Pesan

123rf.com

Radit terpaku sendiri, hari ini tepat setahun kepergian Ayah. Tapi sepi menggelayuti hati, terkenang saat-saat indah bersama orang tua tunggal yang bersusah payah membesarkan Radit dan Iftha. Beliau berpulang karena sakit asma yang dideritanya, sementara ibu pergi entah kemana. Terakhir pamit menjadi TKW ke Hongkong, tapi bertahun-tahun tidak pernah kembali.

"Ayah ...." kenang Radit dalam kerinduan.

"Mengapa melamun, Kak?" tegur Iftha.

Adik perempuan semata wayang juga satu-satunya kerabat yang ia punya.

"Tidak ada apa-apa, Dik! Kakak hanya teringat ayah."

Radit tak ingin menyembunyikan perasaannya lagi. Bagaimanapun juga Iftha cukup dewasa untuk diajak berbagi. Radit kini berumur 21 tahun dan Iftha berusia 17 tahun. Meski hanya bekerja sebagai office boy sebuah perusahaan swasta, Radit mampu menyekolahkan Iftha yang sebentar lagi akan lulus SMA. Mereka juga memiliki penghasilan dari warung kecil peninggalan ayah.

"Sudahlah, Kak. khlaskan! Ayah pasti sudah bahagia di sana."

"Iya, Dek! Kau benar. Sudah larut malam, sebaiknya kita tidur!" 

Radit melangkah ke dalam rumah, diikuti Iftha dari belakang. Keduanya beristirahat di kamar masing-masing. 

"Radit! Bangun, Nak!" ucap sebuah suara.

Perlahan Radit terjaga, "Ayah!" panggilnya tak percaya.

Sosok yang dirindukan ada di depan mata, pemuda itu buru-buru menubruk tubuh ayah dan memeluknya erat-erat. "Ayah kapan kembali?"

"Ayah tidak ke mana-mana, Dit! Ayah selalu ada di sini. Mari kita jalan-jalan!" 

"Baiklah!" 

Keduanya menyusuri jalan di sekitar kompleks rumah. Melintasi jembatan, di bawahnya mengalir air nan bening. Sampai ke sebuah bukit hijau, ayah dan Radit menyaksikan sebuah pemandangan yang luar biasa indahnya.

"Wah, ini di mana, Ayah? Radit tak pernah melihat pemandangan seindah ini." 

"Kelak, Kau akan tahu. Ayah juga baru bertemu tempat ini belum lama." Senyum ayah mengembang, seiring tatapan bercahaya. "Pulanglah, Nak! Ayah akan tetap tinggal di sini, sampai kau dan Iftha menemani ayah nanti. Cukup jalani hidup dengan ikhlas, jujur apa adanya. Tidak perlu memaksakan kehendak di luar kemampuanmu, teruslah berdoa dan menjadi orang baik. Ayah baik-baik saja dan tak lagi butuh apa-apa, karena di sini ayah punya segalanya."

Lalu ayah balik badan dan berjalan menjauh.

"Ayah! Ayah mau ke mana?" panggil Radit.

Sosok itu sempat menoleh dan tersenyum sesaat, lalu menghilang ditelan cahaya berkilau terang. Radit terbangun dari tidur, rupanya kerinduan telah mempertemukan ia dengan ayah.

"Terima kasih, Ayah ...!" lirih Radit sambil tersenyum haru.


ZQS