Tiga Permintaan

Sumber gambar, Akhirazaman.org

Hari sudah larut, namun mataku enggan terpejam meskipun tubuh merasakan lelah. Selalu seperti ini, hampir setiap hari. Insomniaku semakin parah. Bahkan pernah aku baru bisa tidur ketika hampir fajar. 

Setiap hari aku merasa tertekan dengan omelan ibu. Perempuan yang seharusnya penuh kasih sayang itu hampir selalu memarahiku. Seperti ada saja kesalahan yang ia lihat dalam diri ini. 

Dulu aku tak tahu alasannya, mengapa ibu seperti begitu membenciku. Tapi sekarang aku mulai sedikit paham. Suatu hari ada seorang tetangga yang mencaci tingkah lakuku yang menurutnya tak punya sopan santun. 

"Dasar anak haram, makanya gak punya adab. Bapaknya aja gak jelas siapa."

Ingin rasanya aku menampar mulut jahat itu. Hanya karena tak sengaja menabrak pagar rumahnya saat naik sepeda, bisa-bisanya kalimat sekasar itu dilontarkan padaku. Namun aku diam saja karena tak mau mencari masalah. 

Sejak hari itu aku tahu alasan ibu selalu marah. Aku mengetahui kisah kelam ibu dari tante Ana, adik sepupunya. Ternyata dulu ia hamil karena perlakuan keji teman-temannya di kampus. Ia adalah korban perkosaan. Wajah ibu memang cantik, namun kecantikan itu justru membawa petaka pada dirinya. Pantas saja ia membenciku. Mungkin setiap ia melihatku, ibu akan teringat kejadian mengerikan itu.

*****

Hari-hari berlalu seperti biasanya. Ibu masih sering mengomeliku, bahkan karena hal sepele saja ia bisa murka. Seperti pagi ini, aku tak sengaja menumpahkan air minum saat sarapan, sehingga lantai menjadi basah dan berantakan dengan pecahan gelas. 

"Vina, kamu ini gimana sih, pegang gelas saja nggak bisa!" bentaknya.

Aku hanya diam dan segera mengambil alat pel, lalu membersihkan serpihan gelas. 

"Kamu ini sudah SMA, tapi apa-apa selalu gak becus," omel ibu lagi. 

Aku segera pamit berangkat ke sekolah, daripada harus mendengarkan ocehan ibu yang entah kapan bisa berhenti. Lagi-lagi aku menangis karena omelan ibu. Aku tak tahan lagi untuk terus bersamanya. Andai saja aku punya lampu ajaib seperti Aladin yang bisa mengabulkan tiga permintaan. Aku akan meminta pergi dari rumah ibu. 

*****

Langkahku terhenti saat melihat sebuah toko barang antik. Setiap hari aku melewati jalan yang sama sebelum naik angkot ke sekolah, tapi baru hari ini aku tahu ada toko itu.

"Masuklah, Nak, jangan sungkan-sungkan."

Seorang perempuan paruh baya menyapaku dan mempersilahkan masuk ke tokonya. Wajahnya agak sedikit aneh.Namun aku tetap saja masuk ke sana karena penasaran.
 
Aku melihat sekeliling toko. Benda-benda yang dijual di sana sangat cantik. Ada gramophone, guci, beberapa lukisan kuno, dan banyak lagi lainnya. Mataku tertuju pada benda yang tadi sempat kubayangkan. Ya, lampu ajaib seperti dalam kisah Aladin. 

"Kau suka lampu itu?" tanya pemilik toko mengagetkanku.

"I-iya, Bu. Tapi harganya pasti mahal."

"Kau boleh membawanya jika kau suka."

"Mana bisa begitu, Anda kan jualan. Mana mungkin aku menerima barang cantik ini dengan gratis," elakku.

"Anggap saja itu hadiah dariku, Nak. Karena kamu sudah mau masuk ke toko ini. Sudah lama sekali tak ada pengunjung kemari," jelas perempuan itu.

Aku mengeryitkan dahi. Jika toko ini sudah lama ada, mengapa aku tak pernah melihatnya saat berangkat atau pulang sekolah. Aku jadi merinding.

"Sudahlah bawa saja, siapa tahu benda bisa berguna untukmu," ujarnya lagi.

Aku pun akhirnya membawa lampu antik itu. Saat pulang sekolah, aku segera masuk kamar. Kutaruh lampu pemberian perempuan aneh tadi di atas meja belajar. Benda itu terlihat benar-benar cantik. 

"Vina, sedang apa kamu dari tadi di kamar? Cepat bersihkan dapur dan cuci piring, jangan malas-malasan!" teriak ibu.

Aku segera keluar sebelum omelan ibu semakin menjadi. Kukerjakan apa yang ia perintahkan. Setelah semua selesai, aku kembali ke kamar dan mengamati lagi lampu antik. 

"Andai saja, kau benar-benar ajaib seperti dalam kisah Aladin," gumamku sambil mengelus lampu itu.

Tiba-tiba lampu itu bergetar, lalu segumpal asap tebal keluar memenuhi kamar. Sebuah makhluk berwarna biru  dengan ukuran besar berdiri di hadapanku. Mirip seperti jin dalam kisah Aladin. 

"Ho ho ho, terimakasih telah membebaskanku, aku akan kabulkan tiga permintaan untukmu," ujar makhluk itu. 

Aku mengerjapkan mata tak percaya. Benarkah apa yang ada dalam imajinasiku menjadi kenyataan. Mungkinkah ini bisa terjadi karena kekuatan pikiranku. 

"Bi-bisakah kau memberikan aku uang yang banyak?" pintaku. 

"Tentu saja."

Jin itu seperti mengucap mantra. Lalu dalam sekejap setumpuk uang kertas ada di atas tempat tidur. Tentu itu membuatku terperangah tak percaya. 

Aku segera memasukkan uang-uang itu ke dalam ransel. Aku segera mengucapkan permintaan ke dua, yaitu pergi dari rumah ini. Aku sudah bosan dengan semua omelan dan kebencian ibu. Dengan pergi dari sini, aku akan bebas dari kata-kata yang menyakitkan. 

"Permintaan selanjutnya, bisakah kau membawaku ke tempat yang tenang, dimana tidak ada lagi omelan ibu?" pintaku lagi. 

"Tentu saja."

Sebuah pintu bercahaya ada di hadapanku. Jin itu menyuruhku membukanya. Aku membawa ransel berisi uang dan beberapa helai baju, dan bersiap pergi.

"Permintaan ke tiga, bolehkah aku gunakan nanti saja, saat aku membutuhkannya?" ucapku sebelum membuka pintu. 

"Tentu saja, sekarang pergilah ke tempat yang kau inginkan. Di sana sangat tenang, dan tak akan ada lagi yang mengomel."

Aku gegas membuka pintu. Tebersit sebuah cahaya sangat menyilaukan mata. Dan aku sudah ada di tempat lain. Aku bersorak kegirangan karena berada di sebuah rumah yang mewah. Kumasuki tiap ruangan untuk melihat-lihat. Benar-benar tak ada ibu. Sangat tenang.

Aku masuk ke sebuah kamar. Di sana ada sebuah ranjang yang indah dan sangat empuk. Aku jadi mengantuk. Tak pernah aku merasakan ini. Aku bisa tidur dengan lelap dan terbebas dari insomnia.

*****
Hari sudah berganti pagi. Aku berencana untuk jalan-jalan, karena aku belum tahu keadaan di luar sana. Aku pun membawa beberapa lembar uang dalam dompet. Aku berharap menemukan sarapan yang enak nanti. 

Kubuka pintu depan. Banyak pepohonan yang rindang di sekitar rumah. Aku mulai berjalan menyusuri pepohonan. Semakin aku jauh berjalan semakin banyak pohon-pohon besar. Dimana ini aku tak tahu. Tak ada rumah atau toko apa pun. Aku juga tak menjumpai satu orang pun. Aku mulai takut dan memilih kembali ke rumah. 

Tempat apa ini. Aku ingin di tempat yang tenang, tapi bukan yang setenang ini. Mengapa tidak ada orang sama sekali. Sekarang aku malah merindukan ibu yang selalu mengomel. 

Andai di rumah ibu, aku pasti sudah sarapan dan tidak kelaparan. Perempuan itu hampir setiap saat marah padaku, tapi jika dipikir-pikir selama ini ia membesarkanku dengan penuh tanggung jawab. Tak pernah sehari pun ia membiarkanku kelaparan. Ia juga membiayai sekolah dan memenuhi kebutuhanku dengan baik. 

Aku mulai menyesal. Pipiku terasa hangat karena bulir bening mengalir tanpa bisa dicegah. Aku teringat dengan permintaan ke tiga. Lebih baik aku minta kembali saja ke rumah ibu. Aku segera ke kamar mencari lampu ajaib. Sial, aku lupa membawa lampu itu saat pergi ke sini. 

Surabaya, 2 September 2021

#Hororfantasi