mogok. Mungkin businya kemasukan air. Apes!

Karto celingukan sendiri, bingung mau bagaimana. Rumah masih jauh, ia juga tak mengerti masalah mesin. Akhirnya ia memilih menuntun saja motornya, berharap sampai desa sebelah ada orang yang membantunya.

Tiba-tiba saja bulu kuduk Karto meremang luar biasa, entah kenapa ia jadi penakut. Tak seperti biasanya. Ia jadi ingat obrolan ibu-ibu tadi sore tentang Juminten yang tengah gentayangan jadi setan behel. Dan celaka! Kini ia sampai di pinggiran makam. Karto mengumpat-umpat dalam hati, sial dangkalan! Setan kurap, kudis, panu, gatal-gatal!

Entah kenapa semua jadi seperti dalam film-film horor. Karto tetap berusaha menerjang gerimis sambil menuntun motornya. Nyalinya dimantab-mantapkan, meski pikirannya sudah parno akut. Mendadak omongan ibu-ibu tadi sore kembali terngiang di pikirannya. Bagaimana kalau setan behel itu nongol? Terus menunjukan wajahnya yang hancur tak karuan sambil menangis atau meminta tolong? Hiii ... Karto jadi bergidik sendiri.

"Mas ... Mas ...." 

Tiba-tiba sebuah suara wanita terdengar lembut, namun cukup jelas. Jantung Karto hampir loncat dari tempatnya. Karto menoleh ke asal suara, seorang wanita cantik berambut panjang menggunakan payung.

"Mas ...bisa minta tolong, Mas?" wanita itu bicara lagi. Kini lebih jelas.

"Sa-saya ta-tahu. Pasti Mbak mi-minta dicopotin behelnya, kan? Iya kan iya kan? Ma-maaf, Mbak ... Sa-saya sedang sibuk! Set-setan! Setan behel! SETAN!" Tanpa komando, tanpa aba-aba, seketika Karto berteriak sekuat jiwa dan raga yang dipunya, sambil berlari lintang pukang dengan kecepatan cahaya.

"Setan? Enak saja! Cantik begini dibilang setan! Lha Wong saya mau tanya desa Jatiwaringin itu masih jauh apa enggak, saya mau kerumah teman. Eh, kok malah dikira setan! Kamu yang setan! Dasar lelaki! Kalau nggak nyakitin, ya pasti ninggalin, huh!" Gerendeng wanita cantik itu sambil berlalu.

Sementara itu Karto sudah tidak ketahuan lagi kemana rimbanya.

TAMAT.