Suara Tak Bertuan

pixabay

“Tok! Tokk!! Tokk!!!”

Lagi-lagi suara itu terdengar. Aku mendengus sebal, beranjak dari sofa menuju ke tangga. Ke kamar nenek di lantai dua. Entah sudah berapa kali aku naik turun tangga seharian ini menggantikan tugas ibu merawat nenek yang tidak bisa bangun.

Ayah dan Ibu pergi sejak kemarin malam, menjenguk kakak di Jogja. Padahal kakak sudah mahasiswa, kenapa pula cuma karena sakit sedikit mesti dijenguk ayah sama ibu. Ayah sendiri saja sudah cukup kan. Kenapa juga aku yang kena getahnya?

Aku membuka pintu kamar nenek. Bersiap dengan kemungkinan tugas untuk mengganti diaper. Anehnya, nenekku tampak sedang tidur lelap di ranjangnya. Aku memanggil nenek beberapa kali untuk memastikan. Tidak ada respon. Mungkin aku salah dengar. Aku menutup kembali pintu kamar nenek dan bergegas kembali ke depan TV.

“Ah..aku kelewatan adegan pentingnya…”, gumamku kesal. Dalam hitungan detik aku sudah kembali larut dalam kisah drama yang diputar. Benar-benar lupa kekhawatiranku kemarin saat tahu harus menghabiskan dua malam sendirian. Maksudku, ada atau tidaknya nenek tidak terlalu berpengaruh. Yang ada malah aku tidak bisa main seharian.

“Kreeekk!!! Krek! Kreek…!!”

Telingaku kembali menangkap suara dari lantai atas. Itu suara lantai kayu yang diinjak. Aku kembali mendengus, karena inilah aku tidak suka tinggal di rumah tua milik nenek ini. Walau rumahnya besar dan bagus, tapi suara lantai kayu saat terinjak membuat bulu kudukku berdiri. Tunggu! Siapa yang menginjak lantai? Bukanya nenek sudah tidur?

Aku kembali bergegas menaiki tangga. Ada orang yang masukkah? Tidak mungkin itu nenek kan. Sudah 3 tahun nenek tidak bisa berjalan karena stroke. Aku menuju ke ruangan keluarga di lantai dua, tempat kami biasa menghabiskan waktu bersama. Lantai kayu di sudut ruangan ini berbunyi lebih keras daripada lantai di bagian lain.

Tidak ada orang! Tidak ada siapapun di sini. Di sepanjang lorong juga tidak ada orang. Aku menyalakan lampu di ruangan keluarga untuk memastikan kembali. Kosong. Aku melangkah keluar, mematikan kembali lampu ruangan. Lalu menuju ke kamar nenek, membuka pintunya sepelan mungkin tanpa suara. Mengintip ke dalam. Nenek masih tidur dengan lelapnya. Apa aku lagi-lagi salah dengar?

Aku menutup kembali pintu kamar nenek dan kembali ke lantai satu. Mengambil air putih dan sebungkus potato chip dari meja di dapur. Mematikan lampu dapur lantas kembali ke depan TV. Aku mengambil remote untuk mengecilkan volume TV. Tidak lucu kalau aku terus mendengar hal yang tidak ada. Kurasa belakangan aku terlalu sering menonton horror. Benar, pasti cuma salah dengar, batinku.

Tiba-tiba muncul suara gelas berdenting dari arah dapur. Aku menelan ludah yang mendadak terasa pahit. Suara gelas diikuti suara sendok dan air dituang. Seolah seseorang sedang mencoba menyeduh teh atau kopi. Aku melompat dari sofa dan berjingkat ke dapur. Terlalu gelap, aku tak bisa melihat apapun. Aku meraba-raba dinding, mencari saklar lampu. Untuk sesaat, kurasa aku menyentuh sesuatu yang dingin dan seperti kulit. Bulu kudukku meremang berdiri. Jantungku berdentum keras, bersiap mendapati apapun yang berdiri di sampingku.

“Klik!” Lampu menyala. Tapi tidak ada siapapun di sana. Aku menoleh ke meja dapur, tempat teh biasa dibuat. Tidak ada yang berubah di sini. Persis seperti tadi saat aku mengambil potato chip. Yah, memang tidak ada orang selain aku sih. Tapi suara barusan benar-benar nyata. Kali ini aku yakin aku tidak salah dengar.

Aku kembali menelan ludah. Bulu kudukku masih meremang berdiri. Jantungku belum kembali tenang dan kepalaku berdenyut mendapati ketidak-masuk-akalan ini. Dan aku baru sadar suara TV di ruang tengah menghilang. Aku bergegas kembali ke ruang tengah. TV-nya dimatikan. Tapi…oleh siapa? Seolah belum cukup mengerikan, detik selanjutnya suara lantai kayu kembali terdengar. Kali ini bukan dari lantai dua, tapi dari tangga. Aku memaksakan kepalaku untuk menoleh ke arah datangnya suara. Tidak ada siapapun! Aku bergidik, sekujur tubuhku merinding.

Jantungku nyaris melompat keluar demi mendengar suara lain muncul dari arah dapur. Kali ini seperti ada orang yang tengah memasak. Suara kompor dinyalakan, kemudian sesuatu dimasukkan ke dalam minyak goreng yang mendidih. Aku menengok ke dapur. Lampunya sudah kembali padam. Seingatku tadi masih menyala waktu aku keluar. Ujung jemariku berubah sedingin es. Entah kenapa napasku terasa berat, seolah sedang berada di dataran tinggi dan kekurangan oksigen. Aku menyeret kakiku yang mati rasa, mengintip ke dapur. Kali ini tidak berani meraba dinding untuk menyalakan saklar. Aku meraih ponsel dari saku jaketku, menyalakan senter untuk menyinari ruangan dapur. Kosong. Lagi-lagi tak ada siapapun.

Hingga tiba-tiba suara langkah kaki muncul. Seolah seseorang berjalan dari arah kompor ke arah pintu tempatku berdiri. Suaranya semakin dekat. Demi Tuhan aku tidak melihat siapapun di sana. Langkah kaki itu hanya beberapa meter di depanku. Sekonyong-konyong aku berlari ke arah tangga. Melompati dua anak tangga sekali pijak. Aku tidak tahu siapa atau apa yang membuat suara-suara itu. Tapi aku tidak mau berurusan denganya! Seseorang, siapapun…tolong!

Langkah kaki itu mengikuti di belakangku, menaiki tangga ke lantai dua. Tubuhku gemetar dicengkeram kengerian. Dan aku ingat aku tidak sendirian. Aku berlari menuju kamar di ujung lorong. Tidak peduli lagi apakah suara kakiku atau suara pintu yang terbuka dengan kasar bisa mengagetkan nenek. Aku mengunci pintu kamar nenek, dan berlari ke ranjangnya. Nenek masih tidur lelap. Apa nenek tidak mendengar suara-suara aneh tadi? Suara ini semakin nyata dan jelas. Bahkan sekarang, apapun itu sudah sampai di lorong di depan kamar nenek.

“Nenek..! Nek, bangunlah!!”, panggilku. Nenek tidak merespon. Malah sepertinya ia tidak mendengarku sama sekali. “Nenek!! Kumohon bangunlah..!! Aku takut.. nenek!!!”, teriakku keras.

Nenek tidak bergerak sediktipun. Tunggu! Dari tadi nenek tidak bergerak sedikitpun. Sejak aku pertama kali mendengar suara aneh itu. Aku kembali memanggil nenek. Tidak ada respon. Jantungku berdegup semakin kencang. Aku mengulurkan tanganku yang serasa beku. Mendekatkan jariku ke depan hidung nenek. Hatiku mencelos saat menyadari tidak ada udara yang keluar dari napasnya. Aku sendirian. Bulu kudukku lari terbirit-birit menyadari suara langkah sampai di depan pintu kamar nenek.

“Tok! Tokk!! Tokk!!!”