Misteri Channel 404

Sumber: Pixabay

Alissa terbangun dari mimpi buruk yang sangat aneh: ada sebuah televisi lawas yang tiba-tiba menjadi hidup, mengejarnya, dan menelannya bulat-bulat. Kepalanya langsung pusing—sebagian karena mimpi buruk barusan, sebagian lagi karena kualitas tidurnya yang jelek.

Televisi sedang menyala ketika Alissa turun untuk sarapan bersama ayah, ibu, dan adik laki-lakinya. "Pimpinan sekte Media Dunia Baru telah ditangkap," begitulah tajuk siaran berita yang sedang tampil. Nampak wajah sang pimpinan sekte di depan kamera. Ia berkata dengan khidmat seolah menyampaikan pesan penting kepada dunia, "Dunia adalah media dan media adalah dunia baru. Daging dan darah adalah lemah, logam dan metal adalah kuat. Tanggalkan kemanusiaan, jadilah kuat yang transendental." Tak lama kemudian, ia digiring petugas ke dalam kendaraan yang akan membawanya ke hotel prodeo.

"Ada-ada saja orang sekarang." Ayah Alissa menimpali sambil menyeruput kopi.

Kami segera berangkat. Alfi, adik Alissa yang masih kelas 3 SD, diantar oleh ayahnya ke sekolah. Alissa berangkat sendiri dengan motor skutik-nya.

Seusai pelajaran Matematika yang memusingkan, jam istirahat tiba. Alissa memesan mie ayam kesukaannya di kantin. Elita, teman sekelasnya, ikut makan bersamanya. Dia memesan gado-gado.

"Lis, kamu tahu Channel 404?" celetuk Elita sambil menikmati sayuran berbumbu kacang di hadapannya.

"Nggak, channel apa itu memangnya?"

"Itu rumor, sih. Urban legend yang lagi banyak dibahas akhir-akhir ini."

Alissa biasanya tidak suka cerita-cerita semacam itu, tapi untuk kali ini ia penasaran. Elita melanjutkan, "Katanya, kalau kamu klik angka 404 di teve-mu, kamu bisa lihat masa depanmu."

"Apa iya? Kan channel nomor 404 itu memang nggak ada. Kalaupun dipaksa klik, paling yang keluar cuma gambar semut di teve."

"Memang, sih. Tapi katanya, sejak ada sekte kepercayaan yang namanya Media Dunia Baru, mulai muncul fenomena aneh soal Channel 404 ini."

Sontak Alissa teringat berita pagi tadi, tentang pimpinan sekte tersebut yang baru saja ditangkap.

"Anak-anak klub koran mau investigasi berita tentang itu. Mereka juga bakal coba cek Channel 404 ini, biar cepet ketahuan hoaks atau nggak-nya." lanjut Elita sembari melahap suapan terakhir gado-gadonya.

Hari itu, Alissa pulang sekolah dengan kepala yang masih pusing. Ada perasaan kuat bahwa hal aneh akan segera terjadi pada hidupnya dalam waktu dekat, dan itu sangat mengganggu benaknya.

Usai makan malam, Alissa mencoba belajar. Namun, pikirannya belum bisa fokus. Malam semakin larut dan ia belum bisa tidur, maka ia keluar kamar dan mencoba menyalakan televisi di ruang tengah. Alissa mengganti-ganti channel: yang satu menayangkan film aksi, satu lagi menayangkan acara musik, yang lainnya lagi menampilkan serial roman picisan—Alissa tak pernah betul-betul berniat menonton televisi. Ia menyalakannya karena, entah mengapa, ada suatu sensasi di mana suara-suara televisi itu serasa menemaninya. Ia jadi tidak kesepian di rumah malam-malam. Iklan-iklan rokok yang tayang di jam-jam malam—yang tidak pernah sekalipun menampilkan produk rokok—turut memperkuat sensasi magis itu.

Jemari Alissa, yang mulai bosan mengutak-atik tombol remote control televisi, secara otomatis menekan angka 404. Channel berganti, kemudian yang muncul di layar hanyalah "semut" alias gambar statis.

Namun, "semut" di layar itu berubah.

Alissa terkejut dan langsung mematikan televisi. Ia sadar, mestinya ia tidak berbuat yang aneh-aneh dengan menyetel nomor channel itu. Alissa merasa telah terlanjur memanggil suatu pertanda buruk, dan ia tak tahu apakah ia sudah terlambat untuk menghentikannya atau tidak. Ia harap tidak.

Malam itu, Alissa kembali bermimpi buruk tentang televisi.

***

Alissa pulang sekolah lebih lama dari hari-hari biasanya. Ia berlatih dulu di studio sekolah bersama kawan-kawan band-nya, mempersiapkan diri untuk acara pensi yang akan datang. "Alissa and the Orange Kitties"—ia agak sebal dengan nama band itu, tapi mau bagaimana lagi. Bukannya karena Alissa tak suka kucing oranye, tapi kesannya dia jadi pusat perhatian di band itu. Mereka berfokus pada warna musik rock lawas. Pada hari itu, mereka berlatih membawakan lagu "Terserah Boy" yang dipopulerkan Atiek CB pada era 1980-an.

Usai latihan, Alissa tak langsung pulang. Pagi tadi Elita bilang ingin menyelidiki soal Channel 404 bersama anak-anak klub koran, maka Alissa hendak mampir sejenak ke markas mereka sekadar untuk menengok keadaannya sebentar. Klub koran terlalu bersemangat menginvestigasi urban legend satu ini, pikirnya. 

Pintu ruang media & audiovisual, markas klub koran, masih terbuka. Saat Alissa mendekat, lamat-lamat terdengar suara desis—seperti bunyi pesawat televisi yang tidak menangkap sinyal.

Ngiiiingg! Terdengar bunyi desing keras yang menusuk telinga, diikuti oleh suara deru elektronik yang menyerupai suara hewan buas. Kemudian, dari pintu ruang media yang terbuka keluarlah beberapa orang. Mungkin anak-anak klub koran baru selesai dan mau pulang, pikir Alissa.

Namun, ada yang sangat salah dari sosok siswa-siswi itu. Kepalanya bukan lagi kepala manusia, melainkan sebuah televisi. Begitu manusia-manusia TV itu melihat ke arah Alissa, mereka meraung dan langsung berlari mengejarnya.

Alissa tersentak. Ia lantas berlari hingga koridor sekolah, berusaha keras agar makhluk-makhluk itu tidak menyusulnya. Nafasnya tersengal. Alissa menengok ke belakang—manusia-manusia berkepala televisi itu sedikit demi sedikit makin memperpendek jarak.

Desis keras gelombang elektromagnetik dari kepala televisi makhluk-makhluk itu mengganggu kelistrikan area sekitarnya. Lampu-lampu tiba-tiba padam.

Alissa mulai kehabisan nafas. Dia berlari sekuat tenaga, tapi dia mulai kepayahan. Tak terasa, larinya menjadi sedikit lebih pelan—momen sepersekian detik ini seolah menjatuhkan vonis mati pada diri Alissa. Salah satu anggota gerombolan manusia berkepala televisi itu menangkapnya. Mereka menarik Alissa dengan keras dan menyeretnya jauh ke dalam kegelapan.

Alissa menjerit. Namun tak ada yang mendengar jeritannya.

Dia diseret sampai ke suatu ruangan gelap yang kosong. Di dalam ruangan itu hanya ada televisi yang banyak jumlahnya. Masing-masing televisi itu hanya menampilkan gambar statis—sebagaimana lumrahnya televisi yang antenanya tak mampu menangkap sinyal.

Alissa melihat bahwa dirinya tak sendirian di ruangan itu. Ada seorang siswa laki-laki dari kelas sebelahnya—ia diikat dan didudukkan di depan salah satu televisi. Siswa itu menjerit ketakutan. Entah apa tayangan yang dilihatnya di televisi itu sehingga ia menjadi demikian histeris.

Namun, sesuatu yang sangat aneh terjadi sesaat setelah itu. Siswa itu kejang-kejang. Urat-urat di tangannya tampak menonjol. Kemudian urat itu mencuat keluar, merobek kulit yang menutupinya. Urat itu sudah bukan urat lagi, melainkan kabel tembaga. Seketika, kabel-kabel tembaga melilit sekujur tangan dan badannya.

Perubahan teraneh terjadi pada wajahnya: sepasang bola mata siswa itu menjadi putih sepenuhnya. Kemudian, matanya melebar dan terus membesar. Siswa itu menjerit kesakitan. Matanya kini telah melebar sedemikian rupa sehingga menutupi seluruh wajahnya, dan menyerupai bentuk sebuah layar kaca. Hingga akhirnya bingkai besi tumbuh mengelilingi wajah itu, lengkap dengan sepasang antena di kepala.

Siswa itu telah berubah menjadi salah satu dari makhluk-makhluk berkepala televisi itu. Alissa menjerit menyaksikan adegan transformasi tubuhnya yang begitu mengerikan.

Kali ini, makhluk-makhluk berkepala televisi mendudukkan paksa serta mengikat Alissa di depan televisi. Di balik gambar statis, samar-samar nampak sebuah tulisan besar pada tayangan televisi itu: Channel 404. Perlahan, gambar samar itu semakin jelas. Dalam sekuens yang cepat, Channel 404 menampilkan berbagai tayangan mengerikan: pembunuhan, pemerkosaan, bunuh diri masal, kekacauan, serta makhluk-makhluk mengerikan yang tak berasal dari dunia ini. Semua tayangan itu merasuk ke dalam otak Alissa, menimbulkan sensasi yang sangat menyakitkan seperti tusukan jarum yang menghunjam langsung ke urat sarafnya. Alissa bisa merasakan sesuatu yang aneh terjadi padanya—ia berteriak sekeras-kerasnya.

Di tengah gaung suara jeritannya, Channel 404 menayangkan serangkaian huruf dan simbol:

//DUNIAADALAHMEDIADANMEDIAADALAHDUNIABARU//

//DARAHDANDAGINGADALAHLEMAH//

//LOGAMDANMETALADALAHKUAT//TANGGALKANKEMANUSIAAN;

JADILAHKUATYANGTRANSENDENTAL//

::??@@!!CH. 404::??@@!!

 

Malang, 29092021

#LintasGenre