Ajag Gunung Angin

Ilustrasi : by pinterest

"Tidaaak!” suara teriakan membuatku terjaga dari mimpi pagi.

Gegas  aku melompat dari tempat tidur, berlari tergesa ke arah sumber suara. Tampak ibu juga berlari dari dapur menuju arah yang sama yaitu belakang rumah. Suara yang kami dengar berasal dari belakang rumah, lebih tepatnya dari arah kandang kambing. Pagi masih berselimut gelap, dingin menusuk setiap sendi tulang di tubuh. Ternyata bapak yang berteriak tadi, beliau tampak duduk di tanah basah bekas hujan semalam, tepat di depan pintu kandang yang terbuka. 

Senter yang dibawanya tampak tergeletak di rerumputan, sontak saja ibu langsung menangis melihat wajah bapak yang pucat pasi dan lemas tak bertenaga. Kedua tangannya gemetaran, dari sudut matanya menetes cairan bening yang turun deras membasahi keriput pipinya. Kami memeluk bapak, pelan-pelan berusaha menanyakan apa yang terjadi barusan. Jawaban yang ingin kami dengar tak kunjung ada, tangan tua keriput itu menunjuk ke arah senter yang tergeletak. 

“Mar, ambillah!” perintah ibu pelan.

Tanpa banyak bicara segera lakukan perintah, sambil menunggu perintah selanjutnya kugenggam alat penerangan itu erat.

“Nyalakan Mar, coba lihat ke dalam!” kali ini bapak yang memberi perintah.

Dengan dada berdebar dan tangan sedikit gemetar kunyalakan senter, cahaya terang menerangi gelap pagi. Perlahan kaki melangkah memasuki kandang. Deg, jantungku seolah berhenti sepersekian detik saat mata ini melihat pemandangan yang membuat siapa pun bergidik ngeri. Enam ekor kambing milik kami tergeletak kaku, semuanya diam tanpa gerak dan suara.

Rasa penasaran mendorongku mendekat, dengan hati-hati kusentuh raga tanpa nyawa yang telah kaku dan dingin. Memeriksa setiap lekuk tubuhnya dengan teliti, tak ada luka atau mungkin terjerat tali pengikat pikirku. Segera kuperiksa bagian leher kambing yang terikat tali ternyata longgar, kembali aku terkejut saat jemari tak sengaja menyentuh sesuatu yang sedikit basah dan kental di bagian leher kambing. Cahaya senter kuarahkan pada bagian itu, ada warna kemerahan di sana setelah memeriksa dengan seksama ternyata cairan merah kental yang mulai mengering.

“Darah, ini darah,” gumamku lirih.

Dua luka kecil tampak samar tertutup noda darah. Luka itu seperti gigitan gigi taring binatang buas, segera kuperiksa kambing-kambing yang lain dan hasilnya ditemukan luka yang sama di leher. Tanda tanya besar penuhi pikiran, binatang atau makhluk apa yang telah membuat kambing-kambing kami mati. Segera kukabarkan hasil pemeriksaanku pada bapak dan ibu, sontak wajah mereka berubah ketakutan.  Ibu semakin mengeratkan pelukan pada bapak, aku semakin bingung dengan tingkah mereka.

“Mar, ambil parang di balik pintu, coba sembelih salah satu!” kembali bapak memberi perintah.

Meski ragu dan masih tak mengerti tetap kuturuti perintah. Parang yang tajam itu mengiris kulit serta otot dan daging pada bagian leher. Aneh tak ada setetes darah pun yang keluar dari luka sayatan itu, tangan yang memegang parang gemetar hingga terlepas aku segera menjauh dari bangkai kambing.

“Pak, aku sudah menyembelihnya t-tapi tak ada darahnya,” ucapku terbata.

Ajag,” gumam bapak lirih.

Ajag Gunung Angin, bukankah itu hanya dongeng?” tanyaku penasaran.

Bapak dan ibu tak menjawab pertanyaan, hanya memberi isyarat dengan gelengan. Kami segera masuk kembali ke dalam rumah. Hingga saat mentari beranjak naik, bapak tampak berbaring di atas dipan kayu sambil menikmati sebatang rokok. Tatapannya kosong, raut wajahnya tampak cemas ada gelisah yang coba dipendam dalam guratan wajah tua itu. Dia menatap tajam saat aku mendekat dan duduk di depannya.

“Kami para orang tua sudah melarang saat akan ada pembukaan jalur konservasi melewati gunung angin. Rupanya kata-kata kami hanya dianggap isapan jempol belaka, jadi seperti ini akibatnya. Mereka tidak pernah turun gunung untuk berburu kalau tidak merasa terganggu.” Ucap bapak marah.

“Tapi…” aku tak meneruskan kalimat saat bapak menatapku tajam.

“Damar, sebagai pemuda jangan pernah membantah setiap perkataan orang tua. Kalian para generasi penerus tak bisa mengabaikannya jangan sampai ada hal yang lebih mengerikan menimpa kampung kita!” 

Aku hanya tertunduk diam, mencoba mencerna apa yang kudengar. Tentu saja tak sepenuhnya percaya dengan hal mistis semacam itu. Mungkin benar kematian kambing kami karena ulah gerombolan Ajag, mereka hanya sekelompok anjing hutan yang suka berburu. Bisa saja di hutan kekurangan binatang buruan jadi mereka turun ke desa, jiwa mudaku berontak berusaha mencari pembenaran dengan cerita itu.

Diam-diam kami para pemuda berencana untuk mencari tahu kebenaran tentang keberadaan Ajag di Gunung Angin. Pemukiman kami tepat berada di kaki Gunung Angin, memang tak ada seorang pun warga desa kami berani menginjakkan kaki di gunung itu. Kabarnya tempat itu keramat, ada sekelompok Ajag yang dianggap makhluk gaib tinggal di sana. Mereka tidak makan daging melainkan menghisap darah.

Sudah sejak lama kami penasaran dengan kebenaran cerita itu, kejadian pagi ini memperkuat rasa penasaran kami terlebih mereka mengatakan bahwa segerombolan Ajag itu dipimpin oleh seorang ratu yang sangat cantik. Jiwa mudaku berontak mendengar kata cantik, andai benar ada aku ingin bertemu. Pagi ini sesuai rencana kami akan pergi ke lereng Gunung Angin, tentu saja kami berbohong akan pergi membantu memetik kopi di kebun milik bapaknya Jarwo.

Jarwo, Samsul, Gani, Bara, dan aku Damar. Kami berlima berangkat pagi-pagi sekali, saat embun masih menempel erat dan semburat cahaya mentari belum menyapa semesta. Membawa bekal makan dan minum, tak lupa parang dan senapan angin sebagai senjata pertahanan diri, tentu kami tak lupa membawa karung sebagai alasan untuk membawa biji kopi.

Tergesa kami berjalan, agar sebelum langit menjadi terang sudah melewati batas desa. Gunung Angin tampak menjulang tinggi, konon katanya mengapa disebut Gunung Angin karena tempat itu mampu menahan atau menangkap angin besar yang dapat menghancurkan desa. Entahlah, kami akan membuktikan kabar itu apakah benar atau hanya cerita belaka.

Jalur konservasi hutan yang masih belum selesai memudahkan langkah kami, tapi belukar tinggi menanti di depan sana tentu parang yang bekerja menebas membantu membuka jalan.

“Mar, kalau begini kita secara tidak langsung membantu proyek perhutani juga membuka jalur yang belum selesai,“ seloroh Gani yang disambut dengan gelak tawa kami.

“Bisa saja kamu Gan, ingin dipuji atau dapat penghargaan?” timpal Jarwo tak kalah seru.

Canda tawa mengiring langkah menghibur diri dan mengusir lelah, tak terasa tiga jam sudah kami berjalan, pantas saja perut memberi komando untuk segera diisi. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat sejenak dan sarapan. Udara pagi yang segar menambah rasa nyaman setelah kenyang hingga kami merasakan kantuk. Panggilan alam membuatku berlari menuju semak menjauh dari mereka tentu saja aku mencari tempat berlindung untuk menyelesaikan hajatku. 

“Ahh lega,” gumamku sembari memutar langkah untuk kembali pada teman-teman.

Angin tiba-tiba berembus kencang, cuaca mendadak gelap. Sepagi ini kabut turun, pikirku. Sebelum beranjak melangkah kudengar suara berisik di balik semak, seperti suara anak anjing. Gegas aku menuju suara itu dan benar saja seekor anak anjing berlumuran tanah basah, rupanya dia terjatuh dalam lubang berisi air hujan. Segera aku mendekat dan membantunya naik, binatang itu mengibaskan ekornya sebelum berlari menjauh.

Kembali kudengar suara gaduh berasal dari arah tempat kami beristirahat tadi, suara lolongan dan teriakan serta tebasan senjata dan bunyi senapan angin. Aku terkesiap, segera berlari sambil menggenggam belati, apa yang kusaksikan kali ini membuatku bergidik ngeri. Keempat temanku sedang bertarung melawan segerombolan Ajag, cairan merah kental tampak bercecer mambasahi semak belukar. Tentu saja cairan itu berasal dari luka koyakan dan cakaran binatang-binatang itu pada tubuh temanku.

Haruskah aku maju atau mundur berlari meninggalkan mereka? Rasa ragu dan takut selimuti hati. Lututku goyah, badan gemetar ketakutan keringat membanjiri tubuh saat kusaksikan satu persatu teman-temanku dibantai dengan ganas oleh mereka. Suara tangis dan erangan terdengar menyayat hati, disusul jeritan panjang membelah kesunyian. Suara itu perlahan lenyap seiring lepasnya nyawa dari raga mereka.

Kali ini mata mereka mengarah padaku, puluhan binatang itu mengurung langkah. Pasrah, aku tak mungkin mampu melawan mereka. Mendengus marah dan siap menerkam dengan gigi dan cakarnya yang tajam, mata menyala, cairan kental berwarna merah bercampur air liur terus menetes dari mulut yang menganga dengan barisan gigi taring. Hanya menangis dan berteriak minta tolong yang mampu kulakukan sebelum cakar dan gigi mereka mengoyak tubuh.

Ketakutan menjerat dan benar saja seekor Ajag yang terbesar menerkamku hingga jatuh terlentang, tampak darah merembes dari bekas cakaran di dada membasahi pakaian. Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari seorang wanita, disusul angin kencang yang membubarkan kerumunan binatang buas itu. Kini di hadapan berdiri sesosok gadis cantik mengenakan penutup tubuh terbuat dari kulit binatang berwarna putih.

Wajah cantiknya terhalang oleh bercak warna merah basah dan  segar yang hampir memenuhi wajahnya, manik mata berwarna biru itu menatap tajam padaku. Tangan kirinya tampak memeluk seekor binatang, sepertinya itu anak anjing yang kutolong tadi. Gadis itu berjongkok mendekat, anjing kecil itu pun melompat dari pelukan, kemudian berlari mendekati wajahku. Aku mencoba tersenyum saat binatang itu mengibaskan ekornya seperti tadi. Dadaku berdenyut sakit membuat napas tersengal hingga akhirnya tak sadarkan diri. 

”Damar, bangunlah,” bisikkan dan usapan lembut membuatku membuka mata.

“Jarwo, Samsul, Gani, Bara,” gumamku lirih

Mereka berdiri mengelilingi pembaringan, dan gadis yang tadi menyebut nama serta mengusap pipi, tampak tersenyum manis padaku, dia adalah gadis yang tadi pagi kulihat. Kepala berdenyut sakit saat mengingat peristiwa yang terjadi, kucoba abaikan dengan bangun dan duduk. Gadis itu menyodorkan wadah yang mungkin terbuat dari batok kelapa atau sejenisnya, ada cairan pekat di sana. Dia mengangguk memintaku minum, temaram cahaya bulan yang terhalang awan hitam membuatku kesulitan mengenali warna dari cairan kental yang kuminum.

Rasanya aneh, pikirku. Suara lolongan terdengar mengerikan sesaat setelah kureguk habis cairan itu, keempat temanku bersurut mundur menjauh. Perlahan sosok mereka berubah dan bergabung dengan gerombolan binatang yang menyerang mereka pagi tadi.


Ajag : jenis anjing hutan dengan bentuk mirip serigala, memiliki nama latin Cuon Alpinus
#Lintasgenre
Purbalingga 2 September 2021
Bunt@r