Aku dan si Peri

Foto sumber dari Google

Aku membenci keramaian. Bagiku, suasana sunyi lebih menyenangkan. Karena itulah, aku lebih suka menyendiri. Di sekolah pun, tak ada seorang teman yang kumiliki. Bukan karena mereka tak mau berteman denganku, tetapi akulah yang memilih menjauh. Memiliki teman itu sungguh merepotkan.

Saat di rumah pun, aku lebih sering menghabiskan waktu di dalam kamar. Aku akan keluar kamar jika perutku terasa lapar saja. Setelah mengisi perut, aku akan kembali lagi ke ruangan favoritku itu.

Sering kali Ibu mengomel melihat kelakuanku. Namun, aku bersikap acuh tak acuh. Terserah Ibu mau bicara apa pun. Aku tetap dengan kebiasaanku, mengurung diri sembari membaca buku-buku cerita koleksiku. Buku yang kumiliki semuanya bercerita tentang kisah peri. Mereka tampak cantik dan unik.

Suasana sunyi, membuatku sering berkhayal. Seandainya, aku bisa bertemu dengan peri-peri yang ada dalam buku ceritaku tersebut. Pasti menyenangkan rasanya jika bisa berteman dengan mereka.

***

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Sudah kucoba untuk memejamkan mata, tetapi tak bisa tertidur juga. Aku sudah membolak-balik tubuhku ke kiri dan ke kanan. Lagi-lagi, mataku sulit terpejam. Aku pun memadamkan cahaya lampu kamar yang tadinya terang benderang. Ternyata, cahaya gelap terasa begitu nyaman.

Ketika hendak terlelap, telingaku mendengar suara-suara aneh. Meskipun suara tersebut hanya berupa bisikan-bisikan, aku merasa cukup terganggu. Aku segera menyalakan lampu. Seketika suara itu terhenti. Lalu, lampu kembali kupadamkan. Tidak berapa lama, suara itu kembali terdengar.

Karena penasaran, aku memutuskan mencari asal suara tersebut dalam kegelapan. Hanya cahaya dari ponsel yang kugunakan sebagai alat bantu penerangan.

Pertama-tama, aku mencari asal suara tersebut di bawah tempat tidur. Lalu, aku menuju meja belajar. Tidak ada apa pun di sana. Langkahku terhenti tepat di depan lemari pakaian yang terletak di sudut kamar. Aku menempelkan telingaku di dinding lemari. Benar, suara tersebut berasal dari sana.

Dengan perlahan, aku membuka pintu lemari. Aku mengintip dari pintu yang baru sedikit terbuka. Cahaya dari ponsel, sengaja kupadamkan. Betapa terkejutnya aku, saat menatap tiga makhluk kecil nan cantik mirip peri. Mereka tampak asyik bercerita sembari berbaring di atas tumpukan pakaianku.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" Pertanyaanku yang tiba-tiba, membuat tiga peri tersebut terkejut.

"Kimi mii tidiri."

"Hei, apa yang kamu katakan?" tanyaku lagi karena tak memahami ucapannya.

Salah satu peri, terbang mendekatiku. Lalu, dia mengayunkan tongkat kecilnya ke arah telingaku. Aku hanya terdiam melihat tingkahnya.

"Maafkan kami yang sudah datang ke sini tanpa permisi. Kami hanya ingin mencari tempat tidur yang nyaman. Tumpukan pakaianmu ini begitu harum dan nyaman. Karena itulah, kami datang ke sini. Apakah sekarang kamu bisa mengerti ucapanku?" Peri yang terbang mendekatiku tadi, menjelaskan sekaligus bertanya kepadaku.

"Oh, iya. Sekarang, aku mengerti maksud ucapanmu. Sungguh ajaib," ujarku takjub.

"Jadi, kami boleh, kan, tidur di sini?" tanya peri yang lain.

"Boleh saja. Tapi dengan satu syarat, besok bawa aku ke duniamu."

Mereka bertiga saling melempar pandang. Sudah lama aku menginginkan hal ini. Karena itulah, aku sangat berharap agar mereka menyetujui permintaanku.

"Bagaimana? Jangan khawatir, aku hanya ingin tahu saja, bukan untuk membuat keributan," jelasku.

Mereka kembali berbisik setelah mendengar ucapanku. Sepertinya ada kekhawatiran yang membuat mereka ragu. Namun, akhirnya salah satu dari peri tersebut mulai angkat bicara.

"Baiklah. Kami akan mengajakmu besok ke dunia peri. Tapi kamu harus berjanji untuk merahasiakan semua yang terlihat di sana."

"Kamu juga harus bersedia mengubah bentuk tubuhmu seperti kami. Aku akan menyulapmu menjadi peri," ucap peri yang lain.

"Terima kasih. Aku janji untuk menjaga rahasia. Aku pun bersedia menjadi peri," kataku meyakinkan.

***
Keesokannya, sebelum matahari terbit, aku dan ketiga peri itu berkumpul di dalam lemari. Tiba-tiba, salah satu dari mereka mengayunkan tongkat kecilnya ke arah dinding lemari.

"Buka pintunya!" seru salah satu peri.

Tak berapa lama, dinding lemari terbuka. Dinding itu terhubung dengan dunia para peri. Aku dan ketiga peri pun terbang dengan perlahan. Entah, mereka mau membawaku ke mana. Tanpa curiga, aku membuntuti mereka dari belakang.

"Hei, Morin, kamu jangan terbang di belakang. Ayo, sini, sejajar dengan kami," ujar salah satu peri.

Aku pun segera menghampiri, lalu terbang sejajar dengan mereka. Dunia peri tampak sepi. Aku menatap sekelilingku. Ada yang aneh, tetapi aku belum bisa mengungkapnya.

"Kita sudah sampai," ucap ketiga peri serempak.

Ketiga peri membuka pintu gerbang. Saat pintu terbuka, aku sangat terkejut. Bukan istana megah dengan taman yang indah, melainkan  suatu tempat yang mengerikan.

"Hei, tempat apa ini?!" teriakku panik.

Ketiga peri itu tertawa, kemudian mereka berdiri sejajar dan menyatukan diri. Cahaya memancar dari tubuh mereka.

"Sekarang, kamu menjadi tawanan kami, Morin!" ucap peri tersebut.

"Apa salahku? Tolong bawa aku kembali pulang," pintaku.

"Kamu tidak tahu apa kesalahanmu?"

Aku hanya menggeleng. Rasa heran dan penasaran bercampur jadi satu. Sebenarnya, siapa peri itu.

"Kesalahanmu hanya satu. Kamu suka menyendiri. Aku sudah lama memperhatikanmu."

"Itu bukan kesalahan. Itu adalah pilihanku. Tolong kembalikan aku ke rumahku!" teriakku sembari tersedu-sedu.

"Kamu akan kembali jika ada salah satu dari teman sekolahmu yang mencari. Jika sampai tiga hari tak ada satu pun yang mencari, kamu selamanya akan menetap di dunia peri. Perhatikan cermin ini, kamu akan melihat reaksi teman-temanmu saat mereka tahu dirimu menghilang," jelas peri tersebut sembari tertawa.

"Tidaaak! Aku tidak mau tahu. Aku mau pulang!"

***
Hari pertama berlalu. Tidak ada satu pun teman yang mencariku, termasuk Ayah dan Ibu. Sebenarnya, ini bukan salah mereka. Akulah yang selama ini tak menganggap keberadaan mereka. Aku benar-benar menyesal.

Hari kedua pun terlewati. Teman-teman tetap belajar seperti biasa. Mereka tidak menyadari ada bangku kosong tanpa penghuni yang berada pada baris terdepan. Mereka tampak tak acuh.

Hingga hari ketiga, aku menatap ke arah cermin. Dalam cermin tersebut, tampak beberapa teman berkumpul di dalam kelas. Terdengar obrolan yang terjadi di antara mereka.

"Ke mana saja Morin? Aku kangen juga sama dia."

"Ngapain kangen dia? Teman kita juga bukan!"

"Betul. Salahnya sendiri menjauhi kita. Rasakan kesombonganmu, Morin!"

Aku berteriak-teriak memanggil nama teman-temanku itu. Hari ketiga hampir saja berakhir. Jangankan teman, ibu dan ayahku pun tampak tidak acuh. Kedua orang tuaku seakan-akan melupakanku.

"Morin, katakan selamat tinggal kepada duniamu," ucap peri saat waktu akan berakhir.

"Tidaaak!"

***
#hororfantasi

Palembang, 2 September 2021