Kalung Merah Ver.2

Kalung Merah Ver2

Apakah hari ini aku akan bermimpi yang sama lagi? Tidakkah satu malam ku menjadi sangat indah tanpa mimpi yang sering menghantuiku ini. Entah kenapa setiap kali memakai kalung ini, selalu saja ada mimpi itu dan bayang-bayang seseorang yang seakan mengikutiku. 

Seakan aku merasakan apa yang terjadi di dalam mimpi itu, walau yang memakai kalung itu bukanlah aku. Hanya saja, aku mendengar seseorang memanggil nama gadis di dalam mimpiku dengan nama yang sama denganku. Nama Nisa. Entah kenapa, aku pun juga menatap seseorang yang memanggil 'Nisa' dalam mimpiku. 

Aku memang tidak ingin memikirkan lebihy panjang masalah ini. Tapi, sudah satu minggu semenjak kalung ini aku simpan. Banyak hal yang aku temukan, mimpikan dan rasakan. 

"Nisa, apakah kau akan melamun terus menerus seperti itu?" ucap temanku yang berteriak di pintu keluar kantin.

Lamunanku menghilang saat temanku berteriak. Diriku seperti di bangunkan dari lamunan yang panjang. Tanpa berpikir panjang, diriku beranjak untuk menghampiri temanku yang sudah menunggu.

"Kamu ada apa sih?"

"Tidak ada."

"Jangan bohong"

"Iya, aku sedang memikirkan sebuah kalung yang setiap kali aku pakai."

"Kalung apa?"

"Kalung yang di temukan Jono di gudang ku."

"Coba lihat."

Kutunjukan kalung merah berbentuk love ke temanku ini. Raut wajahnya langsung berubah dan dia langsung mengusap kedua matanya dengan air minum yang di bawanya.

"Ada apa?" tanyaku panik melihat temanku.

"Mungkinkah kamu itu pewaris dari kalung ini."

"Maksud kamu apa, aku tidak paham?"

"Ayo kita ke perpustakaan, akan aku perlihatkan padamu." ucap temanku menarik tanganku untuk mengikutinya ke perpustakaan kampus.

Setiba di perpustakaan, Lalia temanku langsung memasuki gudang dan mencari sebuah arsip di tumpukan buku-buku besar. Aku mencoba untuk membantunya, Lalia langsung menolaknya dan buru-buru mencari sebuah arsip yang terus menerus dirinya katakan. Saat arsip itu di temukan, Lalia menarik tanganku kembali untuk duduk di dekat jendela. Aku menerima arsip yang di berikan Lalia.

"Aku pergi dulu, soalnya masih ada kelas."

"Kamu baca saja disini, aku nitip tasbih ini padamu." lanjut Lalia memberikan tasbihnya padaku.

Tanpa berpikir panjang aku membuka arsip yang berdebu itu dengan sangat perlahan, karena beberapa kertasnya sangat rapuh jika tidak berhati-hati. 

***

Terlihat Lalia membangunkanku untuk mengemas barang-barangku yang berantakan di tempat tenda yang di sediakan panitia untuk berteduh dari hujan untuk sementara. Lalia banyak diam dari biasanya, Lalia tetap fokus dengan ponselnya walau di sekitarnya banyak teman dan Nisa yang siap untuk mendengarkannya berbicara. Suasana di desa saat KKN hari itu, sangatlah hening. Memang banyak orang dan warga desa yang sedang melihat ku, Lalia, Jono dan Rafael sang ketua yang sedang keliling untuk membagikan bingkisan dan memantau desa. Namun, keadaan hening seperti ini tidak biasanya terjadi. 

"Nisa, kamu kenapa?" ucap Rafael yang mengejutkanku.

"Tidak ada, apakah warga disini memang tatapan seperti itu ya?"

"Mungkin mereka asing dengan kedatangan kita." ucap Jono memakai earphonenya.

"Tenang saja, kita akan baik-baik saja kok beberapa hari ke depan." ucap sang ketua yang membuatku sangat nyaman dan tenang. 

Aku membalasnya dengan senyuman. Lalu, meneruskan memantau pedesaan, memeriksa beberapa tulisan dan ukiran yang ada di pohon. Ku usap tanganku ke salah satu pohon yang memberikan petunjuk merah masuk ke dalam hutan. Walau sedikit ragu, aku hanya menengok ke arah jalan hutan yang sedikit gelap dan medan jalan yang penuh dengan batu. Ku hiraukan jalan itu dan kembali berjalan bersama teman-temanku. Tidak sengaja, mata ku tertuju dengan seorang gadis yang duduk bersila di sebuah batu besar dekat pintu masuk hutan. Gadis itu berambut panjang memakai pakaian biru yang sedikit lusuh, wajahnya tertutup dengan rambut panjangnya. Ku dekati dia dengan hati-hati.

"Hai, apakah kamu tidur?" ucapku pelan, perlahan dia menggerakkan kepalanya menatapku dengan senyuman manisnya.

"Kakak kenapa ada disini?" ucapnya santai.

"Kakak sedang mengerjakan sebuah pekerjaan dari kampus. Sebab itu, kakak bisa ada disini." 

"Kamu kenapa ada di atas batu itu, nanti di cariin mama kamu loh."

"Seharusnya kakak tidak ada disini." ucap gadis itu membuatku tertegun dan diam. 

Ku alihkan pandanganku ke teman-temanku yang sedang mengobrol dengan para warga yang sedang santai di pos ronda. Lalia menatapku dari kejauhan dengan sangat sinis, raut wajahnya seperti memberikanku kode untuk membuka tanganku. Ku alihkan pandanganku ke kedua tanganku yang menggenggam erat. 

"Kakak, tinggalkan apapun yang ada di balik genggaman tangan kanan kakak itu ya?" ucap gadis itu padaku.

"Ditinggalkan kemana?" jawabku melihat gadis itu yang berdiri.

"Sumber air yang ada di tempat KKN kakak." ucap nya berjalan menuju dalam hutan.

Ku buka kedua tanganku. Mata ku terbelalak setelah melihat kedua tanganku yang berisi tangan kanan kalung merah dan tangan kiri ku adalah tasbih milik Lalia. Ku tatap Lalia yang bersama ketua dan Jono di depan sana. Mereka mengulurkan tangannya padaku, untuk kembali. 

"Jangan raih tangan mereka." suara gadis yang berjalan ke tengah hutan itu terngiang-ngiang di kepalaku.

Ku genggam kedua barang di tanganku itu. Aku mulai menangis dan terduduk di tanah. Beberapa orang berlalu lalang di depanku dengan senyuman seram mereka. Satu gadis dengan memakai gaun putih menghampiriku yang terduduk di tanah. 

"Teriakan nama mu." suara gadis itu sangat lembut dengan tetesan air merah yang berada di kakiku.

***

"Nisa Orlem..." suara Lalia yang meneriakiku.

Ku tatap Lalia di sampingku yang sudah menangis, Jono dan Rafael dengan dosen Agama pun ikut ke mengerumbuniku. 

"Kamu baik-baik saja, Nisa?" ucap dosen Agama itu.

"Apa yang terjadi denganku?"

"Kamu tertidur begitu lama, kamu juga mengigau tidak jelas, kamu pun juga ingin di panggil namamu."

"Aku? bukankah aku.." ucapku terdiam saat melihat arsip yang ada di depanku. 

Arsip dengan gambar seorang gadis yang memeluk sesuatu dengan mata yang menangis darah, dengan baju putih dan rambut panjangnya. Ku pegang kepalaku yang terasa berat, kulihat tanganku masih memegang tasbih dan kalung merahku. Lalia dan Jono membantuku untuk keluar perpustakaan, mengantarkan ku pulang. Ku ceritakan semua yang ada di mimpiku ke Lalia dan Jono, mereka pun terdiam dengan ekspresi cemas. 

Setalah mimpi itu, aku meletakkan kalung merah itu di tempat yang seharusnya. Kalung itu terbawa arus, aku tersenyum dan berdoa untuk orang-orang yang menemukan kalung itu. Semoga hal yang aku alami atau yang di alami di arsip itu tidak ada lagi. 

**

Bersambung..