Tiga Gadis Masa Lampau

www.id.deposit.foto.com

Maret 2018

Hari mulai gelap ketika pesawat Turkish Airlines yang aku tumpangi dari Minsk, Belarus mendarat mulus di Bandara Attaturk, Istanbul.

Ini merupakan kunjunganku yang ke sekian kali ke kota terbesar di Turki yang pernah menjadi ibukota kekaisaran Ottoman itu. Sebuah kota yang terletak di dua benua yang terus memberikan daya tarik untuk dikunjungi.

Dari bandara, aku lebih suka naik metro menuju ke hotel, selain ekonomis, juga kebetulan hotelku kali ini letaknya di depan stasiun trem apa Artemis. Hanya sekali transfer dari metro ke trem di Zeytinburnu.

Sesampainya di stasiun metro Havalimani atau bandara aku mencari-cari dompet yang berisi kartu Istanbul Card yang disimpan di ransel. Dompet ini sudah disiapkan sejak berangkat dari Minsk berikut beberapa lembar uang Lira sisa perjalanan 2  tahun sebelumnya ke Turki.

Namun sayang, dompet itu tidak dapat kutemukan. Tanpa Istanbul Card atau uang Lira aku tidak bisa masuk ke stasiun melewati pintu yang hanya bisa dibuka dengan menempelkan kartu sakti itu.

“Bang Tino,” seorang gadis cilik menegurku dalam bahasa Indonesia. Dia memberikan dompet yang aku cari-cari.

“Aku menemukan dompet ini terjatuh tadi,” kata gadis cilik itu sambil kamu berjalan beriringan menuju ke kereta.

Suasana stasiun malam itu tidak terlalu ramai, kami berdua masuk ke dalam kereta yang kemudian bergerak perlahan dan kian cepat menuju stasiun berikut: stasiun, DTM Istanbul Fuar Merkezi,

Sambil duduk berdampingan gadis cilik itu terus berbicara. Dia bilang hanya bisa menemani sampai stasiun berikut dan mengucapkan selamat datang kembali di Istanbul. Sementara aku masih mencoba mengingat-ingat siapakah gadis ini.

“Anita!” Aku berbicara setengah berteriak ketika berhasil mengingat nama gadis yang pernah aku kenal lebih 18 tahun lalu, ketika aku masih duduk di SMP kelas tiga.

Namun pintu kereta baru saja menutup ketika aku tersadar bahwa Anita telah menghilang dan kereta melanjutkan perjalanan menuju stasiun berikut, Yenibosna.

Aku kembali terduduk di kursi memandang ke sekeliling, ke kursi -kursi yang kosong dan kabin yang sepi. Kereta berhenti sebentar di Yenibosna. Sementara pikiranku masih tertambat kembali ke masa lampau.

Pintu kembali menutup dan tiba-tiba seorang perempuan muda duduk di sebelahku . Aku tidak tahu kapan dia masuk ke gerbong.

"KhunTino,” sapa gadis itu dalam bahasa Thai. Sejenak aku tersentak. Jiwaku sejenak melayang kembal ke masa sekitar 8 tahun yang lalu, ketika aku pertama kali datang ke Bangkok dan kuliah di Chulalongkorn University.

Gadis itu bernama Kaeo, yang dalam bahasa Thai berarti 'Menang'. Walaupun dia teman kuliah, uniknya pertama kali aku mengenalnya ketika kani sedang mau naik BTS di stasiun Ashok.

"Khun Tino, ayo ikut aku ke Thailand,” Kaeo mengajak diriku dengan setengah memelas. Namun belum sempat aku menjawabnya, kereta tiba di Stasiun Ataköy-Irinevler, dan Kaeo pun menghilang. Pintu menutup dan kereta kembali bergerak cepat menuju stasiun berikut: Bahçelievler.

Aku mencoba mengingat kembali rentetan peristiwa dan hubunganku dengan Kaeo. Dia sempat menjadi kekasihku selama sekitar satu tahun sebelum gadis ini menghilang dan tidak pernah kembali setelah pulang kampung ke Chiangmai di Thailand Utara. Lalu mengapa dua gadis dari masa lampau menyambutku di Istanbul?

Kereta kembali berhenti sejenak dan kemudian bergerak perlahan menuju stasiun Bakirköy-Incirli. Dua stasiun lagi aku akan pindah ke trem di Zeytinburnu, kataku dalam hati mencoba menghibur diri ketika sebuah tangan menepuk pundakku

“Istanbul'a hogeldiniz, Tino,”  seorang perempuan menegurku dalam Bahasa Turki. Kali ini aku langsung teringat dengan perempuan ini. Dia adalah gadis dari Izmir yang sempat menjadi teman perjalananku selama berkelana di Turki sekitar 5 tahun lalu.

Kala itu, gadis yang kukenal di Basilika Cistern ini menjadi teman bukan hanya di Istanbul, melainkan ketika kami bersama-sama menikmati keindahan Anatolia: dari Izmir, Pamukkale, hingga Efes dan Konya.

Ayla, demikian nama gadis itu yang berarti cahaya bulan dan Bahasa Turki itu terus duduk di sampingku tanpa berbicara. Aku kemudian ingat pernah mencarinya kembali ke Izmir pada 2015 dan tidak pernah menemukan jejaknya. Apa yang dikerjakan Ayla di Istanbul sekarang.

Aku terdiam, Ayla pun terdiam. Kereta berhenti di stasiun Bakirköy-Incirli, sejenak aku menutup mata. Ketika kereta bergerak lagi aku mengharap Ayla sudah menghilang seperti Anita dan Kaeo.

“Tino, aku masih di sini. Aku akan terus menemanimu dan mengajakmu bersama ke Basilika Cistern, tempat kita bertemu pertama kali dan temani aku terus di sana hingga nanti,” ujar Ayla secara berbisik dengan mesra.

Entah mengapa, kali ini aku merasa sangat berbahagia. Kereta terus berjalan dan ketika sampai di stasiun Zeytinburnu, kami berdua transfer untuk naik trem menuju ke Kabatas.

Tubuhku terasa ringan, aku masih bisa merasakan tram berjalan di malam gelap dan melewati beberapa stasiun. Uniknya penumpang lain di trem seakan-akan hanya menjadi penonton kemesraan aku dan Ayla. Bahkan ketika melewati stasiun Pazartekke tempat seharusnya aku turun, Kami terus naik trem dan baru turun di Sultan Ahmet.

Malam itu menjadi milik kami berdua, menikmati indahnya Istanbul di malam hari.  Masjid Biru, Aya Sofia dan bahkan sampai ke Eminonu memandang kapal kapal yang berlayar di Istanbul Bogazi sambil berjalan santai di Jembatan Galata.

Hari kian malam, aku serasa terbang dalam kebahagiaan. Dan kami kemudian mampir ke Basilika Cistern, tempat aku pertama kali bertemu Ayla. Disini, hanya berdua, kami menikmati malam indah dalam kebersamaan.

Keesokan harinya aku melihat tubuhku dimasukkan ke dalam kantong dan dibawa pergi oleh ambulance.

Suara sirene terasa begitu menyayat hati.

Sementara Anita, Kaeo, dan Ayla di kejauhan melambaikan tangan menyambut mesra.

Bekasi September 2021

Catatan

Khun Tino:  Sapaan dalam Bahasa Thai

Istanbul'a hogeldiniz, Tino:  Selamat Datang di Istanbul, Tino

#Lintasgenre