Ilusi

kumparan.com

Malam meninggi, hujan yang mengguyur sejak sore membuat udara sekitar dingin mencekam. Semua makhluk hidup memilih mendekap dalam kehangatan. Tak terkecuali Santi--gadis belia yang baru genap berusia 17 tahun.

 

Namun, tepat di tengah malam saat jam berdentang 12 kali, suatu keanehan mulai terjadi. Udara dingin tak mampu membendung keringat yang keluar dari tubuh Santi. Gadis itu seperti tidur di atas bara api, gelisah! Sebentar dia memiringkan tubuhnya ke arah kanan, lalu berpaling ke arah sebaliknya. 

 

Tiba-tiba dia terjaga dan merasa kehausan. Untunglah ada segelas air putih yang selalu tersedia di atas meja kamarnya. Santi bangun dari tempat tidur, menghampiri meja dan meraih segela air mineral. Dengan cepat ditenggaknya demi meredakan rasa dahaga yang mendera. 

 

Ketika hendak kembali tidur, dia tak sengaja menatap pantulan bayangannya di kaca. Batapa terkejutnya saat melihat sesuatu yang bersinar kehijau-hijauan di wajahnya. Santi meraba kulit wajah yang keras dan berbuku-buku kecil. Santi coba mencabut salah satu sisik dengan kuku jari telunjuk dan jari tengah. 

 

"Aaawww!"

 

Dia menjerit kesakitan. 

 

Awalnya, setetes darah keluar dari bekas sisik yang tercerabut. Lama kelamaan semakin banyak cairan anyir keluar tak terbendung. Mata gadis itu terbelalak karena shock. Tangannya buru-buru meraih lembaran tissue yang terdapat di meja untuk menyumbat lubang kecil di wajah. Antara ngeri bercampur perih, gadis itu histeris. Pekikan panjang bergema di hening malam.

 

*

 

"Neng, ayo sarapan. Sudah siang nih!"

 

Mbok Ijem mengetuk pintu kamar anak majikannya. Tidak ada sahutan dari dalam. Wanita paruh baya bertubuh sintal kembali mengetuk lebih keras agar penghuni kamar terjaga. Dia tak ingin putri tunggal sang majikan terlambat. Bisa-bisa Pak Jaya mengamuk jika tahu anak kesayangannya tak sempat sarapan sebelum ke sekolah. 

 

"Neng Santi!" panggil Mbok Ijem lagi.

 

Wanita itu memutar engsel pintu yang tak terkunci. Ketika terbuka, tampak Santi masih tertidur pulas di atas kasur. Mbok Ijem menghampiri jendela kamar, kemudian menyibak kain gorden agar cahaya pagi masuk. Hawa segar pun menyeruak, kamar jadi terang benderang.

 

Mbok Ijem memutar badan, berjalan mendekat ke arah Santi yang masih meringkuk dalam selimut. Dengan penuh kasih sayang wanita paruh baya itu menyibak rambut yang menutupi wajah Santi.

 

"Neng, ayo bangun! Sarapan sudah siap. Mbok masak nasi goreng kesukaan eneng, loh."

 

"Emmmmmhhhh …." geliat panjang Santi sambil ngulet di atas kasur. "Mbok!" 

 

Santi tercenung sesaat, tiba-tiba dia teringat kejadian mengerikan semalam. Sekonyong-konyong melompat segera mengamati wajahnya di depan cermin. Mbok Ijem heran melihat tingkah lakunya. Akan tetapi gadis berambut lurus panjang melewati bahu itu lebih bingung, tatkala mendapati semua baik-baik saja.

 

Apakah semalam aku hanya bermimpi? Gumamnya dalam hati. Tetapi rasa sakit itu nyata, ada apa denganku

 

Banyak pertanyaan dalam benaknya, namun lamunan Santi buyar oleh suara Mbok Ijem yang kembali menegur.

 

"Ada apa, Neng? Kok, seperti orang bingung? Ayo, nanti terlambat ke sekolah!" 

 

"I-iya, Mbok." 

 

Untuk sementara Santi coba melupakan kejadian semalam. Bergegas mandi dan bersiap-siap. Mbok Ijem pun berlalu untuk melanjutkan aktivitasnya. Karena tidak ada waktu untuk sarapan, Santi akhirnya pergi dengan perut kosong, membawa serta pikiran yang berkecamuk ke sekolah.

 

*

 

Malam harinya.

Pak Jaya sibuk dengan berkas-berkas kantor. Selesai makan malam beliau langsung menuju ruang kerja. Di luar rumah hujan menderas, dingin dan lembab menyelimuti sekitar. Santi juga asik belajar di kamar. Untuk menghangatkan suasana, Mbok Ijem berinisiatif menghidangkan gorengan di dapur. Setelah selesai dia pun membawa baki berisi cemilan dan kopi susu untuk Pak Jaya. 

 

"Silahkan, Tuan!" ucap Mbok Ijem sambil menggangsurkan secangkir kopi susu hangat beserta piring berisi beberapa potong pisang goreng.

 

Pak Jaya menjawab dengan anggukan, tanpa melepaskan tatapan ke arah berkas-berkas yang berisi pekerjaan. Mbok Ijem kembali ke dapur mempersiapkan susu hangat untuk Santi. Baru saja hendak melangkahkan kaki, terdengar jeritan dari arah kamar putri tunggal Pak Jaya. Dengan gopoh Mbok Ijem bergegas mempercepat langkah, begitu pula dengan Pak Jaya. Tubuh keduanya hampir bertubrukan ketika hendak memasuki kamar Santi. Baki di tangan Mbok Ijem nyaris terjatuh jika tidak segera mengatur keseimbangan.

 

"Ada apa, Santi?" seiring membuka pintu kamar putrinya Pak Jaya bertanya.

 

Tak perlu menunggu jawaban, sebab Pak Jaya dan Mbok Ijem dikejutkan dengan pandangan yang membuat jantung keduanya berpacu kencang. Tubuh putri tunggalnya menggelepar di lantai kamar. Bagian kaki Santi memanjang bersisik menyerupai ekor ular. Dia menjerit-jerit kesakitan seiring bagian tubuh lain bermetamorfosis. 

 

Di dalam kamar Santi seolah dilanda angin puting beliung, semua benda melayang ke udara. Bahkan meja-kursi juga terbanting ke sana kemari dan hampir mengenai Pak Jaya. Seiring lolongan kesakitan menyayat hati, tubuh Santi perlahan-lahan menjelma seekor ular raksasa hijau.

 

"Aaakkkhhh, tolong ...!" jeritnya.

 

Pak Jaya dan Mbok Ijem tak bisa berbuat banyak, mereka mematung! Mata terbelalak menyaksikannya hal yang tidak masuk akal.

 

Braaakkkk…. Praaanggg….

 

Tiba-tiba kaca jendela kamar Santi berderai dihantam benda-benda yang melayang. Angin semakin kencang, udara dingin diikuti suara hujan dan petir dari luar jendela menderu. Ada sosok lain muncul di luar jendela. Sosok yang juga menyerupai ular hijau raksasa, tapi bagian atas seperti wujud seorang wanita berparas cantik. Pak Jaya semakin tak percaya melihat rupa wanita setengah ular itu, parasnya mirip Mbok Ijem, hanya saja lebih muda dan segar. 

 

"I-i-ijeemmm?" desis Pak Jaya terbata-bata. 

 

Pak Jaya sempat menoleh ke kanan, memastikan keberadaan Mbok Ijem, yang sedari tadi berada di sampingnya. Tatapi wanita paruh baya itu menghilang! Tidak ada di sana. Pak Jaya semakin diselimuti kengerian bercampur bingung dengan apa yang sedang terjadi. 

 

"Sudah waktunya, Jaya. Sudah waktunya!" suara wanita setengah ular terdengar bergema, jelas dan tegas. 

 

Seketika Pak Jaya bertanya, "Siapa Kau? Apa maumu?" 

 

"Kau lupa perjanjian kita, Jaya?" Siluman betina itu balik bertanya, "hari ini waktunya bagimu menepati janji!" tegasnya lagi.

 

Untuk sekian detik Pak Jaya masih terpaku membisu. Berpikir keras tentang apa yang sedang dihadapi. Sementara jeritan Santi sudah berganti suara mendesis. Wujudnya telah sempurna merupai seekor ular, merayap perlahan mendekati siluman di luar jendela.

 

"Santi …!" pekik Pak Jaya berusaha mencegah.

 

Laki-laki itu hendak menarik tubuh anaknya yang menjelma seekor ular. Tetapi sebuah kekuatan mendorong tubuhnya hingga terpental kembali.

 

Wuuuddd

 

Satu kibasan kuat membuat Pak Jaya jatuh terjerembab ke lantai kamar. Diiringi gelegar guntur, Santi mengikuti siluman ular betina pergi, menghilang dari padangan. 

 

"Saaantiii…. Santi.... " jerit Pak Jaya menjadi-jadi.

 

"Tuan …. Tuan! Bangun, Tuan!"

 

Sebuah suara menyadarkan Pak Jaya diiringi tepukan di bagian punggung. Laki-laki itu melonjak kaget. Rupanya dia tertidur karena kelelahan, hingga terlelap di atas meja ruang kerjanya.

 

Huuuhhhf, hanya mimpi! bisiknya dalam hati.

 

Pak Jaya bernapas lega. Namun, ada senyuman aneh tercetak di bibir Mbok Ijem sambil menatap ke arah tangannya yang menggenggam sisik ular hijau.

 

#Lintasgenre