Malaikat yang Datang di Hari Jumat

https://www.pelangiblog.com/2019/04/kisah-malaikat-izroil-mendapat-tugas.html

Segerombol orang mengenakan seragam serba putih menurunkan peti kayu dari kendaraan, beberapa saat setelah sirene disenyapkan. Seorang diantaranya sibuk menyemprotkan cairan disinfektan ke sekitar, termasuk kendaraan berplat merah yang berulang kali disemprot hingga cairan bening itu menetes ke tanah. Beberapa warga menyaksikan dari kejauhan prosesi penguburan, usai menunaikan salat jenazah yang dilakukan di depan mobil ambulan.

Khadijah tak berdaya, menyaksikan jenazah Lukman suaminya diperlakukan tidak seperti lazimnya. Ia meringkuk di bawah cungkupan joglo bersandarkan kaki gerobak yang menumpu keranda di pintu masuk pemakaman. Sungguh tak dikira, jika inilah detik-detik terakhir Lukman meninggalkannya, terkubur bersama semua angan-angan yang pernah dibicarakan.

Padahal beberapa jam yang lalu, tubuh Lukman tidak lagi panas, saat Khadijah membangunkan sebelum azan subuh berkumandang. Ia menggoyangkan bahu laki-laki yang sepuluh hari terakhir ini terbaring di ranjang. Khadijah memiringkan tubuh Lukman, meraba-raba ranjang bagian bawah. Basah, berbau pesing. Beberapa kali ia memanggil nama Lukman, tetapi tak ada sahutan. Sebelumnya, saat akan mengeluarkan hajat, Lukman selalu terbangun lantas Khadijah membantu dengan memberikan pispot untuk mewadahi air seninya.

Kedua telapak kaki Lukman pucat nan dingin, pun juga wajahnya. Khadijah semakin panik, terlebih tidak ada orang lain, hanya mereka berdua di rumah. Anak-anaknya tinggal di kota yang berbeda.

Dengan tangan yang gemetaran, Khadijah meraih ponsel di nakas samping ranjang. Beberapa saat kemudian ia tengah mengabarkan kondisi Lukman kepada anak-anaknya. Setelah berdiskusi singkat melalui telepon, Khadijah memutuskan akan membawa Lukman ke rumah sakit. Sebenarnya ada rasa cemas ketika akan membawa suaminya ke rumah sakit karena telah beredar rumor jika tenaga medis akan menyatakan positif pasien dengan virus yang tengah mewabah di negeri ini.

Tak lagi tersadar, tubuh Lukman lemas. Beberapa hari makan tidak lagi teratur, ditambah masalah perut yang disertai muntah berterusan. Sekadar susu, jika tidak nasi yang dimasak menyerupai bubur. Hanya itulah pengisi perutnya. Berobat ke klinik dokter sudah dilakukan, tetapi menurut dokter, Lukman hanya kecapekan. Butuh istirahat dan makan yang banyak, begitulah saran yang diberikan. Sejak sakit Lukman tidak masuk kantor dan memulihkan kondisinya di rumah.

Beberapa rumah sakit telah didatangi, tetapi semuanya tidak menerima pasien. Panik sudah jelas dirasakan Khadijah dan menantunya yang mengantar. Sempat terjadi perdebatan antara Khadijah dengan menantunya, apa tindakan yang seharusnya dilakukan. Mereka pun sepakat untuk mencoba datang ke rumah sakit tujuan terakhir.

Akhirnya Lukman diterima di rumah sakit tersebut, meskipun tanpa tabung oksigen untuk bantuan pernapasannya. Sejak virus itu menjangkiti banyak orang, tabung oksigen menjadi barang yang sangat langka. Bahkan untuk sekadar mengisi ulang pun juga butuh pengorbanan. Takut terjadi apa-apa jika dibawa pulang, Khadijah tetap kukuh dalam pendirian, agar Lukman dirawat di rumah sakit saja. Sementara menantunya tengah mengusahakan tabung oksigen dengan menghubungi teman-teman terdekat. Bersyukur seorang teman menawari tabung yang sudah tak terpakai. Ia pun segera mengambil tabung tersebut untuk pertolongan mertuanya.

Khadijah mendekati Lukman yang tengah terbaring di ranjang IGD sebuah rumah sakit islam. Mulutnya tak berhenti mengucap istigfar, seraya mengusap tangan suaminya. Tanpa bersuara, Lukman menggerakkan jemari lantas menggenggam erat tangan Khadijah. Berubahlah ucapan yang keluar dari mulut Khadijah menjadi ungkapan syukur. Berharap kondisi Lukman segera membaik dan kembali sehat.
Rumah sakit itu terdapat masjid di area dalamnya. Tepat pukul sebelas siang, berkumandang ayat-ayat alquran, bertanda tidak lama lagi waktunya salat Jumat. Khadijah baru sadar jika hari ini adalah Hari Jumat. Ia teringat sesuatu yang seketika membuat hatinya terguncang.

"Semoga nanti aku meninggal di hari Jumat, ya, Buk," ucap Lukman beberapa minggu yang lalu, ketika dirinya masih sehat.

Khadijah pun mengamini doa suaminya, tanpa berpikir macam-macam. Menurut ajaran yang diyakini, memang sebaik-baik orang meninggal adalah di hari Jumat, karena pada hari itu malaikat akan menunda siksa kubur manusia.

Air mata Khadijah meluruh, mengisak sejadi-jadinya. Lukman belum tersadarkan diri juga. Seorang perawat menyuruh Khadijah keluar dari ruangan demi kenyamanan pasien lainnya.

Satu jam berlalu, Khadijah terus melafalkan doa untuk kesembuhan suaminya. Laki-laki paruh baya yang mengenakan jas kebesaran berjalan ke arah Khadijah yang tengah duduk di depan resepsionis rumah sakit. Sontak Khadijah berdiri dan membenarkan posisi masker yang sedikit turun, memperlihatkan bagian hidungnya yang atas.

"Bapak Lukman sudah tiada, Bu. Yang sabar, ya!" Laki-laki itu mengelus bahu Khadijah lalu pergi meninggalkannya.

Khadijah bergeming, kakinya lemas dan mengembalikan posisinya semula. Rupanya malaikat benar-benar mendengar doa Lukman, diminta menjemputnya di hari Jumat.

Terjadilah sesuatu yang selama ini ditakutkan. Lukman dinyatakan positif terjangkit virus yang mengharuskan proses pemakaman jenazah dilakukan sesuai prosedur kesehatan yang sudah ditetapkan.

Khadijah memberontak. Ingin sekali ia memandikan jasad suaminya. Petugas medis mengizinkan, tetapi harus menggunakan Alat Pelindung Diri khusus untuk menangani pasien yang terpapar virus tersebut.

Setelah mengenakan peralatan lengkap, tubuh Khadijah justru lemas tak berdaya. Ia pun melepas kembali APD yang dikenakan dan menunggu di luar ruangan.

Duka sedalam lautan dirasakan Khadijah. Bukan hanya karena ditinggal pergi Lukman untuk selamanya. Melainkan juga karena setelah ini pasti ia akan dikucilkan orang. Benar, kabar bahwa Lukman positif terjangkit virus telah menyebar ke penjuru kampung. Tidak ada satu pun tetangga yang datang ke rumah untuk berbela sungkawa. Hanya beberapa orang yang peduli, mengucapkannya melalui telepon.

Dua hari berikutnya, petugas dari Dinas Kesehatan mengunjungi Khadijah guna melakukan pemeriksaan kesehatan menggunakan tes swab antigen dan PCR polymerase chain reaction. Tanpa menunjukkan hasilnya, Dinas Kesehatan dan petugas Kantor Desa mengeluarkan surat pernyataan bahwa Khadijah harus melakukan isolasi mandiri di rumah. Bahkan pamong desa mengirimkan sembako dan beberapa butir vitamin untuk mencukupi pangan selama masa karantina. Tidak hanya itu, sebuah tulisan pada banner telah dipasang di depan rumah yang menyatakan bahwa penghuninya sedang menjalankan masa isolasi.

Selayaknya hidup dalam penjara, Khadijah menjalani hari-harinya penuh duka. Tak ada kerabat yang datang, hanya terhubung suara yang setidaknya bisa menenangkan hatinya. Beberapa tetangga masih ada yang peduli. Biasanya memberikan makanan, meskipun hanya diletakkan di atas pagar, lantas Khadijah mengambilnya.

Khadijah tersenyum di tengah hatinya yang terluka. Mungkin Lukman telah mengikat janji dengan malaikat, jauh sebelum ia dilahirkan ke dunia. Malaikat itu pun telah datang menepati janjinya di hari yang mulia.