Kekasihnya di Antara Bintang-bintang

Sumber: Pixabay, oleh nama pengguna Angeleses

Sudah enam bulan sejak Ibu meninggalkan kami berdua. Selama enam bulan itu juga, Ayah tak pernah berhenti memandangi langit malam dari teleskopnya.

Aku ingat betapa Ayah menangis selama empat puluh malam berturut-turut setelah meninggalnya Ibu. Aku pun merasa kehilangan. Namun, bila aku merasa seperti dihempas ombak pantai, Ayah pasti telah digulung tsunami. Rasa kehilangan yang dirasakannya jelas beratus kali lipat dari yang kurasakan. Cintanya pada Ibu memang sebesar itu, dan Ibu memang adalah sosok yang patut dicintai sebesar itu—dia adalah orang yang kebaikannya murni dan tulus, baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Kenanganku yang paling kuingat bersama Ibu adalah ketika dia membawakanku dongeng sebelum tidur, saat aku masih kecil sekali. Ibu bercerita tentang kisah asal usul rasi bintang Pleiades, atau disebut juga Bintang Tujuh. 

Dahulu kala, raksasa bernama Atlas dan ketujuh putrinya hidup dengan tenang. Namun secara tak disangka, Atlas harus melaksanakan titah para dewa untuk memanggul Bumi di pundaknya, agar bola Bumi tidak guncang. Ia terpaksa meninggalkan anak-anaknya untuk hidup sendiri. Kehidupan mereka tidak aman dan selalu diancam bahaya, terutama dari seorang pemburu bernama Orion. Atlas memohon kepada para dewa agar menjaga dan melindungi putri-putrinya dari marabahaya. Zeus sang pemimpin para dewa mendengar permohonan Atlas, dan ia mengangkat ketujuh putri Atlas itu ke langit dan menjadikannya bintang-bintang yang terang.

Waktu itu, aku dengan lugu bertanya, "Bu, apa aku juga bisa jadi bintang di langit?"

Sambil tersenyum, Ibu menjawab, "Iya. Kalau sudah masuk surga nanti, kita akan jadi bintang yang terang di langit."

Kini, mungkin Ibu sudah betul-betul menjadi bintang di langit sana.

***

"Ibumu sekarang ada di langit. Nanti, kalau posisi bintang-bintang sudah benar, ibumu bisa kembali lagi ke sini." kata Ayah ketika kami sarapan.

Aku mengernyitkan dahi. Aku tak percaya seorang dosen Fisika seperti Ayah bisa memiliki pikiran yang irasional seperti itu. Biar bagaimanapun, yang telah mati takkan hidup kembali, bukan? Kecuali bila Hari Akhir tiba.

Ayah dan aku tiap hari bergantian memasak sarapan. Kali ini giliranku memasak. Aku membuat sup sayur dan spaghetti carbonara—sejujurnya, aku lupa menanak nasi. Namun aku tidak pernah lupa menyajikan kopi kesukaan Ayah—hitam, dengan gula sebanyak tepat satu setengah sendok makan. Setelah makan, Ayah akan berangkat mengajar ke kampusnya, dan aku pergi sekolah.

Kehidupan rumah jadi jauh lebih sepi tanpa kehadiran Ibu. Apalagi, Ayah sering sekali mengurung diri di kamar—tanpa henti mengamati langit malam dengan teleskop bintang-nya.

Ayah sangat menggemari astronomi. Aku pernah diajaknya melihat keindahan langit malam dengan teleskop. Ayah mengajarkan beberapa nama rasi bintang padaku, yang lazim digunakan sebagai penunjuk arah mata angin: Biduk atau Ursa Major sebagai penunjuk arah utara, Orion atau Waluku sebagai penunjuk arah barat, Scorpio atau Rasi Bintang Kalajengking sebagai penunjuk arah timur, dan Crux atau Pari sebagai penunjuk arah selatan.

Saat aku masih kecil, Ayah pernah mengajakku mengamati fenomena blue moon—kemunculan bulan purnama untuk kedua kalinya dalam rentang waktu satu bulan. Indah sekali. Bila bulan ibarat seorang puteri, pastilah saat blue moon itu ia sedang mengenakan gaun tercantiknya untuk ke pesta dansa bersama Pangeran Bumi. Aku juga melihat permukaan bulan dengan jelas dan rinci—sebuah tanah tandus berbatu yang bersinar dengan kilau pantulan sinar matahari. Aku yang waktu itu masih kecil berpikir, "Apakah ada kelinci di sana?"

Namun, saat kulihat sosok Ayah sekarang, kenangan manis itu tak ada lagi.  Tidak ada lagi quality time berdua untuk melihat bintang dan bulan bersama-sama—Ayah sibuk dengan obsesinya sendiri: mencari almarhumah Ibu di antara bintang-bintang.

Pernah suatu ketika, pada waktu menjelang makan malam, kulihat Ayah berjalan sempoyongan dari kamarnya. Matanya berkantung tanda tak tidur berhari-hari. Tangannya memeluk sebuah buku yang sangat besar. Bicaranya Ayah pun mulai tak jelas, seperti orang meracau.

"Ibumu ada di Pleiades, Nak. Ayah tahu dia di sana. Kalau nanti letak bintang-bintang sudah benar, Ibu akan pulang kembali ke sini."

Kemudian, Ayah menatapku lekat sekali.

"Nak, Sabrina, kau begitu mirip dengan ibumu."

Mata Ayah waktu itu seperti mata nyalang seekor serigala yang hendak menelan bulat-bulat seekor domba. Aku takut.

Setelah satu detik yang terasa amat panjang, Ayah menundukkan pandangannya. Aku merasa lega, sekaligus kasihan pada ayahku. Aku sangat ingin merangkul Ayah dan bilang semuanya akan baik-baik saja, tapi rupanya rasa takutkulah yang lebih kuat. 

Tiba-tiba, buku besar yang dipegang Ayah jatuh berdebum. Spontan, pandanganku terarah padanya: sebuah buku bersampul kulit yang warnanya sudah pupus termakan waktu. Pada sampulnya terdapat gambar suatu makhluk mengerikan bergigi tajam dengan mulut menganga lebar. Aku tak bisa membaca seluruh judulnya sebab sebagian hurufnya rusak, dan yang masih bisa kulihat hanyalah huruf-huruf ini: N—ro—omikon.

***

Aku melihat kalender untuk mengecek tanggal hari ini. Jumat, tanggal 13. Kali ini Ayah yang bertugas menyiapkan sarapan. Masakan Ayah amat sederhana, lebih mengutamakan "praktis" ketimbang "enak"—hanya roti isi dengan sayur sawi, tomat, dua lapis daging, dan keju. Tidak lupa kopi—"Buat energi mengawali hari," Ayah selalu bilang begitu. Masakanku jelas lebih enak.

Sepulang sekolah, aku terkejut mendapati Ayah menyambutku di depan pintu rumah. Wajahnya juga tampak lebih ceria, tidak kusut dan muram seperti biasanya.

"Sabrina, malam ini posisi bintang-bintang sudah benar. Ibumu akan pulang malam ini. Ayo, kita sambut ibumu sama-sama."

Aku bingung harus menjawab apa. Dengan riang, Ayah menyiapkan makan malam untuk kami. Kami makan tanpa banyak bicara—aku cemas, dan semua rasa enak dari makanan ini tak bisa meredakannya.

Kemudian Ayah membawaku masuk ke kamarnya. Di situ, mataku disuguhkan oleh pemandangan tak wajar. Ada banyak noda merah kering di dinding maupun lantai—apakah itu cat, atau darah, aku tak tahu. Pada lantai tengah kamar ini tergambar pola konstelasi Pleiades, dengan simbol pentagram sebagai penunjuk bintang-bintangnya. Pola itu digambar dengan zat merah yang entah cat entah darah itu. Di tengah-tengahnya, ada foto Ibu beserta benda-benda kecil di sampingnya—seperti sebuah sesaji. Kepalaku mendadak pusing.

Gila! Ayahku melakukan semua ritual aneh ini? Tubuhku gemetaran.

Ayah mengambil buku besar itu dari mejanya dan membaca suatu kalimat panjang dengan bahasa aneh yang tak kumengerti. Seketika itu juga, sebuah kilatan cahaya menggelegar—seperti petir. Kamar Ayah berguncang, suara denging keras memenuhi telingaku. Ketika denging itu mereda, Ayah berseru, "Lihatlah keluar jendela!"

Di jendela kamar itu, di samping teleskop bintang, langit malam terbentang luas. Perlahan, muncul sesosok makhluk dari kegelapan langit malam. Turun dari awan, perlahan masuk melalui jendela, hingga akhirnya ia sampai di hadapan kami. 

Aku tersentak. Itu adalah Ibu, tapi ... 

Kulitnya putih pucat seperti mayat, dan nampak ada titik-titik basah tetesan air padanya. Ia mengenakan gaun berwarna putih. Wajahnya adalah wajah teduh Ibu, tapi wajah itu tidak memancarkan cinta dan ketulusan—melainkan hawa dingin kematian.

Bau amis dan anyir yang dahsyat memenuhi hidungku. Kulihat ke arah kakinya—itu sama sekali bukanlah kaki, melainkan tentakel-tentakel panjang serupa tangan gurita. Tidak mungkin makhluk laknat ini adalah ibuku.

"Akhirnya kau pulang, Maia sayangku. Aku merindukanmu."

Ayah memeluk makhluk itu dan mengecup dahinya. Linangan air mata Ayah mengalir deras.

 "Aku mohon, Sayangku! Biarkan aku bersamamu, bawalah aku ke tempatmu!"

Makhluk itu mengangguk pelan. Dalam sekejap mata, dengan kedua tangannya, makhluk itu membuka batok kepala Ayah—seperti pisau yang membelah dan membuka buah kelapa. Darah mengucur tak tertahankan. Dengan cepat, makhluk itu mengambil otak Ayah. Kemudian ia merengkuhnya, menimangnya seperti bayi. Tubuh ayahku jatuh berdebum di lantai.

Di samping jasad Ayah yang kepalanya telah kosong, makhluk itu menatapku lekat dan menyunggingkan senyum. Aku menjerit sejadi-jadinya.

Ya Tuhan, tolong kami! Tolonglah kami semua!

Seiring dengan terbangnya makhluk itu ke langit malam, sinar bulan yang semula putih berubah merah.

 

Karangploso, 02092021
pukul dua dini hari

#hororfantasi