Mawar Putih yang Berubah Merah

Sumber: Pixabay

Saat membaca buku di pinggir jendela, aku melihat sepasang muda-mudi lewat di depan rumah. Yang pria tampak tampan dan periang, yang wanita tampak cantik dan anggun. Aku bertanya pada ibuku, siapa gerangan mereka. Salvatore dan Helena, jawab ibuku—mereka juga tetangga dekat kita. Aku mengangguk dan meneruskan membaca buku.

Setiap hari, pada jam-jam tertentu, aku menyempatkan diri membaca buku di pinggir jendela. Aku melihat banyak hal—akhirnya, bukan hanya cerita buku saja yang kubaca melainkan juga cerita orang-orang yang nampak berlalu-lalang di depan jendelaku.

Suatu ketika, ada bocah yang kena marah karena memecahkan jendela orang saat main bola. Suatu ketika, ada seorang bapak mengejar ayamnya yang lepas. Dan suatu ketika, Toto—nama panggilan Salvatore—memberikan seikat mawar putih kepada Helena. Aku tersentuh dengan pemandangan itu.

Aku tak tahu apa-apa tentang cinta. Ada yang bilang cinta adalah pengorbanan, ada yang bilang cinta adalah kebahagiaan terbesar, ada pula yang bilang cinta adalah rumah terbaik tempat diri kita akan pulang kembali. Aku tak memahami definisi-definisi itu, tapi dengan melihat Toto dan Helena berdua menjalani hari, aku pun merasakan cinta yang dalam. Tanpa sadar, aku mendoakan mereka berdua.

Sekian bulan telah berlalu. Ibuku tiba-tiba menyampaikan kabar duka—Helena telah meninggal dunia. Kami menghadiri pemakamannya. Toto menangis tersedu-sedu. Saat prosesi pemakaman telah selesai, ia meletakkan seikat mawar putih di depan batu nisan Helena. Betul-betul sebuah perpisahan yang tragis.

Namun, konon mawar putih di makam itu berubah warna menjadi merah pada keesokan harinya. Tidak hanya itu, beberapa orang juga mengatakan bahwa pada malam sebelumnya banyak kelelawar yang beterbangan. Ada juga desas-desus bahwa setiap malam ada sosok wanita berkulit pucat yang berjalan di sekitar kota, mengganggu tidur para warga dengan suara tawanya yang melengking.

Mungkin semua itu cuma kabar burung saja, pikirku. Kadang orang berlebihan dalam melihat atau mendengar suatu fenomena, sehingga faktanya sering terkesampingkan. Yang aku tahu, setiap hari Minggu memang benar Toto selalu mengunjungi makam Helena. Aku melihat semuanya dari jendela.

Namun—satu hal di luar dugaanku, makin hari makin banyak warga yang membenarkan cerita-cerita tersebut. Soal keributan kelelawar dan sesosok wanita yang tertawa melengking mungkin bisa dikesampingkan, tapi yang paling aneh adalah: mawar-mawar putih di atas makam Helena betul-betul berubah warnanya menjadi merah. Aku mendengar semua itu dari ibuku, dan ibuku tak mungkin berbohong.

Aku baru sungguh-sungguh mempercayainya ketika tiba kabar mengejutkan. Toto telah meninggal dunia. Aku bergegas menuju area makam Helena, tempat Toto ditemukan. Toto terbaring tengkurap di makam kekasihnya. Tangannya menggenggam seikat mawar putih—sebagian di antaranya berubah merah, seolah tersiram oleh darah. Jasad Toto kulitnya begitu pucat seakan-akan darahnya telah terkuras habis. Sekilas nampak dua lubang kecil pada bagian samping lehernya.

Esok paginya, iring-iringan para pendeta lewat di depan jendelaku. Mungkin mereka hendak melakukan penyucian terhadap pemakaman itu. Ibuku berkata, para pendeta menancapkan pasak pada peti mati Helena—konon agar jasadnya tak bangun sebagai vampir, agar tak ada lagi serangan-serangan mistis seperti yang telah merenggut nyawa Toto. Aku hanya mengangguk pasrah. Aku tak bisa mencerna semua kejadian ini dalam pikiranku.

Toto dan Helena—aku tak begitu mengenal mereka. Namun aku merasa sangat kehilangan mereka.

Ya Tuhan, berkatilah cinta mereka.

 

#LintasGenre