Teman Sebaya

edit sendiri

"Yu, kamu tidak akan kembali kesini lagi?" ucap Yuta yang merengek dengan mendekap koperku.

"Ya kembali lah, aku cuman beberapa hari kok disana."

"Berapa hari?"

"Sampai adik ku selesai ujiannya."

"Kamu kan juga mau ujian!"

"Kan ada kamu, aku minta tolong padamu." ucapku dengan memohon. "Bolehkan?"

"Boleh sih, tapi kamu tau. Aku akan sendiri loh." ucapnya melepaskan cengkramannya ke koperku.

"Kan ada Lily."

"Ayu, ayu, aku akan merindukanmu."

"Rindu di bikinin tugas atau rindu aku."

"Keduanya.." jawab Yuta cepat.

"Kamu ini... pulang sana, aku mau berangkat nih." ucap ku mengusir Yuta.

Yuta adalah teman ku sendari kecil dan sangat lengket padaku. Dia seorang cowok yang baik namun sedikit nakal dan ceroboh. Rumahnya berdekatan denganku, jika aku membuka jendela kamar akan nampak dirinya yang bermain game atau sejenisnya. Lalu, kami berkuliah di tempat yang sama dan mendapatkan teman baru yang bernama Lily. Dia seorang yang sangat sopan tapi terkadang dirinya sangat gugup jika berhadapan dengan orang yang baru di kenal. Kami berteman dengan Lily karena sangat kebetulan, Lily satu UKM dengan kami. 

"Ayu, ada LIly datang, Nak." teriak Mama dari balik pintu kamar.

"Suruh masuk saja, Ma"

"Terima kasih, Tante." ucap Lily membuka pintu kamarku.

"Kamu kesini? padahal aku sudah mau berangkat." ucap ku memyiapkan tempat duduk untuk Lily.

"Aku kesini sama pelayan ku, ingin mengantar kamu di bandara." ucap Lily sangat pelan.

"Tapi, kakak iparku sudah mau kesini." ucapku membuatnya sedikit cemberut dan menunduk.

Ya, Lily terlahir dari anak orang kaya yang kemana pun akan ada orang yang mengantarnya dan menjaganya. Selain itu, Lily juga sangat percaya dengan hal-hal penampakan. Baginya, hal semacam itu sangat berbahaya.

"Kau gitu, kamu bisa bawa ini." ucapnya memberikan sebuah kotak kecil berwarna biru padaku.

"Apa ini?" ucapku membuka pelan kotak itu. Nampak sebuah kalung yang berwarna putih mengkilap lengkap dengan mutiara berwarna hijau.

"Itu kalung pemberian dariku, itu kalung bisa menjaga mu dari orang-orang jahat atau arwah yang ingin mendekatimu." ucapnya membuatku tersenyum.

"Terima kasih ya, nanti aku akan pakai."

"Kamu suka tidak?" 

"Suka kok."

"Ayu, kakak kamu sudah datang." teriak Mama.

"Iya, Ma."

Kami bertiga keluar dari rumah setelah diriku berpamitan dengan Mama. Aku masuk ke dalam mobil kakakku dan melambaikan tangan ke kedua temanku yang tersenyum padaku juga. Di perjalanan diriku menghabiskan waktu untuk makan bekal dari Mama yang belum sempat aku makan karena dari pagi Yuta sudah ada di rumahku.

*** 

Diriku sampai di bandara, tinggal menunggu jemputan dari rumah nenekku. Diriku duduk di tempat duduk bandara yang terletak tidak jauh dari pintu masuk bandara. Diriku menyenderkan punggung yang terasa berat. Diriku melihat seorang gadis yang duduk di dekatku juga, dia diam dan bau sangat wangi. Diriku meliriknya, dia mempunyai rambut pirang yang keriting dan matanya tertutup dengan perban, beberapa luka di tangannya di tutup dengan perban juga. 

"Dia seperti habis jatuh." batinku penasaran. 

"Kalungmu sangat bagus ya." ucapnya dengan tersenyum padaku.

"Tentu saja, ini pemberian dari temanku."

"Maaf, kamu habis jatuh ya?" ucapku padanya. Dia menatapku dan tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang putih. 

"Oh ya, ini aku ada bekal sedikit, bisa kamu makan?" ucapku memberikan wadah bekalku di dekatnya. 

"Terima kasih." ucapnya mengambil bekalnya dan menaruhnya di pangkuannya.

Ku lihat dia sangat lahap menikmati makanan. Tidak lama kemudian, jemputanku datang. Diriku langsung berlari dengan membawa koper menuju mobil yang di kendarai adikku dan ayah. Tanpa memikirkan gadis yang ku berikan bekal. Setelah masuk ke dalam mobil, diriku sempat melambaikan tangan ke gadis itu. 

"Lama ya, Kak?" 

"Lumayan." 

****

Hari berganti malam, diriku yang kelaparan memutuskan untuk keluar mencari makanan di luar. Bersama dengan adikku untuk menemaniku mencari nasi goreng di daerah pedesaan. Setelah mendapatkan apa yang ku cari, diriku pulang membawa bungkusan nasi goreng. Terlihat di teras rumah nenekku, bekal makanan yang tadi siang ku tinggalkan untuk gadis di bandara itu. Aku memungutnya dan membukanya, wadahnya terlihat bersih dan harum. 

"Ada apa Kak?"

"Tidak ada apa-apa kok." ucap ku ke adik ku. 

Ayah, Adik dan Nenekku bersantai di ruang keluarga. Bersama menonton TV, diriku memakan camilan yang sempat terbeli tadi. 

"Oh ya, Ayu, kamu ingat dengan teman kamu yang di desa sini?"

"Teman?" ucapku, berpikir keras.

"Iya, yang namanya Salsa itu loh. Kamu lupa ya?" 

"Lupa, Ayah. Memangnya kenapa?"

"Dia dulu teman sebaya kamu, seumuran kamu gitu. Tapi, nasibnya sangat tragis sekali."

"Kenapa?"

"Dia meninggal, padahal dia itu sangat baik dan ceria sekali. Keluarganya pun juga sangat kacau." ucap Ayah.

"Dia meninggal kenapa?"

"Ayah dengar ada yang melecehkannya di bandara, ada juga yang bilang kalau dia di lecehkan dengan selingkuhan Ibunya."

"Kok dia tidak kabur sih?" ucapku geram sambil merapikan kacamataku.

"Dia kan di kurung, Nak. Apalagi, dia akan keluar untuk mengemis di bandara oleh Ibunya."

"Ibunya sekarang dimana?"

"Ayah tidak tau, banyak yang bilang kalau ibunya itu bunuh diri."

"Malang sekali dia."

"Entah kenapa, saat kita pindah ke kota. Kata nenek, dia sering nyari kamu dan meminta kamu untuk kembali ke desa, dia sepertinya nyaman dengan keluarga kita. Hanya saja, keberuntungan tidak berpihak padanya." 

***

Keespkan harinya, diriku bersiap untuk ke pasar dan sedikit membeli bunga untuk teman sebayaku yang sudah meninggal. Diriku berangkat dengan naik motor, kulewati rumah yang sedikit kumuh dan tak terawat. Diriku merasa ada yang melihatku dari rumah kumuh itu. Aku berhenti dan menengok ke arah rumah itu. 

"Cuman perasaanku saja."

Kulanjutkan perjalanan ke pasar, sesampai disana aku membeli beberapa bahan makanan dan bunga. Ku balikkan badan, terlihat gadis yang aku temui di bandara itu tepat di depanku.

"Kamu ada disini?" ucapku, dia tersenyum membalasnya. "Oh ya, terima kasih untuk bekalnya sudah kamu kembalikan." Dia membalas dengan anggukan.

"Ikuti aku, Ayu." ucapnya lirih dengan tersenyum. Aku sedikit tersentak, dia tau namaku.

"Kamu sudah kenal diriku dari nenek kah?" ucap ku masih positif dengan gadis itu. Dia membisu dan terus berjalan di depanku. Dress lolitanya yang panjang menyapu tanah. 

"Taruh bunga itu disini." ucap nya berhenti di sebuah pohon besar yang kering.

"Ini untuk temanku Salsa."

"Iya, Salsa selalu menunggumu di pintu masuk desa ini." ucapnya lirih.

"Salsa kan ada di makamnya."

"Salsa tidak punya makam." ucapnya membuatku bingung.

Ku putuskan untuk mengiyakan perkataannya dan meletakkan bunga ku di bawah pohon itu. Diriku berbalik badan dan gadis berambut pirang itu tidak ada lagi. Kulihat kembali rangkaian bunga yang aku letakkan, terdapat surah berwarna putih di sana. Ku pungut dan ku masukkan ke dalam tasku. 

Sesampai di rumah nenek, diriku kembali mengambil surat itu.  Isi dari surat itu: 

'Terima kasih, Ayu. Sudah mampir kesini, izinkan aku untuk ikut kemana pun dirimu pergi. Aku selalu menunggumu datang. Selamat datang, Ayu. Kamu pasti sekarnag sangat cantik, maafkan aku yang tidak bisa menemuimu.' 

Isi surat itu membuatku menangis, diriku memeluk sepucuk surat itu. Aku merasakan hembusan angin di kanan telingaku, terlihat dalam ingatanku. Teman sebayaku itu adalah gadis berambut pirang yang aku temui di bandara dan pasar. 

"Jadi, kamu selama ini telah menungguku dan hari ini dirimu datang untukku."

"Ada apa, Ayu?" ucap Nenekku keluar dari rumah. Aku memeluk nenek, melepaskan kacamataku.

"Nenek. aku ingin menyelesaikan masalah Salsa, orang-orang yang melecehkan Salsa harus mendapatkan hukuman yang setimpal."

"Itu sudah 10 tahun yang lalu, Nak. Mungkin orang-orang nya juga sudah meninggal."

"Ada satu orang yang masih hidup."

"Kamu tau dari mana?"

"Selama ini, Salsa masih menungguku dan Salsa berbagi ingatannya padaku. Jika saja, aku ada untuknya." ucapku menghapus air mata yang ada di kacamataku. "Aku berjanji, aku akan membongkar kebusukan orang itu sebelum diriku kembali ke kota." ucapku.

 

 

#nantikan_part_2