Misteri Bergabungnya Sumedang Larang ke Mataram

Ilustrasi/Ist

Kerajaan Sumedang Larang dikenal sebagai penerus Kerajaan Pakuan Pajajaran. Sejarah mencatat, setelah Kerajaan pajajaran Runtuh oleh serbuan Kesultanan Banten pada tahun 1579, Prabu Geusan Ulun memproklamirkan diri sebagai penerusnya. Namun di mana kekuasaan Prabu Aria Suriadiwangsa, Kerjaaan Sumedang Larang pada tahun 1620 menyatakan diri bergabung dengan Kerajaan Mataran dan statusnya turun menjadi kabupaten.

Mengapa hal itu terjadi?

Untuk mengetahuinya secara runut, ada baiknya mengetahui sejarah Sumedang Larang. Kehadiran kerajaan di tatar Sunda ini bermula ketika Resi Agung Wretikandayun dari Kerajaan Sunda babat alas di daerah yang kini bernama Sumedang.

Untuk melegitimasi daerah itu, anak Resi Wretikandayun yang bernama Aji Putih kemudian mendirikan Kerajaan Tembong Agung.  Pada tahun 721, Kerajaan Temboing Agung berganti nama menjadi Himbar Buana di masa kepemimpinan Prabu Tajimalela. Namun tidak lama setelahnya, diubah menjadi Sumedang Larang dan tetap menjadi bawahan Kerajaan Sunda.

Kerajaan Sumedanag Larang berhubungan baik dengan Kesultanan Cirebon ketika dipimpin Pangeran Santri. Sebenarnya Pangeran Santri keturunan Sunan Gunung Jati yang berkuasa di Cirebon. Dia menjadi penguasa Sumedang Larang setelah menikahi Ratu Pucuk Umun, pewaris Kerajaan Sumedang Larang.

Namun hubungan dengan Cirebon rusak ketika terjadi peristiwa Harisbaya. Ada banyak versi terkait hubungan Geusan Ulun dengan Ratu Harisbaya. Kita memilih versi di mana ketika Geusan Ulun yang kala itu masih berstatus putra mahkota, menuntut ilmu ke pusat Kerajaan Pajang di daerah Kartosuro di Jawa Tengah.

Saat hendak pulang ke Sumedang, Geusan Ulun mampir ke Keraton Cirebon, tempat kakeknya. Saat itulah dia bertemu Ratu Harisbaya, istri kedua Panembahan Ratu. Keduanya jatuh cinta dan atas permintaan Harisbaya, Geusan Ulun melarikannya ke Sumedang.

Panembahan Ratu yang merasa terhina, lantas mengirim ribuan pasukan untuk  menyerang Sumedang Larang. Terjadilah peperangan yang menewaskan ribuan prajurit. Akhirnya kedua kerajaan berdamai setelah Sumedang Larang menyerahkan wilayah perbatasan (kini Majalengka) sebagai syarat Panembahan Ratu menjatuhkan talak atau menceraikan Ratu Harisbaya.

Setelah Pangeran Santri wafat, tampuk kerajaan diserahkan kepada Geusan Ulun. Penobatannya disahkan oleh Raja Pajajaran yakni Prabu Suryakancana atau Raga Mulya tahun 1578.

Namun baru setahun berkuasa, Kerajaan Pajajaran runtuh oleh serbuan Kesultanan Banten. Sejumlah punggawa Kerajaan Pajajaran sempat memindah sejumlah pusaka ke Sumedang Larang sehingga kemudian dijadikan dasar bagi Gesusan Ulun untuk memproklamirkan Sumedang Larang sebagai penerus Kerajaan Pajajaran.

Setelah Prabu Geusan Ulun wafat tahun 1619, kekuasaan Sumedang Larang dipegang oleh Raden Suriadiwangsa, putra Ratu Pucuk Ulum dengan Panembahan Ratu. Di masa inilah Sumedang Larang meleburkan diri dengan Kesultanan Mataram Islam yang dipimpin Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645) sebagai penerus Kesultanan Pajang yang runtuh pada 1587. Status Sumedang Larang pun turun dari kerajaan merdeka menjadi bawahan Mataram.

Mengapa Sumedang Larang tidak bergabung ke Kesultanan Cirebon? Bukankah Prabu Suriadiwangsa juga anak Penembahan Ratu?    

Alasan utamanya tentu saja faktor keamanan. Meski berstatus sebagai pewaris atau penerus Kerajaan Pajajaran, Sumedang Larang bukanlah kerajaan besar yang memiliki banyak prajurit dan pendekar hebat sekelas Jayaperkasa, mantan panglima perang Pajajaran yang bergabung ke  Sumedang Larang namun gugur saat serangan Cirebon dalam peristiwa Harisbaya.

Sialnya, dua tahun setelah Suriadiwangsa bertahta, Cirebon jatuh ke tangan Mataram. Ingat, Kesultanan Cirebon menjadi bagian dari Kerajaaan Mataram selama hampir satu abad (1613-1705).

Dengan demikian ada tiga kekuatan besar yang mengepung Sumedang Larang yakni Kesultanan Banten, Kesultanan Mataram dan VOC Belanda yang sudah berkuasa di Batavia dan mulai melebarkan kekuasaannya.

Jika tidak segera bergabung dengan kekuatan besar, Sumedang Larang sangat rentan dikuasai Banten, VOC maupun Mataram. Sebab saat itu Mataram juga sedang membutuhkan wilayah Priangan untuk melempangkan jalan menyerang VOC di Batavia.

Sementara untuk bergabung dengan Kesultanan Banten menjadi mustahil karena masih banyak mantan punggawa dan keturunan Kerajaan Pajajaran yang sakit hati atas penaklukan Banten.

Oleh karenanya bergabung Kerajaan Sumedang Larang ke Kerajaan Mataram menjadi pilihan paling logis meski memiliki konsekuensi statusnya sebagai kerajaan merdeka dihapus menjadi wilayah kabupaten.  Raden Suriadiwangsa berharap mendapat bantuan Mataram untuk menghadapi Banten maupun VOC.

Bagi Sultan Agung, ini keuntungan besar. Berserah dirinya Raden Suriadiwangsa berarti seluruh wilayah Priangan, ditambah Cirebon dan Karawang, dikuasai Mataram tanpa pertumpahan darah. Priangan adalah wilayah Sumedang Larang (Pajajaran) yang meliputi Sumedang, Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Cimahi, Bandung, Cianjur, Sukabumi, hingga Bogor.

Sejarah kemudian mencatat, Sultan Agung memanfaatkan wilayah Cirebon, Karawang dan Priangan sebagai basis pertahanan dan logistik untuk menyerang VOC. Banyak prajurit Cirebon maupun Sumedang Larang yang ikut dalam penyebuan tersebut.

Namun dua kali serangan besa-besaran yang dilancarkan Sultan Agung kandas meski berhasil membunuh Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen. Penyebab utamanya karena penyakit kolera dan kelaparan setelah banyak gudang logistiknya dibakar pasukan tidak dikenal.

Jadi demikian akhir keruntuhan Sumedang Larang. Selama satu abad lebih Kerajaan Sumedang berada di bawah kekuasaan Mataram. Setelah itu, tepatnya tahun 1706, wilayah Sumedang Larang dikuasai VOC Belanda, Inggris dan Jepang.

Di awal kemerdekaan Indonesia, tepatnya tahun 1949-1950, wilayah Sumedang sempat menjadi bagian dari wilayah Negara Pasundan.