Teluh Pena Ajaib Neneng

Ilustrasi-google image

Liburan semester tiba, biasanya ayah dan ibu akan menyuruhku mengunjungi abah di kampung. Sebenarnya berat sekali mengiyakan permintaan mereka. Sebab di Pangalengan-rumah kakek dari ayah itu bisa dikatakan tidak tersedia akses internet yang bagus. Pengguna ponsel harus mencari sinyal ke dekat jalan raya. Benar-benar merepotkan.

Di sana juga tak ada seorang teman pun yang aku kenal. Teman, oh ya aku lupa. Bahkan di rumah, di sekolah atau media sosial aku hampir tak punya teman sama sekali. Mereka terlalu berbeda denganku atau aku yang selalu dianggap berbeda dari mereka. Ah, sama saja. 

Segala keluh kesah kutumpahkan di atas buku harian. Hanya dia, teman sejati yang selalu menyertai ke mana pun aku pergi. Tak terhitung sudah lembaran yang berisi tentang para gadis populer di sekolah. Mereka seringkali melakukan perundungan terhadapku. Bukan saja lewat kekerasan verbal, tapi juga sudah menyasar fisik. 

Entah kenapa, sebab aku merasa tak pernah melakukan kesalahan apa-apa. Bukan salahku, kan? Bila para guru di sekolah sering memberikan pujian untuk nilai-nilaiku yang selalu sempurna. Lalu dibandingkan dengan nilai di bawah KKM yang didapat anggota Princess Squad-nama geng tempat mereka tergabung.

Awalnya aku tak peduli, tetapi kejadian terakhir membuatku memendam amarah dan dendam yang begitu dalam. Riyana, Karenina dan Natasha memfitnahku di depan Reyhandra-sang ketua OSIS-yang mulai dekat denganku. Sementara aku sendiri menyukainya sejak tiga tahun lalu.

Kami sering belajar bersama, agar Rey dapat memperbaiki nilai matematikanya yang belum mencapai KKM. Namun, ternyata Rey percaya begitu saja pada hasutan mereka, tanpa mencari kebenaran, ia seketika berubah membenciku. 

Beberapa teman sekelas yang melihat kejadian itu bahkan sempat berujar, "cewek begitu mah kudu disantet!" 

"Bener pisan tuh, biar nyaho tiba-tiba diperutnya ada paku sama silet." 

Lontaran kalimat barusan sempat mempengaruhi pikiranku. Ingin rasanya aku memberi mereka pelajaran. Cara halus, namun berakibat fatal yang dapat membuat mereka jera. Andai, aku bisa mengirimi mereka teluh dengan mudah.

Peristiwa itulah yang mengantarku untuk menemani abah selama liburan semester ini. Rumah panggung abah belum pernah di renovasi, masih berlantaikan papan juga berdinding bilik bambu. Buku-buku kuno tersusun rapi dalam lemari jati antik dengan ukiran jepara. Baru kali ini aku tertarik membacanya, sebab sudah merasa benar-benar jenuh. 

Saat hendak mengambil buku di rak paling atas, tiba-tiba saja sebuah paririmbon kuno terjatuh, hampir mengenai kepala. Sampul hardcover berbalut bahan kulit dengan tebal hampir enam ratus halaman, pastilah kepalaku bisa benjol dibuatnya. 

Warna coklat tua klasik berhias motif daun rambat, pada sisinya terdapat gesper yang dikunci oleh pena bambu yang juga penuh ukiran unik. Benar-benar menggodaku untuk membacanya. Langsung saja aku bawa ke kamar, mencabut pena dan membuka selembar demi selembar sambil berbaring di atas kasur kapuk tebal yang masih empuk. Sebab abah masih rajin menjemurnya dua kali dalam sepekan. 

Angin semilir yang masuk lewat jendela membuatku ingin memejamkan mata. Apalagi isi paririmbon ini ternyata menggunakan bahasa sunda buhun, banyak yang tak aku pahami artinya. 

Namun, sebelum terlelap tatapku terhenti pada sebuah judul. Tertulis Samber Nyawa, nista maja utama ... diikuti beberapa bait mantera yang konon harus kulafalkan sebelum menuliskan teluh yang akan dikirim pada korban. Tentu saja menggunakan pena yang saat ini tengah kugenggam. Ajaib. Apa mataku tak salah melihat? Hanya saja lembar berikutnya hilang, tampak sisa robekan yang seakan dicabut dengan terburu-buru.

"Abah, memang yang ditulis di paririmbon ini beneran kitu?" 

Sengaja aku mengajukan pertanyaan pada kakek yang seluruh rambut di kepala dan wajahnya sudah berwarna putih itu. Namun ia cuma tersenyum datar, tanpa aku tahu apa artinya. Didorong rasa penasaran, akhirnya aku mencoba melafalkan kalimat demi kalimat dengan penuh konsentrasi. Lalu menulis dengan pena antik itu di atas buku harian bersampul ungu milikku. 

Kata demi kata aku tuliskan, sambil membayangkan sosok cantik bernama Riyana. Rambut tergerai indah yang selalu ia banggakan, hampir menyentuh pinggang ramping miliknya. Membandingkan dengan rambutku yang ia bilang mirip mie keriting ayam dan aromanis.

Tanganku mulai menggerakkan pena di buku harian layaknya menulis sebuah cerpen.

Saat gadis itu menyisir rambut sambil terkagum-kagum di depan cermin. Tiba-tiba saja helai demi helai terjatuh, semakin lama kian menggulung. Hingga tinggal kepala plontos yang terpantul di cermin. Riyana memekik panik, memanggil seisi rumah. Tak lama ia memuntahkan sesuatu. Cairan merah kental bercampur pecahan silet, paku dan beling … .

Entahlah, seperti ada kepuasan tersendiri saat aku membaca ulang. Senang dengan penderitaan yang dia alami meskipun hanya dalam tulisanku saja. Tak dinyana hal sepele seperti itu ternyata membuatku dapat tidur nyenyak. Mungkin ini yang dimaksudkan dengan menulis dapat menyembuhkan.

Pagi ini aku tersenyum-senyum sendiri sambil menikmati sarapan di meja makan. Bahkan singkong rebus panas, meskipun tanpa susu kental manis dan keju parut ini kumakan dengan lahap. Saat abah bertanya mengapa terlihat senang sekali hari ini, aku hanya menjawab dengan gelengan kepala.

"Neng, Abah teh mau ke pasar beli huut, sudah hampir habis pan. Sekalian ngabarin mamih kamu, hayu atuh ikut."

"Enggak usah Abah. Neng di sini aja, mau kasih makan ikan-ikan di balong."

Abah mengangguk, seraya menatapku heran. Tak lama beliau pulang, bukan saja membawa pakan ayam dan ikan. Tapi juga camilan yang banyak untukku.

"Neng, tadi ibu cerita, katanya temanmu Riyana baru saja meninggal. Sepertinya dia menderita semacam kanker karena saat sebelum wafat, kepalanya plontos dan habis muntah darah. Kulitnya juga menghitam kayak bekas radiasi kemoterapi. Kita doakan sama-sama ya, Neng."

Kabar yang disampaikan abah membuatku tersedak. Tanpa sempat mengambil minum, aku langsung berlari ke kamar. Otakku dipenuhi pikiran antara menyangkal dan membenarkan. Namun, jauh di lubuk hati ada rasa lega. Semacam kepuasan yang tak pernah kudapat sebelumnya. Ingin menangis sekaligus tertawa. 

Kemudian terlintas sosok Karenina yang memiliki mulut tak kalah pedas. Menyamakan wajahku dengan oncom, sebab jerawat batu bertaburan di mana-mana. Ia sempat memberiku masker skincare yang ternyata malah membuat kulit wajahku panas terbakar.

Jemariku tergelitik untuk kembali menulis dengan pena yang kini kusebut ajaib. Berdalih membuktikan sekali lagi, pada Natasya yang sering membanggakan kecantikan wajah dan kulit mulusnya. Cerpen kedua, ucapku dalam hati.

Seperti biasa Natasya melakukan ritual malam, berbagai produk perawatan kecantikan kulit wajah diaplikasikan ke seluruh permukaan paras cantiknya. Tiba-tiba saja rasa perih yang teramat sangat, membakar permukaan wajahnya. Yang kemudian ia garuk dengan jemari lentik berhias kuku-kuku panjang yang rajin dirawat di salon. Garukan perlahan yang semakin lama berubah menggila. Wajahnya tergores, dipenuhi luka memanjang yang mengalirkan darah … . 

"Abah belum telpon mami lagi?" kuajukan pertanyaan sambil mengaduk-aduk makan malam dengan gelisah.

"Kamu saja atuh yang nelepon, nanti diantar Mang Oded, ojek langganan Abah ka lebak." Aku pun mengangguk cepat.

Hampir saja androidku terlepas dari genggaman setelah mendengar cerita Mami yang belum lagi selesai. Karenina meninggal di rumah sakit, kemungkinan besar ia keracunan skincare terbaru yang dipakainya. Jantungku melonjak-lonjak tak beraturan. Nyaris saja copot ketika suara abah membuyarkan lamunan.

"Hati hati dengan apa yang kamu tulis! Terlebih lagi dengan apa yang kamu pikirkan."

Apakah abah sudah tahu? 

"Paririmbon yang kemarin Neng pinjam ada di mana?" Selidik abah lagi.

"Su-sudah disimpan lagi, kok Abah. Iya … di itu-kamar eh lemari."

Abah beranjak dari kursi goyang rotan tempatnya duduk. Tatapnya tajam, tak seperti biasanya. Otakku berputar, tak rela bila abah menghentikan aksiku dan mengambil pena ajaib yang sebetulnya kusembunyikan dalam kantong jaket.

Dalam keadaan terdesak, aku menyambar tas ransel di kamar saat abah sedang memeriksa lemari. Kemudian sekilat gerak berlari, entah akan ke mana, tetapi aku ingin menuliskan satu kisah tragis lagi. Terakhir. Lalu akan kuserahkan kembali pena ajaib ini pada abah.

Aku menghentikan mobil bak yang kebetulan lewat. Meminta izin untuk menumpang sampai terminal. Sesekali aku melihat ke belakang, meyakinkan diri bahwa abah tak mengejar. Benar saja, sorot lampu motor terlihat dari kejauhan. Kecepatannya hampir menyamai mobil yang kutumpangi. Terdengar suara Abah dan Mang Oded bergantian memanggilku.

Tanganku dengan sigap mengeluarkan pena ajaib, lembaran kosong buku harianku mulai terisi.

Motor yang tengah dinaiki lelaki tua dan pemuda itu tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Remnya blong, tetesan oli berwarna merah mengalir di jalan raya. Mang Oded tak mampu lagi mengendalikan motor. Kendaraan roda dua itu pun jatuh, terseret hingga ke trotoar … .

Aku mematung, melihat serangkaian peristiwa yang kutulis terjadi di depan mata. Dalam hati kecil aku sempat berharap agar abah dan ojek langganannya baik-baik saja. Bis yang akan membawaku ke ibu kota mulai melaju. Hampir setengah botol air mineral kuteguk untuk menenangkan diri. Dering di ponselku kembali membuat jantung berdegup kencang. 

"Neng, kamu lagi di mana? Abah sama Mang Oded kecelakaan, barusan Mami dapet telepon dari klinik. Kayaknya abah harus dibawa ke rumah sakit. Untung ada Bik Enah, istri Mang Oded. Mami sekarang mau nyusul ke sana."

Aku menjawab terbata, membuat alasan bahwa sekarang sedang dalam perjalanan pulang. Tak mungkin kembali ke sana karena pertemuan penting besok pagi di sekolah. Untunglah mami percaya, akhirnya ia memutuskan untuk mengajak daddy berangkat menemui abah. Dan aku berjanji akan menyusul mereka besok seandainya abah harus dirawat.

Pikiranku sekarang terfokus pada satu nama. Natasha. Gadis yang cantiknya hampir menyamai artis Korea ini memang memiliki nama indah yang terdiri dari lima kata. Bahkan aku saja sulit mengingatnya. Raut julidnya tak mungkin kulupakan, terutama saat menatap sinis sambil nyinyir dengan namaku.

"Neneng … apaan nama orang kampung, cocok sama kamu yang kampungan … mending kamu pulang aja deh. Jangan bikin sempit Kota Jakarta."

Pena ajaibku mulai beraksi, bisikan-bisikan untuk membuat cerita yang jauh lebih sadis kuturuti.

Natasha mencengkeram kepalanya dengan kedua tangan. Nyeri yang tak tertahankan membuatnya menjerit-jerit tanpa henti. Seakan ribuan paku menusuk di setiap urat syaraf. Ia lalu membenturkan kepala ke dinding beton kamar. Semakin lama kian kencang, hingga memecahkan beberapa pembuluh darah … .

Sekarang aku benar-benar puas, dendamku terbalaskan. Andai saja bis ini tak memuat penumpang lain. Tentu aku akan tertawa terbahak-bahak. Peperangan ini dimenangkan olehku, lihat kan akibat berani macam-macam padaku.

Saking senangnya, tanpa sengaja pena ajaib terlepas dari genggaman. Bergulir di lantai bis, mataku tak mampu menangkap arah pena ajaib bergerak. Lampu bis yang dimatikan membuat pandanganku terbatas. Sampai akhirnya kedua tatapku beradu dengan tiga sosok yang begitu kukenal, mereka berebut memegangi pena ajaib.

Rasa takut menyergap, peluh mulai menetes. Dingin menggeriap. Pena ajaib mulai bergerak, menuliskan sesuatu di udara yang dapat kubaca dengan jelas.

Gadis berambut ikal bewarna serupa rambut jagung yang tengah duduk di dalam bis itu mulai tegang.Supir seketika panik sebab tak berhasil mengendalikan bis … terjerembab ke dalam jurang. Dan semua penumpangnya tak ada yang selamat.

[Awg]

#lintasgenre