Mesin Jahit Kakek

edit sendiri

Lagi-lagi suara mesin itu terdengar...

Di tengah malam pukul 22:30 WIB, aku masih mengerjakan guntingan kain yang di suruh Ibuku. Di depan laptop kesayanganku yang masih menyala dengan musik keras menemaniku malam ini.  Yah, sejak sore aku selalu mengerjakan kain-kain baru yang di berikan Ibuku ini untuk di jahit keesokan harinya. Tentu saja, aku menyukai pekerjaan ini karena diriku sangat menyukai jahit menjahit baju dan membuat desain-desain baju seperti Ibuku dan kakak perempuanku yang sudah sukses menjadi desainer. 

Seminggu lalu..

Aku mengerjakan baju-baju dengan memakai mesin jahit milik kakek ku yang aku temukan di gudang. Ibu mengizinkan memakainya walau Ibu ku pun sedikit ragu memberikan izin padaku, karena aku terus mendesak Ibu jadilah aku menikmati mesin jahit itu dengan sangat bahagianya. Saking bahagianya, aku sampai lupa waktu dan sering tidur malam. Empat malam terakhir ini, aku yang tidur seperti kelelawar mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan seseorang yang melakukan aktifitas menjahit di mesin. Takut kah? Tentu saja, diriku takut. Tapi, selalu aku tepis hal itu dengan mendengarkan musik di laptopku yang menyala di tiap malam. 

Kejadian ini bermula setelah aku tidak sengaja merusak mesin jahit milik kakek ku yang sangat rapuh dan susah untuk di operasikan seperti mesin-mesin baru yang lainnya. Aku yang memaksa Ibu untuk mengizinkan memakai mesin itu, jadi aku lah yang bertanggung jawab dengan merawat mesin itu. Jadi, dari sisa tabungan yang ku kumpulkan dari sanalah aku memperbaiki mesin itu sampai seperti baru lagi. 

Tentang Kakek ku, namanya Kakek Aris. Beliau kakek terbaik dalam hidupku, beliau pun sangat menyukai menjahit, mendesain baju-baju baru dan beliau meninggal karena sakit. Beliau selalu menyayangi mesin jahitnya yang sangat tua itu, kakek pun tidak pernah goyah dengan mesin-mesin terbaru dan lebih canggih. Entah mengapa, mesin itu seperti anaknya sendiri. Lalu sekarang, mesin itu menjadi milikku.

***

Pagi ini, diriku dan Kak Nadia bersiap untuk pergi ke mall mencari bahan kain untuk menjahit baju pernikahan dari orang kaya di desa ku. Dengan semangat mengebu, aku menunggu kakak di depan mesin jahit ku yang bersinar-sinar. 

"Tiara, kamu sudah membawa uangnya?" ucap Kak Nadia mengusap lipstiknya.

"Sudah kok, Kak."

"Yang di amplop coklat di atas meja kakak loh?"

"Iya Kak, sudah nih di dalam tas."

"Ibu, kami berangkat dulu ya."

"Hati-hati ya, Nad. Jaga Tia baik-baik, sangat ceroboh dia itu."

"Siap Bu."

Di perjalanan aku terus membuat desain terbaik di tiap detail gaun yang di gambar oleh kakakku. Kakak yang fokus menyetir hanya berpesan sesekali untuk diriku yang jangan sampai merusak desain terbaiknya. 

"Tadi malam, saat Kakak pulang, ada yang memakai mesin kamu kah?"

"Kakak lihat dari mana?"

"Tadi malam itu, kakak sempat pulang untuk mengambil barang sebentar."

"Tiara tidak makai tuh, mungkin Ibu."

"Ibu kan malam itu lagi arisan."

"Aku tidak tau sih, Kak. Soalnya Tiara mendengarkan musik di dalam, keras sekali."

Kakak melihat seseorang di depan mesin jahit Kakek, berarti itu memang orang bukan hantu yang memainkan mesin jahit. Setiba di mall, Kak Nadia mulai berjalan dengan cepat dan memilih bahan terbaik dalam toko. 

Setelah membeli kain yang dibutuhkan, kami pulang dan langsung mengukur kain yang di potong. Sampai sore menjelang, Kak Nadia yang buru-buru langsung berangkat ke butiknya untuk pelayanan.Aku bersama Ibu memulai membuat gaun yang menawan. Gaun ini begitu indah di lihat dari desainnya. Sebab itu, customer gaun ini ingin melihat gaunnya yang indah. Saat itulah, semuanya bekerja untuk fokus ke satu gaun. Customer itu akan membayar mahal jika gaunnya melebihi ekspetasinya. 

Aku menjahit di mesin jahit kakekku, entah mengapa kepalaku sangat berat dan akhirnya tergeletak di meja. Ku dengar sayu-sayu suara Ibu yang meneriaki ku. 

Saat ku buka mata, Ibu sudah berada di sampingku dengan Kakak yang rebahan di dekat ku. Ku lihat ke jendela yang sudah menjelang pagi. 

"Kak, gaunnya bagaimana? Hari ini orangnya kesini kan?"

"Kamu gila ya?" ucap Kak Nadia menatapku. "Kamu diam-diam mengerjakan gaun itu sendirian di malam hari kan?"

"Hahh?Aku saja baru melihat kalian disini."

"Gaun itu sudah selesai, Tia."

"Siapa yang menyelesaikannya?"

"Ya kamu lah, orang gaunnya terletak di mesin jahit kamu."

Aku terdiam, memikirkan kembali apa yang di katakan oleh kakakku ini. Aku kembali melihat Ibu dan Kak Nadia, mereka menatapku bingung. Aku beranjak bangun dan berlari menuju mesin jahitku, diikuti Kak Nadia dan Ibu. 
Aku melihat gaun putih itu sudah rapi dengan detail kasar yang ada di gambar. 

"Apakah kalian percaya ini yang mengerjakan aku?"
"Lalu siapa lagi?" ucap Kak Nadia.
"Anggap saja, ini Kakek yang mengerjakannya. Kalian ingat, Kakek pernah berkata.."
'Kakek tidak menyukai barang yang tergeletak di atas mesin jahit kakek. Kakek akan mengerjakannya sampai selesai.' 


Ibu dan Kak Nadia mengelus mesin jahit itu dan mengenang kembali Kakek yang sudah lama meninggal.
"Ya sudah, nanti setelah customers kita datang. Kita akan berkunjung ke makam kakek."

Customers akhirnya datang dan melihat dengan seksama gaunnya. Dia sangat senang dan bahagia melihat gaun pernikannya. Sangat puas, dia memberikan segepok uang untuk detailnya ke Kak Nadia. 
Customer itu pulang dengan wajah berseri-seri, kami bertiga yang bingung pun bergegas untuk berkunjung ke makam kakek. 
Ibu menaburkan bunga dan meletakkan air di nisan kakek. 
Kakek selalu datang saat di atas mesinnya ada kain yang belum terselesaikan.  

Sejak saat itu, aku tidak lagi meletakkan kain di atas mesin jahit kakek. Karena Kakek akan menganggap pekerjaannya belum terselesaikan.