Prapti Pergi ke Malaysia

Ilustrasi/Ist

Badan kapal bermesin jet oleng ke kiri. Sejurus kemudian, secara mendadak berbalik ke kanan. Para penumpang yang sudah terlelap sontak terlempar dari tempat duduknya. Tubuh mereka menggelinding di lantai seirama gerakan kapal.

Tangan Prapti menggapai kian kemari mencari pegangan. Beruntung di dekatnya ada tiang penyangga langit-langit. Dipeluknya tiang itu dengan segenap daya. Mulutnya tanpa henti menyebut kebesaran Tuhan. Maut seakan sudah hadir di depan mata. Beberapa penumpang berteriak-teriak histeris. Sampai kemudian laju kapal kembali tenang suara istigfar masih terdengar diselingi sendawa orang-orang yang telah selesai memuntahkan isi perut dalam kantong plastik.

Setelah berhasil menenangkan diri, tertatih Prapti kembali ke tempat duduknya. Dia rebah di situ. Kepalanya terasa pening. Mungkin tadi terbentur dinding. Ia meraba dan menemukan benjolan kecil di dekat pelipis. Perlahan ia menghela nafas panjang dan mengeluarkannya dengan hati-hati.

Dua orang yang duduk di sebelah kanannya masih sibuk mengurusi muntahan, membuat perut Prapti mual. Ia memiringkan kepalanya ke kiri, menghadap ke jendela. Di kejauhan sana bulan tampak separuh dengan sinarnya yang pucat, jatuh berpendar di atas permukaan air laut.

Pikiran Prapti mulai melayang. Batinnya mendadak tercekat. Sesak dan menyakitkan. Sebersit kerinduan mengalir lembut memenuhi rongga dada. Ia teringat kampungnya, teringat Emak, teringat Fitri ….

Ah, sedang apa anak itu sekarang? Mungkin sedang ngompol, pikir Prapti. Atau sedang menangis mencari tetek ibunya? Tanpa sadar tangan Prapti meremas selimut. Air matanya mengalir. Semakin lama kian deras. Tubunya bergetar. Ia menggigit bibir untuk menahan jerit yang sudah menggumpal di ujung lidah.

Kini layar memorinya dipenuhi gambar Warno, laki-laki bekas kakak kelasnya di sekolah menengah, yang sudah tiga tahun menjadi suaminya. Suami? Hati Prapti mengeluh. Mungkin pada tahun pertama laki-laki itu memang suami dalam arti sebenarnya. Tetapi selepas itu, sifat Warno berubah total. Terutama setelah dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja karena dituduh ikut mendalangi aksi mogok menuntut kenaikan upah. Prapti merasa hanya dijadikan tumpuan kemarahan.

Warno menghabiskan hari-harinya dengan lamunan sambil menghisap batang-batang nikotin. Ketika Prapti mengingatkan untuk mencari pekerjaan lagi, yang didapat justru semburan kata-kata pedas dan menyakitkan.

“Bukan aku tidak mau bekerja. Aku hanya tidak ingin diperlakukan seperti sapi perahan!”

“Tapi Fitri butuh makan, Mas! Aku sudah malu setiap hari menggerogoti Emak. Kadang untuk makan mereka saja masih kurang,” sahut Prapti ketika mereka bertengkar untuk kesekian kalinya.

“Mengapa tidak kamu cari suami yang kaya, he? Yang punya jabatan empuk dan gaji besar!”

“Tidak usah mengalihkan persoalan. Aku hanya ingin Mas bekerja untuk menghidupi anak kita!”

“Aku sudah berusaha ….”

“Dengan cara melamun dan berkhayal setiap hari?”

Plak! Tangan Warno melayang dan mendarat tepat di pipi kiri Prapti. “Kalau kamu sudah bosan hidup begini, mengapa bukan kamu saja yang mencari pekerjaan?”

Tamparan itu mungkin tidak terlalu keras tetapi sudah cukup bagi Prapti utuk segera berkemas dan membawa anaknya angkat kaki dari rumah yang ia bangun setahap demi setahap - pulang ke  rumah Emak. Hal yang tidak pernah diimpikan ketika dulu menerima pinangan Warno.

**

Hari berangsur terang ketika kapal merapat di pelabuhan Tanjung Pinang. Sulis, salah seorang rekannya yang berasal dari Flores, mengajaknya turun. Sejak dari pelabuhan Tanjung Priok dua hari lalu, kapal itu hanya singgah dua kali: di Tanjung Pandan dan Pangkalan Balan. Benar-benar perjalanan yang panjang dan melelahkan.

“Kita akan ke mana?” tanya Ningsih dengan wajah sayu. Suaranya nyaris tak terdengar.

“Kata Bu Ina, kita akan ke Batam. Ganti kapal,” sahut Sulis.

Prapti menduga Ningsih sedang teringat anaknya. Dalam rombongan itu hanya ia dan Ningsih yang berasal dari Cilacap. Selebihnya dari Nusa Tenggara, Ciamis, Blitar, Purwakarta, Banyuwangi dan Gunung Kidul. Semuanya perempuan.

Kira-kira satu minggu mereka dikumpulkan di Jakarta, sebelum diberangkatkan entah ke mana. Prapti, dan juga yang lain, tidak tahu pasti akan dibawa ke mana. Bu Ina yang bertugas sebagai pengawal selalu menampakan muka tegang sehingga mereka tidak berani sekedar untuk menyapa.

Calo tenaga kerja yang datang ke rumah mengatakan ia akan dipekerjakan sebagai pelayan toko di Malaysia. Dengan menjual barang-barang yang masih layak ditambah utang sana-sini, Prapti nekad berangkat.

Sebenarnya Prapti sudah sering mendengar tentang bahayanya menjadi tenaga kerja ilegal. Tetapi karena prosedur untuk menjadi TKW legal sangat berbelit dan membutuhkan ongkos yang begitu besar tanpa bisa dicicil, padahal kebutuhannya tidak dapat diajak bersabar, maka apa pun resikonya ia sudah siap menghadapi.

Namun ketika di Jakarta diambil alih oleh penyalur lain, bayangan keberhasilan di Malaysia langsung lenyap. Mengurungkan niat jelas tidak mungkin. KTP, ijasah, surat nikah dan semua biaya perjalanan terlanjur ia serahkan kepala calo sejak di Cilacap.

“Sebenarnya kita akan dibawa ke mana, Lis?”

“Malaysia.”

“Kamu yakin?” desak Prapti.

Sulis tidak menjawab. Keraguan di wajahnya sulit disembunyikan. Sulis berdiri lalu segera masuk ke perahu yang baru datang. Prapti mengikuti. Ia bersirobok pandang dengan Ibu Ina yang berdiri di pinggir dermaga.

“Bu Ina tidak ikut dengan kami?” Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Prapti. Dadanya mendadak berdesir melihat sorot mata Bu Ina berubah dingin.

“Tugasku hanya sampai di sini. Nanti akan ada dua orang yang akan mengawal kalian sampai ke Malaysia.”

Tergesa Bu Ina berbalik dan sesaat kemudian tubuhnya menghilang di balik jajaran rumah panggung.

**

Rumah itu terlalu sempit diisi tiga puluh sembilan orang. Hanya ada dua kamar tanpa daun pintu. Sisanya merupakan ruangan terbuka dengan kasur busa lusuh memenuhi lantai. Pintu depan dan belakang terkunci dari luar. Sebelum pergi, dua orang laki-laki yang menggantikan posisi Bu Ina hanya berpesan supaya mereka beristirahat di sini sambil menunggu kapal yang akan membawa ke Malaysia.

Prapti merebahkan diri di sudut ruangan, dekat tangga menuju lantai atas. Ia mencoba untuk tidur. Namun sampai beberapa lama matanya belum juga terpejam. Perutnya terasa perih. Lapar. Ia baru sadar sejak pagi perutnya belum terisi apa-apa.

Setelah satu jam perjalanan dari Tanjung Pinang ke Pelabuhan Punggur, semuanya dilakukan dengan tergesa. Mereka dibawa ke tempat penginapan dengan taksi carteran. Dari beberapa papan penunjuk jalan yang sempat dibaca, Prapti tahu sekarang ia sudah berada di Batam. Tepatnya di Kampung Batu Merah.

Prapti mengedarkan tatapannya ke wajah teman-temannya. Tidak ada kegairahan di sana. Yang ada hanya wajah-wajah lusuh dan bisu. Cemas tanpa kepastian. Mereka tampak pasrah dalam ketidakberdayaan menghadapi kenyataan pahit yang tidak mereka duga sebelumnya.

Perlahan Prapti bangun lalu berjalan ke belakang mencari kamar kecil. Setelah melewati ruang dapur yang berantakan, piring dan gelas kotor berserakan di lantai, ia menemukan kamar kecil yang tertutup.

Bau sengak langsung menerobos lubang hidungnya ketika ia membuka pintu kamar kecil itu. Tidak ada air setetes air pun. Krannya mati. Pertahanan Prapti bobol juga. Ia muntah-muntah sebelum akhirnya jatuh pingsan!

**

“Aku…aku diperkosa!” kata Ningsih terbata-bata. Tubuhnya terguncang. Matanya sembab. Tangis sejak semalam tidak juga mereda.

Prapti hanya bisa memeluk sambil mencoba menenangkan meski jiwanya sendiri diliputi perasaan tidak menentu. Tiga hari sudah mereka disekap di rumah itu. Berhadapan dengan kejadian demi kejadian yang menghantam tanpa kenal belas kasihan.

Tersendat-sendat Ningsih menceritakan peristiwa yang dialami. Semalam, sekitar pukul dua belas, dia dipanggil ke ruang atas. Ada sedikit urusan administrasi yang harus diselesaikan, ujar si pemanggil. Dia pun datang tanpa curiga. Ternyata dua orang yang menggantikan Bu Ina meminta biaya transportasi kapal ke Malaysia. Saat berbicara, mulutnya bau alkohol.

Ningsih menolak karena sudah melunasi semua biaya perjalanan saat masih di Cilacap. Tapi mereka tidak mau terima alasannya dan langsung melempar tubuh Ningsih ke lantai. Dengan biadab mereka memperkosanya; bergantian!

Prapti tercengung. Bulu kuduknya meremang. Bayangan peristiwa itu juga akan menimpa dirinya mulai mengusik. Otaknya dipaksa bekerja keras untuk mencari kemungkinan melarikan diri. Tetapi sampai lelah ia tidak menemukan celah itu. Seandainya bisa pun, ke mana akan pergi? Dia tidak mempunyai uang untuk pulang.

Prapti setengah bersorak ketika doa yang dilantunkan selama dua minggu disertai derai air mata, terkabulkan. Salah satu penjaga yang memiliki tato di lengan, memberitahu kapal yang akan membawa mereka ke Malaysia telah tiba. Semangat Prapti tumbuh kembali. Ia tetap bersyukur meski harus berjalan kaki menyusuri pantai di tengah gelap malam. Peristiwa yang menimpa Ningsih dan mungkin juga beberapa rekan lainnya, tidak ia alami.

Ketika tiba di ujung pantai, sebuah kapal nelayan tanpa atap dan tempat duduk sudah menunggu. Prapti langsung naik dan duduk di lantai kapal. Meski kebingungan, Prapti tetap naik. Mungkin nanti akan ganti kapal lagi. Tidak mungkin ke Malaysia menggunakan kapal ini, batinnya lirih.

“Hai, jangan duduk begitu. Berbaring semua!”

Baring? Prapti merasa salah dengar. Bagaimana mungkin berbaring di lantai kapal yang basah dan tanpa alas sama sekali? Tetapi ketika pengawal mengulangi perintahnya, ia tidak bisa menolak. Sialnya, mereka diangkut sekali jalan. Praktis mereka tidak beda jauh dari ikan dalam keranjang. Saling tindih lantas ditutup dengan terpal!

**

“Sebuah kapal nelayan berisi puluhan calon tenaga kerja wanita ilegal asal Indonesia terbalik di perairan Malaysia. Sebagian dapat diselamatkan oleh kapal patroli polisi laut Diraja Malaysia, sementara puluhan lainnya masih hilang .....”  

Suara penyiar wanita berambut cepak dari salah satu stasiun televisi swasta itu terdengar selintas pada suatu pagi. Sebuah jingle iklan makanan instan bergema lebih nyaring dengan setting kemakmuran di tengah hamparan perkebunan cabai. Entah di mana mereka mengambil gambar itu. Tentu  bukan di sini. 

Cilacap, 11 Maret 1996