Pulung Gantung

Illustration by Canva

Pagi itu terjadi kegemparan di salah satu rumah penduduk desa Wiring Jati, di rumah Kang Wage. Warga pun berduyun-duyun datang ke rumahnya. Bukan karena ada hajatan atau syukuran, namun berita duka. Kang Wage meninggal gantung diri!

Pak Lek Sarji, tetangganya almarhum yang pertama mendapatinya, ia mendapati Kang Wage sudah tergantung di pohon angsana belakang rumahnya. Dengan kondisi sudah tidak bernyawa lagi. Ketika pagi itu, Pak Lek Sarji tengah mencari kroto, telur semut rangrang untuk pakan burung murai batu nya.

"Saya nggak nyangka, Mas, kalau Kang Wage sampai berbuat nekat seperti itu," ucap Mbah Madi yang rumahnya di belakang almarhum.

"Apalagi saya, Mbah, lha wong kemarin sore masih terlihat baik-baik saja kok, Mbah. Wajahnya juga sumringah tak seperti kelihatan orang yang lagi frustasi atau susah," jawab Siswo, salah satu pemuda di desa itu. 

"Lha iya, kemarin siang saya juga datang kesini buat beli tembakau. Malah Kang Wage kemarin cerita, kalau minggu depan akan nengokin anak dan cucunya disana. Eh, kok malah seperti ini. Entah setan mana yang merasuki pikiran Kang Wage hingga berbuat nekat begitu," timpal Kang Sarjo, teman dekat Kang Wage, tak mau kalah urun rembuk.

"Itu terjadi pasti karena pulung gantung!!!" Tiba-tiba saja terdengar suara besar berwibawa menyahut. Suara Pak Dhe Sutopo rupanya. Seorang peternak sapi di desa itu.

"Pulung gantung?" sahut Mbah Madi, Siswo, dan Kang Sarjo hampir bersamaan.

Setelah menghisap kembali cerutunya yang hampir habis, Pakdhe Sutopo melanjutkan bicaranya.

"Iya. Pulung gantung! Saya sama Kang Karman lihat tadi malam waktu melekan. Kira-kira jam sepuluh malam, ada pulung gantung dan jatuh tepat di rumah Kang Wage. Sekarang kejadian, to? Pasti gara-gara itu, pasti, saya yakin betul."

Mbah Madi dan Kang Sarjo mengangguk asal mengangguk. Mencoba percaya saja kepada Pak Dhe Sutopo. Tapi tidak dengan Siswo. Mahasiswa kimia ini nampaknya kurang setuju dengan pemikiran yang berbau mitos seperti itu. Walaupun Siswo asli orang sini. Tapi pemikirannya lebih logis dan rasional. Kritis dan skeptis. Mungkin karena lingkungan pergaulannya sekarang juga berbeda. Lingkungan kampus yang cenderung berbau modern. Lagipula, ia tak begitu menyukai hal-hal yang berbau mitos atau hal-hal yang berbau klenik dan tahayul seperti itu.

Menurut Siswo, fenomena pulung gantung yang sering terjadi di daerahnya selama ini hanyalah fenomena alam biasa. Walau secara turun-temurun mitos itu masih dipercaya warga di desanya hingga sekarang. Dia juga mempunyai asumsi lain, kalau toh pulung gantung itu bisa membuat orang bunuh diri. Pasti bisa dijelaskan secara empiris. Misal, pulung gantung yang menyerupai bintang jatuh berwarna merah itu mengandung suatu zat-zat tertentu. Yang bilamana jatuh di suatu rumah, zat-zat itu akan berefek dengan psikologis seseorang. Membuat orang itu semacam keracunan, yang membuat orang tersebut akan mengalami frustasi yang mendalam. Frustasi yang terlalu over sampai akhirnya memutuskan dirinya untuk bunuh diri. Namun, kenapa harus dengan gantung diri? Itulah yang masih menjadi pertanyaannya hingga sekarang.

Beda lagi dengan asumsi Pakdhe Sutopo. Menurutnya, pulung gantung adalah sejenis makhluk gaib, yang menimbulkan semacam pagebluk di suatu tempat yang menjadi sasarannya. Bisa isyarat alam atau kiriman seseorang, semacam teluh dukun santet! 

Kalau dilihat dari sisi psikologis. Ada yang berasumsi. Maraknya gantung diri di kotanya, khususnya di desa Wiring Jati, adalah karena masyarakat di daerah tersebut cenderung keterbelakangan dalam hal perekonomian dan pendidikan, juga masalah ilmu agama. Kesulitan ekonomi, kurangnya pendidikan dan agama itulah yang menjadi faktor penentu orang-orang frustasi dengan kehidupan. Tergerus oleh persaingan sosial dan pergerakan jaman. Dan akhirnya ia yang tak kuat menjalaninya, memilih jalan mengakhiri hidupnya. Kalau toh pulung gantung itu seperti wabah menular. Karena, bisa jadi efek negatif suatu pikiran seseorang itulah yang akan menularkan efek negatif juga kepada orang lain. Dan membuat orang lain akan melakukan hal yang sama. Menirunya.

Pernah di tahun yang lalu. Seorang wanita hampir menjadi korban pulung gantung. Saat itu, suaminya memergokinya ketika badan nya sudah tergantung di kusen belakang rumahnya dengan seutas tali selendang melingkar di lehernya. Untung bisa diselamatkan. Dan anehnya menurut pengakuan wanita itu, ia sendiri tak mengerti kenapa tiba-tiba dirinya ingin bunuh diri. Seperti ada suatu kekuatan yang menyuruhnya gantung diri. Sungguh aneh dan misterius.

Setahun ini saja, di kotanya sudah ada 7 orang yang gantung diri. Desas-desusnya juga karena terkena pulung gantung. Mitosnya, pulung gantung jika sudah mendapatkan sasarannya akan berpindah lagi dan berpindah lagi. Mungkin semacam penyakit menular. Pagebluk.

Aneh memang, orang-orang yang bunuh diri dengan cara gantung diri itu, sebelum kematian tidak ada tanda-tanda sama sekali. Misal frustasi atau semacam nya. Termasuk almarhum Kang Wage. Walaupun ia hidup sendirian, duda satu anak ini keseharian tak terlihat kesusahan. Ia pun adalah pribadi yang terbilang aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial di kampungnya. Ia sebagai petani tembakau, hidup dengan damai dan berhubungan dengan tetangga sekitar pun akur-akur saja.

Mitos pulung gantung yang marak di desa Wiring Jati khususnya, memang masih menjadi misteri hingga sekarang. Dan entah sampai kapan. Baik dilihat dari sisi agama, budaya, psikologi, klenik dan yang lainya, masing-masing mempunyai asumsi sendiri-sendiri. Dan tidak jarang, perbedaan pandangan itu menimbulkan sedikit adu tegang oleh pakar masing-masing.

"Kita harus melakukan ruwat desa! Supaya balak cepet minggat dari desa ini, " ujar Abah Sholeh, sesepuh yang dituakan di desa tersebut, usai memakamkan jenazah Kang Wage.Dan usulan Abah Sholeh itu diamini oleh seluruh warga desa Wiring Jati.

Ruwat desa atau ruwat bumi, rencananya akan digelar dalam dua malam. Malam pertama akan diadakan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk dan malam Kedua akan diadakan istighosahan. Mengundang ulama dari luar daerah untuk dzikir dan do'a bersama. Memohon perlindungan kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Agar desa itu terhindar dari segala malapetaka dan diberikan kehidupan yang penuh berkah: AYEM TENTREM KERTO RAHARJO, GEMAH RIPAH LOH JINAWI. 

Kematian adalah hak tunggal Sang Penguasa jagad raya. Sang Hyang Murbeng Dumadi. Gusti Allah. Kita hanyalah makhluk-Nya, tak sedikitpun kita mempunyai wewenang untuk menentukannya. Karena jika itu itu terjadi, berarti kita sebagai makhluk telah mencuri hak-Nya. [ ]

TAMAT.

*Note: Mitos pulung ganting terjadi di Gunung Kidul, Wonogiri, dan sekitarnya.