Yang Jemput Selepas Isya

diambil dari google

Penduduk Desa Babakan Bandung gempar. Penyebabnya adalah pencurian bibit tanaman padi, palawija dan sayur-sayuran. Nyaris setiap hari selalu saja ada warga yang melaporkan kehilangan bibit yang disimpannya. Meskipun telah ditaruh di tempat yang aman dan dijaga dengan ketat tetap saja hilang tak berbekas. Kamera pengawas yang terpasang seakan membisu tak dapat merekam apa yang terjadi. Pelaku berhasil menghindari jebakan sekaligus mengolok-olok kamera yang terkenal canggih dan dapat diandalkan itu.

Petugas ronda dan hansip yang berkeliling sepanjang malam dibuat tak berdaya oleh penjahat.

“Pelakunya berasal dari planet lain. Teknologi mereka terlalu canggih untuk dideteksi,” kata Aki, tetua kampung sambil menghisap pipa rokok yang terbuat dari gading gajah yang hampir punah itu.

Orang-orang tertawa mendengarnya. Pengurus kampung dan aparat desa mencibir. Aki memang terkenal dengan perilaku dan ucapannya yang ganjil, aneh di luar nalar.

“Tingkatkan keamanan!” teriak kepala desa.

“Berlakukan jam malam!” timpal polisi desa.

Jumlah petugas ronda ditambah. Bapak-bapak dan anak-anak muda bergiliran menjaga keamanan, berpatroli mengawasi setiap jengkal tanah, memasang mata dan telinga jangan sampai kecolongan.

Namun semua sia-sia. Kehilangan terus berulang bahkan bertambah. Bukan hanya bibit tanaman tetapi hewan peliharaan pun mulai diranjah. Kerbau, sapi, kambing, ayam dan bebek milik warga setiap hari raib entah ke mana. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda yang menunjukkan kapan dan siapa pelakunya. Tahu-tahu kandang-kandang itu telah kosong melompong tanpa penghuni.

“Percuma! Kalian hanya buang-buang tenaga dan mempermalukan diri sendiri!” Aki menatap kosong jalan yang berdebu. Jarinya menjentikkan abu rokok ke bawah kursi plastik yang didudukinya.

“Nyinyir terus! Coba kalau benar apa solusinya?” Kepala desa melotot.

“Mencari jalan keluar permasalahan itu kewajiban pejabat bukan tugas rakyat,” jawab Aki kalem.

“Bagaimana bisa dipercaya semua igauan kamu itu?” Polisi desa memerah mukanya.

“Ketahuilah planet di luar bumi tengah mengalami krisis pangan. Pembangunan gedung, jalan dan jembatan membuat lahan-lahan pertanian di sana semakin habis. Ketika pemerintahan di sana sadar, mereka mendapati kenyataan tidak ada bibit yang dapat ditanam. Makanya mereka invasi ke bumi mengambil segala benih,” kata Aki

“Dari mana Bapak tahu?” Kepala polisi desa menatap tajam.

“Tanda-tanda alam demikian jelas terpampang. Cuma kalian teramat malas buat membuka mata.” Aki balas menatap dengan sorot mata tak kalah tajam.

“Terus soal binatang peliharaan yang juga ikut hilang bagaimana?” tanya kepala desa yang rupanya sudah mulai percaya.

“Mereka perlu pupuk tapi tidak mau yang berbahan kimia. Yang dibutuhkan pupuk organik dari kotoran binatang. Itulah sebabnya binatang peliharaan warga turut dibawa,” tukas Aki.

Kepala desa dan jajaran aparatnya saling melirik.

“Ini tidak akan berhenti sampai mereka berhasil mengatasi krisis pangan di sana. Tidak lama lagi lapisan humus tanah kita akan mereka angkut,” timpal Aki kembali.

Benar saja, selang beberapa hari kemudian warga dikejutkan dengan ditemukannya lahan-lahan kebun yang telah porak-poranda. Bagian atas tanah penuh humus telah hilang menyisakan pepohonan yang terkulai dengan akar-akar yang meranggas kehilangan tanah cengkeraman.

Warga yang kehilangan benih tanaman, hewan peliharaan dan area lahan semakin bertambah. Mereka cuma dapat meratap, memohon belas kasihan atau mencaci maki aparat pemerintah yang hanya bisa menghimbau dan menganjurkan supaya penjagaan ditingkatkan. Para ustad, romo, pendeta dan tokoh agama turut bersuara. Mereka menyerukan pentingnya kesabaran, keikhlasan, harapan dan perjuangan menghadapi segala macam musibah. Tangan-tangan tengadah, doa-doa dipanjatkan. Ayat-ayat kitab suci, hadits, dan kata-kata mutiara disitir dan ditafsirkan untuk memperkuat keimanan akan keadilan Tuhan.

Tapi upaya dan doa seolah berada di jalan yang berseberangan dengan kenyataan lapangan. Kehilangan bukannya mereda malah semakin menjadi-jadi. Masyarakat mulai putus asa dan kehilangan harapan. Kalau pun masih ada, harapan itu terus-menerus menipis nyaris dari detik demi detik.

“Sampai kapan semua keadaan ini, Ki?” tanyaku menggoda Aki.

“Tidak lama lagi,” jawabnya sambil senyum kecil, “tinggal setahap lagi.”

“Maksudnya?”

“Orang-orang yang dianggap ahli akan mereka jemput, dijadikan warga untuk membangun kembali peradaban di sana.”

“Termasuk Aki?” Aku menunjuk dengan ibu jari.

“Mudah-mudahan.” Suara Aki terdengar pelan.

“Memang Aki sudah tak betah di bumi ini?” Aku bertambah penasaran.

“Tinggal kenangan yang aki miliki. Apa yang mesti diberatkan?” Aki menunduk.

Aku ikut menunduk. Segala yang dikatakan Aki benar adanya. Ia telah sebatang kara. Semua anggota keluarganya telah meninggalkannya. Istri, anak-anak dan cucunya meninggal terpapar serangan virus yang hingga kini masih penuh rahasia. Dua orang mantan menantu Aki tak pernah lagi mengunjunginya. Harta kekayaannya habis tandas untuk biaya pengobatan di rumah sakit. Cuma rumah tua satu-satunya yang tersisa. Gubuk reyot seuzur tubuhnya sekadar tempatnya beristirahat setelah lelah membuka lembar kenangan.

Menjelang Ashar, Aki datang ke kamar kontrakan.

“Kamu terpilih, segeralah berkemas! Selepas Isya akan dijemput,” katanya singkat.

“Mengapa mesti saya, Ki?” Aku menahan geli.

“Kamu dianggap layak untuk menuliskan perjalanan peradaban baru di sana.” Aki menepuk pundak. “Daripada senantiasa mengeluh tentang nasib penulis yang tidak mendapat perhatian pemerintah mendingan kamu terima tawaran ini. Bersiaplah!”

Aku hampir tak kuat menahan tawa.

“Satu lagi, bawalah Dara, gadis yang paling kamu sayangi itu.” Aki beranjak pulang.

Iseng-iseng aku menelepon Dara.

“Ikut gak?” Mulutku mengulum senyum.

“Aku telah siap. Tinggal berangkat,” jawab Dara.

“Maksud kamu?” Aku terlonjak kaget.

“Aki telah memberi tahu semuanya. Dan aku memutuskan untuk ikut serta.”

“Kamu sudah gila?” Aku memindahkan handphone.

“Sampai kiamat berulang kali pun, orang tuaku tidak akan merestui. Inilah satu-satunya cara untuk kita bisa bersama.” Dara terdengar tersedu. “Kadang-kadang kita mesti memilih apa dan siapa yang harus direlakan.”

Selepas Isya sebuah pesawat asing mendarat mulus di halaman. Tanpa suara tanpa menyentuh apa pun. Aku, Dara dan Aki melambaikan tangan berpamitan pada kegelapan malam. Sementara Bagas, sang pilot, yang tiga tahun lalu hilang ditelan ombak Pantai Pangandaran tersenyum kecil. ***