Gong Terakhir

Ilustrasi/Ist

Kilap daun-daun kelapa ditimpa sinar rembulan menghiasi malam yang lengang. Hanya sesekali terdengar suara burung hantu di kejauhan. Lalu kembali sunyi. Sepertinya jangkrik sudah kehabisan syair. Dan sabda malam telah terbungkus bisu di dinding-dinding langit. Tidak ada keindahan. Tidak ada kedamaian. Sepi yang panjang tinggal menyisakan siksa. Raut wajah Kirto jelas menggambarkan semua itu.

Di sudut ruang depan rumahnya, bonang diam dalam kegetiran. Sementar kendang hanya terpaku. Kulit di salah satu sisinya sudah koyak. Tepukan tangan Sarkam terakhir, dua tahun lalu, menyempurnakan koyakan menjadi dua bagian. Mengakhiri harapan demi harapan yang coba mereka bangun. Toh, kenyataan tidak begitu saja berganti ketika dibawa tidur. Hanya terlupa sesaat dan esoknya kebutuhan yang lebih besar menuntut dipenuhi.

Kirto menghembuskan asap rokok kemenyannya. Sesaat bongkahan kecil asap itu bermain di depan wajah sebelum kemudian hilang. Menyatu dalam kebisuan. Terbawa angin entah ke mana. Mungkin mengikuti lamunan Kirto, ketika ruangan ini tidak pernah sepi oleh hentakan kaki Kampi dan Ratih sambil melenggokan badannya. Ditingkahi joke-joke saru dari mulut Sarkam ketika memainkan kendang. Anak itu memang latah tapi menghibur, guman Kirto.

Agak sulit bagi Kirto untuk menyusun kembali ingatannya secara kronologis. Yang pasti semua berawal dari musim kemarau panjang. Lalu diikuti kenaikan harga-harga barang kebutuhan sehari-hari. Kampi dan Ratih memutuskan untuk pergi ke Arab Saudi. Mengadu nasib menjadi TKW. Seminggu kemudian Sarkan juga pamit mengadu untung di Jakarta.

Kirto tidak bisa mencegah kepergian mereka. Sarkam berhak pergi mencari pekerjaan karena di sini sudah tidak ada lagi yang membutuhkan tenaganya. Kirto sudah enam bulan lebih membiarkan sawahnya kerontang setelah mengalami dua kali gagal panen. Demikian juga juragan Denmis, salah seorang yang terpandang di desanya. Maka tidak salah ketika Sarkam begitu antusias menyambut ajakan temannya yang baru pulang dari Jakarta. Upah kuli batu di kota besar sama dengan gaji pegawai kecamatan, promosi temannya. Tapi Kirto yakin tanpa promosi pun Sarkam akan tetap pergi. Apa yang masih bisa diharapkan di sini?

Kirto kembali menyulut rokok yang baru selesai dilinting. Wajah keriputnya kian tenggelam dalam masa lalu. Ia merasa kampungnya semakin sepi.

“Jaman sudah berubah,” kata Agung ketika pulang lebaran kemarin. Meski sudah diwisuda sejak tahun lalu, anak bungsunya itu masih menganggur namun memilih tetap tinggal di kosan. Katanya sedang menunggu panggilan kerja. Tidak tahu kerja macam apa yang dicari. Kirto kurang jelas. Hanya saja sudah satu hektar sawahnya melayang untuk memuluskan lamaran kerjanya.

“Lengger sudah tidak ada lagi yang mau menonton apalagi menanggap,” Agung melanjutkan. “Mereka yang punya hajatan lebih suka menyewa video film.”

“Dari pada gamelan itu berkarat lebih baik dijual saja,” saran Tuti yang bersuami dokter. Padahal sewaktu kecil, Tuti yang paling sering tertidur di pangkuan Kirto sambil mendengarkan riuhnya bunyi bonang dan kendang.

“Dan uangnya bisa beli video,” Tari mendukung saran kakaknya.

Ya, jaman sudah berubah, Kirto mendesah. Kata-kata anak-anaknya sekarang menggelitik perasaannya. Secara halus mereka mengingatkan usianya yang sudah lama senja. Tinggal menunggu hitungan hari; pagi atau sore panggilanNya datang.

Kirto tersenyum getir. Mereka benar. Mereka pasti memikirkan kesepian bapaknya. Setelah paguyuban lenggernya bubar, rumah Kirto nyaris berubah menjadi kuburan tua. Kirto pun lebih banyak termenung di beranda. Memuaskan lamunannya seperti sekarang. Kadang Kirto mengenang istrinya yang sudah mendahului pulang ke haribaanNya. Tidak sempat melihat anak-anaknya mentas. Saat itu Kirto masih menjabat carik di desanya.

Tiba-tiba Kirto berdiri. Mondar-mandir di beranda itu sambil mengernyitkan dahi. Saran Tari kini menggugah hatinya. Beli video. Tidak perlu disewakan. Dulu ketika lengger yang dipimpinnya masih sering ditanggap, Kirto pun tidak pernah meminta bagian. Apalagi sekarang anak-anaknya sudah tidak membutuhkan biaya, kecuali Agung. Tapi masih bisa ditutup dengan sisa sawahnya. Gamelan juga tidak perlu dijual. Kirto masih menyimpan uang yang rencananya untuk memperbaiki gamelan jika Sarkam, Kampi dan Ratih pulang kampung. Tapi kapan mereka pulang? Sarkam hanya sekali pulang. Sedang Kampi dan Ratih tidak terdengar kabarnya. Orang tuanya pernah mengeluh tapi Kirto pun tidak punya solusi. Dia bahkan  berpikir, mungkin Kampi dan Ratih sudah seperti Agung, tidak mau lagi tinggal di kampung.

 

**

Senyum Kirto terlihat lagi menyambut pemutaran perdana video filmnya. Sebuah film nasional yang kasetnya dipinjam dari kota kecamatan. Beranda rumahnya kembali ramai. Bukan oleh suara gamelan atau joke-joke Sarkam tapi celoteh orang-orang yang menyaksikan film. Parlan, pemuda tanggung yang tidak lancar baca tulis, terpaku di sudut ruangan dan belum mau beranjak sebelum film habis. Pasti karena adegan-adegan romantis di film yang memaksanya. Kirto beberapa kali memergoki wajah Parlan menegang saat Inneke bercumbu di layar kaca.

Malamnya Kirto bisa tidur dengan nyenyak. Kebahagiaan yang sempat hilang kini sudah kembali. Ia begitu bahagia rumahnya dipenuhi warga lagi. Kirto merasa dirinya masih punya arti.

Kirto terbagun bersamaan dengan suara adzan dari langgar di seberang rumahnya. Dengan sigap Kirto mengambil air wudhu lalu bergabung dengan jemaah lainnya untuk menunaikan shalat Subuh.

Ketika hendak meninggalkan langgar, Kirto melihat banyak orang yang berkumpul di pinggir tegalan miliknya. Rasa ingin tahu mendorong Kirto mendekati kerumunan itu. Belum sempat bertanya, salah seorang dari mereka langsung menceritakan kejadian yang sedang mereka bicarakan.

“Ginah, anak Lik Trimo, dibunuh orang tadi malam. Mayatnya dibuang di sini!”

Kirto tersentak. Seumur-umur menjadi penghuni desa ini, baru sekarang ada pembunuhan. Dan tragisnya, mayatnya dibuang di tegalannya!

“Siapa yang membunuh?” tanpa sadar Kirto bertanya.

“Parlan!”

“Parlan?” Untuk kedua kalinya Kirto tersentak. Anak tidak tamat SD yang terkenal alim itu jadi pembunuh?

“Kata orang-orang yang ikut mengantarkan Parlan ke kantor polisi di kota, semalam sehabis nonton video Parlan langsung bertandang ke rumah Ginah, tunangannya. Kebetulan Lik Trimo sekeluarga sedang ke Wangon. Jadi Ginah sendirian di rumah. Parlan mengajak Ginah main gituan. Terang saja Ginah menolak. Wong mereka belum menikah. Tapi rupanya Parlan tersinggung ....”

Telinga Kirto mendadak terasa panas. Nafasnya memburu. Semua yang dilihat seperti berputar. Dengan langkah tertatih Kirto meninggalkan kerumunan. Batinnya tertekan seakan ingin meledak!

Cilacap, 24 Mei 1993