Toilet Sebelah

www.google.com

Pagi ini seperti biasanya aku berangkat ke sekolah, memakai baju putih abu-abu ku dengan hijab putih yang sudah rapi terpakai di kepalaku. Berjalan keluar dan menaiki motor ayah yang siap meluncur kapan saja. 

"Ayah, ayo cepat. Rey akan terlambat." teriakku ke ayah yang masih sibuk mengemas tas kerjanya.

"Sebentar, Nak." balasnya sedikit teriak padaku. 

Tidak lama kemudian, Ayah menghampiriku dan naik di sepedanya. Ayah memakai helmnya lalu menyalakan motornya. Ku lihat beberapa anak-anak SMP berjalan menuju ke gerbang sekolah yang kebetulan dekat dengan rumahku. Aku tersenyum hangat saat melihat mereka. Di usia mereka, beban yang di dapat mungkin hanya saat terjatuh ataupun tersandung batu. Bukan seperti ku yang sudah SMK ini, beban ku sangat banyak dan lupa akan hal-hal kecil yang ku lakukan. 

Ayah mulai meluncur ke jalanan yang lurus, di tikungan awal aku melihat seorang gadis yang berpakaian sama denganku. Dia tersenyum melihatku, dari logo pinnya dia seperti junior di SMK ku. Tapi pandanganku kembali terabaikan sesaat melihat sebuah kedai berwarna biru yang memanjakan mataku. 

"Itu kedai baru kah, Ayah?" ucapku ke ayah yang fokus ke jalan.

"Ayah denger gitu."

"Aku harus kesana sama temen-temen nanti."

"Kamu ini kalau soal makanan nomor satu." 

"Harus dong, Ayah."

Tidak butuh waktu lama, aku sampai di depan gerbang SMK ku. Ayah memberikanku uang saku, ku terima uang itu dengan senyuman ku. Aku berjalan masuk ke SMK dengan salah satu temanku yang baru datang bersama dengan mamanya. Kami berjalan memasuki lapangan utama yang sudah banyak anak laki-laki bermain bola. Masih pagi memang, tapi di sekolah kami sang kapten sepak bola selalu melakukan rutinitas seperti ini yang di hitung satu minggu bisa empat kali bermain di pagi hari. 

"Rey, kamu tidak ikut?" teriak sang kapten sepak bola yang menjadi wasit.

"Tidak, malas banget aku."

Aku memang salah satu dari pemain sepak bola laki-laki, walau fisikku terlihat masih perempuan. Bisa di bilang kalau aku di anggap tomboy, dari teman-teman perempuanku yang lain. Hanya diriku yang masih sangat memperhatikan fisik yang kuat, bela diri dan beberapa kegiatan yang biasanya di lakukan oleh laki-laki. Ketiga teman perempuanku sangat feminim bahkan ada yang suka menulis cerita-cerita horor yang di jadikannya sebagai novel.

**

Saat di kelas, kami berempat membicarakan sesuatu yang lucu dan beberapa kali tertawa terbahak. Tiba-tiba perutku terasa mules dan ingin sekali membuang air besar. Aku beranjak berlari keluar kelas, ketiga temanku yang sudha paham dengan rutinitasku ini hanya diam saat aku berlari keluar. 

Aku pergi ketoilet guru yang berada dekat di samping kelas, toilet ini memang sangat bersih dan hanya beberapa orang yang memakainya. Diriku mengeluh saat pintu terkunci rapat, karena perut sudah tidak bisa untuk di tahan. Aku berlari menuruni tangga dan sekencang mungkin berlari ke toilet yang belum jadi di belakang gedung. Hawa dingin menyelimuti sekitaran lorong toilet, walau ada beberapa anak-anak cowok yang bersembunyi untuk sekedar menghindari razia merokok. 

Aku langsung duduk di toilet duduk yang tersedia, benar-benar lega saat sudah terbuang. Rasanya setangah dari perutku keluar semua. Sedetik kemudian, ada seseorang yang mengetuk pembatas toilet di sebelahku. Dia seperti mempermainkan pembatas itu sebagai ketukan permainan. Kulihat memang ada kaki yang menginjak sepatu. 

"Hey, jangan mempermainkan pembatasnya. Nanti roboh." teriakku dengan tawa lirih. Bahkan orang yang ada di toilet sebelahku ini hanya diam dan mulai berhenti mengetuk pembatas toilet. 

Terdengar dia membuka pintu toilet dan keluar, membiarkan air mengalir di timba begitu saja. 

"Oi, kran nya masih nyala tuh. Matiin kenapa?" ucapku masih diabaikan oleh orang itu. 

Saat aku selesai melakukan aktifitas di toilet, aku mulai keluar dan melirik ke toilet sebelah yang terkunci rapat. Seorang gadis berdiri di depan cermin toilet, dia membasuh tangannya dengan tatapan kosong melihat ke cermin. Wajahnya sedikit pucat dan tidak berekspresi. Aku ikut mencuci tanganku di kran sebelahnya, tercium bau parfum yang sangat wangi dari gadis di sampingku. Jika di perhatikan, aku pernah melihatnya di jalan tikungan saat menuju sekolah tadi. 

"Kamu yang memakai toilet sebelah ya? Matikan dong kranya, hemat air." ucap ku sedikit ketus dan keras. Dia hanya menggelang pelan dan kembali masuk ke toilet yang krannya masih hidup. Dia menutup pelan pintu itu dan terdengar kran sudah tidak lagi menyala.

Aku keluar dan membuang tisu di dekat anak laki-laki yang sedang nongkrong untuk merokok. 

"Kalian itu disini mau malakin anak perempuan ya?" ucapku berkacak pinggang.

"Kamu tadi berbicara sama siapa sampai berteriak-teriak gitu?" ucap salah satu teman yang ikut eskul ku.

"Hahh? Kalian buta ya, kan ada aku dan seorang gadis junior yang memakai toilet ini." ucap ku membuat para laki-laki itu saling tatap penasaran.

"Kamu memakai toilet mana, Rey?" ucap salah satu laki-laki yang lainnya.

"Di sebelah toilet pintu warna merah, dekat cermin." 

"Ya sudahlah, aku mau kembali ke kelas dulu."

**

"Rey, rey.." suara Kaila membangunkanku.

"Reyna..." suara ayah ku yang terdengar gemetar. 

Tercium aroma minyak kayu putih yang penuh di hidungku, ku buka mata. Terlihat Ayah yang khawatir, Kaila, dan sang kapten bola yang mengerumuniku. Aku duduk perlahan di bantu oleh ayah ku, yang masih memakai jaket nya. 

"Ayah kenapa masih belum berangkat kerja?" ucapku melihat Ayah.

"Bagaimana Ayah bisa meninggalkan kamu yang tergeletak pingsan begini."

"Bukannya tadi aku sudah di kelas sama Kaila ya?"

"Saat aku datang saja, kamu sudah di kerumuni banyak orang kok." ucap Kaila di sampingku. 

Aku memegang kepalaku dan melihat ke arah toilet belakang yang terlihat dari lapangan utama. Aku melihat gadis yang ku lihat, berdiri dengan senyuman sinisnya padaku. 

"Kamu tadi berteriak dan berlari ke toilet belakang gedung, ada apa disana?" ucap guru Agama yang bertanya padaku.

"Aku hanya melihat gadis kecil yang memakai pin adik kelas di sana." ucapku.

"Apa kamu sebelumnya bertemu dengannya?" ucap Kaila.

"Aku sempat bertatapan di jalan, dengannya."

Saat semua orang mendengar penjelasanku, aku baru tahu. Kalau gadis yang aku temui itu sudah tiada. Dia yang sering memakai toilet itu untuk beraktifitas apapun, dia juga sering membersihkan toilet. Namun sampai akhirnya, dia tiada karena pacarnya yang membunuhnya saat berjalan pulang. Pacarnya itu membunuhnya karena gadis itu memiliki sebuah rahasia yang tidak ingin di sebarkan. Sebab itu, gadis itu di bunuh dan salah satu benda kesayangannya yang hari itu ketinggalan di toilet, menjadikan toilet itu di tunggu oleh gadis baik itu. 

Dia meninggal 3 tahun yang lalu, dia meninggal saat dia masih duduk di kelas 11. Sebab itulah dia masih sangat muda sudah meninggalkan dunia yang seharusnya bisa dia lihat bersama orang tuanya. Dari cerita yang aku sampaikan ke semua orang, guru agama ku menyimpulkan. Jika ada orang yang iseng atau sengaja membiarkan kran dan membuat berisik di toilet itu. Jadi, gadis itu berpesan lewat Rey untuk memberitahukan. 

Semenjak hari itu, semua guru sepakat untuk menjadikan toilet itu temat yang bersih dan bebas untuk para siswa kesana. Namun, kebisingan dan tindakan yang kotor harus tetap terpantau dalam rekaman cctv di tiap lorong toilet. 

Sejak hari itu juga, aku tidak pernah lagi melihat gadis penungu toilet sebelah itu di tikungan. Mungkin dia sudah sangat nyaman menunggu di toilet itu. 

**