Pengkhianatan di Lereng Gunung Kelud

http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/186-legenda-gunung-kelud/90

Akan kuceritakan sebuah pengorbanan yang pernah kualami. Bukan perkara kehamilan yang setiap wanita mungkin akan merasakannya. Terlebih mungkin mereka akan merasakan kebahagiaan karena  akan lahir buah cinta dengan pasangan. Ini bukan soal percintaan atau pun perjodohan. Aku dan Mas Aji saling mencintai, tetapi tak bisa kupertahankan sebuah hubungan meski hanya ada setitik pengkhianatan.

Lihatlah perutku yang semakin membesar. Tendangan dari dalam mulai kurasakan, nafsu makan berkurang, kesulitan tidur turut menjadi beban. Lihatlah aku yang berjuang seorang diri tanpa Mas Aji di sisi. Kubiarkan dia pergi, membawa separuh hatinya untuk perempuan yang datang saat upacara tingkeban digelar.

Siraman sebagai ritual pertama baru saja selesai. Menggunakan tapih berbalut melati, tubuhku diguyur air oleh tujuh sesepuh. Hawa dingin seketika menyesap dari ubun-ubun lalu menjalar ke seluruh tubuh. Ritual kedua – memecahkan telur yang dibungkus di dalam kain, juga telah usai. Mas Aji mempersiapkan diri untuk membelah cengkir – kelapa muda –  sebagai ritual ketiga. Cengkir dengan ukiran tokoh wayang Kamajaya dan Ratih sebagai simbol anak laki-laki atau perempuan telah disiapkan. Belum sempat Mas Aji membelah cengkir itu, seorang perempuan datang berlinangkan air mata.

Sekarwati, perempuan berbadan dua yang mengaku sebagai istri Mas Aji. Kedatangannya berhasil menyihirku seketika. Kebahagiaan yang kurasakan telah menjelma menjadi kebencian. Mas Aji tak mampu berkata, tubuhnya bergetar hingga sebilah pedang yang ditangannya jatuh ke tanah. Ia tak bisa memungkiri, jika penghianatan yang dilakukan kini diketahui oleh semua orang.

“Pergi, Mas, pergi! Bawa pergi juga perempuamu yang tak tahu diri ini.”

Sekarwati masih tersedu, sedangkan aku berusaha menguatkan diri. Perlahan Mas Aji berdiri lalu meraih tangan Sekarwati dan menggandengnya keluar rumah meninggalkan kami.

Perjuangan baru saja dimulai, masih ada kisah yang akan kuceritakan. Mungkin kamu belum mengerti apa yang sedang kututurkan. Cukup dengarkan, kelak kamu akan tahu sebesar apa pengorbanan saat menghadirkanmu di sisiku.

Malam itu kau seakan tahu. Kaki mungilmu tak berhenti menendang perutku. Kau mengajakku begadang semalaman. Dipan tempat  kuberbaring tak berhenti berderit seakan turut memberi sinyal. Hingga suara gemuruh itu membangkitkan semua orang. Debu menerobos ke sela-sela atap rumah. Hantaman kerikil pun bernada nyaring memekakkan telinga. Semua orang berlarian mencari tempat berlindung. Dengan sempoyongan serta memegang erat perut yang kian membesar, aku keluar rumah dibantu nenek dan kakekmu.

Malam yang sunyi dengan cepatnya berubah menjadi keriuhan. Tangisan histeris, ucapan takbir, suara minta pertolongan, bersatu dalam suasana kepanikan. Saat itu harta benda tak lagi dipikirkan, hewan peliharaan tak lagi dihiraukan. Sementara dalam benakku hanya satu. “Jangan lahir sekarang, Nak! Jangan, ya! Jangan!”

Kami menyusuri jalan setapak menuju jalan yang beraspal. Nenekmu membentangkan selendang ke atas kami untuk melindungi kepala dari kerikil dan debu yang berjatuhan. Kueratkan tangan di pinggang kakek. Beberapa kali ia menawarkan diri untuk menggendongku, tetapi aku enggan menerima. Berat badanku yang naik dua puluh kilo karena mengandungmu pasti akan memberatkannya.

“Lihatlah kawah itu, Arga!”

Arga bergeming. Tak merespon apa yang kuucapkan.

“Arga!”

Dalem, Buk.”

Rupanya ia begitu menikmati ceritaku hingga terdiam dan tak mendengarkan saat kupanggil namanya.

Kembali kutunjuk danau dengan genangan air berwarna kecokelatan. Anak laki-laki yang duduk di atas bebatuan di Gardu Pandang Gajahmungkur ini terlihat kebingungan. Sementara aku melanjutkan bertutur kisah sebelum ia dilahirkan.

Sebelum terjadi bencana gunung meletus  tiga belas tahun silam,  di bawah  puncak-puncak tebing di Gunung Kelud yaitu puncak  Gajahmungkur di sisi barat, Puncak Sumbing di sisi selatan serta puncak yang tertinggi yaitu Puncak Kelud terdapat sebuah kawah yang sangat eksotis dengan genangan air yang berwarna kehijauan. Siapa pun yang menyaksikan akan merasakan kesejukan. Gunung merapi yang berlokasi di tiga kabupaten yaitu Kediri, Blitar, dan Malang itu memuntahkan material dari pusat bumi. Saat itu gunung mengalami erupsi efusif  yang mengeluarkan lelehan lava yang mengikuti lereng gunung dan terus mengalir ke tanah. Erupsi ini memiliki tekanan yang relatif kecil sehingga tidak terjadi ledakan. Akibat dari erupsi itu muncullah kubah lava yang menyumbat permukaan kawah, menyisakan genangan kawah yang kecil.

Tepat sepuluh hari sebelum kau dilahirkan candiolo itu kembali datang. Kali ini terdengar ledakan-ledakan disertai material debu dan bebatuan. Erupsi Eksplosif cenderung memiliki tekanan yang besar dan magma di bawah gunung memiliki kandungan gas yang sangat tinggi. Hampir seluruh  wilayah di Jawa Timur merasakan akibat letusan ini berupa debu dan asap awan yang menebal. Kabarnya fenomena ini juga dirasakan di sebagian wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Jarak tembus pandang di udara sangat buruk, beberapa penerbangan pesawat harus dibatalkan. Jalan raya dipenuhi pasir lembut yang cukup tebal. Atap-atap rumah turut menahan debu yang berguguran. Kubah lava yang terbentuk tujuh tahun sebelumnya telah sirna, ikut hancur akibat ledakan yang begitu dahsyat. Kawah di bawahnya kembali terbuka. Namun, air yang menggenang tak seeksotis dulu. Kini berubah warna menjadi cokelat keemasan.

“Apa gunung itu akan meletus lagi, Buk?”

“Tidak ada yang tahu, Nak. Semoga saja tidak.”

“Kenapa, sih gunung ini bisa meletus?”

Arga tampak antusias. Sering kali saat kita naik ke gunung Arga menanyakan hal ini, tetapi belum sempat kujelaskan padanya. Mungkin ini saatnya ia tahu akan kisah sebelum ia dilahirkan dan cerita mistis yang diyakini di kampung kelahirannya. Ia juga harus tahu jika mandi di air hangat di bawah sana merupakan tempat kesukaanku sangat mengandungnya.

Tak jauh dari Gardu Pandang Gajahmungkur terdapat anak tangga ke bawah mengarah ke air panas yang mengandung belerang. Tidak sedikit, kurang lebih delapan ratus anak tangga yang harus ditempuh untuk bisa menikmati kehangatan aliran sungai yang mengepulkan asap. Di sebelah kiri terdapat aliran sungai yang sejuk. Pertemuan antara air belerang dengan air Sungai Badak membuat suhu air menjadi cukup nyaman.

“Kamu ingin tahu kenapa gunung ini bisa meletus?” tanyaku pada Arga yang mulai bergeser ke tempat yang teduh, tidak juah dari tempat sebelumnya.

“Iya, Buk.”

Konon, gunung ini hanyalah sebuah bukit berupa gundukan tanah dan bebatuan. Kisah ini berawal saat Dewi Kilisuci menghianati Lembu Suro. Prabu Jenggolo Manik – ayahanda Dewi Kilisuci – dari Kerajaan Kahuripan ingin putrinya segera menikah. Putri Dyah Ayu Pusparani – nama asli Dewi Kilisuci – memiliki wajah yang cantik jelita. Tidak sedikit pemuda yang ingin mempersuntingnya. Karena tak ingin mendapatkan calon suami yang sembarangan untuk putrinya, Prabu Jenggolo Manik mengadakan sayembara. Barang siapa yang mampu mengangkat busur sakti Kyai Garudayekso serta mengangkat gong Kyai Sekardelima, maka dialah yang berhak memperistri putinya.

Dari sekian pemuda yang mengikuti sayembara, tidak ada satu pun yang mampu menyelesaikan tantangan tersebut. Namun, ketika sanyembara itu nyaris ditutup, datang seorang pemuda yang tidak seperti orang biasa. Dialah Lembu Suro, manusia yang berkepala lembu. Keberuntungan berpihak pada pemuda itu. Tantangan sayembara dapat ditakhlukannya.

Mengetahui calon suaminya adalah manusia berkepala lembu, Putri Dyah Ayu Pusparani mencari celah agar Lembu Suro tidak bisa menikahinya. Diperintahkanlah Lembu Suro untuk menggali sumur di atas bukit dalam waktu semalam. Hal itu sebagai pembuktian terakhir atas kesaktiannya.

Lembu Suro pun berhasil membuatkan sumur untuk Dewi Kilisuci dalam waktu semalam. Rupanya tidak berhenti di situ, Dewi Kilisuci menyuruh Lembu Suro untuk masuk ke sumur itu untuk memastikan jika di dalam sana terdapat sumber air. Lembu Suro tetap menuruti perintah sang calon istri.

Saat Lembu Suro masuk ke sumur, Dewi Kilisuci memerintahkan prajurit untuk menimbun Lembu Suro di dalam sumur tersebut. Lembu Suro berteriak minta pertolongan, tetapi Dewi Kilisuci tidak menghiraukan hingga sumur tertutup rata dengan tanah.

“Yoh, Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping-kaping, yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, lan Tulunganggung dadi kedung.”

Sumpah itu pun terucap saat Lembu Suro nyaris terkubur di dalam sumur. Sampai saat ini masyarakat sekitar menggelar acara arung sesaji sebagai simbol condro sengkolo – penolak bencana–  yang dilakukan di bulan Suro.

Arga adalah sebuah simbol yang kusematkan pada namamu. Kelak kau akan selalu mengenang dan mengingat kisah yang pernah kututurkan kepadamu. Tentang arti sebuah perjuangan dan pengorbanan serta penghianatan. Dikhianati itu pedih, tetapi lebih pedih jika kita bertahan dalam sebuah pengkhianatan.

Sumpah Lembu Suro tidak membuatku getar. Bencana alam yang terjadi di Gunung Kelud sudah menjadi suratan takdir. Aku mengkhawatirkan jika sakit hati Lembu Suro atas pengkhianatan Dewi Kilisuci kepadanya akan turun temurun kepada masyarakat di lereng gunung. Bersumpahlah, Nak. Kamu tidak akan  mengikuti jejak bapakmu yang akan menyakiti pasanganmu kelak.