Persembahan Untuk Ibu

Ilustrasi by Google Solopost

Ini bukan saja tentang darah yang telanjur mengalir, ini tentang sebuah bakti kepada lelaki yang empat puluh lima tahun lalu melahirkan kami--aku, Galih dan Raras--sekandung yang terpaut sangat jauh dalam setiap kelahirannya. Keadaan merekatkan kami dalam ketiba-tibaan. Suara dari balik udara seakan tak sanggup dipercaya. Akankah kami menolak ataukah menerima dalam kegamangan.

Awan kelabu berarak semakin menumpuk sehingga gelap semakin tampak. Suasana dari tahun ke tahun masih sama, tak ada perubahan sama sekali. Hanya saja pagar hidup semakin tinggi sedada orang dewasa. Setidaknya tanpa membuat pagar lagi, kata Bapak waktu itu. 

Seseorang telentang dengan tangan menangkup di atas dada, dengan selimut jarik yang ditutupkan di bawah leher. Lelaki yang kupanggil bapak tersebut masih saja tak bisa diam. Mulutnya seperti merapal dedoa, sedangkan jumputan beras yang dilemparkan pada sosok yang tertidur di atas dipan, posisi Bapak berubah beberapa saat setelah merapal doa. Begitu seterusnya sampai kurang lebih tiga puluh menitan.

"Pak," perlahan Raras mencoba membuka suara.

Tak ada jawaban pada lelaki yang mengikatkan kain batik di atas kepalanya.

"Sam-sampai kapan Ibu...."

Pertanyaan Raras terhenti, sebab suasana tidak bersahabat. Bapak menoleh ke arah Raras dengan mata melotot tajam. Sampah dedaunan menggulung menembus ruangan yang tak tertutup. Angin menggemuruhkan suaranya, keadaan semakin tak terkendali. Bapak hendak berdiri dengan posisi tangan kirinya lurus ke udara sedang tangan kanannya menapak pada lantai semen yang telah halus.

"Ada apa ini, Mas?" Raras mendekat padaku. Meski aku sendiri juga tak tahu apa yang terjadi. Sebagai anak pertama seharusnya aku yang berperan aktif.

"Permisi, Pak, sebenarnya tujuan kami baik. Hanya ingin membantu Bapak untuk mengebumikan Ibu," jelasku dengan perlahan. Meski aku tahu pasti Bapak tidak akan setuju.

"Masih ada beberapa hari sebelum sepasaran, jadi jangan pernah sedikitpun mempengaruhi Bapak," ucapnya dengan dada bergemuruh, sebab napasnya memburu, kembang-kempis.

"Dalam agama jika ada yang meninggal harus segera dikubur, Pak," terang Galih menimpali pertanyaan Raras.

Bapak kembali melakukan kegiatan seperti pertama tadi, merapal doa dan menaburkan beras di atas tubuh Ibu yang terbaring. Ini hari ketiga Ibu berbaring di ruang tengah. Kami mengetahui kabar meninggalnya Ibu juga dari Bapak yang terlambat mengabari kami. Akan tetapi, bagi Bapak tidak terlambat, sebab kami diberitahu hanya untuk kepentingan Bapak juga. 

"Ibumu harus terus dijaga, tidak boleh ditinggal. Jika ada yang datang langsung saja di mantrai," kata Bapak sewaktu menelepon kami, mengabari kematian Ibu.

Mozaik kenangan tentang kelebihan yang terjadi semasa kami masih tinggal bersama menjadi pembuktian yang nyata. Semisal mereka kehilangan uang atau barang, hanya dengan digarap, barang atau uang yang hilang akan kembali. Ketika Ibu disakiti orang secara gaib juga dapat ditangkal oleh Bapak. Yang paling membuat kami takjub ketika mereka membuat ritual untuk membangkitkan Bagyo, kambing pejantan yang mati keracunan. Sehingga kelebihan tersebut menjadi jawaban atas ketidakmungkinan di depan mata.

"Carikan telur Cemani yang masih hangat, Cemani Bapak belum saatnya panen, belikan juga kembang setaman dan misik putih," perintah Bapak pada Raras. "Tempatnya masih ingat, kan?" tanyanya lagi.

Raut wajah Raras semakin berubah, ia mengernyitkan alis seakan bertanya kepada Galih dan aku. Aku hanya mengangguk dan kami membagi tugas. Setidaknya inilah cara untuk membalas bakti kami kepada orang tua yang melahirkan dan membesarkan kami. 

Setelah membagi tugas kami pergi mencari bahan yang diinginkan. Sebab lebih cepat lebih baik, mengingat keadaan Ibu yang semakin pucat keadaannya. Meski tak lagi ada ruh di dalam tubuhnya.

Kecintaan Bapak kepada Ibu semakin terlihat ketika benar-benar kehilangan sosok Ibu. Apapun yang diucapkan Bapak seperti titah yang tidak pernah dilanggar, sebab tersebut membuat mereka sulit terpisahkan dan merasa tidak pernah sedih. Hanya saja kami baru menyadari penyimpangan mereka ketika semakin dewasa dan perlakuan aneh yang mereka perbuat.

Malam semakin menunjukkan pekatnya, harum melati sundal menyengat dipenciuman. Sambutan nocturno melengkapi suasana yang semakin mencekam.

Tampah dengan beberapa sesaji telah dipersiapkan Bapak. Sebuah mangkuk keramik berukuran besar berada di tengah-tengah sesaji. Kami hanya mengikuti perintah Bapak, sebab tak ingin mengacaukan konsentrasinya.

"Telur Cemani benar-benar hangat, kan?" suara berat lelaki tersebut memecah keheningan.

Raras mengangguk mengiyakan jawabannya.

"Bawa ke sini Cemaninya," perintahnya lagi.

Galih membawa tiga ekor Cemani hidup yang diminta Bapak. Satu per satu digorok leher Cemani, dan tetes demi tetes darah ditadahkan pada mangkuk besar. Minyak misik putih diciprat-cipratkan di ujung-ujung ruangan.

"Ke sini kalian satu per satu," titah Bapak seperti sebuah penekanan.

Angin kembali menyapa dengan brutal, hingga dengungnya terdengar. Raras maju ke arah Bapak.

"Mana tangan kirimu," titah Bapak lagi.

"Te-tetapi untuk apa, Pak?" tanya Raras dengan tangan gemetar.

"Diam, dan ikuti perintahku!"

Terlihat Raras mengulurkan tangan kirinya dengan mata yang menutup rapat, tangan kanannya menggenggam erat ujung kausnya.

"Aaaa," teriak Raras sembari tetap menutup mata.

"Sudah giliranmu, Lih!" perintah Bapak lagi.

"I-iya, Pak."

Galih terlihat lebih tenang sebab sudah tahu apa yang terjadi ada adiknya. Bapak menusuk jari tangan kiri Raras dengan tusuk konde yang dipergunakan oleh Ibu. Darah Raras ditadahkan pada mangkuk yang berisi darah Cemani. Tusuk konde Ibu terbuat dari emas yang tiap wetonnya selalu disucikan. Weton tusuk konde tersebut diketahui ketika Ibu membelinya, lebih tepatnya menukarnya dengan kesembuhan anak pemilik toko perhiasan.

Semangkuk penuh darah ayam Cemani yang dicampur dengan darah kami bertiga diaduk perlahan oleh Bapak menggunakan jari telunjuknya. Kemudian Bapak membuka selimut jarik yang menutupi tubuh Ibu. Raras seperti tidak menyukai pemandangan ini, lebih tepatnya tidak kuat melihatnya. Aku dan Galih memberanikan diri untuk melihat ritual yang diperuntukkan terhadap Ibu.

Darah yang telah bercampur tersebut dibalurkan keseluruh tubuh Ibu tanpa terkecuali, beberapa kali Bapak membalurkannya. Takut ada bagian yang terlewatkan. Sampai pada wajah ayu Ibu yang tanpa ekspresi. Perlahan berjalan sampai ke ujung dahi dan dilanjutkan sampai rambut. Pada ubun-ubun Ibu berkali-kali Bapak menuangnya. Rapalan doa tak berhenti Bapak gaungkan pelan-pelan, sehingga kami tidak jelas mendengar apa yang diucapkan.

Bapak menanggalkan pakaiannya sehelai demi sehelai hingga benar-benar tak berbusana, lantas segera menggendong Ibu. Kami mengikuti langkah Bapak yang memutari rumah kami di tengah malam yang gulita.

"Oooh... sang penguasa kehidupan, kami berikan apa yang telah kami ikuti. Kami hanya ingin meminta apa yang tidak pernah kami minta. Kami telah menyempurnakan sebenar-benarnya persembahan. Terimalah... terimalah... terimalah....!"

Suara gagak berkoak-koak mengitari kepala kami semua yang berkumpul di halaman rumah. Seakan menjadi saksi dari persembahan yang Bapak ikuti selama ini. Bapak menghentakkan kaki telanjangnya di atas tanah hingga tanah bergetar dan menaruh tubuh Ibu di atas tanah. Tubuh Ibu ditutup dengan jarik yang tadi dilingkarkan pada tubuh Bapak. Sekumpulan Gagak mematuk-matuk tubuh Ibu dan sebagian gagak memakan sesajen yang tadi dibawa oleh Raras.

Darahku berdesir, tengkuk semakin dingin. Kedua kaki seakan sulit digerakkan. Pemandangan yang kami lihat sangat amat mendebarkan. Tubuh yang kaku, pucat dan tak bernyawa tiba-tiba terduduk. Selimut jarik yang menutupi perlahan melorot hingga ke perut. Ibu menatap tajam ke arah Bapak, mengitari pandang perlahan kepada Raras, Aku dan Galih. Tanpa suara, tanpa ekspresi, datar.

Bapak sujud menyungkur ke tanah dan merapal doa-doa, lantas perlahan berdiri dan menggendong kembali tubuh Ibu yang hanya sanggup terdiam. Perlahan melangkahkan kaki memasuki rumah. 

"Jangan ceritakan apa yang terjadi pada siapa-siapa, atau ibumu dan aku bakal mati!" suara Bapak sebagai penekanan pada kami bertiga.


Malang, 2 September 2021


#hororfantasi
#cerpenhororfantasi