Mata Pencaharian Ayah

Sumber gambar : gambargaya.blogspot.com

Malam dibekap pekatnya sunyi seperti Martika yang sedang bersusah hati. Sudah pukul dua belas lewat, seharusnya ia sudah sampai di rumah, tetapi sejak tadi hanya berkeliling di tempat itu, seorang diri. Ia mencari sumber suara tangisnya sendiri.

Baru sore tadi ia berpamitan kerja pada orang tuanya. Keduanya senang karena setelah Martika bersusah payah menabung hasil jerih payah dari bekerja di pabrik, akhirnya kini mampu membeli motor sendiri. Orang tua mana yang tak akan senang. Dulu tidak mudah bagi mereka untuk membeli apa-apa yang yang diimpikan. Setiap Martika diiming-imingi mainan baru oleh temannya, hanya mampu bersedih di kamar sampai berhari-hari.

Ayahnya hanya seorang kuli pasar, terkadang hasil yang didapat tak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Tak jarang mereka terpaksa berhutang demi bertahan hidup.

Ibunya dulu penjual jajanan pasar, tetapi nasib menjadikannya lebih pilu setelah diserempet mobil pick-up tak bertanggung jawab. Marsono nyaris putus asa ditagih pemilik warung hampir setiap hari. Ia pun memutuskan pergi bekerja di tanah rantau.

Martika yang sudah duduk di bangku SMP merawat ibunya sepenuh hati. Ia juga berjualan gorengan sepulang dari sekolah. Berbulan-bulan Martika menanti uang kiriman ayahnya, tak kunjung datang juga. Demi menyambung hidup, Martika juga melakukan pekerjaan serabutan apa saja yang ia bisa.

Sudah lelah menanti ditambah ayahnya pulang dalam keadaan menganggur, Martika semakin nelangsa. Ternyata ayahnya selama di tanah rantau tak mendapat pekerjaan. Hari-harinya berhiaskan kelaparan dan kedinginan. Martika mulai berpikir keras. Ia ingin bekerja lebih giat untuk kehidupan selanjutnya.

Sampai akhirnya ia jatuh sakit dan tak ada beras lagi walau segenggam. Pikiran Marsono semrawut. Tanpa tahu arah mana yang akan dituju, ketika malam tiba ia berpamitan pada anak dan istrinya untuk mencari pekerjaan.

Marsono telah salah menerka nasib. Ia kira hidupnya akan semakin sulit. Namun ternyata tidak. Kehidupannya berubah sejak malam itu. Martika pun senang karena beban di pundaknya tak lagi berat. Ayahnya mengaku menjadi orang kepercayaan seorang bos besar.

Marsono tidak lagi hidup susah. Apa saja yang mereka inginkan dengan cepat ada di hadapan mata. Istrinya tak harus lelah-lelah berjualan lagi. Martika bisa fokus pada sekolahnya tanpa harus memikirkan berjualan gorengan. Tidak ada lagi hutang-hutang yang bertengger di setiap warung.

Tanpa terasa lima tahun sudah Marsono menggeluti pekerjaannya. Kini Martika sudah lulus SMA dan bekerja di sebuah pabrik. Ia ingin memiliki motor sendiri untuk mempermudah pekerjaannya. Marsono hendak memberinya sebuah motor matic, tetapi ia menolak. Martika ingin membeli motor dari hasil jerih payahnya sendiri. Mendengar alasan tersebut, Marsono menawarkan jalan tengah. Setelah menimang-menimang akhirnya Martika mau membeli motor dengan uang gabungan dari ayahnya.

Sebenarnya Martika penasaran apa mata pencaharian ayahnya, tetapi ia tak ingin menanyakannya. Namun tak sengaja ketika hendak berangkat ke pabrik sore tadi, ia mendengar ibunya menangis di kamar. Saat ditanya apa yang terjadi, ibunya hanya menggeleng dan mengucap istighfar berkali-kali sambil memegangi dahi layaknya menandang kecewa setengah mati.

Martika merangkai-rangkai. Sebelum ibunya menangis, ia sempat mendengar dari kamar mandi, orang tuanya sedang cek-cok.

Ia berangkat ke pabrik dengan hati gelisah. Belum lagi ketika pulang harus melewati jalan di tengah alas yang jauh sekali dari rumah penduduk. Hati dan pikiran bercampur aduk antara resah memikirkan ibunya dan takut membelah malam di jalan menuju pulang.

Martika takut menjadi korban. Beberapa bulan terakhir daerah tersebut sering terjadi pembegalan yang sadis. Kepalanya dibuang ke jurang begitu saja oleh pelaku. Hati siapa yang tak akan was-was melintasi jalan itu seorang diri.

Ia menghentikan motor saat melihat seorang laki-laki pingsan di tepi jalan. Martika menduga pria itu ialah korban begal. Tangannya bersiap menyentuh pundak orang di hadapannya. Namun orang tersebut langsung melibas lehernya dengan sebilah golok. Kepalanya dibuang ke jurang. Motor matic yang ia tumpangi baru beberapa bulan dibawa serta.

Ia berkeliling mencari di mana kepalanya berada. Suara tangisnya berada di dasar jurang. Dengan tertatih Martika melangkah dan menemukan kepalanya. Ia pulang sambil menggendong kepalanya yang masih terbungkus helm. Martika ingin mengadu pada ayah dan ibunya bahwa ia baru saja dibegal. Motor dirampas, kepalanya ditebas.

Sebentar lagi sampai di rumahnya. Ia berdiri di dekat pohon rambutan sambil memandangi sesuatu yang terparkir di teras. Motornya berada di sana. Ibunya menangis sambil memukuli ayahnya.

 

Marsono berkaca-kaca meratapi plat motor itu.