Tenanglah Maria, Ia Sudah Mati

Image by Shutterstock


Maria menangis di hadapanku. Pundaknya terguncang hebat. Matanya sembap. Sesekali ia menghidu ingusnya hingga menimbulkan bunyi 'sruft' yang menjijikkan. 

"Jangan dulu tumbuh dewasa sepertiku, Leona," Maria menatapku. Air matanya tak henti mengalir.

"Umurku baru sebelas tahun, Maria," aku menyela.

"Tetaplah sebelas tahun. Jangan pernah mendapat menstruasi," Maria membisikiku. Aku terperangah. Mengapa Maria berkata begitu? Apa yang telah terjadi padanya?

Bibi Femi muncul dari ruang dalam. Ia mendekati kami dan menepuk pundak Maria.

"Sudah waktunya kau menghadap Hyena, Maria."

Maria menyeka air matanya dengan punggung lengannya yang kurus.

"Ibu, ritual pembersihan itu menakutkanku," Maria menatap Bibi Femi dengan wajah memelas. Bibi Femi seolah tak mendengar. Perempuan bertubuh tambun itu mendorong Maria supaya berdiri. Aku sempat terheran melihat perlakuan Bibi Femi yang menurutku, sungguh, teramat sangat kasar.

Maria terlihat putus asa. Ia berdiri limbung.

"Sekali lagi Leona, jangan pernah tumbuh dewasa," ujarnya sebelum melangkah pergi meninggalkan rumah.

***

Hyena? Aku mengernyitkan alis. Sepertinya tak asing lagi kata itu di telingaku. Beberapa teman perempuanku yang sudah mendapatkan haid pernah mengatakannya.

"Malam-malam ini aku harus menghadap Hyena," begitu yang kerap kudengar dari mulut mereka. Lalu baru saja kudengar Bibi Femi menyebut kata itu lagi.

"Bibi Femi, aku ingin tahu siapa itu Hyena," ujarku tiba-tiba. Membuat wajah Bibi Femi menegang.

"Leona, kelak jika kau sudah mendapatkan haid pertama, kau akan tahu, siapa Hyena sebenarnya. Sekarang Bibi enggan menjelaskannya padamu."

Aku terdiam. Walau otakku sendiri sejak kepergian Maria, tak juga mau kunjung diam.

***

Kini umurku memasuki dua belas tahun. Ada perubahan drastis yang kurasakan. Dadaku yang semula rata mulai membusung. Pinggulku pun sedikit membesar. 

Maria kembali datang menemuiku. Kali ini ia tidak menangis. Tapi matanya terlihat sangat cekung dan sedih.

"Ternyata waktu tidak bisa mencegahmu untuk tumbuh dewasa, Leona," ia menatapku seraya memegangi bawah perutnya.

"Apakah ini akibat kepergianmu ke rumah Hyena itu?" tak berkedip aku menatapnya. Kondisinya sangat memprihatinkan. Tubuhnya semakin kurus dan pucat. 

"Kau sudah haid, Leona?" ia mengalihkan pembicaraan. Aku menggeleng.

"Kukira sebentar lagi kau akan mendapatkannya," ia bergumam.  

***

Dan ketika bercak merah pada pakaian dalamku terlihat oleh Bibi Femi, perempuan itu berseru girang.

"Kau telah menjadi perempuan dewasa, Leona. Hyena pasti senang mendengar ini!"

"Bibi, jadi sekarang aku boleh mengetahui siapa Hyena itu, bukan?" aku menagih janji. Bibi Femi tersenyum.

"Mari kita rayakan peristiwa ini, Nak. Bibi akan dengan senang hati menceritakannya padamu."

***

Hyena, kata Bibi Femi adalah seorang laki-laki yang telah dipilih untuk melakukan ritual pembersihan. Hyena akan tidur dengan gadis-gadis yang baru saja mendapat haid pertama selama tiga hari berturut-turut. Ritual ini dimaksudkan untuk mengusir roh-roh jahat dan menolak bala.

"Sekedar tidur, kan, Bi? Seperti yang sering ayah lakukan padaku saat ia masih hidup," aku menatap Bibi Femi. Perempuan itu tertawa.

"Hohoho, bukan seperti itu, Leona. Seorang Hyena akan mengajarimu bagaimana seharusnya melayani suami di atas tempat tidur. Pembekalan untukmu kelak jika sudah menikah."

Sungguh, aku terkejut mendengarnya. Ritual macam apa itu? Wajahku memerah. Aku jadi teringat Maria. Itukah sebabnya ia menangis saat mendapatkan haid pertama?

"Bi, aku tidak mau tidur dengan Hyena," tegasku. Tentu saja Bibi Femi sangat marah mendengarnya.

***

Percuma saja aku mengadakan perlawanan. Tubuh tambun Bibi Femi berhasil menggelandangku ke hadapan Hyena.

Ia seorang laki-laki berumur. Tubuhnya kekar. Matanya tajam.

"Yang ini lebih montok dari Maria, Juba," Bibi Femi tersenyum ke arah laki-laki kekar itu. "Juga agak liar."

Laki-laki itu menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Mulutnya sedikit terbuka. Aku mulai takut melihatnya.

"Ini bayaranmu, Juba," Bibi Femi melemparkan beberapa koin ke atas meja. Seketika laki-laki itu tertawa.

"Pergilah segera, Tambun," laki-laki itu mengusir Bibi Femi. "Aku ingin segera melaksanakan tugasku."

Dan, kepergian Bibi Femi adalah awal kemalangan bagiku. 

Malam itu, Juba mencoba melakukan tugasnya padaku. Tapi aku melawannya. Kami bergumul hingga tempat tidur yang sudah tua itu ambruk. Dua orang istri Juba terbangun dan berlari menuju kamar kami.

"Gadis ini belum mengerti apa-apa, Juba. Biar kami coba membujuknya," salah seorang istri Juba menenangkannya. Sementara istri yang lain mengamankanku. 

***

Ini malam kedua aku berada dalam kamar laki-laki yang berprofesi sebagai Hyena itu. Kurasakan tubuhku teramat penat. Beberapa lebam menghiasi paha dan lenganku akibat pergumulan kemarin malam.

"Kuharap malam ini kamu tidak berlaku liar. Agar aku bisa melakukan prosesi ritual dengan baik," Juba memperingatkanku.

"Ini bukan ritual pembersihan, tapi penistaan!" aku masih bersikukuh melawannya.

"Gadis-gadis lain menikmati tidur denganku. Mengapa kamu tidak? Kamu tahu akibatnya jika menolak melakukan ritual ini? Musibah besar akan menghampirimu," Juba mendekatkan wajahnya.

"Musibah macam apa?" tantangku sinis.

"Kematian orang-orang terdekatmu."

"Jika yang mati Bibi Tambun itu, aku akan bersorak gembira," aku mengejeknya. Juba terlihat sangat marah.

"Kalau saja kamu tidak berwajah cantik, aku sudah menendangmu ke luar rumah!" tangannya yang kekar meraihku. Merengkuh tubuhku yang meronta-ronta bagai cacing kepanasan, untuk kemudian berhasil dinikmatinya.

***

Ini malam ketiga. Masih seperti malam-malam kemarin. Aku berjanji, akan melakukan perlawanan lagi jika laki-laki bernama Juba itu membawaku ke tempat tidur. Rasa sakit tidak saja kurasakan di bawah perutku, tapi juga di hatiku.

Maria benar, tradisi yang kami miliki sungguh sangat aneh dan mengerikan.

Tekadku pun sudah bulat. Kusisipkan belati itu di bawah bantalku. Siang tadi aku mengambilnya dari dapur tanpa sepengetahuan istri-istri Juba. Tentu saja Juba sendiri juga tidak menyadarinya. Kubiarkan ia terlena setelah berhasil menguasaiku.

Saat dengkurnya mulai terdengar, craasss! Kuhunjamkan belati itu tepat pada ulu hatinya. 

Ia mati tanpa sempat menjerit.

Tenanglah, Maria, ia sudah mati. Aku telah menebuskan dosa-dosanya padamu. Pada kita. Juga pada para perempuan desa yang pernah ditidurinya. Meski untuk itu aku harus menjalani hukuman dibuang ke tengah hutan, menjadi santapan binatang buas, aku tidak menyesal.

Satu yang kusesali Maria, Hyena sialan itu sempat menularkan virus mematikan padamu. HIV.

***

Lilik Fatimah Azzahra