Hati Cowok Gamers

www.google.com dan editing sendiri

Nama ku Haru Putra, pagi ini terasa sangat dingin untukku yang tidak menyukai hawa dingin. Ku tarik selimut tebalku untuk menutupi tubuhku yang kecil. Semenjak aku tinggal sendirian di rumah baruku. Diriku jarang bangun pagi karena memang tidak ada yang membangunkanku di pagi hari. Tiba-tiba ayam tetangga berkokok dan membuatku sangat terusik, ku tutup telinga dengan bantalku dan mulai tertidur kembali. Namun, beberapa kali ponselku berdering. Dengan malasnya ku meraih ponsel yang ada di meja samping ranjang, kulihat samar-samar panggilan dari beberapa rekan tim dari game. Mereka mengajak untuk bertemu dan mendiskusikan secara langsung tentang lomba game yang akan di selenggarakan bulan depan. 

Dengan terpaksa, diriku beranjak dari ranjang. Membiarkan ranjangku berantakan dan berjalan menuju kamar mandi. Usai mandi aku menyempatkan untuk membuka komputerku, bermain sebentar game favoritku. Saat di tengah-tengah permainan, ponselku kembali berbunyi. Panggilan masuk dari Joy. Aku melepaskan earphoneku dan menerima panggilan Joy.

'Ada apa?'

'Kamu sudah berangkat?'

'Belum, habis ini aku berangkat.'

'Aku jemput mau?'

'Tidak, nanti aku mau mampir ke tempat biasa dulu.'

'Oke, sampai ketemu di tempat'

'hm'

Setelah Joy menutup panggilannya, aku kembali fokus menyelesaikan gameku. Sampai akhirnya, satu permainan terselesaikan. Aku memakai kaos dan mengambil jaket biruku, mengambil kunci motor di gantungan. Ku naiki sepeda favoritku ini, motor ini adalah hasil dari aku menanbung selama menjalani kehidupan sebagai gamers. Sama halnya seperti apartemen ini, yang sedikit-sedikit ku tabung dan kusisihkan dari bekerja dari rumah, beberapa orang memang menganggapku aneh dan sangat introvet. Siapa juga yang mau dengan kehidupan membosankan seperti ini? Tidak ada, kecuali ada yang memulai.

Aku menyalakan motor ninjaku ini, ku pakai helmku dan mulai menjalankan motor ke menuju tempat yang di arahkan oleh pimpinan tim game. Setelah 30 menit perjalanan, aku masuk dengan santainya ke dalam cafe, beberapa gadis yang nongkrong di sana ikut melihat kearahku dan berbisik pelan. Diriku menatap mereka dengan sinis, mereka langsung diam dan mengalihkan pembicaraan mereka. 

"Haru.." Teriak Joy yang ada di dalam cafe.

Dengan berjalan santai, aku menghampiri Joy dan duduk di sampingnya. Terlihat cafe itu sangat ramai di pagi hari, beberapa gadis dengan pakaian terbuka juga nampak disana. Tepat saat aku duduk, pelayan menyodorkan menunya padaku. 

"Kamu sudah pesan?" ucap ku ke Joy.

"Sudah.."

"Saya pesan jus alpukat saja." ucap ku tanpa melihat menu yang di bawa pelayan.

Perlahan sang ketua tim datang dengan sejuta gaya ketampanannya. Para gadis yang di cafe itu pun berpaling ke arah ketua tim yang tebar pesonanya minta ampun.

"Dia tebar pesona banget." ucap Joy dengan geram. Aku hanya merespon dengan diam dan tersenyum singgung.

Ketua tim menjelaskan apa yang perlu di jelaskan olehnya, sampai akhirnya diriku di tunjuk untuk maju ke depan bersama ketua itu. 

"Kenapa aku ikutan disini?" ucap ku melihat ke ketua yang masih tebar pesona.

"Apakah kamu tidak mendengarkanku dari tadi?"

"Tidak, aku kan hanya harus bermain saja."

"Hadehh, kapten baru kita hanya sedikit lelet ya teman-teman.."

"Hahh! Kapten?" ucapku manatap ke ketua tim yang tersenyum dengan tebar pesonanya.

"Gini.. untuk sementara kamu menggantikanku untuk menjadi kapten di lomba game kali ini, di bantu Joy dan salah satu asisten yang aku utus nantinya."

"Kamu mau kemana?"

"Aku masih mau pensi dari dunia game dan fokus dengan kuliah ku, jadi kamu bisa kan?"

Dari kejauhan aku melihat Joy yang mengancungkan jempolnya untuk menerima persyaratan itu. Dengan berat hati, aku menerima tawaran itu. Aku kembali duduk di dekat Joy sambil menikmati hiburan yang di sediakan oleh sang kapten tim. 

"Aku mau pulang dulu.."

"Kenapa pulang, kan hiburannya masih ada?"

"Aku tidak suka hiburan.." ucapku pergi meninggalkan cafe.

***

Sampai di apartemen, aku membanting badanku ke ranjang, melihat ke arah ketiga monitor komputerku. Lalu, kembali duduk di tepian ranjang, melepaskan jaketku. Kembali ke dapur dan melihat ke dalam lemari es, mengambil dua telur dan menggorengnya. Ku ambil dua lembar roti dan ku hangatlkan sebentar di wajan kecil, ku taruh dua telur itu di tengah-tengah roti, ku tambahkan saos pedas untuk menambahkan cita rasanya. Ku bawa di depan komputerku dan ku makan disana, diriku membaca novel yang ada di salah satu website. Penulis dari buku ini sangat lihai untuk menulis karyanya di web ini, diriku perlahan terbawa suasana membaca buku itu.

Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu apartemenku, aku berdecak pelan dan beranjak untuk membukanya. Ku dapati seorang gadis berambut panjang dan bermata coklat yang tersenyum padaku. Aku yang masih penasaran dengan kedatangannya mulai menoleh ke kanan dan kiri apartemen.

"Mencari siapa ya?" ucapku.

"Kamu Haru Putra, bukan?"

"Iya, benar. Ada apa?" 

"Syukurlah, aku menemukanmu."

"Hahh.. kenapa memangnya?"

"Bolehkah aku masuk terlebih dahulu? Akan aku jelaskan di dalam." ucap gadis itu. 

Ku persilakan dia untuk masuk ke apartemen, dia terdiam melihat kondisi apartemen ku yang berserakan. 

"Duduk saja, dimana pun kau mau." ucapku duduk di sofa. Dia pun duduk di sofa tepat di depanku.

"Apa yang membuatmu kesini? Lalu, siapa kamu?"

"Aku adalah asisten yang diutus dari ketua tim kamu itu, katanya kamu kapten yang baru." ucapnya membuatku langsung teringat dengan ucapan ketua yang dia bilang akan mengirimkan satu asisten untukku.

"Jadi, kerjamu itu apa?"

"Aku hanya membantumu untuk penyesuaian di lomba itu dan melihat perkembanganmu serta tim yang kamu bentuk." ucapnya melihatku dengan senyum manisnya, entah kenapa senyumannya membuatku tenang.

"Kamu baca novel ini." ucapnya melihat ke komputerku.

"Memangnya kenapa?" 

"Boleh, ini kan novel aku."

"Hahh? Yang benar?"

"Tentu saja, kenapa tidak. Lihat disini tertulis Alia Cornelia, itu namaku." ucapnya tersenyum dengan jari menunjuk ke namanya.

****

Semenjak kedatangan Alia di apartemenku, dia selalu membersihkan apartemenku yang berantakan selama satu minggu ini. Dia yang selalu menyiapkan makan di pagi hari sebelum dirinya pergi kuliah, sepulang kuliah pun dirinya dengan senang hati membantuku untuk menilai perkembangan ku bermain game. Disaat waktu luang kita berdua, kita berdua saling membaca novel dari satu buku. 

Aku yang selalu membacakan novel untuk Alia, bacaanku seperti dongeng pengantar tidur untuk Alia. Dirinya selalu tertidur di bahuku saat aku membaca novel. Entah kenapa, gadis bermata coklat itu sangat memikat ku, selama ini tidak ada orang yang berhasil ataupun sulit untuk mendekatiku. Semenjak aku tersakiti oleh gadis di masalaluku itu. Gadis yang meninggalkanku dan memilih untuk bersama orang lain yang baru di temuinya di tempat yang baru. 

Tapi, semenjak ada Alia hidupku terasa penuh saat bersama dirinya, apartemen yang tadinya seperti tempat sampah menjadi sangat bersih. Aku yang tidak ingin Alia jauh dariku, ingin sekali memilikinya untuk selamanya, tanpa ada jeda di antara aku dan Alia.

***

"Alia.." ucapku ke Alia di tengah-tengah orang yang sibuk akan perlombaan game.

"Iya, butuh sesuatu kah?"

"Aku tahu, kita baru kenal satu bulan. Tapi, hati aku sangat nyaman saat sama kamu." ucapku menggantung, ku genggam erat tanganku. Aku memang tidak pernah menembak seorang gadis, gadis di masalalu itu saja yang menembakku dan ku terima begitu saja. Ini pertama kalinya kau mengungkapkan rasa ke seorang gadis yang benar-benar tidak ingin kujadikan jauh.

"Apa kamu mau jadi pacar aku?" ucap ku begitu saja. Kulihat Alia menutupi mulutnya dengan kedua tangan, air matanya menetes menatapku.

"Kok kamu menangis sih?"

"Umm.. tidak, aku hanya merasa senang saja. Aku mengira orang seperti mu itu susah untuk di dekati."

"Semenjak ada kamu, aku itu luluh. Jadi?"

"Aku akan memberikan jawaban setelah perlombaan, jika kamu menang aku akan terima dan jika kamu kalah.."

"Kamu tidak akan menerimaku?"

"Mungkin.." jawabnya dengan senyuman.

Semangatku langsung berkobar untuk memenangkan game ini. Ronde demi ronde terlewatkan, sampai akhirnya babak final penentuan pemenang di laksanakan. Tim ku yang sudah mulai gugur satu persatu, membuatku geram dan berdecak. Aku yang masih berusaha sendiri di medan pertempuran.

"HHAARUUU SEEMANGAT..." teriakan Alia dari trimbun penonton membuatku terjaga dari lamunan. Aku kembali mengingat persyaratan yang di berikan Alia padaku. 

Pada akhirnya, timku meraih juara satu dan diriku menjadi top player serta kapten terbaik dalam memimpin. Aku berlari memeluk Alia dengan tangen membawa tropi besar. Alia menangis bahagia di pelukanku. Semenjak hari itu, Alia menjadi seorang gadis berharga yang selalu ingin aku jaga.

****

"Haru, jangan menceritakan dongeng dewasa pada anak-anak." ucap Alia yang duduk di sampingku.

"Tidak apa-apa, kak. Kak Haru memang keren bisa menaklukan hati Kak Alia sendirian."

"Tuh, murid kamu sangat berani sekali." ucap Alia beranjak pergi keluar dari ruangan. 

Aku dan Alia sudah menikah, kami membuka sebuah komunitas penyuka game yang di bilang sudah internasional. Kami berdua mengajari anak-anak yang ingin berkarya melalui game. Dari game tidak semua orang bisa bodoh, melainkan ada sesuatu yang harus di temukan di dalam game. Tidak semua game mengajari orang untuk bodoh, itu pun tergantung seseorang bagaimana memainkan game tersebut. 

 

**

#lintasgenre #lintasgenre #lintasgenre

#fiksiremaja