Gadis Tangguh itu Punya Hati

piqsels.com

Setiap kali menatap pantulan diri di cermin, Lidia selalu bertanya-tanya sendiri.

Apakah aku bukan manusia?

Ia kembali mengenang sorot mata dari teman sekelas, atau siswa/i lain saat melintas di koridor sekolah. Entah apa makna dari tatapan mereka. Lidia merasa tak berhak untuk berasumsi, namun juga tak habis pikir tentang apa yang salah pada dirinya?

Lidia siswi kelas 11 salah satu SMK Swasta di daerahnya. Meski bukan termasuk murid peringkat teratas, prestasinya cukup bagus. Selalu menduduki peringkat 5 besar di tiap semester. 

Bukan hanya aspek akademik, di bidang non akademik ia cukup menonjol. Sebagai seorang gadis berkulit kuning Langsat, Lidia yang bertubuh kurus - padat berisi, dengan tinggi badan 167 cm, berbobot 65 kg, rambut lurus sebahu adalah seorang karateka ban coklat. Gemar bola basket, suka berenang dan joging. 

Itu pula sebabnya ia selalu menjadi perwakilan sekolah dalam setiap kompetisi di beberapa cabang olahraga. Tak terhitung sudah berapa banyak koleksi medali atau piala yang ia berikan untuk sekolah, baik juara perorangan atau berkelompok. Wajar ketika ia mendapat medali emas di kelas Dojo regional dalam kategori Kata perorangan. Lidia akhirnya diminta menjadi Simpai (pelatih karate) di sekolahnya. 

Sempat menuai ejekan dari banyak siswa, terutama kakak kelas berjenis kelamin laki-laki. Banyak yang tertawa dan mencibir di saat upacara pengumuman dari kepala sekolah atas prestasinya sekaligus pengangkatan Lidia sebagai pelatih karate. Sampai-sampai beberapa dari mereka yang memiliki catatan buruk (siswa bermasalah), mengintimidasinya sewaktu pulang sekolah. 

Mereka yang ragu coba menjajal kemampuan Lidia. Alhasil setelah peristiwa pengeroyokan, beberapa siswa nakal dibuat babak belur olehnya. Tindakan membela diri itupun diketahui banyak pihak di sekolah keesokan harinya. Seketika pandangan mata semua orang menjadi aneh terhadapnya. Entah iri, takut, salut, atau apalah itu. Lidia merasa dijauhi oleh semua orang. Hidupnya berubah drastis.

Dojo yang disediakan pihak sekolah sebagai salah satu cabang ekstrakurikuler, sepi peminat. Hanya satu-dua yang ikut latihan, lama-lama justru tak ada yang datang. Parahnya lagi, setia ada kegiatan lomba antar sekolah, tak ada seorang pun yang mau satu team dengannya. Ia merasa dikucilkan. 

"Salahkah aku berprestasi? Sombongkah aku dengan semua pencapaian? Atau aku menyakiti orang lain dengan semua itu? Mengapa mereka memperlakukan aku seperti ini?" 

Ada banyak pertanyaan yang ia lontarkan kepada kedua orang tuanya, saat Lidia  sudah benar-benar lelah menghadapi kenyataan. 

"Kamu tidak salah, Nak. Sama sekali tidak! Mungkin mereka iri karena tak mampu seperti dirimu!"  Ayah dan ibunya coba menghibur.

"Lalu, mengapa aku dikucilkan?" 

Pertanyaan Lidia tidak mendapatkan jawaban. Ayah-ibunya juga pernah berupaya mendatangi pihak sekolah, bertanya tentang hal yang sama. Namun tidak satupun jawaban didapatkan. Kepala sekolah dan guru-guru juga tidak mengetahui mengapa Lidia dijauhi. 

Hingga suatu ketika, Lidia benar-benar putus asa. Gadis dengan segudang prestasi itu hendak bunuh diri dengan naik ke atas gedung sekolah. Aksinya diketahui salah seorang siswa, yang kemudian melaporkan ke pihak sekolah. Kepala sekolah, guru-guru, orang tuanya, hingga polisi yang hadir coba membujuk Lidia. Namun, gadis itu terlalu depresi dan kecewa. 

Detik selanjutnya, ketika kewarasan hilang, Lidia terjun dari ketinggian. Tiba-tiba sebuah tangan meraih tubuhnya, menyelamatkan ia dari kematian. Salah satu siswa bernama Ikmal yang pernah Lidia buat babak belur dulu, berhasil menggagalkan upaya bunuh diri itu. Semua yang menyaksikan peristiwa tersebut merasa lega. 

Pada akhirnya, Ikmal pun mengungkapkan sebuah pengakuan. Bahwa ia lah orang yang selama ini membuat Lidia dikucilkan. Karena dendam, iri dan tidak percaya diri,  Ikmal menyebarkan gosip kalau Lidia adalah seorang gadis yang punya ilmu sesat. Semua prestasinya diraih dengan cara curang, bukan karena kemampuan. Hingga semua teman-teman takut dan tak sudi dekat-dekat dengan Lidia. 

Ikmal juga mengakui kalau ia mencintai Lidia tetapi  takut ditolak mentah-mentah. Sebab Ikmal memang terkenal berandalan, bertolak belakang dengan gadis yang ia sukai di sekolah. Akan tetapi ketika melihat apa yang terjadi pada Lidia, ia pun merasa bersalah dan bertanggung jawab. Setelah berhasil menyelamatkan Lidia, Ikmal meminta maaf kepada semua orang. 

Ikmal hampir dikeluarkan dari sekolah. Namun Lidia memilih untuk memaafkan serta menerima cintanya. Sebab, ia juga punya hati dan perasaan untuk dicintai dan mencintai.

 

ZQS