Antebellum

Sumber foto: Pixabay.com

"Dari setiap cakrawala-cakrawala spektrum ungu yang berbaris rapi di ufuk timur, Marica bisa mengetahui bahwa satu bahaya tengah mendekat."

***

Pagi hari nan terik mengawali musim tanam bayi-bayi tonggeret di lahan tandus, yang sepanjang malam disinari matahari dan selama siang disirami bulan. Marica bersama para pekerja kurus kering kerontang lainnya harus bekerja giat demi menuntaskan tugas ini, mereka berpola membentuk titik-titik berjarak teratur dalam rancangan acak lengkap. Kabarnya, dibutuhkan waktu berbulan-bulan guna membenamkan tong berisi bayi tonggeret ke kedalaman ribuan meter di bawah permukaan tanah. 

Selagi para pekerja tanpa perlengkapan berarti mengais-ngais lapisan lempung berdebu, bulan pagi menyirami mereka dengan hujan paku-paku berkarat disertai badai merah kecokelatan yang amat korosif.

"Ah, lihatlah, Dewi Rembulan memberkahi kita dengan mirakelnya ...." 

Salah satu pekerja menengadahkan tangan berdoa, kemudian satu per satu bagian tubuhnya berangsur-angsur terkikis dan lenyap terbawa angin kencang.

Marica sinambung menguis-uis tanah tanpa menghiraukan tragisnya eksekusi pekerja lalai itu. "Berhenti bekerja, maka tamatlah riwayatmu," begitulah pemikiran yang terus memarasit dalam kepalanya.

Badai merah berputar keliling, memerangkap para pekerja lahan tandus yang tak ada harapan. Paku-paku berkarat lanjut berjatuhan, tak membiarkan satu pun pergerakan melanggar di luar zona.

Marica ingin bertahan hidup. Demi adik-adiknya yang kelaparan menunggu di rumah, dia rela ikut serta dalam tugas menggembirakan ini. "Baru hari pertama," batinnya, "pasti besok jauh lebih berat daripada ini."

Memang benar adanya. Keesokan hari, kabut ungu memenuhi lahan tandus di sana, menyebabkan sebagian besar pekerja sesak napas dan terkapar berpulang terkena asfiksia. Walau sebenarnya jasad mereka tak dibawa pulang, tetap dibiarkan begitu saja.

Marica entah bagaimana bisa tetap sintas. Menjadi pemenang seleksi alam memang salah satu keunggulannya. Bertaruh di antara peluang nol dan satu. Hidup atau mati. Marica paham betul bahwa dia bisa tewas kapan saja, apalagi memforsir diri sendiri tanpa asupan nutrien membuat tubuhnya yang kurus makin kerontang. Tercabut keluar sudah karakter asli Marica, diikuti berbagai persoalan ironis nan memprihatinkan.

Sirkusitas adalah nama tengahnya.

"Kamu adalah pekerja yang tangguh."

Seorang pekerja lain, yang sudah sekarat, tak dapat lagi melanjutkan tugas, sempat memuji kehebatan resistensi Marica dari segala ujian yang dilayangkan. Sebelum menutup mata, dia sempat memohon untuk menitip pesan buat keluarganya yang menanti di rumah, bahwa dia sudah mati dan tak akan kembali lagi. Ketika Marica menyadari dia telah tutup umur, Marica melihat perut pekerja itu menggelembung, banyak sekali tonjolan macam kerikil di permukaan kulit.

Warna tanah tandus makin mengganas abu-abu panas, bahkan menguarkan asap bersuhu tinggi. Langit horizon sekaligus mengejek berulang kali, berputar-putar warna dari siang malam, siang malam terus-menerus. 

Marica pantang menyerah, terus menggali cepat tanah lempung sampai beratus-ratus meter dalamnya.

"Demi adik-adikku, demi adik-adikku, demi adik-adikku ...."

***

Berlatar tempat nun jauh suatu desa dengan penduduk tinggal pada rumah-rumah bulat terbuat dari perbukitan pasir, Marica dan para kaumnya beraktivitas seperti biasa. Malangnya, stok makanan telah habis, dan kini mereka harus mempertanyakan takdir, apakah seleksi alam akan memusnahkan kaum mereka atau tidak?

Marica sempat berpesan kepada adik-adiknya yang kurus-kurus macam dia, bahwa hidup ini amatlah kasar. Tak ada yang tahu apa yang takdir rencanakan untuk menghancurkan diri mereka sampai berkeping-keping lalu disapu ombak laut tinggi.

Tatkala, awan-awan menggaib dari angkasa, cahaya biru cerah memudar jadi lembayung, merah tua bercampur spektrum ungu. Para penduduk mendongak, menyadari bahwa alam bersiap untuk mengambil keputusan. 

Dari kaki-kaki langit yang membentuk semacam kisi-kisi tersekat, Marica bisa menyadari bahwa bahaya telah mendekat. Marabahaya yang tidak pernah dia bayangkan selama hidupnya.

Sejumlah horizon termanifestasi merupa spektrum ungu berbentuk lingkaran sentrifugal yang hancur-utuh berulang kali. Mereka menciptakan bunyi menggelegar, terlalu memekakkan indra pendengaran sampai-sampai sebagian penduduk sekarat meregang ruh. 

"Berkumpullah kalian ...."

Gerombolan spektrum ungu menawarkan kontrak nan amat memikat, tetapi mematikan. Tak ada yang tak ingin mati, tetapi tak ada yang ingin hidup bila selalu tersiksa berabad-abad lamanya. Para penduduk mendengarkan dengan perhati.

"Menjadi budaklah, makhluk-makhluk hina! Bekerja dan mati, bersatu bersama alam. Korbankan semua jiwa raga kalian! Maka Kami akan janjikan bumi yang subur bagi perbukitan ini."

Marica, mendengar tawaran seumur hidup nan mempertaruhkan nasibnya, merasa sekujur tubuh bergejolak untuk gerak. Inilah saat perannya dibutuhkan oleh alam, demi keselamatan adik-adiknya.

"Kakak!" Adik-adik kurus itu berteriak.

"Ingatlah, adik-adikku. Hidup itu amatlah kasar."

Bersama sejumlah penduduk, Marica lenyap dibawa spektrum ungu.

***

Marica tak pernah menghitung berapa lama dia sudah menjalankan tugas. Pekerja macam dirinya hanya mengais dan mengais, menggaruk dan menggaruk. Memperjuangkan tong berisi bayi tonggeret guna mencapai kedalaman tujuan. Kala tercapai beberapa ribu meter, Marica benar-benar dijatuhi ujian paling berat.

Badai dingin bahkan lebih ekstrem daripada kutub menyerang tanah tandus. Bergantian, badai panas yang menyaingi angin solar menyirami tiap-tiap pekerja yang tak beruntung. Marica bersyukur berkat kedalaman yang sangat jeluk, rasa aman menyelubungi jiwa raganya.

Suatu masa, terlihat gerombolan makhluk raksasa setinggi ribuan meter menginvasi tanah tandus. Kerumunan monster berkaki empat itu mempunyai tungkai-tungkai panjang, badan gembrot, serta kepala aneh dengan sepasang kuping lebar. Mereka menginjak-injak lubang yang telah dibuat susah payah oleh para pekerja. Termasuk Marica. Namun, dia beruntung Fortuna masih berpihak. Para monster raksasa pergi sebelum dia penyek bersama lubang yang digali.

Setelah lama sekali masa berlalu, banyak kali perjuangan melaju, akhirnya Marica berhasil mencapai inti dari tanah tandus. Merupa lautan lahar panas nan melenyapkan apa saja benda yang tenggelam. Itu berarti, tujuannya telah berhasil tuntas. Tong berisi bayi tonggeret dihempas, larut dimakan molekul demi molekul lautan panas dengan begitu ganasnya.

Sebelum fisik dirampas inti tanah tandus, Marica bergegas berlari menuju permukaan, beribu-ribu meter jauhnya, hingga cahaya putih menyelamatkan sebelum dia ditelan lautan api yang merembet naik. 

Marica merasa silau sekali. Bulan bersinar terang di pagi hari. Angkasa berganti rona lembayung. Para spektrum ungu hadir. Bersama secuil pekerja lain yang berhasil menuntaskan tugas membahagiakan, Marica berkumpul di tengah lahan tandus.

"Selamat."    "Selamat."        "Selamat."
"Selamat."        "Selamat."
"Selamat."   "Selamat."   "Selamat."
              "Selamat."

Para spektrum ungu menyoraki, merayakan keberhasilan nan menggembirakan ini. Sebelum riwayatnya berakhir bersama aksi heroik, Marica sempat mengulas senyum kemenangan.

***

Adalah suatu lahan subur tempat pepohonan gergasi tumbuh menjulang sampai mencakar langit. Sejumlah suara tonggeret terdengar di sana-sini, memenuhi pendengaran bagai melantunkan melodi kedamaian. 

Suatu kaum tiba di daerah situ. Dengan sukacita terukir jelas, mereka berseru bahwa makanan telah ditemukan dan kini kaum tersebut bisa hidup dengan tenang. Adik-adik Marica termasuk ke dalam kerumunan penyintas, menikmati berbagai kekayaan alam nan subur makmur berlimpah-limpah.

Sesaat setelahnya, angkasa berubah lembayung. Warna merah tua bercampur ungu menguasai langit. Para anggota kaum pun menengadahkan kepala. Sejumlah spektrum jingga berupa lingkaran seintrifugal yang hancur-utuh melayang-layang di atas mereka.

"Selamat datang, para Penyintas. Bersiaplah untuk tugas selanjutnya."

#
#lintasgenre