A Head

M.kaskus.co.id

Nining duduk bersila di hadapan Wek Arai - seorang dukun yang terkenal memiliki ilmu tingkat tinggi. Hati Nining sudah mantap, tekadnya bulat karena ini satu-satunya cara untuk bertahan. Pilihan yang beresiko tinggi tapi ia sudah siap lahir-batin.

 

Setelah berpikir panjang tentang konsekuensi yang bakal terjadi di kemudian hari, akhirnya Nining memberanikan diri menemui dukun santet yang terkenal mumpuni dan sakti. Dukun yang direkomendasikan orang misterius pula, sebab Nining hanya mendapat lewat secarik kertas bertuliskan kalimat perintah pendek, terselip di daun pintu rumahnya.

 

'Datanglah ke Desa Dukuh Atas. Rumah di bukit, Wek sudah menunggu!'

 

Tanpa disertai nama pengirim, bahkan tidak ada inisial apa pun. Di sinilah Nining sekarang, tempat sesuai instruksi yang tertera pada catatan kecil. Ia tak menyangka kalau kediaman dukun bernama Arai Rawi - biasanya dipanggil Wek Arai bisa sementereng itu, tidak seperti gambaran pada umumnya layaknya di film-film horor.  Pemiliknya seorang wanita tua namun tubuhnya masih segar seolah tak termakan usia. Benar-benar sakti.

 

Cara Wek Arai mentransfer ilmu hitam juga terbilang mengerikan. Sekilas desas-desus yang Nining dengar ketika dalam perjalanannya mencari  kediaman sang dukun. Letaknya memang terpencil dari perkampungan. Butuh upaya keras untuk mendaki sebuah bukit kecil, agar dapat tiba di alamat. Rumahnya berada di atas bukit, tertutup oleh banyak pohon-pohon tua berukuran besar. Bagi mereka yang tidak memiliki kemauan kuat, pasti tatkan sanggup menempuh perjalanan sulit, serta menjalani ritual yang ditentukan.

 

Janda kaya-raya pemilik ribuan hektar perkebunan kelapa sawit yang masih relatif muda itu sudah tidak bisa mundur. Ia baru tujuh bulan ditinggal mati suami tercinta tanpa memiliki seorang anak. Sejak itu, banyak teror, pelecehan, penipuan hingga upaya perampokan oleh orang-orang yang menganggap dirinya lemah. Padahal, Nining bukanlah wanita yang pelit apalagi serakah. Ia sering memberi pada yang membutuhkan batuan ekonomi. Namun, kebaikannya justru memicu masalah. Banyak yang hendak memperistri dirinya hanya karena harta bukan karena cinta.

 

Bagi duda atau yang berstatus single terang-terangan meminta. Tak jarang yang sudah beristri ingin menikahi Nining sebagai istri kedua, celakanya lagi ada pula yang hanya ingin menikah siri. Tentu saja ia menolak lantaran masih mencintai mendiang suaminya. Yang tak habis pikir, bahkan laki-laki bodoh - tidak pernah sekolah seperti Yoyok, salah satu pegawai perkebunan sawit miliknya, berani melakukan tindak pelecehan kepada Nining. 

 

Hal itu terjadi ketika seperti biasa, Yoyok diberi tugas membonceng Nining patroli area perkebunan yang sudah menjadi rutinitas harian. Saat berada di tempat sepi, pemuda itu sengaja menghentikan motor dan berpura-pura kebelet buang air kecil. Karena menunggu lama, Nining yang tidak pandai berkendara pun mencari Yoyok di balik semak-semak tak jauh dari jalan tempat motor diparkir.

 

"Sudah belum, Yok? Kok lama sih?" Nining memanggil dari kejauhan.

 

Karena tidak ada jawaban, ia pun mencari ke tempat terakhir Yoyok menghilang.

 

"Yok, Yoyok!" 

 

Tak ada sahutan. Nining terus melangkah, tiba-tiba tubuhnya dipeluk kuat-kuat dari belakang.

 

"Hah, siapa Kau?" bentak Nining kaget.

 

"Ayo, Kak Ning! Sekali ini saja!"

 

Pemuda itu coba melakukan perbuatan tidak senonoh. 

 

"Apa-apaan, Kamu!" Nining takut bercampur marah. 

 

Merasa terancam, janda muda itu menginjak kaki Yoyok sekuat tenaga hingga bekapan terlepas. Bergegas lari menyelamatkan diri. Bagaimanapun juga ia hanya wanita, tak mungkin mampu melawan kekuatan laki-laki seperti Yoyok yang notabene seorang buruh kasar di perkebunan miliknya. Mengingat kejadian itu, tatapan Nining nanar menyimpan dendam amarah. 

 

"Kau sudah siap?" 

 

Suara parau Wek Arai menghentikan lamunan Nining dan dijawab dengan penuh keyakinan.

 

"Sudah!"

 

Ada senyum penuh misteri tersungging dari bibir dukun sakti itu. Tubuh Wek Arai kurus dan ringkih, tinggi badannya mungkin sekitar 150 cm. Usianya sulit diperkirakan, tetapi gosip yang beredar menyatakan wanita itu sudah hampir berumur satu abad. Memakai pakaian berbahan satin dilapisi jenis sifon di bagian luarnya - serba putih. Sementara tubuh Nining hanya dibalut dengan kain sarung lecek yang sudah pudar warnanya. Bahkan baunya sangat menusuk! Entah sudah berapa pemakai sebelum Nining. Tapi sepertinya itu atribut pusaka Wek Arai yang wajib dikenakan dalam ritual.

 

Nining dan Wek Arai duduk bersila di lantai sebuah kamar khusus. Tidak ada satupun perabotan di sana, lantainya saja masih berupa tanah liat padat tanpa lapisan semen atau papan. Memang kamar khusus itu dirancang sedemikian rupa. Hanya sebatang lilin merah berukuran sedang sebagai sumber cahaya terletak di tengah-tengah mereka. 

 

Kedua wanita duduk di dalam sebuah lingkaran - garis yang digambar dengan memakai darah, entah darah apa, Nining tidak mau tahu. Cairan anyir itu masih tersisah separuh dalam mangkuk tembikar, yang terletak bersisian dekat lilin menyala. Kuntum-kuntum Melati dan Kamboja berserak di sekitar. Bau sejenis minyak wangi yang menyengat merangsang penciuman, tetapi sangat menenangkan.

 

"Pejamkan matamu! Ikutilah setiap kata-kata yang kau dengar dan saat aku ucapkan dengan jelas. Kau mengerti?"

 

"Baik, Wek!"

 

"Ingat, apa pun yang terjadi jangan coba-coba membuka matamu sebelum kusuruh! Atau kau akan kehilangan nyawa!" pesannya lagi.

 

Nining mengangguk mantap. Sebelum memejamkan mata, ia menarik nafas dalam-dalam dan diembuskan secara perlahan. Detik selanjutnya, suasana sekitar menjadi hening dan teramat sunyi. 

 

Menit demi menit berlalu tanpa ada pergerakan apa-apa, hanya gumaman Wek Arai yang terdengar sedang merapal mantra. Makin lama gumaman semakin cepat, bertambah keras menggema di kamar berdinding semen. Seketika Nining merasa ada embusan angin kencang berputar-putar di sekitar. Lalu, indera pendengarannya menangkap kalimat yang diucapkan Wek Arai. Sesuai instruksi, ia mengulang kata perkata mengikuti ucapan Wek Arai.

 

Angin tuah kumbang dari tanah datuk nenek

Angin tuah kumbang dari tanah datuk nenek

Angin tuah kumbang dari tanah datuk nenek

 

Bantu anak-cucu pijak pucuk api

Bantu anak-cucu melangkah angin

Bantu anak-cucu melepas ragawi

Bantu anak-cucu mencari sari

Bantu anak-cucu melebur air

Bantu anak-cucu tak jejak bumi

 

Angin tuah kumbang dari tanah datuk nenek, pilas buluh tujuh jadi satu

Kabulkan ingin anak-cucu, menjadi kepala teluh berilmu penuh

 

Kalimat mantra diulang-ulang tanpa henti. Semakin diucapkan, pusaran angin semakin kencang berputar. Hawa sekitar yang mulanya biasa-biasa saja berubah hangat dan meningkat ke tahap panas. Nining merasakan darah dalam tubuhnya menggelegak. Titik-titik keringat muncul di permukaan kulitnya yang putih mulus. Kian lama kian panas ditambah gerakan angin beliung mengganas. 

 

Sementara perubahan Wek Arai sendiri tak kalah mencengangkan, andai ada manusia yang menyaksikan langsung dengan mata telanjang. Bagaimana kepala dukun sakti itu sedikit demi sedikit berputar - bergerak sesuai arah jarum jam, rambut putih keperakan memanjang dibiarkan terurai meriap-riap dipermainkan angin. Perlahan-lahan kepala dukun sakti bergeser menghadap ke belakang, sementara tubuhnya tetap di posisi semula. Sungguh pemandangan yang sangat mengerikan!

 

Seiring dengan perputaran kepala dukun, hal lain juga terjadi kepada Nining. Bacaan kalimat mantra yang diulang-ulang  bergema mengiringi detik-detik perubahan pada tubuhnya, terutama di bagian leher. Urat nadi penyangga kepala muncul di permukaan kulit. Tidak sampai di sana, pembuluh darah itu seperti retakan yang dimulai dari bagian depan trachea, terus menjalar dan memutar hingga ke bagian tengkuk. Tatkala membentuk sebuah lingkaran di batang leher, darah merembes perlahan dari nadi yang seolah-olah dibeset senjata tajam tak kasat mata. 

 

Ajaib! Entah apa yang dirasakan oleh Nining, menit selanjut pusaran angin bagai suara dengung jutaan lebah yang mengerumun. Pelan tapi pasti, kepala janda kaya itu sedikit demi sedikit terangkat ke udara diikuti isi organ dalam. Paras Nining pucat pasi, rambut panjang hitam tergerai menambah keangkeran wujudnya yang sekarang. Dua taring kecil dan runcing tersembul dari bibir membiru.

 

"Bukalah matamu!" perintah Wek Arai.

 

Seketika dua cahaya merah memancar dari kelopak mata Nining yang kini menjelma makhluk berjuluk Kuyang.

 

ZQS