Death Note

Pinterest

Desau angin seolah menyampaikan seuntai pesan kematian. Bayangan bulan semerah darah terpantul jelas di riak tenangnya air danau. Konon katanya, jika bulan darah muncul pada bulan tertentu artinya akan ada bencana atau malapetaka yang akan datang. 

 

“Cari arwah-arwah yang masih tersesat di dunia.” Suara menggelegar itu menginterupsi.

 

Aku menoleh, mengalihkan pandangan pada sang Malaikat Kematian yang berdiri tidak jauh dari tempatku berpijak. Sosok berjubah tudung gelap yang selalu menutupi wajahnya itu, membuatku langsung tak berkutik di hadapannya atau menolak suatu tugas. Meski kerap kali kami berinteraksi, tetapi aku tidak pernah dapat sekali pun melihat wajah Malaikat Kematian.

 

Ya, semenjak aku menjadi pencatat kematian, menangkap arwah-arwah yang masih berkeliaran di dunia adalah sudah menjadi hal lumrah bagiku. Bukan hal yang sulit aku cukup mencatat jalan kehidupan, umur, dan penyebab kematian sang arwah. Namun, kali ini terasa berbeda, begitu berat dirasa. Aku harus mencari berpuluh-puluh jiwa yang masih terkukung di suatu tempat.

 

“Kau hanya cukup mencari dan mencatat kematian jiwa-jiwa yang belum mencapai nirwana itu.”

 

Aku tergemap. Malaikat Kematian ternyata mendengar kegaduhan isi pikiranku. Jika ia sudah berkata demikian, aku tidak lagi dapat menawar. Kemudian, dalam sekejap Malaikat Kematian menghilang tanpa jejak.

 

Menghela napas berat, aku mulai mencari di mana titik keberadaan arwah-arwah tersebut. Menyelesap, menembus mega-mega kelabu.

 

Ketika menjejakkan kaki di belantara hutan, aroma amis, busuk, dan dupa berpadu menguar menyambutku. Di tengah jenggala terdapat sebuah gubuk tua sederhana dengan beratapkan rumbia. Di setiap sudutnya terdapat beberapa keris, patung, topeng, dan tepat di atas pintu masuk terdapat tengkorak kepala manusia menambah kesan kemistisan tempat tersebut.

 

Di depan sebelah kiri gubuk, terdapat berpuluh-puluh mayat bertumpuk-tumpuk, darah saling menetes dari satu mayat ke mayat. Dilihat dari kondisinya pembunuhan itu baru saja dilakukan. Sementara di sebelah mayat tersebut, terdapat roh-roh yang memberontak ingin dilepaskan. Akan tetapi, rantai kokoh itu menjerat kuat mereka. Aku menebak, jika roh-roh tersebut adalah korban penumbalan dari manusia yang rakus akan harta dan tahta.

 

Keyakinanku semakin kuat kala kudengar seseorang dengan khusyuk merapalkan mantra-mantra, yang kuketahui itu adalah sebuah mantra persembahan kepada sang iblis. Dari pakaiannya, aku menebak jika dia adalah dukun sebagaimana para manusia menyebutnya.

 

Dia seorang pria paruh baya bernama Ki Karta. Dukun yang dikenal dapat mengabulkan semua permintaan manusia, bahkan termasuk hal mustahil yang dapat diwujudkan. Akan tetapi, tak ada yang menyadari bahwa Ki Karta hanyalah seorang penipu. Ia memanfaatkan manusia-manusia yang rakus dan tamak akan harta hingga menggelapkan mata, membuat begitu mudah masuk ke dalam perangkapnya. Lalu, mati konyol sebagai tumbal pengabdian dan kekayaan Ki Karta.

 

Aku duduk di salah satu dahan pohon caster. Nada yang Ki Karta lantunkan bagaikan jeratan siapa saja yang mendengarnya. Kubuka catatan kematian, berpuluh-puluh nama tercantum dengan bertuliskan tinta merah. Artinya puluhan arwah itu masih terjerat dan aku harus segera membebaskannya untuk menyelesaikan tugas.

 

“Nampi sesembah abdi. Abdi parantos sumping nyembah ka anjeun¹.”

 

Ki Karta menangkupkan tangan di depan wajah, sejajar dahi, membentuk memuja. Mantra-mantra tak henti turut serta ia rapalkan. Hingga kemudian, sosok bertubuh besar muncul di hadapan Ki Karta.

 

Dilihat dari samping tempatku berada, tubuh makhluk tersebut berwarna orange, telinga runcing, wajah mirip seperti monster, serta taring panjang tajam terselip di antara giginya.

 

Udara yang semula dingin kini berganti rasa panas kala lembar catatan kematian bergerak dengan cepat. Aku mendongak. Sial! Ternyata makhluk itu menyadari keberadaanku. Ia menyeringai dengan sorot mata menghunjam seakan hendak membunuhku.

 

“Pencatat kematian.” Bibir iblis itu bergerak menggumamkan kata dengan mata memerah seolah mengunci pergerakanku.

 

Aku mendelik, membalas tatapan iblis itu. “Kau tak berhak mengambil jiwa-jiwa manusia itu,” desisku.

 

“Aku tidak mengambilnya. Manusia itu sendiri yang menyerahkan dirinya. Jiwa-jiwa itu sekarang adalah milikku.”

 

“Jiwa-jiwa itu adalah milik Sang Kudus dan harus kembali ke nirwana. Kau maupun siapa pun itu tidak berhak mengambil jiwa-jiwa mereka.”

 

Senyap. Iblis itu tidak lagi membalas perkataanku, ia tiba-tiba menghilang bersamaan semilir angin yang tenang. Aku berdiri, memutar badan seraya mengamati sekitar. Situasi yang hening seperti ini membuatku makin waspada sebab situasi tenang pada kenyataannya adalah jebakan yang sangat fatal.

 

Aku berkelit ketika bola api hampir mengenaiku. Setelahnya terdengar tawa iblis amat keras. Pusaran angin menerbangkan dedaunan kering perlahan mereda, menampilkan sosok iblis dengan tatapan murka.

 

“Untuk apa kaukemari, wahai Iblis?”

 

“Aku datang untuk menurunkan bantuan pada manusia-manusia yang membutuhkan pertolonganku.”

 

“Kau tidak membantu manusia. Kau hanya menyesatkan mereka dengan tipu muslihatmu itu.”

 

Sudah sejak dulu kala, entitas iblis di dunia ini adalah menyesatkan dan menjerumuskan para manusia untuk menjadikan teman serta membersamai mereka kelak di neraka nanti. Itulah janji iblis sejak berjuta-juta abad lalu yang aku ketahui.

 

Tawa iblis itu kembali menggelegar, makin keras. Tanpa aba-aba ia menyerang secara tiba-tiba setelah tawanya reda. Namun, secepat kilat aku berkelit menghindar dari serangannya yang bertubi-tubi. Serangan iblis yang meleset mengenai pepohonan, lalu terbakar.

 

“Akh!” Aku mencengkeram pundak. Serangan iblis itu terlalu kuat hingga aku kewalahan.

 

“Aku datang untuk mencari jiwa yang terkukung, bukan bertarung denganmu,” ucapku lantang.

 

Namun, iblis tak menghiraukan perkataanku. Kekuatannya makin bertambah kala ia menghisap roh-roh yang terjerat. Sial! Ini tidak bisa kubiarkan, jiwa-jiwa itu harus kembali ke nirwana sebagaimana mestinya. Dengan sekuat tenaga aku bangkit.

 

Akan tetapi, seolah tak membiarkanku bangkit iblis itu kembali menyerang. Kilatan cahaya bola api melesat cepat. Aku berkelit ketika bola api itu hampir mengenaiku. Dengan segenap kekuatan, kembali aku menangkis serangan bertubi-tubi tersebut.

 

“Pedang masamune.”

 

Iblis membelalak kala aku mengeluarkan pedang masamune. Salah satu perisaiku dari serangan iblis, menyilangkan pedang di depan dada, menangkis serangan.

 

Aku menyeringai, memanfaatkan kelengahan sang iblis, semakin menekankan pedang masamune-ku pada kekuatan iblis dan melangkah lebih maju mendekatinya. Angin berputar kencang di sekeliling kami. Situasi makin menegang. Hingga sampai akhirnya, dengan cekatan aku mengentakkan pedang lalu menikam dadanya.

 

“Arrrgh ...!”

 

“Sudah kukatakan, aku datang hanya untuk mencari jiwa-jiwa yang masih tersesat. Bukan bertarung denganmu.”

 

Aku semakin menekan pedang masamune, cairan kental berwarna hitam merembes dari dadanya. Namun, baru saja setengah mantra kurapalkan. Iblis itu hirap begitu saja, melarikan diri. Menyisakan jiwa yang sempat ia hisap.

 

Aku hendak mengejarnya, tetapi langkahku terhenti kala menyadari jika itu bukan tugasku. Sebab itulah aku memilih menebaskan pedagang masamune pada rantai yang menjerat jiwa-jiwa manusia. Berpuluh-puluh arwah itu memasuki buku catatan kematian secara serentak. Bukan hal yang aneh memang jika kematian lebih dari satu dalam satu waktu bukanlah hal yang mustahil.

 

Aku mengecek buku catatan kematian, nama-nama mereka yang semula bertinta merah kini berganti menjadi berwarna tinta hitam. Artinya jiwa-jiwa tersebut telah mencapai nirwana. Namun, lembar catatan kematian kembali bergerak cepat lalu berhenti menampilkan satu nama dengan jelas.

 

Aku tertegun, lalu menoleh cepat pada Ki Karta. Dia menggeleng kuat, mimik wajahnya tampak dilanda kekhawatiran. Bingung. Linglung dengan apa yang terjadi di sekitarnya; melihat beberapa pepohonan terbakar yang sebagian bahkan masih dilahap anala², udara yang semakin dingin, serta jiwa-jiwa yang terkukung hirap begitu saja.

 

Ki Karta berdiri, hendak meninggalkan tempat perkara. Namun, saat ia ingin melarikan diri, aku langsung mencegatnya. Aku tak akan melepaskannya begitu saja.

 

“Siapa kau?!” Ki Karta tampak terkejut melihat kehadiranku secara tiba-tiba.

 

Tanpa menjawab pertanyaannya, aku menatap catatan kematian lalu membacanya. “Karta. 160 tahun hidupnya. Meninggal karena ....”

 

“K–kau siapa? Mau apa kau?!” teriaknya.

 

Aku memilih tak menjawab, lalu kembali membaca catatan kematian. “Karta. 160 tahun hidupnya. Meninggal karena ... tertimpa pohon caster.”

 

Seakan diperintah, pohon caster bak raksasa dengan berat serupa puluhan ton tersebut menimpa tubuh Ki Karta, tak terelakkan. Pria itu mengerang, jeritan kesakitan melonglong keras menggema ke seluruh belantara.

 

“To-tolong ....” Suaranya tercekat. Ki Karta meremas dada yang terasa sesak. Mungkin.

 

Tak ada gunanya juga ia mengemis-ngemis meminta pertolongan. Karena perintah dari Sang Kudus tanpa bantah, jika jiwa dalam diri Ki Karta telah dicabut dari raganya.

 

Aku menutup catatan kematian, lalu menatap tubuh Ki Karta yang tergolek lemah, matanya menjuling ke atas, serta lidah menjulur ke luar. Jeritannya lenyap seiring cahaya putih memasuki catatan kematian.

 

Sekelebat bayangan hitam keluar dari tubuh Ki Karta. Aku tergemap. Sejenak kami saling pandang, air liur terus menetes dari mulut makhluk tersebut. Menjijikkan. Patut jika pria itu dapat melihatku, di dalam tubuhnya bersarang makhluk gaib. Lantas, dalam sekejap makhluk berbulu lebat bermata satu itu menghilang di balik kabut.

 

Aku menghela napas lega. Tugas dari sang Malaikat Kematian telah kuselesaikan. Tugas kali ini terasa melelahkan, meski begitu aku menikmati setiap tugas yang diberikan. Ya, harusnya memang begitu bukan.

 

Aku menatap langit, bulan semerah darah masih bergelayut menemani malam. Aku rasa jika malapetaka yang akan datang itu adalah kematian masal yang baru saja terjadi. Bulan darah, tragedi berdarah.

 

***

 

Catatan kaki:

• ¹ ”Terimalah persembahanku. Aku datang untuk memujamu.”

• ² Api

 

#Lintasgenre